Menikah dengan Dr. Revan Aditya adalah impian Alya Gumaisya. Namun, sejak hari pertama, Alya sadar bahwa dirinya hanyalah istri pajangan yang dinikahi demi kepentingan keluarga, bukan karena cinta.
Bertahun-tahun hidup dalam pengabaian dan penghinaan, Alya akhirnya memilih pergi dan membangun hidupnya sendiri. Saat ia tak lagi mengharapkan cinta Revan, justru pria itu mulai menyadari bahwa wanita yang selama ini diabaikannya adalah satu-satunya yang benar-benar ia butuhkan.
Sayangnya, penyesalan selalu datang terlambat. Kini, Alya tak lagi ingin menjadi istri yang menunggu, sementara Revan harus berjuang menghadapi balas dendam paling menyakitkan—kehilangan wanita yang pernah mencintainya tanpa syarat.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon peony_ha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perhatian yang Salah Waktu
POV Alya
"Alya..... selamat, my bestyyyy!" pekik Zara membuyarkan konsentrasiku yang sedang merangkai bahan ajar untuk anak-anak.
Aku menatap bingung sahabatku yang sedang membuka ponselnya. Zara, wanita yang tengah hamil tujuh bulan itu, tampak sumringah.
"Lihat... karyamu yang ketiga sudah mencapai tiga puluh juta viewer. Novel yang kedua juga tidak kalah, viewernya semakin naik. Sudah mencapai dua puluh juta viewer..."
Aku tersenyum bahagia dengan apa yang sudah aku capai. Cita-citaku ingin menjadi penulis sukses sekarang sudah mulai menunjukkan perkembangan. Bahkan gaji keduaku sebagai penulis sudah aku terima. Nominalnya lumayan banyak, sampai tidak henti-hentinya aku mengucap syukur.
"Sudah gajian dong..."
Zara duduk di kursi. Ia mulai membuka camilan yang berada di meja kerjaku.
Aku mengangguk. "Mana no rek kamu, Zar? Bagi-bagi dikit. Karena kamu juga berperan penting dalam penulisan novel-novelku ini..."
"Ah, tidak usah, Bu Best. Nikmati saja hasilnya untuk kamu. Ngomong-ngomong, berapa nih? Spill dong..."
"Hmm, nyampe, lah, tujuh puluh lima..."
"Juta?" Zara melebarkan kedua bola matanya.
Aku mengangguk pelan, memasang wajah memelas.
"Eh, tapi itu bukan yang bulan ini aja. Itu penghasilan dari bulan-bulan sebelumnya, waktu novelnya belum terlalu booming."
"KERENNN BANGET!" Zara girang sambil bertepuk tangan pelan.
Aku hanya bisa tersenyum samar sambil kembali menatap layar laptop.
"Alya!"
"Hmm?"
"Kenapa sih, kamu itu kelihatan bahagia, tapi kayak lagi banyak beban pikiran juga. Apa yang sedang kamu pikirkan, Alya?"
Aku masih diam, sampai tidak terasa mata ini kembali berembun. Bayangan Kak Revan tadi pagi, untuk pertama kalinya dia mengantarku kerja. Bayangan Kak Revan tadi malam yang menyelimuti tubuhku saat tidur, kemudian mengusap puncak kepalaku.
"Kamu bertengkar dengan Revan? Atau... sedih karena hinaan dari keluarga Revan?"
Aku menggeleng lagi. "Aku tidak pernah bertengkar sekalipun dengan Kak Revan, Zara. Dan hinaan dari Bude Arum dan Dona sudah kuanggap sebagai angin lalu."
Zara menatap sendu padaku. Aku yang sudah menangis terisak di hadapannya, membuat sahabatku itu kini mulai mengelus pelan bahuku.
"Sebentar lagi aku dan Kak Revan memutuskan akan segera berpisah. Tidak tahu pasti kapan. Tapi kami sudah mendiskusikan keputusan ini dengan baik..."
"Alya... aku akan selalu mendukung keputusan terbaik untuk kalian." Zara ikut terisak. Ia sangat tahu dengan kisah cintaku bersama Kak Revan.
"Jika tetap dipaksakan dan hubungan itu semakin menyakitimu, Alya, itu tidak baik. Benar, jalan terbaik adalah berpisah..."
Aku mengangguk, kembali mengusap air mata yang turun deras, membasahi lembaran buku yang terbuka di atas meja.
"Bukan soal berpisah yang membuatku sangat sedih, Zara... tapi Kak Revan. Pria itu tidak lagi canggung untuk menunjukkan perhatiannya padaku. Aku merasa kami semakin sangat dekat. Bahkan Kak Revan tidak segan untuk memelukku erat atau mencium keningku. Bahkan pria itu sering melingkarkan tangannya padaku saat kami tertidur... Aku sadar dengan itu...."
Rasanya sangat sesak dan sulit untuk diterima. Menjelang berpisah, Kak Revan malah semakin menunjukkan perhatian yang begitu besar padaku. Menurutnya mungkin itu hanya perhatian biasa. Tapi bagiku, perhatian itu membuat hati ini kembali berdesir perih melihat kenyataannya pernikahan ini akan segera berakhir.
Seharusnya Kak Revan menjauhiku, bukan malah semakin memberikan perhatian lebih padaku.
"Jujur, ini janggal sekali, Alya. Aku tidak paham, Revan ini bodoh atau gimana sih? Dia mengaku mati-matian sangat mencintai Aira, sedang dia sendiri sering bertengkar, kan, dengan pacarnya yang sangat ia cintai itu...?"
"Terus aneh bin janggal lagi, menurutku, ya, Alya. Revan ini selalu menjadikan kamu sebagai rumah tempat dia pulang dikala dia sangat lelah."
"Dia mencintai Aira, tapi kamu orang yang membuatnya nyaman."
"Gak beres ini mah, Alya... Pusing deh aku."
Awalnya sedih, aku jadi terkekeh melihat respons yang Zara berikan.
"Sudah... biarkan kisah cintaku dan Kak Revan hanya abadi di karya ku ini saja, Zar."
Aku menampilkan layar laptopku ke arah Zara. Ia sedikit melongok.
"Cinta dan Luka yang Berjalan Beriringan...?"
"Kamu tahu, aku nulis buku ini hanya dua minggu lebih, dan sudah aku kirim ke penerbit. Dan kabarnya hari ini penerbit akan memberikan keputusannya. Menerima atau menolak karyaku."
"Coba aku mau lihat sinopsisnya..."
Zara dengan teliti membaca sinopsisnya. Bibirnya yang kecil itu bergerak lincah.
"Bagus!!!! Banget... Aku yakin ini akan menjadi novel best seller. Apalagi ini diambil dari kisah cintamu sendiri, Al..."
"Hehe, Aamiin. Semoga saja diterima oleh penerbit."
"Ending dari kisah Alya dan Revan di novel ini gimana, Al?"
"Hmm, nama tokohnya bukan Alya dan Revan, ya. Hmm... ending-nya ada. Nanti kamu baca saja kalau jadi terbit."
"Iya deh..."
🌸🌸🌸
Setelah jam mengajar selesai, aku memutuskan untuk segera pulang.
"Bu Guru dijemput pacarnya lagi, ya?"
Seperti biasa, Ciara akan melayangkan pertanyaan polosnya.
"Teman-teman, pacar Bu Guru ternyata seorang dokter yang dulu pernah ngobatin kaki aku."
"Dokternya tampan dan sangat baik."
Ciara mulai bergosip riang di hadapanku. Aku hanya bisa menggelengkan kepala. Kelakuan anak zaman sekarang memang sering di luar kepala.
"Cocok sekali dengan Bu Guru Alya."
"Cantik dan tampan, sama-sama baik lagi."
Ya Allah, kenapa hatiku semakin teriris?
Tit...
Suara klakson kencang membuat kami semua tersentak kaget.
Kak Revan berada di sana dan sedang melambaikan tangannya pada Ciara, membuat Ciara lebih girang lagi.
"Itu... itu pacar Bu Guru Alya. Pak Dokter!!!"
Ciara dan Kak Revan terlihat sudah sangat akrab. Tidak menyangka pertemuan di rumah sakit itu akan membuat mereka menjadi dekat.
"Ciara! Panggilkan Bu Guru Alya, kata Pak Dokter pulang!" teriak Kak Revan, padahal aku ada di sini. Apa dia tidak melihat posisiku yang berdiri di samping Ciara?
"Ini... Bu Guru Alya... pacarnya Pak Dokter."
Ciara menarik tanganku menuju posisi Kak Revan. Di bawah pohon jambu, Kak Revan menungguku.
"Kenapa harus teriak-teriak? Apa kamu tidak melihatku yang sedang berdiri di sana?"
Aku mulai memakai helm yang diberikan Kak Revan.
"Lihat, biar seru aja lihat Ciara yang tampak antusias."
"Ayo naik..." Kak Revan mengulurkan bahunya untuk menjadi tumpuan saat aku menaiki motor. Tindakan baru yang ia lakukan untukku.
"Cie... Pak Dokter..."
"Bye, Ciara. Nanti kita ketemu lagi."
Kak Revan mulai menjalankan motornya. Aku ikut melambaikan tangan pada Ciara dan kawan-kawannya.
Baru sampai di pagar, Kak Revan mengerem mendadak.
Cit!
Rem mendadak membuat tubuhku sedikit terpental ke depan. Helmku membentur helm Kak Revan.
"Pegangan! Aku takut kamu terlempar, Alya!"
Belum sempat aku mengelak, tanpa aba-aba Kak Revan sudah menjalankan motornya dengan menarik gas kuat-kuat.
Brrumm!
Membuatku tersentak. Jika tidak memegang Kak Revan, mungkin tubuh ini akan terjungkal.
Laju motor sangat kencang, membuat hijabku terasa ingin lepas. Jika tidak terhalang oleh helm, mungkin hijab ini sudah terbang. Motor Kak Revan mulai meliuk-liuk menerabas kemacetan, membuatku semakin mengeratkan pegangan saat Kak Revan dengan beraninya menyalip dua mobil sekaligus di depannya.
"Kak... kamu membuat jantungku hampir copot."
"Tenang, aku akan selalu menjamin kamu aman."
Deg.
Desiran hangat kembali terasa. Apa maksud dari kalimat itu?
Bersambung.