"Kamu di diagnosa kanker otak stadium 3,tapi masih gejala awal jadi tingkat kesembuhan masih ada 75 % lagi,asal secepatnya operasi"
"Jika aku tidak operasi?"
"Jangan gila,kau bahkan tidak akan bertahan sampai 5 bulan"
"Kalau begitu biarkan saja"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon hantari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Cukur rambut
"Kak Damar"
"Hmm?"
"Aku bawakan teh hijau"
"Terimakasih"
Syakira duduk di samping Damar yang sejak tadi duduk di sofa dan fokus bekerja,kebiasaan yang memang akan selalu Ia bawa bekerja sampai larut.
"Apa kak Damar menyalahkan ku karna perceraian dengan kak Adeline?"
"Tidak"
"Tapi kenapa kak Damar tadi marah pada ku?"
Damar menghentikan pekerjaannya nya,dan menghela nafas dalam."Aku hanya tidak suka dengan sikap ibu kamu"
"Maaf ya kak,Mama memang begitu tidak bisa menjaga ucapnya.Itu juga karna dulu sebenarnya kak Adeline yang suka mencari keributan dengan mama"
Sebelum Syakira menyelesaikan kalimatnya,Damar langsung bangkit dari duduknya."Cukup, kau bisa keluar.Aku akan melanjutkan pekerjaan ku di kamar tidur"
Setelah mengatakan itu,Damar langsung pergi keluar meninggalkan Syakira yang cukup terkejut."Kak,kenapa kakak tidak bisa menyukai ku?.Aku sudah pernah tanya perasaan kak Damar pada ku,apakah kakak belum ada jawaban hingga saat ini?"
Damar yang hampir keluar dan memegang gagang pintu, berhenti."Jawaban ku tetap sama", jawabnya tanpa berbalik.
Syakira tertawa mengejek."Kenapa?,Kenapa kakak melepaskan nya dan memperlakukan nya layaknya tidak mencintai nya,kalau kakak memang benar-benar mencintainya?"
"Lalu kenapa kakak selalu terlihat tidak peduli padanya?"
Tangan Damar terkepal."Aku tidak pernah mengatakan kalau aku mencintai nya"
"Tapi aku tau kalau kakak selalu mencintai nya,dan sebenarnya selalu peduli padanya"
"Bahkan aku tau kalau kakak sengaja kecelakaan di hari perceraian,hanya agar menunda perceraian kalian!"
Mendengarnya kepalan tangan Damar mengurai.
Pada malam setelah merayakan ulang tahunnya,Ia langsung pergi meninggalkan Adeline sebelum sempat menyicipi kue ulang tahun buatannya.
Awalnya Ia pergi ke kantor untuk bekerja sampai pagi,sebelum akhirnya memutuskan untuk kembali seorang diri dan meninggalkan asistennya.Hingga di pertengahan jalan entah kenapa dengan pikiran yang semakin sempit,Ia memutuskan untuk menabrakkan mobilnya pada beton pembatas jalan.
Dan setelah itu,Ia tidak sadarkan diri,hingga keesokan harinya lagi di malam hari dengan perceraian benar-benar sudah terjadi.
Ia menghela nafas,"Itu bukan kecelakaan yang di sengaja"
"Tapi mama bilang begitu!"
Tanpa mendengar ucapan Syakira lagi,Damar langsung keluar dan tanpa menutup pintu pergi dari sana.
Syakira menangis,namun kemudian Ia tertawa."Haha bahkan setelah bercerai pun aku masih tidak bisa mendapatkannya?,itu tidak mungkin.Aku pasti akan menikah dengan kak Damar"
Sementara di luar ruangan saat itu,Helena yang sejak tadi bersandar pada tembok ruangan tepat di sebelah pintu,menghela nafas berat saat melihat putranya keluar dari ruangan.
Ia ingin mengejar nya,tapi khawatir putranya itu akan marah.Sejak perceraian itu Damar mendiami semua orang dalam rumah termasuk dirinya dan suaminya,dia tidak bicara dengan siapapun dan hanya menumpang tidur di sana saat malam hari, sudah hampir satu minggu perceraian dan semuanya semakin berubah.
Dan sejujurnya,Ia juga merasa kehilangan dan menyesal setelah perceraian Adeline dan Damar.Ia tidak pernah lagi melihat Adeline menginjakkan kaki di rumahnya dan tak lagi melihat senyum nya yang selalu tenang,dan kelembutannya yang selalu membuat nya merasa bersalah setiap kali memperlakukannya dengan tidak layak.
Sementara tuan besar Pradipta akhirnya menghampiri istrinya itu saat melihatnya kembali menangis.Selama seminggu terakhir, istrinya itu selalu menangis malam hari sebelum tidur dan siang hari di meja makan seorang diri.
"Ma", ucapnya mengusap bahu istrinya itu,dan mengajaknya untuk segera tidur.
"Pa,mama rasa mama sudah keterlaluan selama ini sama Adeline.Meskipun dia bukan dari keluarga kelas atas,tapi dia Dia adalah anak yang baik dan tulus,dia selalu melayani keluarga kita tanpa mengeluh dan selalu siap sedia setia kali mama meminta bantuan nya,dia tidak penting menolak permintaan mama,dan dia juga pernah mengatakan pada mama kalau dia tidak punya orang tua kandung lagi dan menganggap mama sebagai ibu kandung nya"
"Tapi mama selalu mengabaikan ucapnya dan perasaan nya,tanpa pernah memperlakukan nya seperti anak kandung sendiri, seperti dia yang selalu menganggap mama sebagai ibu kandung nya"
Tangis Helene semakin terisak-isak di pelukan suaminya itu,Ia selalu merenungi semuanya yang telah terjadi sejak Adeline masuk ke keluarga nya,Ia benar-benar tidak menganggap Adeline sebagai menantu,dan memperlakukan dan menganggap nya layak nya seorang pelayan, memperlakukan nya berbeda seperti menantu-menantu nya yang lain dan itu selalu menyiksa nya.
"Dia selalu menatap dengan penuh kelembutan layaknya melihat sosok ibu",isaknya seolah melihat Adeline saat ini yang selalu menatapnya seperti seorang anak perempuan memandang ibu kandungnya penuh cinta dan khawatir."Pa,mama sudah sangat keterlaluan kan?"
"Sudahlah,Kita memperlakukan nya seperti itu selama ini juga karna kita tau dia tidak akan selamanya menjadi menantu keluarga kita kan.Ini adalah takdir, dengan sikap kita selama ini akan membuat nya tidak berat untuk pergi dari keluarga ini dan dengan mudah menemukan kebahagiaan nya di luar sana"
"Dia juga tidak tinggal seorang diri di luar sana,dia masih mempunyai Ayah kandung nya.Meski mereka tidak tinggal bersama,dia juga masih mempunyai keluarga kan"
"Papa tidak mengerti"
Helena melepaskan pelukan suaminya dan meninggalkan nya.
***
Tiga hari setelah bertemu dengan Helena dan tuan Pradipta kemarin,Hari ini Adeline kembali pergi ke rumah sakit untuk melakukan pemeriksaan dan perawatan tumor pada otaknya, sebelum pengangkatan tumor satu minggu lagi.
Ia benar-benar seorang diri tanpa di dampingi oleh siapapun sejak awal.
Meski akhir-akhir ini kondisinya semakin buruk,dan Ia semakin sering mimisan Ia selalu bisa mengatasinya meski harus menekan rasa sakitnya mati-matian.
Saat ini di dalam ruang pemeriksaan kanker,di atas brankar seorang dokter mencukur sampai habis rambut panjangnya yang indah dengan perlahan dan hati-hati,hingga kepala Adeline terlihat putih licin.Ia merasa geli melihat itu hingga Ia sedikit tertawa.
"Aku sangat aneh tanpa rambut", ejeknya pada diri sendiri melihat dirinya sendiri di dalam cermin.
"Tidak kau masih sangat cantik meski tanpa rambut begini",ucap salah suster menghibur,meski pada nyatanya Adeline memang masih terlihat cantik tanpa rambut, kulit nya yang putih bersih jadi menyatu dengan kulit kepalanya yang juga sama,dia justru terlihat seperti bayi polos,meski saat ini benjolan besar juga terlihat jelas pada kepalanya,yang selama ini tertutup rambut.
Sebagai pasien tumor/kanker,Ia harus mencukur habis rambutnya,agar tak mengganggu pemeriksaan selama perawatan tumor hingga operasi yang akan sangat menghalangi pembedahan dan pengangkatan tumor.
"Dokter,apa setelah kepala di belah aku masih bisa selamat?"
"Tentu saja, kondisi mu juga akan lebih baik dan tak lagi merasa sakit seperti sekarang"
Jawab Dokter Aland yang masuk beberapa saat lalu, untuk melakukan pemeriksaan.
"Apalagi melihat Adeline yang begitu semangat,itu akan sangat membantu",ucap salah seorang dokter wanita yang juga akan ikut melakukan operasi pengangkatan tumor pada Adeline, setelah hampir lima hari bertemu dan berbicara dengan Adeline lewat telepon mereka semakin dekat.
"Terimakasih dokter,itu karna aku sudah menemukan keberadaan mama ku.Dan aku akan bertemu dengan nya sebentar lagi",jawab Adeline dengan tersenyum,karna Ia memang banyak bercerita pada dokter wanita yang hampir seusia ibunya.
"Bagus,itu sangat bagus aku tidak sabar untuk memarahi mama kamu itu",ujar dokter itu dengan marah bercanda.
"Aku yakin,mama pasti punya alasan dokter kenapa dia tidak menemui ku"
Jawabnya dengan senyum yang tertahan.
***
Semangat kk..
pengen lihat adel bangkit dan melihat karma si dua perempua jahat itu