NovelToon NovelToon
Raja Kiamat dengan Perlengkapan Tanpa Batas

Raja Kiamat dengan Perlengkapan Tanpa Batas

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Hari Kiamat
Popularitas:30.6k
Nilai: 5
Nama Author: Novi

Hendry Wijaya mati di periode kiamat tahun ke-12, dicabik oleh zombie Lord-Level di sebuah reruntuhan bangunan dip Jakarta.
Lalu ia membuka mata—30 hari sebelum dunia berakhir.
Semua ingatan 12 tahun di neraka itu masih utuh: siapa yang akan berkhianat, di mana kristal langka tersembunyi, kapan gelombang zombie pertama menerjang, dan siapa anjing jalanan kotor yang kelak menjadi legenda bernama Raja.
Bedanya? Kali ini Hendry punya Ruang Dimensi—gudang tak terbatas di mana waktu berhenti. Sementara orang lain panik membeli mie instan, ia menimbun seribu ton beras, ratusan ton daging, senjata, obat-obatan, dan cukup solar untuk menghidupi sebuah kota.
Hari pertama kiamat: semua orang kelaparan. Hendry makan rendang.

Di dunia di mana satu kristal bisa memicu perang, Hendry duduk di atas gunung kristal yang tak seorang pun tahu keberadaannya.
Di dunia di mana Lord-Level bisa meratakan kota, Hendry tersenyum—karena dia tahu persis kapan mereka akan mati.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Novi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 21

Bab 21: Dua Saudara dan Satu Pengakuan

"Bawa aku ke sana."

Mawar tidak bertanya lagi. Ia mengambil kotak obat kecil dari meja, lalu berjalan di samping Hendry keluar dari villa utama.

Malam di Cluster Pondok Indah tidak pernah benar-benar sunyi. Di satu sisi ada dengung generator, di sisi lain ada langkah patroli yang sengaja dibuat berat agar orang-orang di dalam rumah tahu bahwa mereka masih dijaga. Setelah Surya Permadi dipaksa tunduk sore tadi, beberapa orang mulai berani tidur lebih nyenyak.

Tapi Hendry tahu kemenangan yang terlalu cepat selalu membawa ekor.

Di pos luar, Fajar berdiri dengan wajah tegang. Dua penjaga memegang tombak besi, sementara seorang anak buah Surya terbaring di atas papan kayu. Dadanya naik turun pendek. Bekas sengatan Raja masih meninggalkan garis hitam di lengan, tetapi yang membuat Mawar mundur setengah langkah bukan luka itu.

"Di sini," bisiknya.

Hendry berjongkok di samping tubuh lelaki itu. Dengan ujung sarung parang, ia menekan bagian dada yang ditunjuk Mawar.

Lelaki itu tiba-tiba membuka mata. Hitam. Bukan hitam alami, melainkan hitam seperti air got yang disiram tinta. Mulutnya bergerak, tapi suaranya hanya keluar seperti napas busuk.

Raja yang ikut sampai di pintu langsung menggeram.

"Bos," kata Bagus dari belakang, "mau gue belah aja?"

"Jangan." Hendry berdiri. Matanya dingin, tetapi tidak terburu-buru. "Kalau ini jebakan, membelah dia mungkin malah membuka sesuatu."

Mawar menatapnya. "Aku bisa menahan lukanya, tapi benda itu... aku tidak bisa menyentuhnya."

"Berarti jangan disentuh." Hendry menoleh kepada Fajar. "Ikat tangan dan kakinya. Pisahkan dari orang lain. Tidak ada yang tidur dekat pos ini. Kalau matanya berubah lagi, pukul pingsan, jangan dibunuh kecuali dia menyerang."

Fajar mengangguk cepat. "Siap, Pak."

Hendry memandang dada lelaki itu sekali lagi. Di kehidupan sebelumnya, tidak semua bahaya datang dengan bentuk zombie. Ada hal-hal yang menunggu manusia cukup serakah, cukup takut, atau cukup bodoh untuk menjadi pintu.

Ia belum tahu benda di dada itu termasuk yang mana.

Tapi ia tahu satu hal.

Mulai malam ini, musuh di luar Cluster Pondok Indah bukan hanya mayat hidup dan kelompok penyintas bersenjata.

Keesokan paginya, bau solar, bubur panas, dan logam basah memenuhi halaman depan. Orang-orang yang baru diselamatkan dari Bintang Setiabudi masih bergerak pelan, tetapi mereka sudah mulai membantu Dewi membagi makanan. Awan mengawasi dari dekat pagar dengan wajah datar. Melati memeriksa botol air. Fajar mencatat jadwal patroli baru.

Hendry berdiri di dekat gerbang ketika dua orang muncul dari arah jalan kecil sebelah timur.

Yang berjalan di depan adalah pria berbahu lebar dengan kaus hitam robek di bagian perut. Lengannya penuh bekas cakaran. Di tangan kanannya ada pipa besi bengkok. Ia membawa tubuhnya seperti orang yang terbiasa memukul dulu, berpikir belakangan.

Di belakangnya, seorang perempuan muda berjalan lebih tenang. Rambutnya diikat rendah. Wajahnya pucat karena kurang tidur, tetapi matanya awas. Setiap kali bayangan pohon bergerak, jemarinya ikut bergerak, seolah siap memanggil sesuatu dari gelap.

Fajar mengangkat senjata. "Berhenti di situ."

Pria itu langsung mengangkat kedua tangan, tapi pipa besi tetap tergenggam. "Kami bukan musuh. Nama saya Budi Setiawan. Ini Sari Setiawan. Kami dengar tempat ini nerima orang yang bisa bertarung."

Sari menambahkan lebih pelan, "Kami tidak minta makan gratis."

Bagus mendengus. "Semua orang bilang begitu sebelum lihat dapur Dewi."

Budi menatap Bagus, lalu ke lengan Bagus yang sebesar batang pohon muda. "Kalau harus adu pukul, saya siap."

Bagus tersenyum lebar. "Nah, yang begini bikin pagi jadi enak."

"Bagus," potong Hendry.

Senyum Bagus langsung turun satu tingkat, tapi matanya masih menyala.

Hendry melangkah ke depan. "Kemampuan?"

Budi menarik napas. Otot di lengan dan bahunya mengeras. Kulitnya seperti menebal, uratnya naik, lalu pipa besi di tangannya ia tekuk sampai membentuk huruf U.

Beberapa penjaga baru berbisik.

"Physical Power," kata Hendry.

"Level 2," jawab Budi, dagunya naik sedikit.

Sari mengangkat tangan kiri. Bayangan di bawah kakinya melebar seperti tinta tumpah. Selama dua detik, udara di sekitar gerbang meredup. Suara langkah, napas, bahkan dengung generator terasa menjauh.

Mawar tanpa sadar memegang lengan Melati.

Raja menunduk, bulunya berdiri.

Bayangan itu lenyap.

"Dark Power," kata Hendry.

Sari menatap lantai. "Level 2. Saya bisa bikin area gelap sebentar. Zombie yang masuk biasanya kehilangan arah."

Bagus bersiul pelan. "Kalau dipakai buat maling dapur, bahaya juga."

Dewi yang berdiri tidak jauh langsung mengangkat sendok sayur. "Coba saja."

Ketegangan di gerbang turun sedikit, tetapi Hendry tidak ikut tersenyum.

"Di tempat ini, kemampuan bukan tiket masuk ke inti," katanya. "Kalian mau makanan, perlindungan, dan tempat tidur? Bisa lewat aturan umum. Tapi kalau mau masuk tim tempur, kalian harus diuji."

Budi mengangguk cepat. "Uji apa?"

Hendry menunjuk jalan di belakang gerbang timur. "Ada satu ruas jalan yang masih penuh zombie Level 0 dan beberapa Level 1. Kalian berdua harus melewatinya, mencapai minibus biru di ujung jalan, mengambil aki di dalamnya, lalu kembali. Batas waktu tujuh menit."

Budi menyeringai. "Cuma itu?"

"Syaratnya," lanjut Hendry, suaranya datar, "kalian tidak boleh terpisah lebih dari lima langkah. Kalau salah satu jatuh, yang lain harus menolong. Kalau kalian meninggalkan pasangan untuk menang sendiri, kalian gagal."

Sari menoleh ke Budi. Budi berhenti menyeringai.

Hendry melihat perubahan kecil itu dan menyimpannya.

Ruas jalan timur dulu dipenuhi mobil warga yang ditinggal saat evakuasi pertama gagal. Kaca pecah berserakan. Ada motor miring, pot tanaman jatuh, dan tiga belas zombie yang terlihat jelas dari balik pagar. Dua di antaranya bergerak lebih cepat, lehernya tebal, tanda awal Level 1.

Fajar memasang stopwatch di ponsel tua yang baterainya dijaga seperti emas.

"Mulai."

Budi melesat duluan.

Asphalt retak di bawah kakinya. Pipa besi yang bengkok tadi kini dipakai seperti palu. Zombie pertama kena hantam di wajah sampai rahangnya pecah. Zombie kedua ditendang ke kap mobil.

"Bud, jangan terlalu jauh!" teriak Sari.

Budi sudah tujuh langkah di depan.

Hendry tidak mengatakan apa-apa.

Sari menggertakkan gigi. Bayangan dari bawah mobil melebar, menelan kaki tiga zombie yang mencoba mengerubung Budi. Gerakan mereka tiba-tiba kacau. Satu menabrak pintu mobil, satu lagi berputar ke arah kosong.

Budi baru sadar jaraknya terlalu jauh. Ia mundur sambil mengayunkan pipa. "Gue lihat!"

"Kalau lihat, jangan bego!" Sari membentak.

Raja yang duduk di samping Hendry mengeluarkan suara seperti tertawa pendek.

Budi dan Sari mencapai minibus pada menit ketiga. Budi mencabut pintu dengan tenaga kasar. Besinya menjerit. Ia merogoh ke bawah kemudi, tetapi dari celah kursi belakang, satu zombie Level 1 menerjang. Kukunya mengenai bahu Budi.

Darah muncrat.

Budi mengumpat dan hampir membalas dengan pukulan penuh. Kalau ia melakukan itu, punggungnya akan terbuka untuk dua zombie dari kanan.

"Sari!" teriak Hendry.

Bukan untuk menolong. Untuk melihat apakah ia cukup cepat mengambil keputusan.

Mata Sari menghitam sepersekian detik. Area gelap turun seperti kain basah. Budi lenyap dari pandangan semua orang selama tiga detik. Ketika gelap terangkat, Budi sudah bergeser ke kiri, zombie Level 1 kehilangan target, dan pipa besi Budi menghantam tempurung kepalanya.

Retak.

Budi terengah, bahunya berdarah, tapi tangannya berhasil membawa aki.

"Balik!" seru Sari.

Jalan pulang lebih buruk. Zombie yang tadi tersebar mulai berkumpul. Budi ingin menerobos lurus, tetapi kali ini Sari tidak membiarkannya. Ia membuat bidang gelap kecil di sisi kiri, memaksa zombie bergerak ke pagar mobil. Budi memukul yang keluar dari celah, Sari menariknya mundur setiap kali langkahnya mulai terlalu panjang.

Mereka sampai gerbang pada menit keenam lewat dua puluh satu detik.

Budi menjatuhkan aki ke tanah. "Lulus?"

Hendry memandang bahunya yang robek, lalu mata Sari yang masih memantau jalan, bukan menunggu pujian.

"Lulus untuk tahap pertama."

Budi membuka mulut, mungkin ingin protes, tapi Sari menyikut pinggangnya.

Mawar maju membawa cahaya lembut di telapak tangan. "Duduk. Bahumu harus ditutup dulu."

Budi menurut, meski wajahnya jelas tidak suka terlihat lemah. Saat cahaya Mawar menyentuh luka, darah berhenti mengalir. Otot yang sobek mulai merapat perlahan.

Sari berdiri di samping, diam.

Hendry memperhatikan matanya. Banyak orang melihat kemampuan Mawar dengan rakus. Mereka membayangkan hidup tanpa luka, tanpa risiko, tanpa harga. Tapi di mata Sari tidak ada rakus. Hanya iri yang ditahan, seperti seseorang yang tahu betapa mahalnya kemampuan untuk menyelamatkan orang.

"Kamu ingin kemampuan seperti itu?" tanya Hendry.

Sari terkejut.

Ia menunduk sebentar. "Iya. Kalau saya punya kemampuan itu, orang tua kami mungkin bisa bertahan lebih lama."

Budi menegang.

Sari menarik napas dan menatap Mawar. "Tapi saya tidak benci Mbak Mawar karena punya itu. Saya cuma... senang kemampuan seperti itu ada di tempat ini."

Mawar tersenyum kecil. "Panggil Mawar saja."

Hendry memberi isyarat kepada Fajar. "Catat mereka sebagai anggota tempur cadangan. Tiga hari masa pengamatan. Budi ikut Bagus latihan disiplin jarak. Sari ikut Mawar dan Melati untuk koordinasi area."

Budi melirik Bagus.

Bagus menepuk bahunya yang sehat cukup keras sampai Budi meringis. "Besok pagi, kita belajar cara mukul tanpa bikin diri sendiri jadi umpan."

Sari menahan senyum untuk pertama kalinya.

Hari itu berakhir dengan gerbang timur lebih bersih, satu aki tambahan, dan dua nama baru di papan jadwal Fajar.

Malamnya, setelah dapur sepi dan patroli kedua berjalan, Hendry berdiri sendirian di halaman belakang. Bulan tertutup awan tipis. Di kejauhan, suara zombie terdengar seperti orang batuk dari dasar sumur.

Ia sedang memikirkan tiga hal: benda hitam di dada anak buah Surya, kemampuan gelap Sari, dan racun yang belum muncul tetapi selalu menjadi kemungkinan setelah sebuah wilayah mulai tumbuh.

Langkah ringan berhenti di belakangnya.

"Hen."

Hendry tidak menoleh. "Belum tidur?"

Mawar berdiri di sampingnya. Rambutnya masih lembap setelah mandi singkat. Wajahnya lelah, tapi matanya jernih.

"Aku mau ngomong sebelum besok semuanya sibuk lagi."

Hendry menatapnya.

Mawar meremas ujung jaketnya. Biasanya ia lembut saat bicara dengan orang lain, tetapi kali ini suaranya lebih rendah, lebih mantap.

"Dari hari pertama kamu menyelamatkan aku dan Melati, aku tahu kamu bukan orang biasa. Bukan cuma karena kemampuanmu. Cara kamu tahu kapan harus lari, kapan harus mengambil risiko, kapan harus membunuh... itu bukan kemampuan yang muncul dalam semalam."

Hendry diam.

"Aku tidak tahu rahasiamu apa," lanjut Mawar. "Dan aku tidak akan memaksamu cerita. Di dunia sekarang, mungkin semua orang butuh ruang untuk menyimpan luka sendiri."

Angin melewati pagar, membawa bau daun basah dan asap kecil dari dapur.

Mawar mengangkat wajah. "Tapi aku mau kamu tahu satu hal. Aku percaya sama kamu. Sepenuhnya."

Kalimat itu tidak keras.

Justru karena tidak keras, ia terasa lebih berat daripada janji yang diucapkan di depan banyak orang.

Hendry sudah pernah melihat kota jatuh, markas dibakar, teman menjual teman demi sepotong roti, dan orang yang paling rajin bicara tentang kesetiaan menjadi yang pertama membuka gerbang untuk musuh.

Kepercayaan penuh di akhir dunia bukan hadiah kecil.

Ia menatap tangan Mawar yang masih meremas jaket. Perlahan, Hendry mengulurkan tangan dan menggenggamnya.

Mawar tidak menarik diri.

"Terima kasih, Mawar."

Tidak ada kata lain. Untuk malam itu, dua kata itu cukup.

Pagi berikutnya, suara ketukan keras membangunkan halaman sebelum matahari naik penuh.

Fajar berlari dari arah gerbang barat dengan wajah pucat. Di belakangnya dua penjaga menggotong seorang anggota patroli yang tubuhnya kejang. Bibirnya menghitam, sementara urat di lehernya berubah ungu tua.

"Pak Hendry!" Fajar hampir tersandung. "Dia jatuh di rute barat. Bukan gigitan zombie. Ada racun."

Mawar langsung berlutut, cahaya muncul di telapak tangannya, tetapi Nasi lebih dulu melompat ke atas pagar.

Kucing itu menggembungkan bulu, menatap lurus ke arah barat, lalu mendesis panjang.

Di kejauhan, dari balik rumah-rumah kosong, ada sesuatu yang sedang menunggu.

1
umar aryo
novel yg bagus Thor, buat yg baca juga ikutan mikir... spt novel dokter Dewa... ini penulis bkn org biasa
umar aryo
makin kesini buat berpikir makin bingung, tp jujur ini novel yg bagus bgt
muhadsa
yang kristal level 6 saja sudah diserap dan aman saja kok,masa iya yang level 5 malah gak mampu../NosePick//NosePick/
muhadsa
anak buahnya dinaikin juga dong levelnya..
muhadsa
bunuh..gak ada tahanan perang..
muhadsa
namanya pada aneh aneh..ada suara,hujan,nasi..😄😄
muhadsa
anggotanya gak dinaikin juga levelnya..?
muhadsa
naik level juga cuma memperluas ruang dimensi,bukan untuk bertarung..
muhadsa
saya juga berpikiran gitu..kenapa namanya nasi..
muhadsa
terus kemampuan MC kita gak ada yang lain selain ruang dimensi ya..?
PonsParadiso
melati kok ga ada? kemana?
PonsParadiso
bagus thooor... tapi kok ga beli air siiih
PonsParadiso
air mana air.
Luthfi Afifzaidan
bagus apa santoso thor?
muhadsa: bagus santoso
total 1 replies
Hadi Hadi
lanjut 👍👍
Hadi Hadi
up 👍👍
Amiera Syaqilla
hi author🔥
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!