Kanaya Tabitha adalah definisi wanita sempurna. Cantik, pintar, dan mandiri, dia sukses membangun bisnisnya dari nol. Di balik keanggunannya, Kanaya adalah sosok wanita tangguh yang menguasai seni bela diri tingkat tinggi, dan jangan harap ada pria yang bisa mendekatinya dan mengusik hidup tenang nya, hubungan dan cinta tidak ada di dalam daftar hidup nya.
Namun, dunia indahnya runtuh saat sebuah rahasia besar mendadak memutarbalikkan hidupnya. Tubuhnya mengalami perubahan aneh yang tak masuk akal. Bagaimana bisa dia hamil tanpa pernah disentuh pria mana pun?
Kanaya tidak tahu bahwa setiap malam, rahimnya telah diklaim oleh Alexander Giorge, Raja Vampir yang posesif dan berbahaya di balik kegelapan.
"Kamu milik ku, Kanaya. Berlari lah sejauh apa pun, darah daging ku akan selalu membimbingku kembali ke tempat tidurmu. Jika ada pria lain yang berani menyentuhmu, ku pastikan namanya tinggal sejarah."_ Alexander Giorge.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon hofi03, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
DISUAPIN
Naya perlahan-lahan mulai membuka matanya, kesadarannya kembali terkumpul, dan hal pertama yang dia rasakan adalah kenyamanan luar biasa pada tubuhnya.
Rasa kram dan panas membakar di perut nya semalam benar-benar sudah hilang.
Naya mengubah posisinya menjadi duduk sambil bersandar pada kepala ranjang, melirik ke arah jendela besar yang langsung menghadap ke taman mansion Alexander.
Sinar matahari pagi yang hangat tampak menerobos masuk melalui celah-celah gorden sutra yang tebal, menandakan bahwa dia sudah tertidur sangat lama.
"Kamu sudah bangun?"
Sebuah suara berat, dalam, dan sangat familier mendadak memecah keheningan kamar.
Naya tersentak kecil lalu menoleh ke arah sofa panjang di dekat jendela.
Di sana, Alexander sedang duduk santai sambil memegang sebuah tablet.
Pria itu sudah berganti pakaian dengan kemeja putih yang lengan kemejanya digulung sampai ke siku, memberikan kesan kasual namun tetap memancarkan aura ketampanan yang sangat mengintimidasi.
"Kamu... ngapain di situ? Dari kapan kamu di sana?" tanya Naya dengan nada ketus, reflek menarik selimutnya lebih tinggi untuk menutupi tubuhnya sendiri.
Alexander meletakkan tabletnya ke atas meja kecil, lalu berdiri dan melangkah perlahan mendekati ranjang.
Setiap langkah kakinya terdengar begitu tenang, namun sukses membuat jantung Naya berdegup kencang.
"Sejak semalam aku tidak pergi dari sini, Naya, aku harus memastikan kamu dan anak kita baik-baik saja," jawab Alexander santai, lalu mengambil posisi duduk di tepi ranjang, tepat di samping kaki Naya.
Naya langsung menggeser duduknya agak menjauh, menatap Alexander dengan pandangan penuh permusuhan.
"Jangan dekat-dekat! Dan berhenti sebut janin ini anak kita! Aku masih gak bisa terima kalau aku... kalau aku dihamili oleh seorang monster seperti kamu!" ucap Naya, meluapkan kejadian tadi malam yang dirinya tidur di pelukan Alexander.
Alexander tidak marah mendengar umpatan kasar dari Naya, tapi sebaliknya, dia justru tersenyum tipis, sebuah senyuman lembut yang hanya dia tunjukkan khusus untuk wanita di depannya ini.
Tangannya terulur perlahan, mencoba meraih telapak tangan Naya yang tampak gemetar.
"Mau kamu mengumpat atau membenciku sampai ratusan kali pun, kenyataannya tidak akan berubah, Naya. Darahku mengalir di dalam rahimmu. Bayi itu adalah penerus ku," ucap Alexander dengan nada suara yang sangat tenang namun sarat akan penekanan yang mutlak.
Naya menepis tangan Alexander dengan kasar, menolak untuk disentuh.
"Kenapa harus aku, hah?! Di dunia ini ada banyak perempuan, kenapa kamu harus ngelakuin hal gila ini sama aku?!" teriak Naya marah.
Alexander menatap lurus ke dalam manik mata Naya.
Kilatan warna merah darah sempat muncul sesaat di matanya sebelum kembali berubah menjadi hitam kelam yang pekat dan dalam.
"Karena sejak pertama kali aku melihatmu, garis takdir kita sudah terkunci, Naya. Aromamu, jiwamu, dan semua yang ada pada dirimu hanya diciptakan untuk menjadi pendampingku. Kamu adalah Ratu ku, dan tidak ada wanita lain yang bisa menggantikan posisi itu," jawab Alexander dengan nada yang sangat posesif, membuat bulu kuduk Naya meremang karena intensitas tatapan pria itu.
Naya terdiam seribu bahasa, tenggorokannya mendadak terasa kering.
Penjelasan Alexander terdengar sangat gila di telinga nya, tapi dia tidak bisa menampik rasa hangat yang mendadak menggelitik dadanya setiap kali mendengar suara pria itu secara langsung.
Perut Naya tiba-tiba berbunyi cukup nyaring di tengah keheningan kamar, memecah ketegangan di antara mereka berdua.
Kruuuk.
Kruuuk.
Kruuuk.
Wajah Naya langsung memerah sempurna sampai ke telinga karena menahan malu setengah mati.
Dia buru-buru memalingkan wajahnya ke arah jendela, mengutuk perutnya sendiri yang tidak bisa diajak bekerja sama di depan musuh.
Alexander yang mendengar suara itu langsung terkekeh rendah, suara tawa baritonnya terdengar sangat seksi dan menghibur di telinga Naya.
"Rupanya calon penerusku sudah menagih jatah makannya pagi ini," goda Alexander sambil berdiri dari duduknya, berjalan menuju pintu kamar.
"I-Ini karena aku belum makan dari kemarin sore tahu! Bukan karena anak kamu!" kilat Naya ketus, membela diri dengan suara yang sengaja meninggi untuk menutupi rasa malunya.
Alexander membuka pintu kamar sedikit, lalu memanggil pelayan yang sudah bersiaga di luar sejak subuh tadi.
"Bawa masuk semua makanan yang sudah disiapkan tadi ke sini!" perintah Alexander, tegas.
"Baik, Yang Mulia," jawab suara pelayan dari luar dengan sangat sopan.
Hanya dalam hitungan menit, dua orang pelayan wanita berpakaian rapi masuk dengan mendorong meja troli berisi berbagai macam makanan mewah dan tentunya bergizi.
Aroma sup ayam yang gurih, potongan daging panggang yang empuk, hingga berbagai buah-buahan segar langsung menyerbu indra penciuman Naya, membuat air liurnya hampir menetes.
Setelah meletakkan semua makanan itu di atas meja kecil di samping ranjang, para pelayan itu membungkuk dalam-dalam lalu segera keluar dengan langkah terburu-buru, tidak berani berlama-lama di dalam kamar sang Raja.
Alexander mengambil semangkuk sup ayam hangat, lalu duduk kembali di tepi ranjang di dekat Naya, mengaduk sup itu perlahan agar tidak terlalu panas.
"Sini, makan dulu, lanjut lagi nanti marah-marah nya, tubuh mu butuh nutrisi yang banyak untuk mengimbangi pertumbuhan bayi kita," ucap Alexander lembut, menyodorkan sesendok sup ke depan bibir Naya.
Naya menatap sendok sup itu lalu menatap wajah tampan Alexander dengan dahi berkerut.
"Aku punya tangan sendiri ya, sini mangkuknya, aku bisa makan sendiri," tolak Naya, ketus.
"Aku yang membawamu ke sini, jadi aku yang bertanggung jawab untuk menyuapimu, Naya. Jangan keras kepala atau aku akan menggunakan cara lain agar kamu mau membuka mulut," ancam Alexander tersenyum miring.
Naya langsung bergidik ngeri mengingat kelakuan dominan Alexander yang dianggap dalam mimpi.
Daripada pria ini nekat melakukan hal yang aneh-aneh lagi di dunia nyata, Naya akhirnya mengalah dengan terpaksa, dia membuka mulutnya dan menerima suapan sup dari Alexander dengan wajah yang ditekuk cemberut.
"Gimana rasanya? Sesuai dengan seleramu?" tanya Alexander setelah suapan pertama masuk ke mulut Naya.
Naya mengunyah sup itu perlahan, matanya berkedip heran karena rasanya ternyata sangat enak, bahkan jauh lebih enak daripada makanan di restoran bintang lima langganannya.
"Enak... tapi tetep saja aku mau pulang setelah ini," jawab Naya ketus setelah menelan makanannya, tetap bersikeras pada pendiriannya untuk bebas.
Alexander menyunggingkan senyuman tipis, kembali menyendok sup untuk suapan berikutnya.
"Makan saja yang banyak, Sayang. Soal pulang atau tidak, kita bicarakan nanti setelah energimu sudah pulih sepenuhnya," jawab Alexander, tentu saja tidak akan membiarkan wanita nya ini pergi dari mansion nya.
Naya hanya bisa mendengus pasrah, kembali menerima suapan demi suapan dari sang Raja Vampir.
Di dalam hatinya, Naya tahu betul bahwa melarikan diri dari mansion pasti tidak akan mudah, apalagi dengan kondisi perutnya yang semakin membuncit.