Kaelus Danurwenda terkejut ketika mendapati dirinya di pagi hari tanpa mengenakan pakaian. Dia mengumpat marah ketika mengingat kejadian tadi malam.
Kaelus mencari jejak si wanita namun nihil. Pencarian Kael berlangsung selama 4 tahun lamanya, tapi tak menghasilkan apapun.
Ketika harapannya pupus, dan hendak menerima perjodohan yang diatur orang tuanya, tiba-tiba seorang bocah dengan mata coklat kekuningan menabrak tubuhnya.
"Maap Om, Al nda senaja."
Debaran aneh memenuhi hati Kaelus Wajah bocah itu sangat tidak asing di matanya.
"Kamu ... ."
"Maaf Tuan, anak saya berlari tanpa arah. Permisi."
Melihat ibu dari anak itu, Kaelus samar-samar mengingat tentang wanita di malam yang salah itu.
Apa yang akan dilakukan Kaelus? Apa dia akan melanjutkan perjodohan yang diatur, atau malah mencari ibu dan anak tersebut?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon IAS, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
ATSP 22
"Bos, terus sekarang Bos pulang kemana? ke rumah, ke villa atau kemana?"
Setelah Kael mempersiapkan villa dengan baik agar nyaman ditinggali oleh Rosa dan Al, dia pun kembali ke perusahaan dan melanjutkan pekerjaannya. Dari luar Kael terlihat sangat tenang seperti bisa, tapi siapa yang tahu bahwa saat ini di hatinya penuh dengan perasaan berkecamuk tidak karuan.
Dia ingin sekali bisa dekat dengan putranya. Kael juga ingin bisa bicara dengan Rosa dan meluruskan prasangka buruk Rosa terhadapnya, meski entah Rosa bisa menerima penjelasannya atau tidak. Pikiran Kael tentang Rosa dan Al benar-benar semakin dalam. Jika bisa Kael ingin bersama mereka dan tak berangkat bekerja.
"Aku bisa tidur di sini buat sementara," jawab Kael tanpa mengalihkan pandangannya dari kertas-kertas yang dipegangnya.
"Laah kenapa gitu? Seharusnya pulang aja napa. Pulang ke rumah juga nggak apa-apa kan, soalnya nggak ada mereka. Ah menurut saya nih ya Bos, sebaiknya mah Si Bos tetep ada di villa. Meski apa yang bos lakukan itu karena jebakan, tetap aja Bos salah. Dan Bos harus usaha lah buat deketin Nona Rosa sama Tuan Muda Al," ucap Rowan panjang lebar.
"Gitu ya? Tapi, Rosa ketakutan kalau aku deketin. Kamu denger sendiri kan, dia teriak-teriak gitu," wajah murung Kael langsung terlihat.
Rowan langsung tersenyum mendengar jawaban Kael. Dia tahu betul bahwa saat ini pikiran Kael tidak ada di tempat ini. Apa yang dilihat dan apa yang dipegangnya hanya sebuah formalitas belaka. Dia hanya tengah berakting dan tidak betul-betul melakukan pekerjaannya.
"Nah Bos, ya itu mah adalah hal yang wajar ya. Dia takut, trauma, itu jelas ada. Tapi kan anaknya Bos nggak tahu, anaknya Bos nggak trauma. Seenggaknya jika Bos belum bisa deket sama calon Nyonya Bos, ya lebih baik berusaha buat deket sama tuan muda kan? Lakukan pendekatan, dan jadilah figur ayah yang selama ini nggak dia dapat. Pasti nggak mudah, tapi Bos harus bisa berusaha dengan keras. Siapa tahu jika Tuan Muda Al sudah berhasil diluluhkan, Calon Nyonya pun juga akan mengikuti."
Penjelasan Rowan diterima dengan baik oleh Kael. Bahkan secara sembunyi Kael memuji cara Rowan berpendapat tersebut. Dia tidak menyangka bahwa Rowan bisa sebijak itu dalam menanggapi perihal ini.
"Rowan, apa kamu nggak nyalahin aku? Apa kamu nggak ngutuk perbuatan yang udah aku lakukan ke Rosalina?" tanya Kael dengan wajah yang ditekuk. Rasa bersalah dalam diri Kael yang sangat besar itu bisa dilihat jelas dengan mata telanjangg, dimana Rowan pun bisa menyadarinya.
"Nggak Bos, saya nggak akan ngutuk Bos. Memang benar Bos salah, tapi semua itu bukan niat pribadi Bos kan? Semua itu karena jebakan teman laknat dari Bos. Hanya saja yang saya sesalkan adalah, kenapa Bos nggak jujur sama kedua orang tua Bos. Seharusnya kan Bos jujur sehingga Tuan dan Nyonya besar bisa tahu dan bahkan membantu mencari ibu dan anak Itu," jawab Rowan.
Kael mengerti dan dia tahu bahwa apa yang dilakukannya salah. Andai waktu itu dia langsung jujur, mungkin pencarian terhadap Rosa dan Al tak akan selama ini. Dan mungkin saja Rosa tidak terlalu lama kesulitan dalam membesarkan Al sendirian.
"Ya udah kalau gitu, aku akan ke villa. Aku akan coba saran darimu. Makasih ya, kali ini ucapanmu bener-bener luar biasa," kata Kael.
Rowan tersenyum lebar. Dia senang bisa melihat Kael yang kembali bersemangat.
Meski mungkin nanti pekerjaannya akan menjadi berlipat-lipat, namun setidaknya anak kecil dan wanita itu mendapatkan perhatian penuh dari Kael, orang yang membuat mereka kesulitan selama ini.
Kael merapikan kertas-kertas yang ada di atas meja. Dia juga menutup laptopnya. Meski akan meninggalkan kantor, Kael berpesan kepada Rowan untuk mengirim pekerjaan atau datang langsung ke villa guna membahas pekerjaan.
Kael sudah memutuskan untuk setidaknya seminggu atau dua minggu menetap di Villa. Ia akan melakukan ide dari Rowan sial mendekatkan diri kepada Alarik, putranya.
"Aku pergi dulu ya, nanti kabari aja kalau ada sesuatu yang mendesak,"ucap Kael.
"Okeeee Bos, siap laksanakan!" jawab Rowan dengan penuh semangat.
Blak!
"Kak, kamu di sini rupanya. Ada yang mau aku omongin."
Eh?
Rowan dan Kael langsung mengerutkan alis mereka ketika melihat siapa yang datang ke ruangan CEO tanpa permisi dan bahkan tanpa janji.
Iras Dwi Wirya, ya wanita itu lah yang sekarang ada di depan Kael dan Rowan tanpa permisi sama sekali. Bahkan wanita itu bersikap tidak sopan, yakni bicara kepada Kael sambil berkacak pinggang. Terang saja Rowan merasa kesal. Dia bahkan langsung berdiri di depan Kael untuk menghalangi pandangan Iras ke Kael.
"Heh wanita, kamu apa-apaan sih? Nggak ada sopan-sopan nya jadi orang. Ketok dulu kek, permisi kek, emang kamu pikir ini rumah bapak mu apa, main nyelonong aja. Ini perusahan woy!" pekik Rowan dengan tak kalah galaknya.
"Tck, dasar jongos. Minggir, berisik banget sih jadi orang. Aku nggak butuh ngomong sama kamu. Aku butuhnya ngomong sama Kak Kael. Kak, kenapa kamu ninggalin aku sih waktu itu. Mana dicari-cari nggak ada lagi. Kamu kok gitu sih Kak?"
Grrttzzz
Rowan nampak kesal. Ingin sekali dia menyumpal mulut wanita itu. Bahkan Rowan sudah melangkah maju, tapi tangan Kael menghadap, meminta Rowan untuk mundur.
"Maaf ya, kita nggak ada dalam sebuah hubungan untuk aku harus selalu ngasih tahu kemana aku pergi. Aku sama kamu itu, cuma sebatas jalan bareng. Nggak ada janji buat membina hubungan apapun, jadi stop bertingkah kamu itu pasangan aku."
Jegleeeer
Perkataan Kael langsung menusuk relung hati Iras. Dia tidak bisa menduga Kael akan berkata demikian.
Sedangkan Rowan, pria itu tertawa puas tanpa suara. Bahkan di belakang Kale, Rowan mengejek Iras.
"K-kenapa gitu, Kak? Kakak nggak suka sama aku? Kakak nggak ada perasaan apapun sama aku? Padahal, kita udah sering jalan berdua. Kenapa?"
"Kenapa? ya jawabannya karena aku sama sekali nggak punya perasan buat kamu. Dan perlu kamu tahu, aku sudah mempunyai wanita yang kusukai dalam hatiku. Jad berhenti buat ngejar aku kayak gini."
Jegleeer
Mata Iras membulat. Kata-kata Kael bisa dirasakan dengan baik bahwa itu bukan lah sebuah kebohongan.
"Siapa, siapa wanita itu?"
"Bukan urusan kamu."
TBC
note: makasih ya manteman untuk dukungannya. Aku bakal tetep lanjutin kok meski retensi anjlok. Hanya saja mungkin ga panjang ya. Jadi satu konflik utama selesai, maka cerita selesai. Pokoknya maaf dan makasih buat semua yang masih baca tulisan aku ini.
Aku bersyukur memiliki pembaca seperti teman-teman semua. Makasiiih yaaaaw
n faham
semangat n sehat sehat author🩷🩷
teman nya si kael gk d kasih pelajaran,,karna dia mereka jd sengsara