Bagi Bagas, surga ada di telapak kaki ibu. Namun sayang, baktinya buta. Sebagai anak keenam dari tujuh bersaudara, Bagas selalu memaksakan diri membayar iuran Bagi Rata yang dituntut kakak pertamanya demi menyenangkan sang Ibu. Ia menutup mata bahwa ekonomi mereka pas-pasan, jauh di bawah kakak-kakaknya yang sukses.
Keuangan rumah tangga terkuras habis. Beruntung, Adinda sang istri adalah wanita tangguh. Lewat usaha katering rumahan dan kue online yang dibangunnya dari nol, Adinda berhasil membeli sebuah rumah sederhana satu kamar untuk tempat mereka berteduh bersama anak laki-laki mereka yang kini sudah SMP.
Bukannya sadar, Bagas justru menjadikan kemandirian Adinda sebagai tameng untuk terus menyetor uang ke keluarga besarnya. Puncaknya, modal katering Adinda dikuras sepihak, dan rumah mungilnya itu mulai diincar untuk kenyamanan sang mertua.
Saat anak laki-lakinya mulai ikut menderita dan berontak, Adinda akhirnya menyalakan mode tegas.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon blcak areng, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAKTI BUTA SUAMIKU
Matahari siang berkedip garang di atas langit pinggiran kota, memancarkan hawa panas yang membakar aspal dan menyengat atap-atap seng rumah kontrakan. Di dalam rumah sekat tripleks milik keluarga Bagas, suhu udara terasa begitu pengap. Kipas angin plastik kecil yang menempel di dinding berdecit pelan, memutar angin hangat yang tidak sedikit pun mengurangi rasa gerah.
Adinda baru saja menyelesaikan pekerjaan merapikan dapur pasca-katering subuh tadi. Tubuhnya lelah, namun pikirannya jauh lebih jernih setelah percakapan teleponnya dengan Mas Danu pagi tadi. Surat nikah, akta kelahiran Dimas, kartu keluarga, serta buku agenda mika biru yang berisi catatan utang dan borok keuangan Bagas sudah ia amankan di dalam sebuah tas jinjing rajut yang terselip rapi di bawah tumpukan kain sarung di lemari paling bawah.
Tempat yang tidak akan pernah disentuh oleh suaminya yang pemalas itu.
Tepat saat Adinda hendak merebahkan diri sejenak di kasur busa, terdengar raungan mesin motor yang sangat familier berhenti dengan kasar di depan teras. Suara standar motor yang dihentakkan ke semen terdengar nyaring, disusul oleh langkah kaki yang tergesa-gesa dan sarat akan emosi.
Brak!
Pintu tripleks depan didorong dengan kasar hingga membentur dinding batako.
Adinda tersentak, namun ia tidak melompat panik seperti biasanya. Wanita itu menarik napas dalam-dalam, menata emosinya, lalu melangkah keluar dari kamar sekat menuju ruang tengah. Di sana, berdiri Bagas dengan penampilan yang sangat berantakan. Kemeja kantornya sudah lecek, kancing kerah atasnya terbuka lebar, dasinya sudah longgar menggelayut asimetris, dan wajahnya merah padam karena kombinasi panas jalanan serta amarah yang membakar dadanya sejak pagi.
Bagas yang biasanya tidak pernah pulang ke rumah pada siang hari lebih memilih nongkrong di kantin ber-AC dekat kantor atau sekadar menjaga gengsi di depan rekan-rekannya kini berdiri di tengah ruangan dengan napas memburu. Ia sengaja pulang hanya untuk satu tujuan: meluapkan kekecewaan, memaki istrinya, dan mencari perkara guna mengembalikan harga dirinya yang runtuh akibat kelaparan dan terlambat kantor pagi tadi.
"Hebat ya kamu, Dinda! Benar-benar luar biasa kelakuanmu hari ini!" semprot Bagas langsung begitu melihat sosok Adinda muncul dari balik sekat kamar. Suaranya menggelegar, bergetar hebat menahan murka.
Adinda tidak mundur selangkah pun. Ia berdiri tegak di dekat meja makan kayu, menatap suaminya dengan sepasang mata yang dingin dan datar. Tidak ada lagi binar ketakutan, tidak ada lagi air mata yang biasanya langsung menggenang di pelupuk matanya setiap kali Bagas meninggikan suara.
"Ada apa, Mas? Siang-siang begini pulang ke rumah cuma untuk teriak-teriak?" tanya Adinda, suaranya terdengar begitu tenang hingga membuat Bagas semakin meradang.
"Kamu masih tanya ada apa?!" Bagas melangkah maju, menudingkan jari telunjuknya tepat di depan wajah Adinda. "Gara-gara ulahmu yang mogok menyiapkan sarapan dan sengaja tidak membangunkan aku, aku jadi bahan tertawaan di kantor hari ini! Aku terlambat hampir setengah jam, Dinda! Setengah jam! Dan hari ini ada kunjungan dari direksi kantor pusat! Kamu tahu bagaimana malunya aku harus merunduk-runduk meminta maaf di depan bos besar karena kelalaianmu?!"
Bagas mendengus beringas, menyeka keringat di keningnya dengan lengan kemeja. "Bukan cuma itu! Perutku melilit menahan lapar dari pagi karena di meja makan tidak ada makanan seupil pun! Teman-teman kantorku semua membawa bekal atau minimal sarapan dengan tenang, sementara aku? Aku kelimpungan mencari warung yang buka tapi semuanya sudah habis! Kamu sengaja kan mempermalukan aku?! Kamu sengaja mau menyiksa suamimu sendiri?!"
"Itu karena kamu bangun kesiangan, Mas. Bukan karena salahku," jawab Adinda, tenang tanpa riak. "Kamu punya jam weker di ponselmu. Kamu juga punya tangan dan kaki untuk membuat sarapan sendiri kalau memang lapar. Kenapa semua hal di hidupmu harus menjadi tanggung jawabku?"
Mendengar bantahan yang begitu tenang dari Adinda, ego Bagas yang setinggi langit seolah dihempaskan ke bumi. Biasanya, Adinda akan langsung menangis, meminta maaf, lalu buru-buru menyalakan kompor untuk memasakkan mi instan atau menggoreng telur demi meredakan amarahnya. Namun siang ini, wanita di depannya ini menatapnya seolah ia hanyalah angin lalu yang berisik.
"Kurang ajar kamu ya, Dinda!" maki Bagas, suaranya meninggi satu oktav. "Sejak kapan kamu jadi pintar membantah seperti ini?! Siapa yang mengajarimu?! Apa karena katering kecil-kecilanmu itu sudah mulai menghasilkan uang, lalu kamu merasa bisa menginjak-injak kepalaku sebagai suamimu?! Ingat ya, tanpa aku yang mengizinkanmu tinggal di rumah ini, kamu itu tidak ada apa-apanya! Kamu cuma perempuan kampung yang beruntung bisa dinikahi oleh pegawai kantor seperti aku!"
Bagas melangkah lebih dekat hingga jarak mereka hanya tersisa satu meter. Napasnya yang berbau asam karena belum sarapan berembus kasar. "Seorang istri itu tugasnya melayani suami! Surga kamu itu ada di bawah telapak kakiku, Dinda! Tapi kelakuanmu hari ini membuktikan kalau kamu itu istri durhaka, tidak tahu berterima kasih, dan egois! Kamu sengaja mogok kerja hanya untuk balas dendam karena masalah uang bulanan semalam, kan? Kekanak-kanakan sekali kamu!"
Adinda menatap wajah Bagas yang tampak begitu menjijikkan di matanya saat ini. Pria yang selama belasan tahun ini ia hormati, ia layani dengan cucuran keringat dan air mata, ternyata tidak lebih dari seorang pengecut yang berlindung di balik dalil agama demi menutupi ketidakbecusannya sendiri.
Tiba-tiba, sebuah tawa kecil lolos dari bibir Adinda. Tawa yang terdengar sinis dan penuh dengan kepedihan yang telah mengristal menjadi kekuatan.
Bagas tertegun. "Kenapa kamu tertawa?! Kamu sudah gila?!"
"Ya, Mas. Aku memang gila. Aku gila karena selama belasan tahun ini bertahan dengan laki-laki macam kamu," ucap Adinda. Kali ini, nadanya tidak lagi datar. Suaranya terdengar tajam, menghunus langsung ke pusat ego Bagas.
Adinda maju satu langkah, membuat Bagas secara naluriah sedikit memundurkan kepalanya karena terkejut dengan keberanian istrinya.
"Kamu bilang aku egois? Kamu bilang aku durhaka karena tidak membuatkanmu sarapan?" tanya Adinda dengan mata yang berkilat tajam. "Mas Bagas, buka matamu lebar-lebar! Dari jam dua pagi, saat kamu masih mendengkur nyaman di sofa setelah pulang pamer kemewahan di hotel, aku sudah bangun! Aku memotong sayur, mengukus nasi, menggoreng lauk dengan sisa tenagaku yang sudah habis karena perdebatan semalam!"
"Dan pagi-pagi sekali," Adinda melanjutkan, suaranya bergetar bukan karena ingin menangis, melainkan karena amarah yang akhirnya ia bebaskan dari penjara dadanya. "Saat kurir kateringku tidak datang karena motornya mogok, aku harus memikul kardus-kardus berat itu bersama Dimas! Berjalan kaki di bawah embun pagi yang dingin demi mengantarkan pesanan orang tepat waktu! Demi apa, Mas?! Demi uang receh yang nantinya juga dipakai untuk membeli beras yang masuk ke dalam perutmu yang tidak tahu diri itu!"
"Sementara kamu?" Adinda menunjuk dada Bagas dengan jarinya yang kasar akibat kapalan bekerja. "Kamu tidur seperti raja! Bangun-bangun hanya tahu berteriak mencari pelayan! Kamu telat kantor karena kelalaianmu sendiri yang tidak bisa mengatur waktu tidur, tapi kenapa aku yang harus memikul dosanya?!"
Wajah Bagas memucat mendengar rentetan kalimat pedas dari istrinya. Ia mencoba memotong, "Tapi bagaimanapun, tugasmu..."
"Tugas apa?!" potong Adinda dengan suara yang menggelegar, meruntuhkan dominasi Bagas di rumah itu. "Tugas untuk diperas tenaganya sampai habis sementara suaminya berlagak seperti miliarder di luar rumah?! Kamu bicara soal surga di bawah telapak kakimu, Mas? Surga macam apa yang dihuni oleh suami yang membiarkan istrinya pontang-panting mencari pinjaman uang ke sana-kemari untuk menutupi gaya hidupnya yang tinggi?!"
"Dinda! Jaga mulutmu!" teriak Bagas, tangannya terangkat ke udara, hendak melayangkan tamparan untuk membungkam mulut istrinya yang dianggapnya sudah melampaui batas.
Namun, sebelum tangan itu sempat bergerak turun, Adinda justru memajukan wajahnya tanpa rasa takut sedikit pun. Ia menatap telapak tangan Bagas dengan pandangan menantang.
"Tampar, Mas! Tampar aku!" tantang Adinda dengan suara yang dingin namun mematikan. "Ayo tampar! Biar bekas tamparanmu di pipiku ini bisa langsung kubawa ke kantor polisi siang ini juga sebagai bukti kekerasan dalam rumah tangga! Biar semua rekan kerjamu, bos besarmu yang kamu takuti setengah mati itu, dan seluruh tetangga di gang ini tahu kelakuan asli dari seorang Bagas yang terhormat!"
Tangan Bagas gemetar di udara. Nyalinya mendadak ciut setengah mati. Ancaman Adinda bukan main-main ketegasan yang terpancar dari mata istrinya siang ini menunjukkan bahwa Adinda benar-benar akan melakukan hal tersebut jika ia berani menyentuhnya seujung kuku pun. Perlahan, dengan rasa malu yang membakar dadanya, Bagas menurunkan tangannya kembali ke samping tubuh.
"Kamu... kamu benar-benar sudah berubah, Din. Kamu keterlaluan," bisik Bagas, mencoba mencari celah untuk tetap terlihat benar meskipun suaranya kini terdengar goyah.
"Aku tidak berubah, Mas. Aku hanya baru sadar dari kebodohanku selama belasan tahun ini," ujar Adinda, menarik napasnya perlahan untuk menstabilkan detak jantungnya. Ia menatap Bagas dari ujung kepala hingga ujung kaki dengan pandangan meremehkan.
"Asal kamu tahu ya, Mas Bagas yang terhormat," ucap Adinda dengan ketegasan yang mutlak. "Mulai detik ini, hubungan rumah tangga kita sudah selesai. Tidak ada lagi Dinda yang akan bangun subuh-subuh untuk menyiapkan bajumu. Tidak ada lagi Dinda yang akan memutar otak bagaimana cara melunasi utang-utang gengsimu. Dan tidak ada lagi Dinda yang akan diam saja saat kamu maki-maki seperti binatang."
Bagas terbelalak. Jantungnya bagai berhenti berdetak mendengar kata-kata itu keluar dari mulut Adinda. "Apa maksudmu, Din?! Kamu mau minta cerai?! Sadar kamu! Memangnya kamu bisa hidup tanpa aku?! Kamu mau memberi makan Dimas pakai apa?! Pakai uang kateringmu yang tidak seberapa itu?!"
"Sangat bisa, Mas!" jawab Adinda cepat dan lantang. "Tanpa kamu yang terus-menerus menggerogoti keuanganku untuk membeli barang-barang mewah demi gengsimu, uang kateringku bahkan lebih dari cukup untuk membiayai hidupku dan Dimas! Selama ini yang membuat kami miskin dan menderita di kontrakan sempit ini adalah kamu! Kamu benalu di dalam hidup kami!"
"Dinda!"
"Sekarang, silakan kamu pergi kembali ke kantormu," usir Adinda dingin, menunjuk ke arah pintu depan yang masih terbuka lebar. "Atau pergi ke mana pun yang kamu suka. Aku tidak peduli lagi. Tapi ingat satu hal, Mas. Mulai hari ini, persiapkan dirimu. Karena keputusan ini sudah bulat, dan aku tidak akan pernah mundur satu langkah pun untuk melepaskan diri dari laki-laki tidak tahu diuntung seperti kamu."
Bagas berdiri mematung di tengah ruangan. Seluruh kemarahan yang ia bawa dari kantor tadi kini menguap tanpa bekas, digantikan oleh rasa syok dan ketakutan yang mulai merayap di relung hatinya. Ia memandang Adinda, mencoba mencari sisa-sisa kelemahan atau keraguan di wajah wanita itu, namun yang ia temukan hanyalah dinding es kokoh yang tidak akan pernah bisa ia hancurkan lagi dengan bentakan atau makian.
Dengan dada yang sesak oleh rasa dongkol, malu, dan kekalahan yang telak, Bagas akhirnya berbalik arah tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Ia melangkah keluar dari kontrakan dengan langkah gontai, tidak lagi seberingas saat ia datang tadi. Ia menyalakan mesin motornya dengan tangan yang masih gemetar, lalu pergi meninggalkan gang sempit itu di bawah sengatan matahari siang yang membakar, membawa serta rasa kesal dan kekecewaan yang kini bercampur dengan ketakutan akan hancurnya kepalsuan hidup yang selama ini ia agungkan.
Sementara di dalam rumah, Adinda menutup pintu depan dengan perlahan. Begitu kunci pintu berbunyi klik, ia menyandarkan punggungnya pada daun pintu tripleks tersebut. Dadanya naik turun dengan cepat, menahan gemuruh emosi yang akhirnya berhasil ia lepaskan. Setitik air mata jatuh di pipinya, namun kali ini bukan air mata kesedihan, melainkan air mata kebebasan. Langkah pertamanya telah berhasil ia lalui dengan kepala tegak.