Sejak kecil, Sekar hanya "anak nomor dua" di rumahnya sendiri.
Semua yang terbaik selalu untuk sang kakak, Laras—si sulung yang sempurna, cerdas, dan dibanggakan. Sekar? Cukup pakai baju bekas kakaknya, tidur di kamar bekas gudang, dan tersenyum saat dilupakan.
Maka ketika Laras membawa pulang tunangannya saat Lebaran—**Damar Wirajaya**, pewaris konglomerat yang dingin, tampan, dan kaya raya—Sekar pikir pria itu tak ada urusannya dengannya.
Ia salah besar.
Karena tatapan datar Damar selalu berhenti terlalu lama… di wajahnya. Karena hadiah, perhatian, dan "kebetulan-kebetulan" itu semua mengarah padanya. Dan pada satu malam yang tak bisa ia ceritakan pada siapa pun, Sekar menyadari kebenaran yang mengerikan:
**Bukan kakaknya yang diinginkan pria itu. Tapi dirinya.**
Damar tak akan melepaskannya. Dengan utang miliaran rupiah, perjanjian pranikah yang mengikat, dan kuasa yang bisa menghancurkan seluruh keluarganya, ia menyeret Sekar ke dalam pernikahan yang tak pernah Sekar inginkan—sementara satu-satunya cinta yang tulus, sahabat kecilnya **Rangga**, hanya bisa menatap dari kejauhi.
Tapi Sekar bukan lagi gadis yang menunduk dan menerima.
Di balik senyum patuhnya, ia menghitung. Ia menunggu. Dan ketika rahasia kelahirannya sendiri terbongkar—bahwa darah yang mengalir di tubuhnya jauh lebih rumit dari yang siapa pun tahu—Sekar berhenti menjadi mangsa.
Kali ini, dialah yang memegang pisau.
*Berapa harga sebuah kebebasan? Sekar siap membayarnya—sampai tetes terakhir.*
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Luna Widy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 14
Bab 14: Dibandingkan di Depan Semua Orang
Empat hari kemudian, Ibu mengubah arisan bulanan menjadi pameran keberhasilan Mbak Laras.
Kalung emas koleksi Dewi terpasang di lehernya sejak pagi. Foto seserahan dicetak dan diletakkan di meja ruang tamu. Bahkan tirai lama dicuci agar rumah kami tampak pantas dibicarakan calon besan dari keluarga Wirajaya.
Aku bertugas menggoreng risoles, menuang teh, dan tersenyum.
"Laras mana?" tanya seorang ibu tetangga.
"Masih di kantor. Anak karier memang sibuk," jawab Ibu dengan bangga. "Tapi sebentar lagi datang. Mas Damar juga mungkin menyusul kalau urusannya selesai."
Nama itu membuat tanganku berhenti di atas teko.
"Sekar belum kerja?" tanya yang lain.
Ibu menghela napas panjang, seolah pertanyaan tersebut membuka luka pribadinya. "Belum. Sudah lulus, tapi terlalu pilih-pilih. Berbeda sekali dengan Mbaknya. Laras dulu belum wisuda sudah diperebutkan perusahaan."
Beberapa orang tertawa kecil. Seorang ibu menatapku dari ujung kepala sampai kaki.
"Yang penting cepat dapat jodoh juga, Bu. Tapi kalau belum kerja, laki-laki sekarang mikir dua kali."
"Nah, itu yang saya bilang." Ibu menepuk lututnya. "Perempuan harus punya prestasi. Jangan cuma mengandalkan keluarga."
Aku meletakkan teh di meja. Sejak pagi aku membersihkan rumah, menata makanan, mengangkat kursi, dan menerima tamu yang kemudian mendengarkan ceramah tentang betapa aku suka mengandalkan keluarga.
Budhe Sari datang membawa Bulik Yah. Keduanya langsung bergabung dalam lingkaran pujian.
"Sekar sebenarnya lumayan," kata Budhe Sari. "Cuma mungkin kurang luwes. Laras dari kecil memang beda. Pintar membawa diri."
"Laras tahu kapan harus bicara," tambah Ibu, menatapku. "Nggak suka menyela orang tua."
Pesannya jelas. Peristiwa di grup WhatsApp belum dilupakan.
Aku kembali ke dapur. Ayah sedang memotong buah dengan gerakan kaku.
"Biar Ayah yang antar minum," katanya.
"Nanti Ibu marah."
"Ayah juga tinggal di rumah ini."
Namun ketika ia membawa nampan keluar, Ibu langsung berseru, "Pak, biar Sekar! Tamu-tamu mau bicara sama Bapak."
Ayah berhenti. Aku mengambil nampan dari tangannya sebelum pertengkaran dimulai.
Mbak Laras tiba menjelang pengundian arisan. Semua orang menyambutnya seolah artis masuk ke ruangan. Ia mengenakan blazer kantor dan membawa dua kotak kue. Ibu memeluknya, membetulkan rambutnya, lalu menyuruhnya duduk di tengah.
"Mas Damar nggak ikut?"
"Masih ada rapat," jawab Mbak Laras.
"Aduh, calon suami sibuk sekali."
"Namanya juga mengurus perusahaan besar."
Seseorang meminta melihat cincin. Tangan Mbak Laras berpindah dari satu orang ke orang lain. Aku berdiri di belakang sofa dengan piring kosong.
"Nanti Sekar jadi apa setelah Laras menikah?" tanya ibu yang tadi membahas jodoh.
"Mungkin ikut Laras ke Surabaya kalau belum kerja," jawab Ibu. "Bisa membantu dulu."
Aku menatapnya. "Aku nggak pernah bilang mau ikut."
Suara di ruang tamu mengecil.
Ibu tersenyum, tetapi matanya menajam. "Ya, itu kalau kamu butuh. Ibu hanya memikirkan masa depanmu."
"Masa depanku sebaiknya dibicarakan denganku, Bu."
Budhe Sari berdeham. Bulik Yah menunduk ke ponsel. Para tetangga memasang wajah orang yang pura-pura tak ingin mendengar tetapi tak akan melewatkan satu kata pun.
"Sekar," bisik Mbak Laras. "Nanti saja."
Aku sudah terlalu lelah dengan nanti.
"Aku sedang melamar kerja. Aku punya rencana sendiri. Jadi tolong jangan bilang kepada orang-orang seolah aku akan hidup dari Mbak Laras."
Wajah Ibu memerah. "Ibu tidak bilang begitu."
"Ibu baru saja bilang aku bisa ikut untuk membantu Mbak."
"Membantu keluarga itu salah?"
"Nggak. Tapi menjadikan hidupku cadangan untuk hidup orang lain itu salah."
Keheningan pecah oleh suara sendok jatuh. Seorang ibu buru-buru memungutnya, tetapi mata semua orang tetap tertuju kepadaku.
Ibu tertawa pendek. "Lihat? Begini kalau anak belum berhasil tapi sudah merasa paling tahu. Ibu membesarkan dia, menyekolahkan sampai universitas, sekarang bicara seperti korban."
"Aku nggak bilang Ibu nggak pernah melakukan apa-apa."
"Kurang apa Ibu? Kamu diberi makan, diberi kamar, dipakaikan baju bagus."
Baju bekas. Kamar gudang. Telur di dasar nasi yang harus disembunyikan.
"Sudah, Bu," sela Ayah. "Banyak tamu."
Ibu langsung menoleh kepadanya. "Nah, kamu juga. Selalu membela Sekar di depan orang. Makanya dia berani mempermalukan ibunya sendiri."
Matanya berkaca-kaca begitu cepat. Beberapa tetangga mulai menenangkannya.
Dalam waktu kurang dari satu menit, aku berubah dari perempuan yang dipermalukan menjadi anak durhaka yang membuat ibunya menangis.
Seorang tetangga yang duduk dekat pintu, Bu Rini, menaruh cangkirnya. "Mungkin Sekar cuma ingin diberi kesempatan bicara, Bu Endang. Anak muda sekarang memang ingin mandiri."
Aku menoleh kepadanya, terkejut ada satu suara yang tidak langsung menyalahkanku.
Ibu menyeka mata. "Saya juga ingin dia mandiri, Bu. Tapi bagaimana? Bangun kesiangan, kerja belum dapat, di rumah marah-marah. Kami orang tuanya yang pusing."
"Aku bangun pagi untuk menyiapkan makanan arisan," kataku. "Semua risoles yang dimakan tamu aku yang goreng."
Beberapa kepala menoleh ke piring kosong. Ibu segera berkata, "Membantu sedikit lalu dihitung. Begitulah anak sekarang."
Bu Rini tak menjawab lagi. Namun ia mengambil satu risoles terakhir, membungkusnya dengan tisu, lalu menyodorkannya kepadaku ketika melewati dapur.
"Enak," bisiknya. "Terima kasih sudah memasak."
Hanya itu. Satu pengakuan kecil di tengah ruangan yang menghapus seluruh pekerjaanku. Aku menggenggam risoles dingin tersebut sampai tisu berminyak, lalu menyimpannya untuk Ayah.
Di luar pagar, suara beberapa ibu yang pulang terdengar menyebut namaku. Konflik ini bahkan belum selesai, tetapi ceritanya sudah berjalan dari satu rumah ke rumah lain.
Besok, mungkin seluruh perumahan akan mengenalku sebagai adik iri yang tidak tahu berterima kasih.
Tak seorang pun akan bertanya siapa yang lebih dulu mempermalukan siapa.
Mbak Laras berdiri. "Sekar, masuk dulu."
Aku membawa piring ke dapur. Di belakangku, suara-suara lembut menghibur Ibu dan menyebutku sedang stres karena belum bekerja.
Arisan berlanjut. Nomor undian dibacakan. Orang-orang tertawa lagi.
Aku mencuci piring sampai suara tamu terakhir menghilang. Senja turun ketika pintu depan ditutup. Kukira badai selesai bersama arisan.
Ternyata Ibu menungguku di ruang makan.
Kalung emasnya masih berkilau di leher. Pak Darsono berdiri di dekat jendela. Mbak Laras membereskan kotak kue dengan wajah tegang.
"Duduk," kata Ibu.
"Aku masih bersih-bersih."
"Ibu bilang duduk."
Aku meletakkan lap.
"Sekarang kamu merasa hebat karena berani melawan Ibu di depan semua orang?" Suaranya rendah, jauh lebih berbahaya daripada tangis tadi. "Kamu sengaja mau merusak nama keluarga sebelum lamaran Mbakmu?"
"Aku cuma membela diriku."
"Jangan sok jadi korban!"
Ayah maju satu langkah. "Endang, cukup."
Ibu menunjukku, tangannya gemetar oleh marah. "Kamu tunggu. Setelah semua yang Ibu lakukan, malam ini kamu akan belajar cara bicara kepada orang tua."