NovelToon NovelToon
DI BALIK TOPENG KEBENARAN

DI BALIK TOPENG KEBENARAN

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Peran wanita dan peran pria sama-sama hebat / Misteri Kasus yang Tak Terpecahkan
Popularitas:3.4k
Nilai: 5
Nama Author: Yeni Sri Wahyuni

Alina: "Kenapa kamu kembali, Arka? Untuk menghancurkanku?"

Arka: "Aku datang untuk menghancurkanmu... tapi malah jatuh cinta."

Farhan: "Kalau begitu pergilah. Karena aku tidak akan membiarkanmu menyakitinya."

CINTA DAN DENDAM

Sepuluh tahun lalu, Alina menjadi korban pelecehan oleh kekasihnya sendiri, Raka. Tanpa ia sadari, semua perhatian dan cinta yang diberikan Raka hanyalah topeng. Di balik senyumnya, tersimpan rencana keji untuk menghancurkan hidup Alina dan ayahnya demi membalaskan dendam keluarganya.

Tepat sepuluh hari menjelang pernikahan Alina dengan Farhan, Raka dengan identitas baru sebagai Arka. Di balik topeng pria yang tampak baik, berwibawa, dan penuh pesona, tersimpan dendam yang siap menghancurkan kebahagiaan Alina.

Namun, semakin dekat dengan Alina, hati Arka justru goyah. Dendam yang ia pelihara selama sepuluh tahun perlahan berubah menjadi cinta dan obsesi untuk memiliki wanita itu, meski harus merebutnya dari pelukan Farhan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yeni Sri Wahyuni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 10 : ANTARA KEBAHAGIAAN DAN FIRASAT YANG TAK BISA DIBUNGKAM

...BAB 10...

...ANTARA KEBAHAGIAAN DAN FIRASAT YANG TAK BISA DIBUNGKAM...

Sepuluh hari lagi menuju hari pernikahan.

Ruang tamu rumah Bu Kirana dipenuhi hantaran yang tersusun rapi. Gaun pengantin Alina juga sudah selesai dijahit dan tergantung anggun di dalam lemari. Suasana rumah dipenuhi kesibukan sekaligus kebahagiaan.

"Akhirnya selesai juga semuanya," ucap Bu Kirana sambil tersenyum lega. "Ibu tinggal menghitung hari melihat kamu jadi pengantin, Alina."

Alina membalas senyum itu. "Semoga semua berjalan lancar, ya Bu."

"Aamiin. Kamu kok kelihatannya capek sekali? Jangan terlalu diforsir kerja ya."

"Iya, Bu. Mungkin Alina cuma kurang istirahat."

Bu Kirana menghampiri putrinya, lalu mengusap lembut pipinya.

"Wajahmu agak kurusan. Jangan sampai nanti pas hari pernikahan malah sakit." cemasnya lagi. Alina terkekeh pelan.

"Ibu ini, dari tadi yang dipikirkan cuma Alina terus."

"Ya jelaslah. Kamu anak Ibu."

Keduanya tertawa kecil hingga suasana rumah terasa semakin hangat.

Saat itu terdengar suara salam dari luar.

"Assalamu'alaikum."

"Wa'alaikumussalam. Itu Arka datang!" seru Bu Kirana.

Arka masuk membawa beberapa kantong belanja.

"Ini pesanan bunga melatinya sudah saya ambil, Bu."

"Ya Allah, Nak Arka. Kamu ini selalu saja sigap membantu."

Arka tersenyum sopan. "Sudah biasa, Bu. Anggap saja saya ikut senang melihat Alina segera menikah."

Bu Kirana mengangguk penuh rasa syukur.

"Coba lihat, Lin. Jarang ada anak muda seperti Arka. Sopan, ringan tangan, tidak pernah mengeluh."

Alina hanya mengangguk tipis. "Iya, Bu."

Arka menoleh ke arahnya. "Alina, kamu kelihatan pucat sekali. Jangan sampai sakit menjelang hari H."

"Aku baik-baik saja. Tak perlu khawatir."

"Kalau butuh bantuan apa pun, tinggal bilang saja."

"Terima kasih atas perhatianmu, Arka."

Arka tersenyum singkat. Namun tatapannya sesaat berhenti pada wajah Alina, seolah sedang memastikan sesuatu. Tatapan itu hanya berlangsung beberapa detik, tetapi cukup membuat Alina merasa tidak nyaman.

Untung saja Bu Kirana kembali mengajak mereka mengobrol sehingga suasana kembali mencair.

"Arka, nanti jangan lupa makan siang di sini."

"Wah, boleh sekali, Bu."

"Ibu masak opor kesukaanmu."

"Kalau begitu saya tidak mungkin menolak."

Percakapan itu terdengar biasa. Namun entah kenapa, setiap kali Arka menatapnya, Alina merasa ada sesuatu yang sulit dijelaskan.

*****

Keesokan harinya di kantor.

Alina membuka laci meja kerjanya.

"Hah?" Ia mengernyit. "Berkas kontraknya mana?"

Ia mencari ke beberapa map, tetapi tidak menemukannya.

"Nadia."

"Iya, Lin?"

"Kamu lihat berkas proyek Wijaya?"

"Bukannya tadi ada di mejamu?"

"Itu dia. Tadi pagi masih ada."

Nadia ikut membantu mencari. "Aneh ya."

Mereka memeriksa hampir seluruh meja kerja.

Beberapa pegawai lain pun ikut memperhatikan.

"Ada apa, Mbak?"

"Berkas proyek hilang."

"Hilang?"

"Iya. Padahal sebentar lagi mau dipresentasikan."

Beberapa menit kemudian seorang staf lain datang.

"Mbak Alina, ini yang dicari?"

Alina menoleh.

"Lho... kok bisa ada di ruang arsip?"

"Tadi saya menemukannya di sana."

Padahal Alina yakin tidak pernah membawa berkas itu keluar ruangan. Ia membuka map tersebut. Seluruh isinya masih lengkap.

Namun ada satu lembar yang posisinya berubah. Alina mengernyit.

"Aneh..."

"Ada yang kurang?" tanya Nadia.

"Enggak. Tapi aku yakin tadi susunannya tidak seperti ini."

Nadia tersenyum. "Mungkin perasaanmu saja, kamu itu terlalu capek. Maklum bentar lagi 'kan mau ke pelaminan, calon pengantinnya Pak Farhan." candanya, yang langsung diiringi tawa Alina lantas menggeleng terhibur.

"Ya, mungkin, bisa jadi begitu..."

Meski begitu, hati Alina justru semakin gelisah.

Sepanjang hari ia merasa ada beberapa pasang mata yang diam-diam sedang memperhatikannya setiap kali melewati lorong kantor. Saat ia menoleh, semua orang kembali sibuk dengan pekerjaan masing-masing. Perasaan itu sulit dijelaskan.

Sore harinya Farhan datang menjemput.

"Mau langsung pulang?"

"Iya."

Farhan memperhatikan wajah tunangannya.

"Kamu kelihatan banyak pikiran."

Alina menunduk lesu. "Aku cuma merasa... akhir-akhir ini banyak hal aneh."

"Seperti apa?"

"Berkasku sering berpindah sendiri. Orang-orang di kantor juga rasanya agak berubah."

Farhan terdiam beberapa saat. "Mungkin mereka sedang sibuk."

"Kamu yakin?"

Farhan mengangguk pelan. "Jangan terlalu dipikirkan."

"Kamu sendiri juga berubah."

"Aku?" Farhan membulatkan matanya.

"Iya. Kamu juga sering melamun."

Farhan tersenyum kecil.

"Cuma urusan pekerjaan."

"Benarkah?"

"Iya."

Alina memandang wajah lelaki itu beberapa saat. "Kamu tahu, kan? Kalau ada masalah, kita bisa menghadapinya sama-sama."

Farhan mengangguk pelan. "Aku tahu." Ia ingin mengatakan sesuatu, tetapi kata-kata itu tertahan di tenggorokannya.

Meski menjawab ringan, Alina menangkap ada kelelahan di mata lelaki itu.

*****

Malamnya, Farhan duduk sendiri di ruang kerja rumahnya.

Ponselnya dipenuhi catatan.

Nomor berkas.

Tanggal.

Nama perusahaan.

Ia mengusap wajahnya pelan.

"Kenapa setiap jejak selalu menghilang..."

Di samping laptopnya tergeletak sebuah flashdisk yang sudah beberapa kali ia periksa. Isinya kosong.

Padahal menurut informasi yang ia dapat, di dalam benda itu seharusnya terdapat bukti penting.

Ponselnya berdering.

"Halo."

["Maaf, Pak Farhan. Rekaman CCTV yang kemarin..."]

"Kenapa?"

["File-nya sudah terhapus."]

Farhan memejamkan mata.

"Terhapus?"

["Iya, Pak."]

"Sudah dicoba dipulihkan?"

["Sudah, tapi gagal Pak."]

"Baik. Terima kasih."

Telepon ditutup.

Farhan mengepalkan tangan.

"Siapa sebenarnya di balik semua ini?"

Tatapannya kemudian jatuh pada foto dirinya bersama Alina yang tersimpan di meja kerja.

"Aku berjanji padamu Alina.. sebelum hari pernikahan kita, semuanya akan terungkap."

*****

Di rumah, Alina sedang merapikan ruang tamu ketika tanpa sengaja mendengar suara Arka berbicara di teras.

"Nanti malam semuanya harus sudah siap."

Nada suaranya dingin.

"Dengar. Tidak boleh ada kesalahan sedikit pun."

Alina menghentikan langkah. Beberapa detik kemudian Arka menoleh dan melihatnya.

Seketika ekspresinya berubah ramah.

"Oh, hai Alina..."

"Kamu sedang menelepon siapa?"

Arka tersenyum santai.

"Itu... Teman kantor lama."

"Kedengarannya serius sekali."

"Iya. Masalah pekerjaan lama yang belum selesai."

"Oh..." Alina mengangguk.

Arka memasukkan ponselnya.

"Besok saya bantu antar Bu Kirana belanja lagi."

"Ya. Sekali lagi terima kasih, Arka. Kau sudah banyak membantu kami." ucap Alina.

"Sama-sama."

Sesaat sebelum pergi, Arka kembali menatap Alina.

"Jaga kesehatanmu." ucapnya.

Alina mengangguk. "Ya. Kamu juga."

Meski begitu, rasa curiga di hati Alina justru semakin besar.

*****

Menjelang tengah malam. Semua penghuni rumah telah tidur. Alina berdiri di depan lemari. Ia membuka perlahan penutup gaun pengantinnya..Gaun putih itu tampak begitu indah. Air matanya tiba-tiba menggenang.

"Ya Allah..." Ia mengusap wajahnya.

"Kalau semua ini hanya prasangka, maka hilangkan lah."

Ia menengadah.

"Tapi, kalau memang ada bahaya yang mendekat... tolong lindungi aku dan orang-orang yang kucintai."

Usai berdoa, Alina menutup kembali lemari.

Namun saat hendak melangkah menuju kamar, dadanya kembali berdebar keras.

Entah mengapa, firasat itu semakin kuat.

Seolah ada sesuatu yang sedang bergerak dalam diam.

Seseorang sedang menyusun rencana.

Dan tanpa disadari siapa pun...

hitungan mundur menuju hari pernikahan itu bukan hanya membawa kebahagiaan, tetapi juga membawa sebuah rahasia besar yang siap mengubah hidup mereka selamanya.

Dan waktu menuju hari pernikahannya pun terus berkurang.

Bersambung....

1
Kam1la
kasihan Alina, semoga cepat sembuh
Kam1la
cepet amat kak, alurnya. kesehatan Alina sendiri bagaimana? semoga cepat pulih
Kayla Rane: iya k, nnti bakal ada konflik lagi setelah Fikri nikah sama Dila. dan disini bakal serunya 🤭 ujian Alina tambah berat lagi
total 1 replies
Kam1la
Sari tidak punya perasaan
Kam1la
pasti ada jalan keluarnya
Kam1la
malah sakit yang kerepotan sendiri , mama Sari kemana ?
Kam1la
ya Allah, ada apa dengan Alina...semoga tidak serius lukanya
Kam1la
keren.... akhirnya Mama Sari sadar juga...
Kam1la
untung saja, Nisa ketahuan kalau tidak bakal sembunyi terus🤭
Kam1la
kalau Alina bekerja lagi dan kaya. pasti Sari gk ngejek
Kam1la
kalau ditinggal beneran, baru tahu rasa Farhan...🤭
Kam1la
jangan2 akal -akalan Sari...
Kam1la
alhamdulillah...sudah lahir anak cewek. siapa nama bayinya ....
Kam1la
nah kan, Farhan bakal kena akibatnya
Kam1la
Alina yg kuat ya....mending di rumah sendiri saja, cari pembantu....🤭
Kam1la
syukurlah...hamil juga. selamat ya Alina...😍
Kam1la
semoga saja dikemudian waktu Laila bisa terbuka sama Fikri, biar Alina bisa tenang.
Kam1la
Laila punya banyak rencana, tapi Alina punya seribu cara untuk menangkisnya
Kam1la
nah ...kan, Farhan mulai bercanda nya kelewatan...jangan-jangan dia juga berencana poligami
Kam1la
greget sama Laila.... Farhan kira - kira bagaimana ya hatinya? kan dia begitu mengagumi Laila
Kam1la
rencana apa yang disusun Laila?
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!