The Last Crown adalah buku pertama dari The Hollow Thorne Trilogy. Bercerita tentang perjalanan Pangeran Kal Valdyr, pewaris takhta Izengard yang kehilangan segalanya setelah istana jatuh dalam pengkhianatan berdarah. Dari seorang pangeran yang dibesarkan untuk memerintah, Kal berubah menjadi buronan yang hanya membawa satu hal, nama keluarganya yang hampir musnah.
Dengan petunjuk terakhir dari ayahnya, Kal mencari Marlow Renad, Nightingale terakhir yang pernah bergerak di balik bayangan mahkota. Bersamanya, Kal mulai menempuh jalan gelap untuk merebut kembali apa yang dirampas darinya.
📢 Visualisasi karakter atau hal penting lainnya dapat dilihat pada postingan di profil saya, Visualisasi itu saya buat dengan bantuan AI berdasarkan gambaran saya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Inkbound, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Satu Pagi Lagi
Keesokan paginya aku terbangun oleh bunyi mendesis dari lantai bawah. Suaranya muncul berulang, diselingi letupan kecil lemak panas dan gesekan logam pada dasar wajan. Aroma mentega datang beberapa saat kemudian, menyusup melalui celah-celah papan lantai dan memenuhi kamar sebelum indra lain dalam tubuhku benar-benar terjaga.
Aku membuka mata perlahan. Cahaya matahari masuk dari jendela sempit, jatuh miring di atas lantai dan memberi warna keemasan pada dinding kayu. Debu-debu kecil bergerak di dalamnya setiap kali udara berembus melalui celah tirai. Untuk beberapa detik aku hanya berbaring, memandangi balok langit-langit sambil mencoba mengingat di mana aku berada.
Kasur di bawah tubuhku terasa hangat dan lembut. Seprai yang disiapkan Ishar masih menyimpan aroma sabun dan bunga kering. Tubuhku telah beristirahat jauh lebih baik daripada yang kuduga, meski rusuk kanan segera mengingatkanku pada perkelahian semalam ketika aku mencoba menarik napas terlalu dalam.
Aku bangkit dengan hati-hati. Nyeri tumpul menjalar dari sisi tubuh ke punggung, lalu perlahan mereda ketika aku duduk di tepi ranjang. Bibir yang pecah terasa kaku. Minyak cengkih yang dipakai Ishar semalam meninggalkan rasa samar di kulit dan sedikit pahit ketika lidahku menyentuh bagian dalam luka.
Jubahku masih tergantung pada pasak dekat pintu. Koin perak Nightingale berada di dalam kantungnya. Aku menyentuh bagian luar kain untuk memastikan benda itu masih ada, lalu mengenakan kemeja dan celana tanpa mengambil jubah. Udara di dalam rumah cukup hangat, dan untuk pertama kalinya selama beberapa hari aku tidak perlu langsung membungkus tubuh dengan semua lapisan pakaian yang kubawa.
Tangga kayu berderit ketika kuturuni. Aroma mentega semakin kuat pada setiap anak tangga, bercampur dengan telur, roti panggang, dan rempah segar. Cahaya pagi memenuhi ruang utama melalui jendela-jendela kecil. Api di perapian sudah kembali menyala, lebih kecil daripada malam sebelumnya, tetapi cukup untuk menghangatkan panci air yang tergantung di atasnya.
Ishar berdiri dekat meja makan sambil membawa piring kayu besar. Beberapa telur mata sapi tersusun di atasnya, bagian putihnya masih mengeluarkan uap tipis dan tepiannya berwarna kecokelatan karena mentega. Kuning telurnya tetap bulat dan mengilap, ditaburi daun peterseli cincang yang berwarna hijau terang.
Ia mengenakan gaun sederhana berwarna krem dengan celemek merah di bagian depan. Celemek itu telah ditambal di beberapa tempat menggunakan kain yang warnanya tidak sama, tetapi bersih. Rambut pirangnya tidak dibiarkan tergerai sepenuhnya seperti semalam. Sebagian diikat longgar di belakang kepala, sementara kepangan kecil yang sama masih jatuh di sebelah kanan wajah.
“Selamat pagi, Kal.”
Ia meletakkan piring di tengah meja. Bunyi kayu menyentuh kayu terdengar pelan di ruangan yang masih sepi.
“Pagi.”
Suaraku terdengar sedikit berat setelah tidur. Aku mengusap wajah, lalu segera berhenti ketika jari hampir mengenai luka di bibir. Peringatan Ishar semalam muncul kembali tanpa diminta.
Ia memperhatikan gerakanku.
“Bagaimana keadaanmu?”
“Sudah lebih baik.”
Aku menuruni anak tangga terakhir, lalu mencoba meluruskan punggung. Rusukku kembali berdenyut, cukup jelas untuk membuat wajahku mengeras sesaat.
“Walaupun masih sedikit sakit ketika bangun.”
Ishar melihat ke arah sisi tubuhku, tetapi tidak langsung memaksaku duduk atau memeriksanya kembali. Ia hanya mengangkat dua jari ke dahinya, menyentuh kulit sebentar dalam tanda penghormatan kepada Jessiah.
“Syukurlah.”
Gerakannya sederhana dan sudah terbiasa. Tidak seperti sebagian orang istana yang memperlihatkan kesalehan hanya ketika ada cukup banyak mata untuk menyaksikan, Ishar melakukannya tanpa memikirkan apakah aku memperhatikan.
Aku melihat sekeliling ruang utama. Dipan dekat perapian sudah dirapikan. Selimut Marlow terlipat rapi di salah satu ujung, sedangkan tasnya tidak terlihat di lantai.
“Di mana Marlow? Dan Rosh?”
Ishar mengelap kedua tangannya pada celemek.
“Mereka di halaman belakang. Marlow memaksa memotong kayu bakar.”
Aku memandang ke arah jendela belakang. Dari luar terdengar bunyi kapak menghantam kayu, teratur dan berat. Setiap pukulan diikuti suara belahan batang yang jatuh ke tanah.
“Dia bilang itu tanda terima kasih,” lanjut Ishar. “Setelah kayunya selesai, dia juga berencana menambal atap kami yang bocor.”
Ia melepaskan ikatan celemek, menggulungnya sekali, lalu menggantungkannya pada paku di dinding dekat dapur. Tambalan-tambalan merah tua dan cokelat pada kain itu tampak semakin jelas di bawah cahaya pagi.
“Marlow tahu cara menambal atap?”
Ishar mengangkat bahu. “Dia terdengar seperti orang yang tahu. Kakek tidak berhasil menghentikannya.”
Aku bisa membayangkan percakapan itu tanpa harus mendengarnya. Rosh mungkin menawarkan penolakan sopan, lalu Marlow mengabaikannya dan mengambil kapak seolah rumah tersebut sudah menjadi tanggung jawabnya.
Ishar menarik salah satu kursi dari bawah meja.
“Duduk dan makanlah. Jangan sampai usaha terbaikku menyiapkan sarapan ini sia-sia.”
Aku tersenyum kecil. Luka di bibir langsung tertarik, tetapi rasa sakitnya tidak cukup untuk menghilangkan senyum itu. Aku duduk di kursi yang disiapkannya dan mengambil dua telur menggunakan sendok kayu. Roti panggang diletakkan dalam keranjang kecil di samping piring, permukaannya masih hangat dan dilapisi mentega yang mulai meleleh.
Aku menaburkan sedikit garam pada telur. Kuningnya pecah ketika kusentuh dengan ujung roti, mengalir kental ke atas piring. Rasanya sederhana, tetapi setelah berhari-hari hidup dari daging kering dan makanan yang dimasak seadanya, mentega hangat dan telur terasa lebih baik daripada hidangan perjamuan mana pun yang kuingat.
Ishar duduk di kursi seberang. Ia tidak mengambil makanan. Kedua sikunya diletakkan di atas meja, lalu dagunya disandarkan pada telapak tangan. Mata hijaunya terus memperhatikanku.
Aku mengunyah beberapa kali sebelum akhirnya menatap balik.
“Kau akan menilai cara makanku juga?”
Ishar menahan tatapan serius selama sesaat, lalu tertawa. Suaranya jernih dan ringan, membuat ruangan terasa lebih cerah daripada cahaya matahari yang masuk melalui jendela. Aku memberinya tatapan curiga, tetapi itu hanya membuat tawanya bertahan sedikit lebih lama.
“Tidak,” katanya setelah berhasil menenangkan diri. “Aku hanya memastikan kau benar-benar mengunyah.”
“Marlow juga melakukan itu.”
“Berarti kau memang perlu diawasi.”
Senyum Ishar masih tertinggal ketika ia duduk lebih tegak. Tatapannya turun pada rambutku yang belum disisir, lalu pada kemeja yang kusut setelah kupakai selama perjalanan.
“Setelah ini, bersihkan dirimu.”
Aku berhenti mengunyah.
“Kau belum mandi sejak kemarin, bukan?”
Aku mencoba mengingat kapan terakhir kali seluruh tubuhku benar-benar terkena air, bukan hanya tangan dan wajah di sungai. Sebelum meninggalkan Gisa, mungkin. Sejak saat itu tubuhku dipenuhi keringat, debu, darah yang telah dibersihkan seadanya, dan bau perjalanan.
“Apa bauku begitu buruk?”
Ishar memiringkan kepala dan mengernyit seolah sedang mempertimbangkan cara menjawab tanpa menyakiti perasaanku.
“Sedikit.”
“Sedikit?”
Ia mengangkat jari telunjuk dan ibu jari, memberi jarak kecil di antara keduanya.
“Cukup untuk diketahui orang yang berdiri dekat.”
Aku mengembuskan napas, lalu mengambil roti lagi.
“Baik, Bu.”
Ishar tertawa kembali. Kali ini ia menurunkan wajah ke kedua tangannya selama sesaat, membuat beberapa helai rambut terlepas dari ikatan di belakang kepala.
Bunyi pintu belakang terbuka memotong tawanya. Udara dingin masuk bersama aroma tanah basah dan kayu yang baru dibelah. Marlow melangkah masuk lebih dahulu. Lengan kemejanya digulung sampai siku dan serbuk kayu menempel pada bagian dada serta rambutnya. Sebuah kapak kecil berada di tangannya, tetapi ia meninggalkannya di dekat pintu sebelum masuk lebih jauh.
Rosh mengikuti di belakang dengan tongkat. Wajah tuanya menunjukkan kelelahan seorang pria yang telah menghabiskan pagi mencoba menghentikan orang lain bekerja di rumahnya sendiri.
“Sudah kubilang, kau berlebihan,” katanya.
Marlow menyapu serpihan kayu dari lengannya.
“Kayu bakarmu hampir habis.”
“Aku masih punya cukup untuk beberapa hari.”
“Dan setelah beberapa hari?”
“Aku akan meminta seseorang membelahnya.”
Marlow memandang ke arah langit-langit. “Atap bagian belakang juga bocor.”
Rosh mengetukkan tongkat sekali pada lantai.
“Itu hanya ketika hujan besar.”
“Apa kau ingin tinggal di rumah yang bocor?”
Rosh membuka mulut, lalu menutupnya lagi. Kerutan di antara alisnya semakin dalam, tetapi ia tidak menemukan jawaban yang cukup baik. Ishar menunduk, menyembunyikan senyum di balik tangan.
Marlow berjalan menuju meja dan duduk di kursi dekatku. Ia mengambil dua telur, sepotong roti, lalu mulai makan tanpa mengomentari penampilanku atau percakapanku dengan Ishar. Serbuk kayu masih menempel pada rambut dekat pelipisnya.
Rosh duduk di ujung meja dengan napas sedikit berat setelah berjalan dari halaman belakang. Ishar segera mengambilkan secangkir air hangat untuknya, kemudian meletakkannya dekat tangan pria tua itu tanpa perlu diminta.
Aku melihat Marlow mengoleskan mentega pada roti.
“Kau benar-benar akan menambal atapnya?”
“Setelah makan.”
Marlow mengangkat pandangan kepadaku.
“Kita akan melanjutkan perjalanan setelah semuanya selesai.”
Aku tahu kami tidak datang ke Arlenville untuk tinggal. Perjalanan ke Dark Mountain masih panjang, dan Marlow tidak akan membiarkan sebuah ranjang nyaman atau sepiring telur mengubah rencananya.
Ishar berdiri di dekat Rosh. Senyum yang tadi ada pada wajahnya memudar.
“Tidak bisakah kalian tinggal lebih lama?”
Pertanyaannya ditujukan kepada Marlow, tetapi matanya sempat bergerak kepadaku sebelum kembali kepadanya.
Marlow menyelesaikan kunyahannya terlebih dahulu.
“Tidak.”
Nada suaranya tidak kasar. Ia bahkan meletakkan roti sebelum melanjutkan.
“Aku berterima kasih atas tawaranmu dan semua yang kalian berikan kepada kami. Tempat tidur, makanan, juga perawatan untuk Kal. Tapi perjalanan ini bagian dari latihannya.”
Ishar melirikku. “Latihan?”
Marlow mengangguk kecil.
“Kal ingin menjadi seorang pendekar pedang. Berlatih di halaman yang sama setiap hari tidak akan mengajarinya cukup banyak. Ia perlu berjalan jauh, mengenali medan, bertahan dengan persediaan terbatas, dan belajar menghadapi orang yang tidak bergerak seperti boneka latihan.”
Aku menunduk pada piring agar perubahan pada wajahku tidak terlihat. Kebohongan itu cukup dekat dengan kebenaran untuk terdengar masuk akal. Marlow memang mengajariku bertahan hidup, meski perjalanan kami tidak dimulai karena keinginanku menjadi seorang pendekar.
Rosh mengamati memar di wajahku.
“Tidak bisakah latihan itu menunggu satu hari?” kata Ishar.
Marlow mengangkat cangkir dan minum. Ia meletakkannya kembali dengan pelan sebelum menjawab.
“Tidak. Perjalanan akan cukup panjang, dan kami sudah mengambil jalan memutar. Terlalu banyak berhenti hanya akan membuatnya terbiasa pada kenyamanan.”
Aku melihat kasur di lantai atas dalam pikiranku, seprai bersih, makanan hangat, dan senyum Ishar. Mungkin itulah sebabnya Marlow tidak ingin tinggal lebih lama. Satu malam saja sudah cukup membuatku lupa betapa jauh tempat yang harus kami tuju.
Ishar menarik kursi kosong, tetapi tidak duduk. Tangannya berada pada sandaran, jari-jarinya bergerak kecil di atas kayu.
“Dia masih terluka.”
“Hanya memar,” kata Marlow.
Aku tanpa sadar mengubah posisi duduk. Rasa sakit langsung menusuk sisi tubuh dan membuatku menahan napas.
Ishar melihatnya.
“Dia baru saja kesakitan.”
“Karena sekarang ia memikirkannya.”
“Aku memang masih sedikit sakit,” kataku.
Marlow menoleh kepadaku. Tatapannya membuatku segera mengambil roti dan memasukkannya ke mulut.
Ishar menekan bibir. Kekecewaan muncul jelas pada wajahnya meski ia berusaha menyembunyikannya.
“Jalan ke barat tidak akan ke mana-mana.”
“Begitu juga rasa sakitnya kalau ia terus duduk dan dimanjakan.”
“Aku tidak memanjakannya.”
Marlow memandang telur, roti hangat, mentega, lalu piringku yang hampir kosong. Setelah itu ia kembali menatap Ishar tanpa perlu berkata-kata.
Ishar mengikuti arah pandangannya dan mengerutkan kening.
“Itu hanya sarapan.”
“Dan kasur terbaik di rumah,” kata Rosh pelan.
Ishar menoleh kepada kakeknya dengan tatapan tidak percaya.
“Kek.”
Rosh menyembunyikan senyum dengan mengangkat cangkir ke mulut.
Ishar melepaskan sandaran kursi, lalu menyilangkan kedua tangan di depan dada. “Kalian berdua sama saja.”
Marlow tidak tampak tersinggung. Ia mengoleskan mentega pada potongan roti berikutnya.
“Kami tetap berangkat setelah atap selesai.”
Ishar menatapnya beberapa saat, kemudian memandangku. Aku ingin mengatakan bahwa aku juga ingin tinggal sedikit lebih lama, tetapi kata-kata itu tidak akan mengubah keputusan Marlow. Mengatakannya hanya akan membuat kepergian kami terasa semakin berat.
Rosh menyandarkan kedua tangan pada kepala tongkat.
“Ishar.”
Gadis itu tidak langsung menjawab.
“Jangan mengganggu orang yang sedang makan.”
Nada kakeknya lembut, tetapi memiliki ketegasan yang membuat Ishar akhirnya menurunkan kedua lengannya.
“Baik, Kek.”
Ia mengucapkannya sambil sedikit mencemberut, lalu berjalan ke bagian dapur dan mulai mengumpulkan peralatan masak yang sebenarnya sudah tertata rapi. Punggungnya menghadap kami, tetapi dari cara ia meletakkan mangkuk sedikit lebih keras daripada perlu, aku tahu pembicaraan itu belum selesai baginya.
Aku mengambil potongan roti terakhir di piring, tetapi tidak segera memakannya. Keinginan semalam untuk tetap tinggal muncul kembali, kali ini lebih kuat karena Ishar sendiri meminta kami tidak pergi.
Marlow makan dengan tenang di sebelahku, seolah ia tidak mendengar apa pun selain suara sendok dan piring. Namun ketika aku menoleh, matanya sudah tertuju kepadaku.
Ia tidak perlu mengatakan apa-apa.
Aku tahu kami tetap akan pergi.