Setelah mengorbankan keluarga kandung, masa muda, dan hidupku demi menjadikan suamiku pewaris Mahendra Group, Sebastian justru memfitnah putra kami, membiarkan menantu dan cucuku meninggal, lalu mendorongku hingga tewas.
Saat kembali membuka mata, aku kembali ke hari Sebastian melamar ku.
Jika dulu aku memilih Sebastian Mahendra...
maka di kehidupan ini, aku akan menikahi adiknya, Stefanus Mahendra.
Aku tidak akan menikahi pria yang menghancurkan hidupku.
Aku akan memilih pria yang ternyata diam-diam mencintaiku sejak awal.
Namun, mengubah takdir ternyata tidak semudah mengganti calon suami.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon INeeTha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
9. Memilih Adikmu
Sisa dingin lantai pualam, bau anyir darah, dan rintihan serak Stefanus perlahan memudar dari benaknya. Shaquena menunduk, memandangi sepasang telapak tangannya. Mulus, kencang, tanpa goresan. Tidak ada tulang rusuk yang patah, tidak ada pergelangan tangan yang remuk.
Ia melangkah ke meja rias. Di balik cermin oval, sosok mudanya terpantul utuh. Kulitnya yang pias berangsur merona.
Ia kembali. Tuhan benar-benar memutar balik waktu, memberinya kesempatan kedua untuk menulis ulang takdir.
"Shaquena, kamu sudah gila?!"
Desisan tajam itu membuat Shaquena menoleh. Sang ibu berdiri di ambang pintu dengan mata membelalak, jemarinya mencengkeram kusen pintu begitu erat hingga memucat. Pandangan wanita itu tertuju pada gaun putih gading rancangan desainer ternama yang kini terinjak kotor di bawah telapak kaki telanjang Shaquena.
"Keluarga besar Mahendra sudah berkumpul di ruang tamu! Sebastian sedang menunggumu!" bisik ibunya, gemetar menahan geram. "Kamu mau mempermalukan keluarga kita di depan mereka?"
Shaquena menatap ibunya, tenang. "Aku tidak akan memakai gaun itu, Bu."
Nada bicaranya datar, tanpa keraguan. Ia melangkah melewati ibunya menuju lemari jati besar, lalu menggeser pintunya dengan sekali sentakan. Diabaikannya napas ibunya yang memburu menahan amarah. Jari-jari Shaquena bergerak cepat, menarik sehelai gaun sutra polos berwarna merah gelap. Tanpa renda rumit, tanpa taburan kristal, dan sama sekali jauh dari standar gaun lamaran keluarga konglomerat.
Merah darah. Warna yang sempurna untuk sebuah pembalasan dendam.
"Pakai gaun putih itu sekarang, Shaquena!" tuntut sang ibu dengan nada melengking. "Ini bukan waktunya bermain-main!"
"Aku tidak sedang bermain-main, Bu," sahut Shaquena dingin, mengunci tatapan ibunya lewat pantulan cermin. "Beri aku waktu lima menit. Aku akan segera turun."
Ibunya membuka mulut untuk memaki, tetapi sorot mata Shaquena yang sedingin es seketika membungkam kata-katanya. Selama dua puluh dua tahun, Shaquena selalu menjadi boneka penurut yang senyumnya bisa diatur demi bisnis keluarga. Tatapan mematikan itu adalah sesuatu yang belum pernah ia lihat sebelumnya.
Tanpa suara, ibunya berbalik kasar lalu menghentakkan kaki keluar kamar.
Lima menit kemudian, giliran Shaquena yang melangkah keluar.
Ketukan tumit sepatunya di anak tangga marmer menggema teratur, memotong sayup-sayup obrolan dari lantai bawah.
Ruang tamu megah keluarga Mahardika tampak seperti panggung pertunjukan. Karangan bunga lili putih dan mawar impor menghiasi setiap pilar, menyebarkan aroma manis menyengat yang mendadak membuat lambung Shaquena bergejolak mual, mengingatkannya pada deretan bunga duka di pemakaman putranya kelak.
Keheningan merambat cepat begitu derap langkah Shaquena mendekat. Ratusan mata di ruang tamu beralih menatap tangga.
Di tengah aula, Sebastian Mahendra berdiri gagah dalam balutan jas tiga potong biru navy yang pas di tubuh tegapnya.
Mata hitam pria itu menatap ke arah tangga, melengkungkan senyum tipis yang penuh percaya diri. Tatapan seorang pemburu yang yakin mangsanya sudah berjalan masuk ke dalam perangkap emas yang ia siapkan.
Di sampingnya, Nyonya Mahendra duduk tegak di sofa beludru. Sorot matanya memindai Shaquena dari ujung kaki ke ujung kepala, penuh penilaian merendahkan. Pilihan gaun merah menyala itu jelas dianggap sebagai bentuk pembangkangan terhadap norma kesopanan lamaran keluarga konglomerat.
Namun, Shaquena enggan membuang pandangannya pada ibu dan anak itu.
Sepasang matanya menyapu seisi ruangan, sebelum akhirnya terkunci pada sudut redup di balik pilar besar. Di sana, seorang pria berdiri diam dalam balutan kemeja hitam dengan lengan digulung kasar hingga siku.
Stefanus Mahendra.
Stefanus merapatkan punggungnya ke dinding, menunduk dalam seolah bersembunyi dari sorotan lampu aula. Bahunya yang lebar tampak menegang kaku.
Di kehidupan lalu, Shaquena tak pernah meliriknya. Stefanus selalu menjadi bayangan kabur yang tersisih, adik tiri yang kehadirannya tak pernah dianggap penting oleh dewan keluarga besar Mahendra.
Namun sore ini, sosok itu menjadi satu-satunya yang terlihat jelas di mata Shaquena.
Pria yang menerjang badai untuk memeluk tubuhnya yang hancur di dasar tangga marmer. Pria yang tangis histerisnya memecah malam di saat suaminya sendiri menatap dingin jasadnya.
Ketika pandangan mereka bertemu, Stefanus tampak menahan napas. Rahangnya mengeras samar, namun kilatan emosi di balik sepasang mata cokelat gelap itu tak mampu ia sembunyikan.
Shaquena memutus kontak mata itu, lalu menapakkan kakinya di lantai dasar.
Kerumunan keluarga besar membentuk formasi setengah lingkaran di tengah aula. Ayah Shaquena melemparkan senyum bangga, sama sekali tak tahu bahwa calon menantu di hadapannya adalah orang yang kelak merusak rem mobilnya dan membiarkannya tewas di dasar jurang.
Sebastian melangkah maju memangkas jarak. Senyumnya kian lebar, memancarkan pesona pria sempurna tanpa cela.
"Kamu terlihat sangat berbeda hari ini, Shaquena," puji Sebastian dengan suara baritonnya yang berat dan lembut. Tatapannya menyapu gaun merah yang dikenakan Shaquena, menutupi keraguan di matanya dengan cepat. "Tapi, kamu memang selalu tahu cara menjadi pusat perhatian."
Shaquena bergeming. Jemarinya mengepal kuat di sisi tubuh hingga buku-buku jarinya memutih, meredam kemurkaan yang siap meledak.
Sebastian merogoh saku dalam jasnya, mengeluarkan kotak beludru hitam pekat. Seketika, keheningan menyelimuti aula. Seluruh mata tertuju pada jemari pria itu, menanti bersatunya dua dinasti bisnis terbesar ibu kota.
Dengan gerakan terlatih dan penuh karisma, Sebastian menekuk satu lututnya. Ketika tutup kotak beludru itu terbuka, pantulan kilau berlian murni membiaskan cahaya lampu kristal langsung ke mata Shaquena.
"Shaquena Mahardika," ucap Sebastian lantang, suaranya memenuhi setiap sudut aula. "Di hadapan keluarga besar kita, aku meminta kesediaanmu. Maukah kamu menjadi istriku, membangun masa depan bersama, dan mendampingiku selamanya?"
Sunyi mendadak terasa mencekam. Detak jarum jam di sudut ruangan terdengar begitu nyaring. Di barisan belakang, sang ibu melotot tajam, memberi isyarat keras agar Shaquena lekas mengulurkan tangan kanannya.
Shaquena menatap lurus ke wajah pria yang berlutut di depannya.
Wajah arogan yang persis sama dengan wajah yang menatap dingin napas terakhirnya di dasar tangga. Wajah yang tanpa beban menumbalkan anak mereka sendiri ke penjara demi menyelamatkan bisnis Mahendra Group.
Di kehidupan pertamanya, ia akan menangis haru, mengulurkan tangan dengan gemetar bahagia untuk dipasangi rantai emas bermata berlian ini.
Hari ini, naskah itu harus dirobek.
"Tidak."
Satu kata itu meluncur tenang, namun sanggup membelah kesunyian ruangan bagai bilah pisau.
Senyum di bibir Sebastian lenyap seketika. Tangannya yang memegang kotak beludru mematung di udara.
"Apa?" bisik Sebastian. Matanya menyipit, menatap heran seolah baru saja salah mendengar.
"Aku tidak mau menikah denganmu, Sebastian," ulang Shaquena, menekankan setiap suku kata dengan dingin.
Aula megah itu mendadak gaduh.
Ayah Shaquena tersentak mundur hingga menyenggol vas bunga besar di belakangnya. Ibunya membekap mulut dengan telapak tangan yang gemetar hebat, sementara Nyonya Mahendra langsung berdiri tegak dari sofa beludrunya dengan wajah merah padam. Bisik-bisik panik menjalar cepat ke seantero ruangan.
"Shaquena! Apa-apaan kamu?!" bentak sang ayah, suaranya meninggi menahan malu. "Jangan membuat lelucon bodoh di depan para tamu!"
Shaquena bergeming, mengabaikan murka ayahnya. Ia terus mengunci tatapan Sebastian yang kini perlahan bangkit berdiri. Gurat ketegangan merusak wajah tampan pria itu, memecah topeng sempurnanya dan menyisakan sorot mata buas yang terhina.
"Kamu pasti lelah," desis Sebastian dari balik rapatnya gigi. Ia mengulurkan tangan untuk meraih pergelangan tangan Shaquena, upaya terakhir menyelamatkan mukanya di hadapan keluarga besar. "Kita bicarakan kesalahpahaman ini di belakang."
Plak!
Shaquena menepis kasar tangan itu. Bunyi tamparan keras terdengar nyaring, memicu pekikan kaget dari beberapa kerabat wanita.
"Tidak ada lagi yang perlu dibicarakan, Sebastian," potong Shaquena dingin. "Aku menolak lamaranmu."
Shaquena berbalik, memunggungi pria yang kini mematung menahan malu luar biasa. Ia melangkah tenang, membelah kerumunan keluarga besar yang otomatis membuka jalan baginya dengan wajah pucat.
Arah langkahnya tak lagi mengarah ke panggung utama, melainkan lurus menuju sudut redup di samping pilar besar.
Langkah Shaquena terhenti tepat di depan sosok kemeja hitam yang tersembunyi di sana.
Stefanus membeku. Wajahnya pias dengan mata membelalak lebar menatap Shaquena, seakan sedang melihat keajaiban yang mustahil terjadi.
Tanpa ragu, Shaquena mengulurkan tangan kanan dan meraih telapak tangan kiri Stefanus yang menggantung kaku di sisi tubuhnya.
Kulit Stefanus sedingin es, namun Shaquena merengkuhnya erat, mengunci jemari mereka dengan mantap. Stefanus tersentak kecil saat kulit mereka bersentuhan. Tubuh tegapnya menegang kaku, tetapi ia tidak menarik tangannya pergi. Sama sekali tidak.
Shaquena berbalik menghadap aula, masih menautkan jemarinya dengan jemari Stefanus.
"Aku tidak akan pernah menikah denganmu, Sebastian," ucap Shaquena lantang. Ia mengangkat tautan tangan mereka tinggi-tinggi, memamerkannya di depan puluhan pasang mata yang membelalak. "Aku memilih menikah dengan adikmu. Stefanus Mahendra."
Sunyi yang ratusan kali lebih pekat dan menekan kembali menyergap ruangan. Atmosfer megah itu mendadak terasa begitu menyesakkan.
"Perempuan kurang ajar!" jerit Nyonya Mahendra histeris, menunjuk wajah Shaquena dengan telunjuk bergetar hebat. "Tidak tahu malu! Berani-beraninya kamu mempermalukan putra sulungku demi anak tak berguna ini?!"
"Shaquena, lepaskan tanganmu sekarang!" timpal sang ibu yang mulai terisak panik di tengah skandal yang meledak di depan matanya. "Kesepakatan kedua keluarga sudah mutlak!"
Shaquena merasakan getaran halus dari telapak tangan Stefanus yang berada dalam genggamannya. Pria itu sedikit menunduk, menatapnya dari samping dengan tatapan tak terbaca.
"Kenapa kamu memilihku?" bisik Stefanus parau, begitu lirih hingga hanya bisa ditangkap oleh indra pendengaran Shaquena.
Shaquena menoleh perlahan. Ia menyelami sepasang mata cokelat gelap itu sedalam-dalamnya, lalu berbisik lembut, "Karena di kehidupanku yang lalu, hanya kamu yang menangis untukku."