NovelToon NovelToon
Pak Dosen Galak, Awas Jatuh Cinta

Pak Dosen Galak, Awas Jatuh Cinta

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Dosen / Diam-Diam Cinta
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: W_ Wulandari

Kirana cuma pengen kuliah tenang. Tapi dosen paling galak sekampus malah jadi orang yang bikin jantungnya berdebar tanpa alasan.

Status dosen dan mahasiswi jadi tembok pemisah. Masa lalu kelam Alden jadi ancaman yang siap menghancurkan semuanya.

Satu pertanyaan tersisa: berani nggak, Kirana, jatuh cinta pada orang yang paling dilarang buat dicintai?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon W_ Wulandari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 1: MAHASISWI BARU DI KELAS DOSEN KILLER

Kirana Ayu berlari kecil menyusuri koridor gedung Fakultas Ekonomi, tas ranselnya terayun ke kanan kiri seiring langkah yang dipercepat. Jam di pergelangan tangannya menunjukkan pukul tujuh lewat dua belas menit. Kelas Pengantar Manajemen Strategis dimulai pukul tujuh tepat.

"Gila, gila, gila," gumamnya sambil menahan napas yang mulai memburu. Rambut panjangnya yang tadi rapi disanggul kini beberapa helai lepas dan menempel di pipi yang berkeringat.

Dia baru tiga hari jadi mahasiswa baru di kampus ini, dan hari ini adalah hari pertama masuk kelas jurusan setelah minggu orientasi selesai. Sialnya, dia salah menghitung waktu tempuh dari kos ke gedung kuliah. Peta di kepalanya masih berantakan, belum hafal jalan pintas mana yang bisa memangkas lima menit perjalanan.

Sampai di depan ruang 301, Kirana berhenti sejenak, mengatur napas, lalu mendorong pintu perlahan. Engselnya berderit pelan, cukup untuk membuat puluhan pasang mata di dalam kelas menoleh ke arahnya.

Dan satu pasang mata yang paling tajam datang dari depan kelas.

Seorang pria berdiri di dekat papan tulis, mengenakan kemeja putih yang disetrika rapi dan lengan yang digulung sampai siku. Rahangnya tegas, alisnya sedikit terangkat, dan tatapannya seolah bisa membelah orang jadi dua hanya dengan sekali lirik.

"Silakan masuk," katanya, suaranya datar tapi menusuk. "Karena sepertinya kamu sudah cukup percaya diri membuka pintu di tengah kelas yang sedang berjalan."

Beberapa mahasiswa tertawa kecil, ada yang menahan senyum di balik telapak tangan. Kirana merasa wajahnya memanas, dari leher sampai telinga.

"Ma... maaf, Pak. Saya kesasar tadi," jawabnya, suaranya lebih pelan dari yang dia inginkan.

"Nama?"

"Kirana. Kirana Ayu."

Pria itu membuka buku absen di meja, jarinya menyusuri deretan nama sampai berhenti di satu titik. Dia mencentang sesuatu, lalu menutup buku itu tanpa berkata apa apa lagi. Tidak ada makian, tidak ada omelan panjang. Tapi caranya menatap Kirana selama dua detik terakhir sebelum kembali menghadap papan tulis terasa lebih menusuk daripada seribu kata sindiran.

Kirana buru buru mencari kursi kosong di barisan belakang, duduk di sebelah cewek berkacamata yang langsung menyenggol lengannya pelan.

"Untung cuma dicentang doang," bisik cewek itu. "Namaku Tesa, btw."

"Kirana," balasnya lirih, masih berusaha menormalkan detak jantung.

"Itu Pak Alden. Dosen paling galak di jurusan kita. Kalau telat sepuluh menit, langsung dianggap absen. Kalau jawabanmu ngasal, siap siap disindir di depan kelas sampai muka merah padam." Tesa berbisik sambil sesekali melirik ke depan, memastikan suaranya tidak sampai terdengar.

Kirana menoleh ke arah dosen itu. Alden Rafael Wicaksono, begitu tertulis di slide presentasi yang baru saja dia buka. Umurnya mungkin baru awal tiga puluhan, tapi caranya berdiri, caranya bicara, semuanya menunjukkan wibawa yang jauh lebih tua dari usianya.

"Hari ini kita akan membahas analisis SWOT dalam konteks perusahaan multinasional," kata Alden, suaranya mengalir tegas tanpa jeda. "Saya harap semua sudah membaca bab dua sebelum masuk kelas. Kalau belum, saya sarankan pinjam catatan teman sebelah dan pura pura paham."

Sindiran itu membuat sebagian kelas tertawa lagi. Kirana menunduk, membuka buku catatan dan mulai menulis apa pun yang keluar dari mulut dosen di depan. Tangannya bergerak cepat, berusaha mengejar setiap kalimat yang meluncur tanpa jeda.

Sesekali dia mencuri pandang ke depan.

Bukan karena tertarik, hanya karena penasaran bagaimana bisa ada orang yang bicara sepanjang itu tanpa sekali pun tersenyum.

Setengah jam berlalu, Alden melempar pertanyaan ke kelas. "Siapa yang bisa jelaskan perbedaan strategi diferensiasi dan fokus?"

Hening. Tidak ada yang mengangkat tangan. Beberapa mahasiswa menunduk, pura pura sibuk mencatat sesuatu yang sebenarnya tidak ada.

Mata Alden menyapu seisi kelas, lalu berhenti di barisan belakang. "Kamu. Yang tadi telat."

Kirana mendongak, kaget. "Sa... saya, Pak?"

"Ada nama lain di kursi itu?"

Beberapa tawa kecil meletus lagi. Kirana meremas ujung buku catatannya di bawah meja, jantungnya berdetak kencang bukan karena hal manis, melainkan karena panik.

"Strategi diferensiasi itu... perusahaan bikin produk yang beda dari kompetitor, biar konsumen milih karena keunikannya. Kalau fokus, perusahaannya nyasar ke satu segmen pasar yang spesifik aja, nggak coba nyenengin semua orang," jawab Kirana, suaranya bergetar di awal tapi mulai stabil di akhir kalimat.

Alden diam sejenak, menatapnya lurus. Tatapan itu bukan tatapan marah, tapi juga bukan tatapan puas. Entah apa namanya.

"Cukup benar," katanya akhirnya. "Lain kali, datang tepat waktu supaya bisa dengar penjelasan dari awal, bukan menebak nebak."

Kirana menghela napas lega, meski masih terasa ada yang aneh berputar di dadanya. Bukan lega yang biasa. Ada semacam sensasi campur aduk yang tidak bisa dia jelaskan.

Jam istirahat, Kirana dan Tesa duduk di kantin, memesan es teh dan gorengan seadanya. Kirana masih setengah kesal mengingat kejadian tadi.

"Gila ya, baru hari pertama udah kena semprot," keluhnya sambil menyeruput es teh.

"Itu belum apa apa," Tesa terkekeh. "Kakak tingkatku pernah cerita, ada mahasiswa yang disuruh keluar kelas cuma gara gara HP-nya bunyi. Pak Alden nggak toleransi sama sekali soal hal hal kayak gitu."

"Kok bisa jadi dosen segalak itu sih?"

Tesa mengangkat bahu. "Katanya sih dulu dia pernah kena masalah besar, makanya jadi sekaku itu. Tapi ya gosip doang, nggak ada yang tahu pasti."

Kirana mengangguk, meski rasa penasaran diam diam mulai tumbuh di kepalanya. Dia buru buru menepis pikiran itu, mengingatkan diri sendiri bahwa dia datang ke kampus ini untuk belajar, bukan untuk kepo soal kehidupan pribadi dosen.

Tapi entah kenapa, sepanjang sisa hari itu, wajah tegas Alden terus muncul di benaknya. Cara dia berdiri tegap di depan kelas, cara suaranya yang dalam mengalun tanpa keraguan sedikit pun, semuanya terus terputar seperti rekaman yang tidak mau berhenti.

Sore harinya, Kirana kembali ke gedung fakultas untuk mengurus berkas her registrasi yang tertinggal. Koridor sudah mulai sepi, sebagian besar mahasiswa sudah pulang. Langkahnya bergema di lorong yang mulai temaram karena lampu belum semuanya dinyalakan.

Saat melewati ruang dosen, pintu yang setengah terbuka membuat langkahnya melambat tanpa sadar. Dari celah pintu, dia melihat Alden duduk sendirian di mejanya, kacamata bertengger di ujung hidung, tangannya sibuk mencoret sesuatu di atas kertas.

Ada sesuatu yang berbeda dari sosoknya sekarang. Tidak ada raut galak yang biasa dia tunjukkan di kelas. Hanya ada kerutan tipis di dahi, tanda dia sedang berpikir keras, dan sesekali dia mengetuk pena ke meja, ritme pelan yang menandakan kegelisahan kecil.

Kirana tidak sengaja menabrak tumpukan map di dekat pintu, membuat suara berisik yang cukup untuk membuat Alden mendongak.

"Kamu," katanya, alisnya sedikit terangkat melihat siapa yang berdiri di depan pintu.

"Kirana, kan?"

"I... iya, Pak. Maaf, saya cuma lewat," jawabnya cepat, buru buru membungkuk mengambil map yang terjatuh.

Alden melepas kacamatanya, menyandarkan punggung ke kursi. "Ada perlu sesuatu?"

"Nggak, Pak. Beneran cuma lewat, mau ke bagian akademik," Kirana menjelaskan, suaranya sedikit tergesa.

Hening sejenak. Alden menatapnya lebih lama dari yang seharusnya, seolah sedang menilai sesuatu yang tidak bisa dijelaskan dengan kata kata. Kirana merasa jantungnya berdegup aneh, degup yang terlalu cepat untuk sekadar situasi canggung biasa.

"Lain kali kalau lewat, jangan bikin kaget orang," kata Alden akhirnya, nada suaranya sedikit lebih lunak dari yang biasa dia dengar di kelas.

"Siap, Pak," Kirana buru buru mengangguk, lalu berjalan cepat menjauh dari ruangan itu.

Begitu sampai di ujung koridor, dia berhenti sejenak, menyandarkan punggung ke dinding sambil menghela napas panjang. Tangannya masih memegangi dada, merasakan detak jantung yang belum juga kembali normal.

"Kenapa sih tadi jantung gue berdebar kayak abis lari maraton," gumamnya pelan, bingung sendiri dengan reaksi tubuhnya.

Dia menggeleng cepat, mencoba mengusir pikiran aneh yang mulai berputar di kepala. Tapi bayangan wajah Alden yang melepas kacamata, kerutan tipis di dahinya, dan tatapan yang entah kenapa terasa berbeda dari yang biasa dia tunjukkan di kelas, terus terngiang sepanjang perjalanan pulang.

Yang tidak Kirana ketahui, di dalam ruangan yang baru saja dia tinggalkan, Alden masih terdiam menatap pintu yang tertutup. Pena di tangannya berhenti mengetuk meja. Untuk pertama kalinya sejak sekian lama, ada sesuatu yang mengusik ketenangan yang selama ini dia jaga rapat rapat.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!