Lady suka uang.
Lady juga cinta uang!
But, jika Lady disuruh memilih antara Ace atau uang, maka jawabannya sudah pasti Ace, karena bagi Lady, Ace adalah sumber uangnya. Simple kan jawabannya..
Menikah dengan Ace adalah salah satu hal yang tak pernah terlintas di pikiran Lady. Menikah dengan cowok galak yang memiliki tingkat kesabaran setipis tisu. mungkin juga lebih tipis dari tisu, gak tau deh.
Andaikan saja cowok itu tidak kaya raya serta berwajah jelek, maka mustahil Lady mau menerima perjodohan paksa ini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon capr.gurlll, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
part 34
Saat sedang berjalan di parkiran bersama Zena, tanpa sengaja Lady melihat Leon dan Ace yang sedang duduk di atas motor masing-masing. Lady lantas mengernyit ketika melihat Leon mengibas-ngibaskan tangannya kepadanya.
"Ngapa tuh abang lo? Tangannya patah atau gimana?" tanya Zena memicingkan matanya melihat Leon.
"Lo bawa motor, kan?" tanya Lady yang diangguki oleh Zena. "Kalau gitu, lo jalan duluan aja. Entar gue nyusul di belakang," ucap Lady yang dituruti oleh sahabat berambut pendeknya itu.
"Jangan lama-lama," ucap Zena yang kemudian mengacungkan jari tengahnya sembari berjalan meninggalkan Lady
Lady menggeleng dan kemudian menghampiri kedua cowok tersebut yang sedang menatapnya sedari tadi.
"Mau kemana?" tanya Leon.
"Mau shopping sama Zena. Kenapa? Lo mau ngasih gue duit?" jawab Lady, membuat Leon langsung memutar malas bola matanya. Dasar Lady.
"Gue mau lo bawa satu cewek lagi buat shopping juga," ucap Leon. Lady mengernyit bingung. Siapa tuh?
Leon kemudian beranjak pergi dari sana untuk memanggil cewek yang tadi dia maksud. Mungkin ceweknya sedang berada di dekat taman sekolah. Lihat saja, Leon berjalan ke arah kursi-kursi yang ada di sekitaran taman sekolah.
Sembari menunggu, Lady menatap Ace yang kini juga sedang menatapnya sambil merokok.
"Belum pulang?" tanya Lady basa-basi agar suasananya tidak canggung.
"Mata lo buta? Nggak liat gue masih di sini?" balas Ace yang sama sekali tidak bisa santai.
Lady hanya diam. Mungkin, karena masih emosi, makanya cowok itu semakin tidak bisa santai kepadanya.
"Nih, bawa nih cewek ikutan shopping. Pastiin dia belanja barang-barang mewah dan nggak murahan sama sekali," ujar Leon yang baru kembali sambil menggendeng tangan seorang gadis imut.
Yuna tersenyum lebar sampai deretan gigi kelincinya dapat terlihat jelas. "Halo."
"Halo," balas Lady tersenyum manis pada Yuna.
"Gue nggak mau punya babu yang gayanya kayak gembel, jadi pastiin dia benar-benar beli apa aja yang mahal kayak lo," ucap Leon.
"Duitnya mana? Gue juga habis nganterin Yuna pulang tuh. Ongkosnya mana? Rumah Yuna nggak dekat, ya, jadi ganti duit bensin gue lima ratus ribu." Lady menyodorkan tangannya di hadapan Leon.
Leon berdecak. Sudah dia duga kalau Lady pasti akan minta duit dan membahas masalah kemarin. Belasan tahun mereka menjadi saudara, Leon sudah hafal betul seperti apa sifat adeknya ini.
"Pakai Kartu ATM ini buat belanjain babu gue. Lo juga bisa pakai tiga juta di dalam kartu itu buat shopping," ucap Leon. Cewek itu tersenyum puas saat Leon dengan semangat mengambil kartu ATM yang dia sodorkan.
"tiga juta loh, ya?" ujar Lady diangguki oleh Leon.
Selanjutnya, manik hazel Ace dapat melihat Lady yang dengan sumringah menggandeng tangan Yuna dan mengajaknya masuk ke dalam mobil. Vibesnya tuh kenapa jadi kayak dua bocah bebek yang lagi jalan bergandengan.
Melihat Lady, membuat Ace jadi mengingat kelakuan cewek itu semalam.
Leon melirik Ace di sebelahnya. Cowok bertindik hitam itu hanya bisa diam melihat tangan kekar Ace yang terkepal kuat.
*
"Nih cewek lo dapat dimana, anjir?" bisik Zena sambil memperhatikan Yuna yang sedang melihat-lihat sekeliling dengan tatapan takjubnya.
"Leon nyuruh gue buat ngebawa dia juga," balas Lady ikut berbisik.
Zena bergidik ngeri melihat penampilan lusuh Yuna dari atas sampai bawah. Tas pink, sepatu pink, jaket pink, dan juga ikat rambut pink. Untung saja mukanya juga tidak berwarna pink.
"Gayanya bikin geli, anjir. Pink-pink gitu kayak tai," cibir Zena.
Lady menarik baju Zena agar mendekat kepadanya. "Sejak kapan tai warnanya jadi pink?"
Yuna menatap interior pusat perbelanjaan ini tanpa berkedip sekalipun. Ia benar-benar dibuat kagum oleh tempat ini. Maklum saja, ini adalah pertama kalinya ia menginjakkan kaki di tempat yang seperti ini.
Sebuah pusat perbelanjaan yang hanya menyediakan berbagai kosmetik dari berbagai brand ternama termasuk Nats cosmetic.
"Yang ini bagus, tapi yang ini juga bagus. Gue harus beli yang mana, ya?" gumam Lady masih menimang kedua lip cream berwarna pink dan merah di tangannya.
"Bagusan yang pink, Dy. Kamu kelihatan lebih fresh kalau pakai yang itu," saran Yuna yang tengah ikut memilih lip cream di samping Lady.
"Yang ini, Yun?" Lady menyodorkan lip cream berwarna pink dan langsung diangguki oleh Yuna.
"Iya, itu bagus banget."
"Bagus apaan, bego? Warna hitam malah lebih cocok," komentar Zena yang merasa tak suka dengan warna pilihan Yuna.
Zena mengambil tiga lip cream berwarna hitam dan memasukkannya ke dalam keranjang belanjaan Lady.
"Kalau warna hitam kayak dukun santet," ucap Yuna dengan lembutnya. Hal singkat yang membuat Zena melirik sinis kepadanya.
Melihat Yuna yang menunduk, lady lantas menghampiri gadis itu dan menepuk-nepuk pundaknya. "Sabar, Zena emang gitu orangnya," ucap Lady yang diangguki oleh Yuna.
Yuna sudah bisa melihat sejak ia datang ke tempat ini, Zena sudah sangat tidak suka kepadanya.
Tak ingin ambil hati, Yuna lalu melirik keranjang Lady yang sudah hampir penuh. Keranjang belanjaannya saja masih kosong, tapi Lady sudah sebanyak itu.
Yuna dibuat ketar-ketir melihat harga lip cream itu yang mencapai ratusan ribu. Itu baru satu lip cream saja, belum lagi harga alat makeup dan skincare Lady yang lain. Apalagi biaya pajak tiap kali checkout. Oh my god.
"Lady, aku boleh minta saran ke kamu?" tanya Yuna yang membuat Lady menatapnya dengan penuh semangat.
"Boleh, dong. Saran apa?"
Yuna tersenyum lebar dan buru-buru menghampiri Lady. Ia sedikit mengernyit saat Zena yang berada di dekat Lady malah mundur ketika didekati olehnya.
Zena memutar malas bola matanya, tanda tak suka kepada Yuna.
"Menurut kamu bagusan yang mana?" tanya Gerhana menunjukkan dua skincare di tangannya.
Lady menoleh, ditatapnya skincare yang diperlihatkan oleh Yuna dengan tatapan tak suka sama sekali. "Lo nanya soal yang itu?" tanyanya. Yuna mengangguk mantap.
HELLOW!
Masa iya cewek yang disebut babu oleh kakaknya itu malah membeli skincare murah dan bahkan yang paling murah di toko ini. Jangan bikin Seorang Ladyanne malu deh!
"Mbak!" panggil Lady kepada salah satu staf di pusat perbelanjaan tersebut. Seorang wanita cantik dengan wajah glowingnya itu pun buru-buru menghampiri mereka.
"Iya, Mbak? Ada yang bisa saya bantu?" tanya staf tersebut dengan sopan.
Lady mengangguk dan menatap Yuna. "Tolong rekomendasiin sama dia produk-produk buat perawatan wajah sama body yang paling bagus dan paling mahal disini."
"Lady, aku-"
"Tenang aja, okey? Kakak gue bukan gembel," ucap Lady berusaha menenangkan Yuna yang tampak sangat panik.