Bagi Nazya, janda muda yang membawa trauma mendalam akibat mantan suaminya yang abusif, pernikahan adalah neraka yang tidak akan pernah ia masuki lagi. Namun, takdir berubah dalam semalam ketika mobil mewah milik Dafa Mahardika, seorang CEO dingin dan berkuasa, menabrak motor yang ia tumpangi bersama ayahnya hingga membuat Nazya mengalami cacat sementara.
Dihantam rasa bersalah sekaligus ketertarikan kuat pada pandangan pertama, Dafa langsung menyetujui tuntutan ayah Nazya untuk bertanggung jawab dengan cara menikahi putrinya. Nazya yang pasrah terpaksa menurut demi sang ayah.
Pernikahan mewah pun terjadi, namun penderitaan baru justru dimulai di kepala Nazya. Terjebak dalam trauma masa lalu, Nazya selalu ketakutan setiap kali berdua dengan Dafa—ia tak berani makan duluan, takut meminta nafkah, dan refleks menghindar karena mengira sang suami akan memukulnya.
Di tengah dinding trauma yang begitu tebal, mampukah kelembutan dan perlindungan posesif dari sang CEO menyembuhkan hati Nazya y
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nazla bibah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 21: AMUKAN SANG PREDATOR
Atmosfer di dalam kamar VIP Rumah Sakit Pusat Mahardika seketika membeku hingga ke titik minus. Kalimat yang baru saja keluar dari belahan bibir Mikael bagai hantaman gada besi yang menghancurkan seluruh ketenangan malam. Mami Kinanti—wanita paruh baya yang paling dihormati di seluruh dinasti Mahardika sekaligus ibu kandung Dafa—telah diculik langsung dari dalam benteng kekuasaan mereka sendiri.
Dafa berdiri mematung di sisi ranjang perawatan. Sepasang mata elangnya yang sedari tadi melunak saat menatap Nazya, kini perlahan-lahan berubah menjadi luar biasa kelam, memancarkan aura haus darah yang begitu pekat dan menindas. Rahang tegasnya mengeras sempurna hingga menciptakan garis otot yang mengerikan di wajah tampannya. Sisa noda darah kering di pelipis akibat kecelakaan truk sebelumnya justru membuat penampilan pria dominan itu tampak seperti malaikat pencabut nyawa yang siap mengumumkan perang terbuka.
"Ulangi sekali lagi, Mikael," ucap Dafa. Suaranya tidak meledak marah, melainkan terdengar sangat rendah, bariton, dan bergetar dengan nada dingin yang sanggup membuat bulu kuduk siapa pun meremang.
Mikael menundukkan kepalanya dalam-dalam, tubuhnya gemetar hebat di bawah tekanan intimidasi sang bos. "M-Mohon ampun, Pak Dafa... Kelompok bersenjata itu menggunakan seragam taktis hitam tanpa atribut. Mereka menyerbu rumah utama tepat pada pukul dua dini hari menggunakan granat asap tingkat militer untuk melumpuhkan sistem radar internal kita. Dua belas penjaga gerbang depan tumbang... dan mereka langsung menuju paviliun barat tempat Ibu Kinanti sedang beristirahat."
Nazya yang duduk di atas ranjang langsung membekap mulutnya sendiri dengan kedua tangan kurusnya yang pias. Rasa syok dan ketakutan yang luar biasa kembali menghujam dadanya, bahkan jauh lebih menyakitkan daripada saat ia melihat kondisi jantung ayahnya yang berhenti tadi. ‘Mami... Mami Kinanti diculik...’ batin Nazya menjerit pilu. Wanita janda muda itu tahu betul, Mami Kinanti adalah sosok malaikat yang menerimanya dengan tangan terbuka tanpa memedulikan status masa lalunya. Dan kini, wanita suci itu harus terseret ke dalam neraka konflik ini karena dirinya.
"Mas Dafa..." tangis Nazya pecah, ia memajukan tubuhnya dengan susah payah, mencengkeram erat ujung jaket kulit hitam Dafa dengan jemarinya yang gemetar. "Mas... ini semua karena saya... Baskoro Sanjaya melakukan ini karena saya... Tolong selamatkan Mami, Mas... Nazya mohon..."
Dafa tidak langsung menjawab. Sifat posesif dan insting predator puncaknya bergejolak liar di dalam dada bidangnya yang panas. Ia membalikkan tubuh besarnya, lalu berlutut di depan Nazya yang sedang menangis histeris. Kedua tangan tegap Dafa bergerak naik, mencengkeram kedua pundak ramping Nazya dengan cengkeraman yang kokoh, stabil, dan penuh dengan otoritas mutlak yang menuntut kepatuhan.
"Dengar aku, Nazya Humaira," desis Dafa, memajukan wajahnya hingga mata elangnya mengunci penuh pandangan mata indah istrinya yang basah. "Ini bukan salahmu. Baskoro Sanjaya sudah bosan hidup dan dia sedang mencoba menggali kuburannya sendiri dengan menyentuh ibuku. Aku bersumpah... demi nama besar Mahardika, aku akan membawa Mami pulang dalam kondisi utuh sebelum fajar menyingsing."
Dafa mengusap kasar sisa air mata di pipi Nazya dengan ibu jarinya, lalu memberikan satu kecupan yang teramat intens dan lama di kening wanitanya, menyalurkan seluruh sisa kekuatan pelindung terakhirnya. "Tetap di dalam kamar ini. Aku sudah mempertebal pengamanan luar dengan tiga puluh prajurit taktis terbaik dari divisi satu. Jangan keluar satu langkah pun dari pintu ini, mengerti?"
Nazya hanya bisa mengangguk lemah di tengah tangisnya, tidak sanggup membantah perintah mutlak dari pria dominan yang kini menjadi satu-satunya pelindung hidupnya tersebut.
Begitu melangkah keluar dari kamar VIP dan menutup pintu kaca dengan hentakan pelan, kehangatan di wajah tampan Dafa lenyap tak berbekas. Ia berjalan cepat menyusuri koridor rumah sakit diikuti oleh Mikael yang setengah berlari di belakangnya.
"Hubungi Jenderal perkasa di markas komando pusat," perintah Dafa tanpa mengalihkan pandangannya dari depan. "Katakan padanya untuk mengaktifkan status darurat militer privat di seluruh gerbang tol keluar kota malam ini juga. Periksa setiap kendaraan kontainer atau van tertutup yang melintas. Jangan biarkan satu pun celah tikus terbuka."
"Baik, Pak. Lalu bagaimana dengan Baskoro Sanjaya?" tanya Mikael dengan wajah yang memucat.
Dafa menghentikan langkah kakinya tepat di depan pintu lift khusus. Pria itu merogoh ponselnya, lalu menekan sebuah nomor kontak internal yang selama ini hanya digunakan untuk keadaan darurat tingkat tertinggi keluarga Mahardika—saluran khusus tim intelijen bayangan The Obsidian.
"Lacak sinyal GPS dari bros berlian yang dipakai ibuku malam ini," ucap Dafa langsung begitu panggilan tersambung, suaranya sedingin es di kutub utara. "Aku beri waktu lima menit. Jika kalian gagal menemukan koordinat lokasinya, besok pagi seluruh jajaran direksi intelijen akan kububarkan tanpa pesangon."
Hanya butuh waktu tiga menit bagi tim intelijen kelas dunia itu untuk bekerja di bawah tekanan amukan sang CEO. Sebuah pesan teks masuk ke ponsel Dafa, menampilkan sebuah titik koordinat merah yang berkedip-kedip cepat di atas peta digital.
Lokasinya berada di sebuah galangan kapal tua yang terisolasi di kawasan pelabuhan internasional ujung utara kota—salah satu aset properti milik anak perusahaan Sanjaya Group yang telah dinyatakan bangkrut sejak tahun lalu.
Dafa menyunggingkan senyum tipis yang teramat kejam di sudut bibirnya saat melihat titik merah tersebut. "Pelabuhan... Rupanya tua bangka itu berencana membawa ibuku keluar dari negara ini menggunakan jalur laut ilegal."
"Mikael, siapkan helikopter perang privat kita di helipad atap sekarang juga," perintah Dafa sembari melangkah masuk ke dalam lift khusus. "Kita tidak punya waktu untuk membelah kemacetan jalanan kota. Gerakkan seluruh divisi eksekutor bersenjata lengkap untuk mengepung pelabuhan dari tiga titik buta."
Dua puluh menit kemudian, deru baling-baling helikopter mewah berwarna hitam legam membelah pekatnya langit malam yang diguyur gerimis, mendarat dengan suara gemuruh yang keras di area landasan terbuka pelabuhan utara.
Dafa Mahardika melangkah turun terlebih dahulu dengan memegang senapan serbu taktis berperedam di tangan kanannya. Jaket kulit hitamnya berkibar hebat terkena terpaan angin baling-baling. Di belakangnya, dua puluh pria berpakaian taktis antipeluru bergerak membentuk formasi penyusupan senyap, mengunci seluruh akses keluar masuk gudang galangan kapal bernomor 07.
Melalui alat pemantau suhu tubuh termal, tim intelijen memastikan ada tujuh belas orang bersenjata di dalam gudang, dengan posisi Mami Kinanti yang diikat di atas sebuah kursi besi di tengah-tengah ruangan yang dikelilingi oleh kontainer besi raksasa.
Dafa melangkah mendekati pintu besi samping gudang dengan gerakan yang teramat tenang namun sarat akan kematian yang mutlak. Sifat dominannya malam ini telah bertransformasi sepenuhnya menjadi sosok malaikat maut. Ia tidak berniat melakukan negosiasi atau mendengarkan tuntutan apa pun dari Baskoro Sanjaya. Siapa pun yang berani menyentuh seujung rambut ibunya, hanya berhak menerima sebutir timah panas di tengah dahi mereka.
PHUT! PHUT!
Dua penjaga luar yang berdiri di balik bayangan kontainer seketika tumbang ke tanah tanpa sempat mengeluarkan suara, peluru akurat Dafa menembus leher mereka dengan presisi yang mengerikan.
Dafa memberikan isyarat tangan berputar ke atas. Detik berikutnya, tim eksekutor Mahardika melakukan dobrakan massal dari tiga jendela kaca bagian atas gudang menggunakan tali rapling.
PYAARRR!
Pecahan kaca berhamburan ke bawah bersamaan dengan rentetan tembakan taktis yang memekakkan telinga dari dalam ruangan. Baku tembak sengit di tengah malam pun pecah dalam sekejap. Anak buah Baskoro yang terkejut langsung kocar-kacir mencoba mencari tempat berlindung di balik dinding besi kontainer.
Dafa melangkah masuk menembus kepulan asap mesiu dengan langkah kaki yang konstan, menembak mati setiap orang yang mencoba mengarahkan laras senjata ke arahnya dengan ketenangan yang luar biasa gila. Mata elangnya terus mengunci sosok ibunya yang tampak pucat namun masih memiliki kesadaran penuh di tengah ruangan.
"Dafa! Awas di belakangmu!" teriak Mami Kinanti dengan sisa suaranya yang bergetar saat melihat sesosok pria kekar bertopeng melompat turun dari atas kontainer sembari mengayunkan sebilah kapak besar ke arah pundak Dafa.
Namun, tepat di saat kapak itu nyaris menyentuh jaket kulit Dafa, seluruh lampu penerangan di dalam gudang galangan kapal itu mendadak mati total, menyisakan kegelapan pekat yang buta. Bukan karena kerusakan sekring bumi, melainkan karena sebuah suara ledakan bom gelombang elektromagnetik (EMP) tingkat tinggi mendadak berdentum keras dari arah dermaga luar, melumpuhkan seluruh perangkat elektronik, lampu, dan bahkan sistem komunikasi radio milik tim Mahardika dalam hitungan detik.
Di tengah kegelapan total dan kesunyian yang mencekam itu, sebuah suara tawa rendah yang asing—bukan suara Baskoro Sanjaya—samar-samar terdengar menggema dari arah pintu keluar darat gudang, diikuti oleh suara langkah kaki yang berat dari ratusan orang baru yang mulai mengepung rapat posisi Dafa dari segala penjuru luar dermaga.