NovelToon NovelToon
Diacuhkan Dokter Eh Dikejar Direktur Rumah Sakitnya

Diacuhkan Dokter Eh Dikejar Direktur Rumah Sakitnya

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa Fantasi
Popularitas:6.9k
Nilai: 5
Nama Author: Nona Abu

Adera mencintai Ezra selama dua tahun, tapi cintanya diremehkan dan ditolak mentah-mentah. Saat hatinya mati dan ia memilih fokus pada diri sendiri, Ezra justru menyesal dan panik.

Namun terlambat, karena kini hadir Damar pria yang jauh lebih sempurna yang ternyata adalah calon suaminya.

Akankah Damar mampu menghidupkan kembali rasa cinta Adera yang bertekad untuk tidak jatuh cinta lagi?

Simak kisah cinta mereka bertiga, di novel ini akan disuguhi komedi yang lucu agar tidak terlalu mengantuk ketika membaca.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nona Abu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 21

Beberapa hari kemudian...

Suasana di rumah keluarga Adera mendadak menjadi sangat heboh dan penuh suka cita. Sebuah kabar gembira datang menyambut hari mereka.

Denial, kakak Adera, resmi mendapatkan kenaikan jabatan yang sangat prestisius. Dia kini dipromosikan ke posisi yang lebih tinggi dan bergengsi, sebuah pencapaian luar biasa yang membuat seluruh keluarga merasa bangga.

Seperti tradisi yang sudah turun-temurun dan selalu dilakukan kedua orang tua, setiap kali ada berita baik atau pencapaian besar, pasti akan diadakan acara syukuran yang meriah dan megah. Apalagi ini soal kenaikan jabatan Denial, tentu saja pestanya harus luar biasa!

"Pesta ini harus meriah!" seru Papa Adera dengan wajah berseri-seri. "Kita undang semua rekan kerja Denial di rumah sakit. Seluruh staf, dokter, perawat, semuanya harus datang untuk ikut bersenang-senang!"

Dan benar saja...

Undangan pun disebarkan secara resmi. Rumah besar keluarga mereka kini dihias sedemikian rupa menjadi sangat indah dan elegan. Lampu-lampu gemerlap, hiasan bunga segar memenuhi halaman yang luas.

Malam harinya, acara pun dimulai.

Suasana menjadi sangat ramai dan hangat. Sebagian staf dari Rumah Sakit Adisakti datang memenuhi undangan tersebut. Mereka datang dengan pakaian terbaik, bersorak dan ikut mendoakan kesuksesan Denial.

 

Suasana pesta yang tadinya terasa meriah dan menyenangkan, perlahan berubah menjadi tidak nyaman bagi Adera.

Dari berbagai arah, bisik-bisik halus mulai terdengar jelas sampai ke telinganya. Orang-orang sibuk berkomentar, menunjuk-nunjuk, dan membicarakan hal yang sama berulang-ulang.

"Eh liat tuh Dokter Ezra, sekarang lagi dekat banget sama wanita lain..." celetuk salah satu suster.

"Iya ya... padahal kan dulu yang ngejar-ngejar dan tergila-gila sama Ezra itu si Nona Adera," timpal yang lain.

"Kasihan ya Nona Adera, pantesan sekarang Adera kelihatan mendung mukanya," lanjut staf yang lain.

"Mendingan jangan berharap terlalu tinggi sih, akhirnya sakit hati sendiri kan jadinya," imbuh staf yang tidak terlalu suka pada Adera dengan nada sinis.

Kata-kata itu terus berputar di udara, menusuk telinga dan membuat dada Adera terasa sesak serta panas.

Bukan karena dia masih mencintai Ezra atau cemburu pada Stella, tapi dia benar-benar kesal dan muak dengan mulut-mulut pedas yang suka mengurusi urusan orang lain dan menganggap dia pecundang.

"Arghh! Bisa-bisanya di acara ini mereka bergosip!" gerutu Adera dalam hati, tangannya mengepal kuat di samping tubuhnya.

Rasa tidak nyaman itu membuatnya tidak betah berlama-lama di tengah kerumunan.

"Nin, ayo ikut gue!" ajak Adera cepat dengan nada kesal.

"Kemana Der?" tanya Nindy bingung.

"Kita cari tempat yang agak sepi dikit! Gue pengen napas lega, gak tahan denger omongan mereka yang suka nyinyir mulu!" jawab Adera ketus.

Akhirnya, tanpa banyak bicara, Adera berjalan cepat meninggalkan area utama pesta, diikuti oleh Nindy yang setia menemani sahabatnya itu.

Mereka berdua mencari sudut rumah yang lebih tenang, jauh dari hiruk pikuk musik dan keramaian tamu undangan.

 

Suasana pesta yang tadinya ramai dengan obrolan dan tawa, tiba-tiba berubah hening total seketika.

Semua mata seolah tertarik pada satu titik yang sama, tepat di pintu masuk utama. Langkah kaki yang mantap terdengar memasuki area pesta, membawa serta aura yang begitu kuat, dingin, namun sangat memancarkan kesan gagah dan berkelas.

Hadirlah sosok yang tak lain adalah Dokter Damar.

Pria itu tampil sempurna dengan setelan jas hitam yang disesuaikan dengan sangat rapi di tubuh atletisnya. Rambutnya disisir rapi, wajahnya yang tampan semakin bersinar diterpa cahaya lampu pesta yang gemerlap.

Benar-benar sesuai dengan namanya... Damar.

Dalam bahasa Jawa, Damar berarti Lampu.

Dan malam ini, dia benar-benar hadir bagaikan sebuah cahaya yang paling bersinar di tengah kegelapan. Kehadirannya seketika membuat semua dekorasi mewah di sekelilingnya terlihat biasa saja dibandingkan dengan pesona yang dia miliki.

Dia adalah pusat perhatian yang sesungguhnya, sosok nomor satu yang paling disegani dan dikagumi di seluruh Rumah Sakit Adisakti.

"Wah... lihat itu! Itu Dokter Damar!" seru staf RS yang melihat.

"Gila... gantengan banget liat aslinya! Auranya beda banget!" kata suster.

"Iya nih... beneran kayak namanya ya, Damar... bersinar banget orangnya," imbuh staf RS.

"Siapapun yang berdiri di sebelahnya pasti bakal kelihatan redup," tambah yang lainnya.

Seluruh tamu undangan, para perawat, dokter muda, hingga staf senior pun tak kuasa menahan decak kagum. Mereka terpesona melihat ketampanan dan wibawa yang terpancar dari tubuh Damar. Tatapannya yang tajam namun tenang membuat siapa saja yang melihatnya merasa terpukau sekaligus segan.

Damar tidak peduli dengan ratusan pasang mata yang menatapnya. Langkahnya tetap lurus dan tegas menuju ke arah pusat acara, di mana Denial sedang berbincang dengan beberapa rekan kerjanya.

Sesampainya di depan Denial, Damar menghentikan langkahnya. Sebuah senyum hangat terukir di wajahnya, mengubah aura dinginnya menjadi sangat ramah dan bersahabat.

"Selamat ya, Dokter Denial," ucap Damar dengan suara berat dan terdengar sangat wibawa. Dia mengulurkan tangannya untuk bersalaman dengan sangat hormat. "Selamat atas kenaikan jabatannya. Semoga makin sukses dan makin baik kedepannya."

Seketika itu juga, banyak rekan kerja Denial dan para staf yang hadir langsung terkejut setengah mati. Mata mereka membelalak lebar tak percaya dengan apa yang baru saja mereka saksikan.

Mereka tahu betul betapa tingginya status Damar di rumah sakit. Dia adalah orang yang sangat sibuk, sangat disegani, dan biasanya sangat jarang bahkan sulit sekali diajak mengobrol santai.

Tapi hari ini... melihat bagaimana Damar datang khusus hanya untuk memberi ucapan selamat, melihat bagaimana Damar bersikap sangat sopan, hangat, dan memberikan perlakuan yang sangat istimewa kepada Denial.

Mereka semua sadar ada sesuatu yang berbeda.

"Wah... gila ya... Dokter Damar sendiri yang datang ngucapin selamat?" kata staf RS.

"Biasa aja kali kalau orang lain, ini lho Dokter Damar! Orang nomor satu di RS!" seru staf yang lain.

"Kok bisa ya Dokter Denial bisa membuat orang nomor 1 di RS Adisakti datang langsung?" heran salah satu staf.

"Atau jangan-jangan... ada hubungan khusus sama keluarga Denial?" tebak staf yang lain.

Bisik-bisik tak henti terdengar. Semuanya merasa heran dan penasaran mengapa Denial bisa mendapatkan perhatian sebesar itu dari sosok seberpengaruh.

 

Dan di sudut yang agak jauh, di antara kerumunan orang yang takjub itu...

Adera yang baru saja kembali dari tempat sepi bersama Nindy, ikut melihat pemandangan itu. Jantungnya seketika berdegup kencang melihat sosok pria itu yang tampak begitu mempesona dan bersinar malam ini.

Melihat kedatangan Damar yang begitu gagah, mempesona, dan bikin satu pesta jadi hening seketika, Nindy benar-benar tak kuasa menahan kekagumannya.

Matanya membelalak lebar, mulutnya terbuka lebar, dan tangannya langsung mencengkeram lengan Adera kuat-kuat seolah menemukan harta karun.

"GILA GILA GILA!!! DERAAAA!!!" teriak Nindy setengah berbisik tapi suaranya terdengar panik dan histeris. "Itu beneran Dokter Damar kan?! Gila sih gantengnya ngalahin artis Hollywood! Beneran kayak pangeran dateng dari dongeng!"

Nindy gemetar hebat, matanya berbinar-binar tak lepas dari sosok pria itu.

"Wih liat auranya dong Der! Beneran kayak namanya ya! Damar... bersinar banget orangnya! Ih kok bisa sih ada manusia setampan itu di dunia nyata?!" celetuk Nindy tak henti-henti, wajahnya memerah karena terlalu excited.

Dia bahkan hampir ingin lari mendekat kalau saja tidak ditahan oleh Adera.

"Eh eh eh! Mau kemana lo?!" tahan Adera cepat sambil memegangi bahu sahabatnya itu kuat-kuat.

"Gue pengen foto sama dia, gila sih Der... gue ngerti banget kenapa lo bisa klepek-klepek sama dia. Emang se-wow itu kenyataannya!" gumam Nindy masih takjub, matanya tak berkedip menatap ke arah Damar.

"Dih siapa yang klepek-klepek?" sanggah Adera.

"Beneran Lo mau nolak yang beginian?" kata Nindy.

"Menurut Lo? Gue harus terima karena dia ganteng sempurna terus nikah sama dia karena gantengnya gitu, ogah mah. Orang ganteng banyak," jawab Adera ketus.

"Tapi yang ini beda, lihat aja diantara para dokter lainnya cuma gebetan Lo yang paling bersinar," bantah Nindy.

"Ini lagi, gebetan apaan sih! Jangan ngadi-ngadi deh," kesal Adera sambil mendengus.

1
Perempuan
Alurnya bagus, gak menoton. Ada lucu²nya. Semangat update ya Thor biar pembaca tetap ingat alur ceritanya
Perempuan
lanjut Thor 👍👍
Alvi
bagus . semangat terus 💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!