Chu Xuan menjadi orang pertama dalam sejarah yang menolak reinkarnasi.
Karena murka, utusan akhirat mengutuknya untuk menjalani delapan belas tahun kehidupan yang penuh penderitaan di dunia kultivasi tanpa bakat, tanpa kekayaan, dan tanpa harapan.
Setelah kehilangan satu-satunya keluarga yang membesarkannya dan hidup sendirian selama tiga tahun di sebuah kuil tua yang hampir roboh, Chu Xuan akhirnya disambar petir pada usia delapan belas tahun.
Hari itu, seluruh dunia kultivasi tidak mengetahui satu hal:
Orang paling malas di dua dunia akhirnya memperoleh kekuatan untuk menjadi tak terkalahkan.
Namun, Chu Xuan hanya memiliki satu tujuan.
Memperbaiki atap Kuil Qingfeng.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon D'Silent Novel, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 2 — Bayi di Depan Kuil
Hujan turun dengan deras.
Petir sesekali menyambar langit Pegunungan Tianyun, menerangi jalan setapak yang sempit menuju sebuah kuil tua di puncak gunung.
Kuil Qingfeng.
Sebuah kuil kecil yang bahkan hampir dilupakan oleh dunia.
Atapnya bocor di sana-sini.
Dindingnya dipenuhi retakan.
Dan satu-satunya penghuni tempat itu hanyalah seorang pertapa tua yang telah tinggal sendirian selama puluhan tahun.
Malam itu, Pertapa Qingfeng sedang duduk di depan tungku api sambil merebus semangkuk bubur.
"Cuaca seperti ini..."
Dia melirik ke luar jendela yang diterpa hujan.
"...bahkan hantu pun mungkin malas keluar."
BOOM!
Petir menyambar tidak jauh dari kuil.
Namun, sesaat kemudian, di antara suara hujan dan gemuruh petir, Pertapa Qingfeng mendengar sesuatu.
Tangisan.
Tangisan seorang bayi.
Wajah tuanya yang tenang sedikit berubah.
"Mustahil."
Tidak ada penduduk yang tinggal di sekitar Pegunungan Tianyun. Bahkan para pemburu pun jarang berani mendaki gunung ini pada malam hari.
Tangisan itu terdengar lagi.
"Waaa... waaa..."
Pertapa Qingfeng terdiam selama beberapa saat sebelum perlahan berdiri.
"Jangan bilang..."
Dengan membawa lentera tua, dia membuka pintu kuil.
Angin dingin langsung menerpa wajahnya.
Di depan tangga batu yang telah ditelan lumut, sebuah keranjang bambu kecil terlihat terguncang oleh hujan.
Tangisan itu berasal dari sana.
Pertapa Qingfeng segera menghampiri dan mengangkat penutup keranjang tersebut.
Di dalamnya...
...terbaring seorang bayi laki-laki yang dibungkus kain lusuh.
Anehnya, meski hujan begitu deras, bayi itu sama sekali tidak menangis ketakutan. Setelah melihat wajah Pertapa Qingfeng, dia malah menguap kecil.
"Ah..."
Lalu tertidur lagi.
Pertapa Qingfeng terdiam.
"Anak ini..."
Dia mengamati bayi itu dengan saksama.
Tidak ada liontin.
Tidak ada surat.
Tidak ada petunjuk tentang asal-usulnya.
Hanya selembar kain yang sudah usang dan sebuah nama yang ditulis dengan tinta yang hampir memudar.
Chu Xuan.
Pertapa Qingfeng menghela napas panjang.
"Siapa orang tua yang tega membuang anaknya di tempat seperti ini?"
Hujan semakin deras.
Pertapa Qingfeng menatap bayi di pelukannya, lalu menatap kembali ke arah kuil yang sunyi.
Selama puluhan tahun, dia hidup seorang diri.
Dia makan seorang diri.
Berbicara seorang diri.
Dan menua seorang diri.
Dia sudah lama menerima bahwa dirinya mungkin akan menghabiskan sisa hidupnya dalam kesunyian.
Namun malam ini...
Takdir sepertinya memiliki rencana lain.
Bayi kecil itu tiba-tiba membuka matanya.
Sepasang mata hitam pekat menatap lurus ke arah Pertapa Qingfeng.
Kemudian, dengan suara yang sangat pelan, bayi itu bergumam dalam tidurnya.
"...tempat tidur..."
Pertapa Qingfeng membeku.
"Apa?"
"...aku mau tidur..."
Keheningan menyelimuti puncak gunung.
Untuk pertama kalinya dalam puluhan tahun, Pertapa Qingfeng merasakan sudut bibirnya sedikit terangkat.
"Menarik."
Dia mengangkat bayi itu lebih tinggi.
"Baiklah, Chu Xuan."
"Mulai hari ini..."
"...Kuil Qingfeng akan menjadi rumahmu."
Di kejauhan, petir kembali menyambar langit.
Tidak ada yang tahu bahwa bayi yang tertidur lelap di pelukan seorang pertapa tua itu kelak akan menjadi eksistensi yang membuat seluruh dunia kultivasi gemetar.
Untuk saat ini...
...dia hanyalah seorang bayi yang sangat ingin tidur.
Hujan masih turun ketika Pertapa Qingfeng membawa keranjang bambu itu masuk ke dalam kuil.
Pintu kayu tua ditutup perlahan, menghalau angin dingin dari luar.
Pertapa Qingfeng meletakkan bayi itu di dekat tungku api yang menyala redup.
"Kau beruntung."
Katanya pelan sambil mengaduk bubur yang hampir matang.
"Jika aku terlambat membukakan pintu, kau mungkin tidak akan melihat matahari esok hari."
Bayi itu tidak menjawab.
Dia hanya tertidur pulas dengan kedua tangan kecil terangkat ke atas, seolah-olah tidak peduli terhadap nasibnya sendiri.
"..."
Pertapa Qingfeng mengamati wajah bayi itu cukup lama.
Sudah puluhan tahun sejak kuil ini mendengar suara selain miliknya sendiri.
Terkadang, dia bahkan lupa seperti apa rasanya berbicara dengan orang lain.
Dia hidup terlalu lama.
Melihat terlalu banyak perpisahan.
Dan mengubur terlalu banyak nama.
"Takdir benar-benar suka bercanda."
Dia mengambil mangkuk kayu dan mulai meniup bubur agar tidak terlalu panas.
Di sudut aula utama Kuil Qingfeng, puluhan papan nama leluhur tersusun rapi. Cahaya api yang redup membuat bayangan mereka menari-nari di dinding.
Tatapan Pertapa Qingfeng sempat tertuju ke arah salah satu papan nama yang paling tua.
Sudah sangat lama...
...sejak seseorang berhasil mencapai puncak Pegunungan Tianyun.
Namun malam ini, seorang bayi berhasil melakukannya.
"Tidak."
Pertapa Qingfeng menggeleng pelan.
"Lebih tepatnya, seseorang membawamu ke sini."
Untuk pertama kalinya dalam puluhan tahun, mata tuanya yang keruh memancarkan sedikit cahaya.
Dia pernah mengamati pergerakan bintang.
Dia pernah membaca pertanda langit.
Tetapi takdir bayi ini...
...tidak dapat dilihat.
Hal itu seharusnya mustahil.
"Hm."
Pada saat itu, bayi Chu Xuan sedikit mengernyit dalam tidurnya.
Kemudian, dengan suara yang nyaris tak terdengar, dia bergumam:
"...jangan lembur..."
Tangan Pertapa Qingfeng yang sedang memegang mangkuk langsung berhenti.
"Apa?"
"...hari libur..."
"...aku mau pulang..."
Keheningan menyelimuti aula utama.
Pertapa Qingfeng mulai meragukan pendengarannya.
"Apakah semua bayi zaman sekarang seperti ini?"
Tidak ada yang menjawabnya.
Pada akhirnya, dia hanya menghela napas dan menggelengkan kepala.
"Sepertinya aku benar-benar terlalu tua."
Dia lalu mengambil sesendok kecil bubur dan dengan hati-hati menyuapkannya kepada Chu Xuan.
Anehnya, bayi itu membuka mulutnya secara refleks tanpa membuka mata.
Bahkan setelah selesai makan...
...dia tetap tidak bangun.
"Anak yang aneh."
Namun, untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Pertapa Qingfeng tersenyum.
Malam semakin larut.
Hujan mulai mereda.
Sebelum memadamkan lampu minyak, Pertapa Qingfeng melirik ke arah keranjang bambu di samping tungku.
"Chu Xuan..."
Dia mengeja nama itu perlahan.
"Mulai hari ini, kau adalah cucuku."
"Dan selama aku masih hidup..."
"...tidak seorang pun akan membuatmu kelaparan."
Di luar kuil, angin malam kembali bertiup.
Tidak ada yang menyadari bahwa janji sederhana yang diucapkan seorang pertapa tua pada malam hujan itu akan menjadi satu-satunya alasan seorang anak bernama Chu Xuan tetap menganggap Kuil Qingfeng sebagai rumahnya.
Bertahun-tahun kemudian, bahkan setelah seluruh dunia kultivasi gemetar di bawah namanya...
...Chu Xuan masih akan mengingat malam ketika seorang kakek tua memberinya semangkuk bubur hangat dan sebuah tempat untuk pulang.
Bersambung...