saat sekolah dulu , Zahra hanya sekedar mengenal nama Rendra saja, tak pernah bertegur sapa sama sekali. setelah lulus, mereka tidak bertemu bertahun tahun , hingga akhirnya di pertemukan kembali.rendra yang mulai duluan menghubungi duluan. padahal awalnya Zahra sama sekali tak memiliki perasaan apapun begitupun rendra.bahkan Zahra ada berniatan menjodohkan Rendra dengan sahabat karibnya yaitu rana. namun anehnya malah zahra yang merasa cemburu melihat kedekatan mereka. padahal tak di sangka, hati rendra tertuju pada Zahra bukan rana. ini lah kisah cinta halal mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon septia19, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
episode 21. bayangan jarak di antara sahabat
Dulu, ke mana pun Zahra pergi, pasti ada Rana di dekatnya. Mereka berjalan beriringan, berbagi cerita tanpa rahasia, tertawa bersama, bahkan sering tidur berdua sambil berbisik hal-hal kecil di tengah malam. Bagi orang lain, keduanya terlihat seperti saudara kandung yang tak terpisahkan. Namun sejak hari itu saat kebenaran perasaan Rana terungkap dan ia melihat sendiri betapa eratnya ikatan antara Zahra dan Rendra semuanya berubah total. Rana kini tampak seperti orang asing yang terpaksa berada di lingkungan yang sama. Tatapannya yang dulu hangat kini menjadi dingin dan menjauh sapaan yang dulu riang kini berubah menjadi anggukan singkat atau diam saja. Perubahan ini begitu mencolok hingga tak hanya dirasakan Zahra, tapi juga menjadi tanda tanya besar bagi seluruh keluarga terutama bagi Raka yang semakin tajam mengamati setiap kejadian.
Pagi itu, Zahra berusaha sekuat tenaga bersikap seperti biasa. Saat melihat Rana sedang menyiram tanaman di halaman depan, ia berjalan mendekat dengan senyum tulus, berharap suasana bisa kembali cair.
“Selamat pagi, Rana. Airnya segar sekali ya pagi ini,” sapa Zahra lembut, berusaha memulai percakapan ringan seperti dulu.
Rana berhenti sejenak, tangannya yang memegang selang air terhenti. Ia menoleh perlahan, menatap Zahra sekilas lalu segera membuang muka kembali ke arah tanaman. Tidak ada senyum balasan, tidak ada jawaban yang hangat.
“Pagi,” jawabnya singkat, datar, tanpa nada antusias sedikit pun. Lalu ia kembali menyiram, seolah kehadiran Zahra di sampingnya tidak lebih dari sekadar angin lalu.
Zahra tertegun di tempat. Hatinya terasa perih. Dulu, kalimat sapaan sederhana seperti itu pasti akan disambut dengan candaan atau tawa renyah. Kini, hanya satu kata pendek yang terasa menusuk. Ia ingin sekali bertanya, memohon maaf, atau menjelaskan bahwa ia tidak bermaksud menyakiti tapi melihat sikap Rana yang begitu menutup diri, lidahnya terasa berat untuk bergerak. Ia hanya bisa berdiri diam sejenak, lalu perlahan berjalan pergi dengan perasaan sedih yang mendalam.
Perubahan sikap ini tidak hanya terjadi di pagi hari saja. Di meja makan, Rana yang dulu selalu menyisihkan tempat duduk di sebelahnya khusus untuk Zahra, kini memilih duduk di ujung meja yang paling jauh. Jika Zahra duduk di dekatnya, Rana akan perlahan menggeser posisi piringnya atau berpura-pura sibuk menyuap makanan tanpa berniat berbicara sama sekali.
Siang harinya, Ibu Rendra mengajak mereka berdua ke kebun belakang untuk memetik sayuran. Dulu, ini adalah momen paling menyenangkan mereka saling berebut memetik sayur paling bagus, saling menyindir, dan berbagi cerita tentang impian masing-masing. Hari ini, suasana terasa hening dan berat.
Rana berjalan lebih dulu, bergerak cepat dan cekatan tanpa menoleh ke belakang. Zahra berusaha mengejar langkahnya.
“Rana... tunggu sebentar, biar aku bantu membawa keranjangnya,” pinta Zahra pelan.
“Tidak usah. Aku bisa sendiri,” jawab Rana tanpa menoleh sedikit pun. “Kau lebih baik menemani orang lain saja. Aku tidak butuh bantuanmu sekarang.”
Kalimat itu diucapkan dengan nada tenang, namun maknanya begitu tajam hingga membuat Zahra berhenti melangkah. Ia tahu, kata “orang lain” yang dimaksud tidak lain adalah Rendra. Rana belum bisa menerima kenyataan bahwa sahabat yang paling dipercayainya justru menjadi alasan luka di hatinya.
Sepanjang waktu di kebun itu, mereka tidak saling bicara lagi. Rana bekerja dengan cepat lalu pergi lebih dulu meninggalkan Zahra yang masih berdiri diam di antara deretan tanaman, merasakan betapa besarnya jarak yang tiba-tiba tercipta di antara mereka jarak yang tidak bisa diukur dengan langkah kaki, melainkan dengan rasa kecewa yang mendalam.
Perubahan mencolok ini tentu saja tidak luput dari pengamatan Raka. Ia melihat bagaimana Rana yang dulu selalu tertawa bersama Zahra kini menghindarinya sebisa mungkin. Ia melihat bagaimana Zahra yang dulu ceria di dekat Rana kini tampak murung dan bingung. Dan yang paling penting, ia melihat bagaimana di saat Rana menjauh, Zahra justru semakin sering berada di dekat Rendra seolah mencari sandaran yang hilang di tempat lain.
Sore itu, Raka sengaja mencari waktu berbicara dengan Rana saat gadis itu sedang duduk sendirian di pinggir sungai kecil. Ia duduk di sebelahnya, namun menjaga jarak sopan.
“Rana... ada yang ingin aku tanyakan,” buka Raka pelan. “Kau dan Zahra kan sangat dekat, seperti saudara sendiri. Tapi belakangan ini... sepertinya ada sesuatu yang salah di antara kalian. Kenapa kau menjauhinya begitu?”
Rana menatap aliran air yang bergerak tenang, matanya kosong. Ia ragu sejenak. Sebagai sahabat, seharusnya ia menjaga rahasia Zahra. Tapi sebagai orang yang terluka, dan melihat Raka yang tampak begitu tulus ingin tahu demi kebaikan hubungan mereka, rasa kesal dan kecewa itu perlahan mulai merembes keluar.
“Bukan aku yang menjauh, Ka. Atau mungkin... memang aku yang tidak mengerti apa yang sebenarnya terjadi di depan mataku sendiri,” jawab Rana pelan, namun penuh makna tersirat.
“Maksudmu?” tanya Raka semakin serius. “Ada apa antara Zahra, kau, dan... orang lain di sini?”
Rana menghela napas panjang, lalu menoleh sedikit ke arah Raka dengan pandangan kasihan sekaligus berat. “Kau harus cari tahu sendiri. Ada hal-hal yang disembunyikan darimu, hal-hal yang terjadi saat kau pergi. Dan hal itu... menyakiti lebih dari satu hati sekaligus.”
Raka terdiam. Jawaban itu bukan pengakuan langsung, tapi sudah cukup menjadi petunjuk yang jelas. Ia mengerti sekarang perubahan sikap Zahra, jarang menjawab telepon, keinginan putus yang tiba-tiba, kedekatan yang aneh dengan Rendra, hingga perpecahan antara dua sahabat ini semuanya terhubung menjadi satu benang kusut besar yang melibatkan orang terdekatnya sendiri.
Sementara itu, Zahra berada dalam posisi yang paling sulit. Ia ingin mendekati Rana dan memperbaiki persahabatan mereka, tapi setiap kali ia mencoba, ia hanya mendapat penolakan dingin. Di sisi lain, ia juga tidak bisa meninggalkan Rendra karena di saat semua orang tampak menjauh, Rendra-lah satu-satunya tempat ia merasa diterima dan dipahami.
Malam itu, Rendra menyadari kegelisahan Zahra yang belum hilang. Ia menemui gadis itu di teras belakang.
“Kau sedih karena Rana, ya?” tanyanya lembut.
Zahra mengangguk pelan, air mata mulai menetes. “Aku kehilangan sahabatku, Mas. Rana dulu segalanya bagiku. Sekarang dia melihatku seperti orang asing, bahkan seperti musuh. Aku tidak tega... aku tidak bermaksud menyakitinya.”
Rendra mengusap pundaknya dengan lembut, namun tatapannya tetap tegas. “Kau tidak bisa memaksakan perasaan orang lain, Zahra. Rana butuh waktu untuk menerima kenyataan. Tapi satu hal yang harus kau ingat: kau tidak bisa hidup dengan berpura-pura demi menyenangkan hati semua orang. Jika kau terus menekan perasaanmu padaku hanya demi Rana, kau justru akan menyakiti dirimu sendiri dan juga Raka dengan cara yang lebih buruk lagi.”
Kata-kata itu benar, namun tetap tidak meringankan beban di hati Zahra. Ia sadar, pilihannya untuk mengikuti kata hati telah membawa dampak berantai yang menyakitkan bagi orang-orang di sekitarnya. Dan kini, ia harus berhadapan dengan kenyataan pahit: persahabatan yang dulu begitu kuat kini retak parah, dan kebenaran yang selama ini disembunyikan semakin dekat untuk terungkap sepenuhnya.