Sejak lahir, Varren Kaelor tidak pernah diberi kesempatan untuk memilih jalan hidupnya sendiri.
Di balik wajah tampan yang dikagumi banyak orang, tersembunyi sebuah rahasia yang bahkan tidak boleh ia akui pada dirinya sendiri. Setiap langkah, setiap senyum, bahkan setiap hubungan yang ia jalani hanyalah bagian dari sandiwara yang dipaksakan oleh seseorang.
Ketika harus memasuki sekolah paling bergengsi di negeri itu, Varren yakin ia hanya perlu bertahan seperti biasanya.
Namun, semuanya berubah saat seseorang mulai menembus tembok yang selama ini ia bangun.
Semakin dekat orang itu, semakin sulit Varren membedakan mana kebohongan yang harus dipertahankan, dan mana perasaan yang tidak seharusnya pernah tumbuh.
Lalu... apa yang sebenarnya disembunyikan oleh keluarga Kaelor?
"Aku tidak takut jika dunia membenciku. Aku hanya takut... saat dunia mengetahui siapa diriku sebenarnya." — Varren
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alia Chans, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Terungkap...
"Gue denger kak Ikhsan itu , nggak masuk hari ini. Tiba-tiba kemaren kaki dia lumpuh." Bisik murid-murid di sekitar yang sangat menghebohkan kabar kelumpuhan Ikhsan hari ini sangat booming.
Bagaimana tidak? Ikhsan salah satu laki-laki idaman di sekolah ini.
"Serius? Gue pikir itu hoax. Ternyata bener." gumam temannya di sana. Ikhsan laki-laki yang sangat humble, baik kepada semua orang. Dia juga terkenal dengan kebaikannya kepada siapapun. Siapa yang tidak sedih melihat keadaannya begitu.
"Itu yang diomongin sama mereka kak Ikhsan yang anggota OSIS paling baik itu yah?" sahut Reja pada Tavian dan Sylas. Diam-diam Varren hanya menatap mereka tidak tahu apa-apa mengernyit bingung.
"Iya wey kayaknya. Kak Ikhsan. Kok bisa dia tiba-tiba lumpuh?" tanya Tavian shock kepada Reja di sebelahnya.
"Loe aja yang kecelakaan nggak lumpuh, dia kecelakaan atau gimana?" tanya Tavian lagi shock.
Reja memicingkan matanya memantau Tavian seakan ingin menghabisinya. Tavian melihatnya mengangkat jari telunjuk dan tengahnya. "Fiks. Berjanda gue." gumamnya mencebik.
Varren menatap mereka bingung. "Ikhsan??? Yang kelas tiga bukan sih? Badannya tinggi berotot?" tanyanya bingung.
"Loe kenal?" tanya Tavian padanya.
Varren mengangguk. "Kemarin pas ke supermarket sempat lihat dia sih, kita sempet ngobrol juga. Dia pas itu masih jogging malah." ujar Varren di sana seakan tidak percaya apa yang dirinya dengar.
"Duh gue juga kaget Ren." ujar Reja kepada Varren.
Sylas berdehem pelan. "Ayok ke kelas kita." ujarnya kepada Varren.
"Loe kenal sama Ikhsan?" tanya Varren pada Sylas di sebelahnya, melangkah menuju kelasnya.
Sylas mengangguk meliriknya. "Dia sepupu gue. Gue juga kaget pas denger tadi malam." ujar Sylas pelan pada Varren.
Baik Varren maupun kedua temannya kaget. "Serius? Gue nggak tau loe ada saudara kayak Ikhsan." sahut Tavian heboh.
Sylas meliriknya malas. "Rumah gue sama Ikhsan jauh, jadi memang kita nggak deket. Bokap Ikhsan itu anak kakak dari bokap gue." jelasnya tenang.
"Oh tapi kalo gitu kenapa nggak bokap Ikhsan aja yang jadi pewaris utama? Kan dia anak pertama? Eh bokap loe berapa saudara emang?" tanyanya kepada Sylas lagi dengan tatapan tanya.
Sylas berdehem pelan menduduki diri di kursi, mereka sudah sampai di kelas. Reja dan Tavian segera buru-buru mengambil posisi duduk di dekat Sylas. Bahkan menarik kursi lain di sekitar.
Varren hanya duduk tenang mendengar jawaban dari Sylas. "Bokap gue dua saudara sama bapak Ikhsan. Papa Ikhsan nolak jadi pewaris utama. Karena memang dia udah ada cita-cita yaitu jadi hakim." jelas Sylas.
Mereka mendengarnya serentak mengangguk paham. "Terus terus?" ujar Reja pelan.
"Yah nggak ada keterusan sih. Soalnya gitu aja." jelas Sylas di sana tenang. "Jadi yah bokap gue deh jadi pewaris utamanya." ujarnya.
"Papa Ikhsan itu Hakim Lee?" tanya Varren menyahut.
Sylas meliriknya dan mengangguk pelan. "Iya, papa Ikhsan itu terkenal sama nama Hakim Lee. Sebenarnya namanya itu Lendri, dia terkenal sama titel dia sebagai hakim yang kejam. Dia nggak bisa disogok atau bahkan disuap. Pernah gue denger dari bokap mereka cerita kalo bapaknya Ikhsan ini mau disogok dua triliun tapi tetep kekeh dan nggak mau. Bapak Ikhsan ini taat sama agamanya. Jadi yah gitu. Dia tetap pada pendirian dia." ujar Sylas kepada mereka sedikit sedih.
"Wah.." gumam Tavian dan Reja serentak sedih.
"Pasti dia sedih banget bang Ikhsan jadi lumpuh," ujarnya Reja di sana sendu.
Sylas mengangguk pelan. "Iya pasti. Mana dia anak pertama lagi." jawabnya Sylas lagi tenang.
"Jadi Hakim Lee itu baik dan tegas yah?" tanya Varren kepada mereka tenang.
Sylas meliriknya dan tersenyum tipis. "Kalo loe denger di luar sana dia itu kejam dan nggak punya perasaan, atau bahkan rumor ngatain kalo dia itu curang dan nggak jujur di beberapa kasus itu semua salah. Gue sebagai saksi mata, kadang dia tu kalo ngasih hukuman sama orang yang dimatanya nggak bersalah tapi harus tetap dihukum, dia nangis." jelas Sylas tegas.
"Dulu pernah kejadian kalo om Lee pernah dapet kasus. Itu kasusnya ada nenek-nenek yang mencuri roti dan tukang rotinya ngelaporin dia. Dalam kasus ini tu dia dilaporkan sering mencuri dalam arti dia udah mencuri lebih dari tiga kali. Sang pemilik toko nggak terima, jadilah dia dilaporkan. Pas itu om Lee dilemah banget ngadu sama bokap gue apa yang harus dia lakuin, soalnya nenek ini mencuri buat hidupin cucu-cucu dia. Tapi karena memang udah tugas dia dan si nenek ini dinyatakan bersalah, dia harus tetap dihukum selama lima tahun penjara." jelas Sylas.
Reja dan Tavian mendengarnya menatap Sylas dengan tatapan sedih dan Varren hanya diam mendengar semuanya secara keseluruhan. Mengangguk pelan menatap Sylas.
"Katanya orang baik memang ada cobaan yang berat. Mungkin saat ini mereka sedang dapat musibah aja. Doain aja semoga bang Ikhsan cepet sembuh." ujar Sylas pelan.
Tavian dan Reja mengangguk pelan melirik Varren yang diam saja di sebelahnya. "Iya sih. Semoga aja cepet sembuh." ujar Reja.
Varren ikut mengangguk menatap teman-temannya sekilas lalu menaruh tasnya pelan di atas meja. Varren memainkan penanya di atas meja menatap datar pena yang ia mainkan.
Hakim Lee baik???
Ia segera berdiri untuk keluar.
"Ren loe mau kemana? Bentar lagi bel." ujar Tavian padanya.
Varren meliriknya dan menggeleng. "Gue mau latihan lomba. Izinin gue bentar yah." ujarnya menjauh tanpa mendengarkan jawaban dari Tavian.
Tavian mencebikkan bibirnya menatap Varren yang sudah pergi. "Varren lomba terus perasaan." ujar Reja yang diangguki oleh Tavian.
Kalian bertanya mengapa Reja sudah sekolah? Sudah pasti karena dia malas di asrama seorang diri.
---
Varren memasuki kelas milik Alvaro. "Tong..." panggil Varren memasuki kelas dan mendekati Alvaro yang sudah main game bersama beberapa orang di sana, salah satunya ada anggota geng yang menatap Varren kaget dan segera melakukan tos tinju.
"Oh kenapa Ren?" tanya Alvaro tidak melirik Varren.
"Gue mau minta bantuan loe. Penting." ujar Varren. Beberapa perempuan di kelas melihat Varren kagum. Salah satu pria yang terkenal memasuki kelas mereka.
Alvaro melirik Varren lewat ekor mata sekilas. "Kenapa Ren? Tanggung ini, dikit lagi gue menang yah." ujar Alvaro. Varren melihatnya menghela napas pelan.
Alvaro melirik lawan mainnya yang sudah diam tak lagi melanjutkan mainnya. "Eh si anj wajar aja nggak ada perlawanan. Diem baek. Ah menang gue." ujar Alvaro senang lalu melirik Varren yang sudah berwajah datar.
Alvaro tertegun melihatnya. "Eh Ren hehe. Sorry tadi gue main bentar." ujarnya tersenyum tak enak kepadanya.
Varren melihatnya dan memutar bola mata malas. "Cepet ikut gue." ujarnya.
Alvaro mengangguk melirik teman-temannya di sana menaik turun alisnya. "Titip absen gue yak. Bilang gue lagi ada urusan bentar." ujarnya. Teman-temannya hanya mengangguk menatap Varren dan Alvaro menjauh dari kelas mereka.
"Gila ganteng banget Varren!!!"
---
Bersambung...