NovelToon NovelToon
Dia Tak Lagi Membujuknya

Dia Tak Lagi Membujuknya

Status: tamat
Genre:Teen / Romantis / Tamat
Popularitas:5k
Nilai: 5
Nama Author: Iris Kartika

Keiko Hartono punya rahasia.

Di balik senyum lembutnya, di balik nilai sempurnanya, di balik kebaikannya yang tak pernah meminta balasan — ada hitungan mundur yang tak bisa dihentikan siapapun.

Kanker lambung. Stadium akhir. Paling lama tiga tahun.

Lalu dia pindah ke SMA Bina Bangsa, Bandung. Dan duduk di sebelah Kelvin Susanto — cowok paling ditakuti seantero sekolah. Pembuat onar. Tukang berantem. Nilai paling bawah.

Tapi Keiko melihat sesuatu yang orang lain tidak lihat.

Dan perlahan — lewat soal latihan yang ditandai satu per satu, lewat susu hangat yang diselipkan di saku jaket, lewat video call tengah malam yang harusnya cuma untuk belajar — mereka jatuh cinta.

Masalahnya: Keiko tahu dia akan mati.
Kelvin tidak.

"Kalau kamu bisa mengejar langkahku... aku akan mempertimbangkannya setelah lulus."

Dia memberi syarat yang mustahil. Bukan karena dia tidak mau. Tapi karena dia tahu — dia tidak akan ada di sana saat dia berhasil.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Iris Kartika, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 5

Bab 5 - Di Balik Atap

Kabar itu menyebar lebih cepat daripada bel masuk.

Saat Keiko kembali dari kantin dengan roti tawar kecil dan susu hangat, suasana koridor sudah berubah. Murid-murid berkumpul dalam kelompok kecil, wajah mereka tegang, suara mereka ditahan-tahan seperti takut didengar guru.

"Katanya ada anak kelas X naik ke atap."

"Serius?"

"Udah diturunin belum?"

"Pak Herman sama satpam ke sana. Ambulans juga dipanggil."

Langkah Keiko berhenti.

Roti di tangannya mendadak terasa berat.

Tidak ada yang tertawa. Bahkan murid-murid yang biasanya paling ribut pun berbicara dengan wajah pucat. Dari arah tangga gedung belakang, beberapa guru berjalan cepat. Pak Arif terlihat di antara mereka, wajahnya keras, ponsel menempel di telinga.

Keiko melihat sekilas ke arah kelas.

Bangku Kelvin kosong.

Entah mengapa, rasa dingin merambat ke telapak tangannya.

Anisa muncul dari ujung koridor dan langsung menarik lengan Keiko pelan. "Keiko, jangan ke sana. Guru-guru nyuruh semua murid masuk kelas."

"Apa yang terjadi?"

Anisa menggigit bibir. "Aku juga nggak tahu. Tapi katanya... ada hubungannya sama Kelvin."

Nama itu membuat bisik-bisik di sekitar mereka terasa lebih jelas.

"Pasti gara-gara kemarin dia berantem."

"Gila, kalau sampai anak orang kenapa-kenapa..."

"Kelvin memang nyari masalah terus."

Keiko menatap mereka satu per satu. Murid-murid itu tidak benar-benar tahu. Namun kalimat mereka sudah tersusun rapi, seperti cerita yang tinggal ditempelkan pada nama yang paling mudah disalahkan.

Kelvin Susanto.

Pak Arif kembali dari ujung koridor dan bertepuk tangan keras. "Semua masuk kelas. Sekarang."

Tidak ada yang membantah.

Di dalam kelas, udara terasa lebih berat daripada biasanya. Keiko duduk di bangkunya, roti tawar yang dibelinya tidak disentuh. Kursi di sebelahnya tetap kosong. Di papan tulis masih ada sisa rumus kimia dari Pak Surya, tetapi tidak ada satu pun murid yang memperhatikannya.

Fajar mencondongkan tubuh ke belakang. "Gue dengar dari anak kelas sebelah, cewek itu nangis di atap. Katanya Kelvin mukul cowok yang dekat sama dia."

Putri menutup mulut. "Terus ceweknya ketakutan?"

"Nggak tahu. Tapi kalau Kelvin udah mukul orang, siapa yang nggak takut?"

Keiko memegang kotak susu hangat di atas meja. Panasnya meresap ke telapak tangan, tetapi tidak sampai ke dadanya.

Dia teringat Kelvin kemarin di belakang gedung olahraga.

Minta maaf.

Sama siapa?

Kamu tahu.

Saat itu, Kelvin tidak seperti orang yang menyerang tanpa alasan. Dia seperti orang yang menahan sesuatu agar tidak jatuh lebih jauh.

Pintu kelas terbuka.

Semua kepala langsung menoleh.

Kelvin masuk bersama Pak Arif.

Keributan kecil langsung padam.

Wajah Kelvin tidak lebih berantakan dari biasanya. Hanya seragamnya sedikit kusut, dan ada bekas merah baru di sudut bibirnya. Dia berjalan ke bangku paling belakang tanpa melihat siapa pun, lalu duduk di sebelah Keiko seolah tidak ada puluhan pasang mata yang sedang menelanjanginya.

Pak Arif berdiri di depan kelas.

"Kalian akan belajar mandiri sampai jam berikutnya. Tidak ada yang keluar kelas tanpa izin."

Fajar mengangkat tangan pelan. "Pak, anak kelas X itu..."

"Sudah aman," jawab Pak Arif cepat. Suaranya lebih rendah dari biasa. "Dia bersama guru BK dan keluarganya. Tidak ada yang perlu kalian jadikan bahan cerita."

Kelas menjadi sangat sunyi.

Pak Arif menatap mereka satu per satu. "Saya ulangi. Tidak ada yang perlu kalian jadikan bahan cerita."

Setelah beliau keluar, sunyi itu hanya bertahan beberapa detik.

Bisik-bisik kembali hidup, kali ini lebih kecil, lebih tajam.

Keiko tidak ikut bicara. Dia membuka buku, tetapi matanya tidak membaca. Dari sudut pandangannya, Kelvin mengambil pulpen, memutar-mutar benda itu di antara jari, lalu meletakkannya lagi.

Di punggung tangannya, plester kemarin sudah terbuka.

Ada luka baru.

Keiko menurunkan suara. "Kamu terluka lagi."

Kelvin tidak menoleh. "Nggak apa-apa."

"Pak Arif bilang dia sudah aman."

Pulpen di tangan Kelvin berhenti.

"Bagus," katanya.

Hanya itu.

Keiko menatap profil wajahnya. "Kamu kenal dia?"

"Nggak."

Jawaban itu terlalu cepat.

Keiko tidak bertanya lagi.

Jam pelajaran berikutnya berjalan seperti berjalan di atas kaca. Guru datang, mengajar dengan suara lebih lembut, lalu pergi. Murid-murid tetap mencuri pandang ke belakang. Setiap kali nama Kelvin disebut dalam bisikan, cowok itu tidak bereaksi.

Saat pulang sekolah, hujan tipis mulai turun.

Keiko merapikan buku lebih lambat dari biasa. Dia melihat Kelvin memasukkan buku tulis hitamnya ke tas, berdiri, lalu berjalan keluar tanpa menunggu siapa pun. Di koridor, beberapa murid otomatis memberi jalan.

Dia tidak terlihat bangga.

Tidak terlihat marah.

Justru karena terlalu datar, punggungnya tampak sepi.

Keiko mengikutinya sampai tangga dekat gedung belakang.

"Kelvin."

Kelvin berhenti.

Itu pertama kalinya Keiko memanggil namanya tanpa alasan praktis. Bukan untuk meminjam buku. Bukan untuk bertanya arah. Hanya memanggil.

Cowok itu menoleh sedikit. "Apa?"

Keiko berdiri dua anak tangga di atasnya, sehingga untuk sekali itu, tinggi mereka hampir sejajar. Dari jarak itu dia bisa melihat bekas merah di sudut bibir Kelvin dan mata gelapnya yang tampak lelah.

"Rumor itu," kata Keiko pelan. "Kamu tidak mau menjelaskan?"

Kelvin menatapnya.

Di luar jendela tangga, hujan menyentuh kaca dalam titik-titik kecil. Suara kantin yang mulai sepi terdengar jauh.

"Jelaskan apa?"

"Kalau kamu bukan penyebabnya."

Kelvin tertawa pendek. Tidak terdengar lucu. "Kamu tahu aku bukan penyebabnya?"

"Aku tahu kamu tidak memukul orang tanpa alasan."

Kalimat itu membuat Kelvin diam.

Keiko sendiri tidak tahu dari mana keyakinan itu datang. Dia baru mengenal cowok ini beberapa hari. Dia melihatnya berkelahi, melihatnya dihukum, mendengar hampir semua orang menyebutnya pembuat masalah. Tetapi di setiap kejadian, selalu ada bagian kecil yang tidak cocok dengan cerita orang lain.

Buku yang dia pinjamkan.

Catatan kecil karena Fajar menutupi papan.

Obat maag yang akhirnya dia kunyah meski gengsi.

Dan kemarin, kalimat rendah itu.

Minta maaf.

Kelvin menurunkan pandangan lebih dulu.

"Cewek itu nggak perlu namanya disebut-sebut lagi," katanya. "Kalau aku jelasin, orang-orang bakal cari tahu. Mereka bakal tanya dia. Bakal ngomongin dia. Sama aja."

Keiko menggenggam tali tas.

Jadi benar.

Dia melindungi seseorang.

"Lalu kamu biarkan mereka menyalahkanmu?"

"Sudah biasa."

Dua kata itu membuat dada Keiko terasa sesak.

Kelvin mengangkat bahu. "Besok juga mereka punya gosip baru."

"Tapi hari ini sakit, kan?"

Pertanyaan itu keluar terlalu pelan, hampir tertutup suara hujan.

Kelvin menatapnya lagi.

Untuk beberapa detik, wajahnya tidak menunjukkan apa pun. Lalu sudut bibirnya bergerak, seperti ingin membentuk senyum malas yang biasa dia pakai untuk mengusir orang.

"Nggak."

Dia berbalik menuruni tangga.

Keiko tetap berdiri di tempatnya.

Kelvin bilang tidak.

Tetapi tepat sebelum dia berbalik, ada sesuatu yang melintas di matanya. Cepat. Tajam. Seperti luka yang terbuka sebentar sebelum ditutup paksa.

Dia berbohong.

1
Yani
yuk lanjut crita nya yuk Thorr 🥰🥰
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!