⚠️ PERINGATAN
Cerita ini mengandung unsur Dark Romance & Visualisasi Horor.
Bagaimana jadinya jika seorang gadis bermata batin harus terikat dalam pernikahan dengan mafia berdarah dingin?
Aiko Kurogawa sudah cukup tersiksa dengan "kutukan" Indigo yang mengalir di darahnya. Namun, demi terhindar dari dunia kelam keluarganya, ia terpaksa menerima perjodohan dengan Ren Tachibana. Pria kejam yang hidupnya hanya didorong oleh dendam.
Awalnya, Aiko hanya ingin bertahan hidup. Namun, tinggal di sisi Ren membuat hidupnya kian mencekam. arwah-arwah penasaran tak pernah berhenti berbisik di sekitar pria itu, mengungkap satu per satu rahasia kelam dari masa lalu.
Kini, Aiko dihadapkan pada pilihan sulit.
Tetap diam demi menyelamatkan nyawanya sendiri, atau menggali kebenaran yang ternyata mengikat takdir mereka berdua?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EILI sasmaya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CHAPTER 3
Hari yang dinanti akhirnya tiba dengan suasana yang terasa mencekam. Sejak fajar menyingsing, kediaman Kurogawa telah dijaga ketat oleh para pria berjas hitam dari pasukan inti klan. Mereka berdiri kaku di sepanjang gerbang depan hingga halaman dalam, bersiaga penuh menyambut kedatangan sang tamu agung dari distrik utara. Ren Tachibana.
Aiko berdiri di balik tirai tipis jendela kamarnya di lantai tiga. Dari ketinggian ini, ia bisa melihat tiga mobil sedan hitam mewah bergerak perlahan memasuki area pekarangan rumah. Mobil paling depan berhenti tepat di depan anak tangga berundak menuju pintu masuk utama.
Seorang pria bertubuh tegap dengan setelan jas rapi turun dari kursi penumpang depan, bergegas membukakan pintu belakang. Detik itu juga, napas Aiko seakan tertahan di tenggorokan.
Seorang pria berambut hitam pendek melangkah keluar dari mobil. Postur tubuhnya tinggi tegap, dibalut kemeja hitam dan setelan jas abu-abu gelap yang melekat di tubuhnya. Ekspresi wajahnya begitu datar, dengan rahangnya yang tegas, dan sepasang matanya yang tajam memperhatikan sekeliling pekarangan dengan pandangan menilai yang terlihat mengintimidasi.
Namun, bukan itu yang membuat jemari Aiko mendadak mencengkeram kain tirai hingga jari tangannya memutih.
Tepat di belakang bahu lebar Ren Tachibana, udara tampak bergetar. Aiko membelalakkan mata saat melihat gumpalan kabut hitam yang bergerak-gerak liar mengiringi langkah pria itu. Dari balik kabut tersebut, sayup-sayup terdengar suara rintihan dan jeritan batin yang teredam.
Dia benar-benar monster yang hidup di atas tumpukan mayat, batin Aiko, jantungnya mulai berdegup kencang.
Bzzzt... Bzzzt...
Tiba-tiba Ponsel Aiko di atas meja rias bergetar. Ia meraihnya dan melihat nama Hana berkedip di layar. Aiko segera menggeser tombol hijau.
"Aiko! Kau di mana? Kenapa hari ini tidak masuk kuliah? Tugas dosen Killer harus dikumpul siang ini, tahu!" Suara cempreng Hana Fujimoto langsung memenuhi ruang kamar Aiko yang sebelumnya terasa mencekam.
Aiko mengulas senyum tipis, rasa rindu mendadak menyeruak di dadanya. "Maaf, Hana. Hari ini badanku kurang sehat, jadi aku izin tidak masuk dulu. Tolong titip tugasku, ya."
"Eh? Kau sakit apa? Suaramu terdengar lemas sekali. Apa perlu sore nanti aku mampir ke rumahmu?" tanya Hana dengan nada cemas yang tulus.
"Tidak usah, Hana. Aku hanya butuh istirahat. Besok aku pasti masuk," tolak Aiko halus. Ia tidak mungkin membiarkan sahabatnya yang polos itu menginjakkan kaki di rumah ini, terutama hari ini, saat segerombolan Yakuza yang bertamu. Setelah meyakinkan Hana bahwa dirinya baik-baik saja, Aiko menutup panggilan itu dengan helaan napas panjang.
Dunia normal yang ia inginkan terasa semakin menjauh.
"Nona Aiko," suara Kasumi dari balik pintu kamar memecah lamunan gadis itu. "Kumicho meminta Anda untuk segera turun ke ruang tamu utama. Tamu dari klan Tachibana sudah tiba."
Aiko memejamkan mata sesaat, menarik napas dalam-dalam untuk menstabilkan detak jantungnya yang berantakan. Ia berbalik menuju meja rias, mengambil tusuk konde peninggalan ibunya, lalu menyelipkannya dengan hati-hati di balik sanggul rambutnya yang tertata rapi. Sentuhan logam dingin dari benda itu seketika mengalirkan ketenangan ke dalam benaknya. Setelah memastikan penampilannya dengan kimono sutra berwarna biru gelap khas klan Kurogawa tampak sempurna, ia melangkah keluar.
Langkah kaki Aiko menyusuri anak tangga kayu terasa begitu berat. Setiap langkah membawanya semakin dekat ke pusat energi dingin yang kini mulai menguasai lantai bawah rumahnya.
Begitu sampai di depan pintu geser ruang tamu utama, dua penjaga berjas hitam membungkuk hormat lalu menggeser pintu kayu itu perlahan.
Aroma teh hijau yang bercampur samar dengan wangi parfum yang tajam langsung menyambut indra penciuman Aiko. Di dalam ruangan yang luas itu, ayahnya, Hiroshi Kurogawa, sudah duduk bersandar di kursi besarnya. Dan di seberang meja kayu panjang, duduk Ren Tachibana bersama tangan kanannya yang berdiri siaga di belakang.
Saat Aiko melangkah masuk dengan anggun, sepasang mata tajam Ren Tachibana langsung bergerak, memfokuskan tatapannya lurus pada sosok gadis itu. Tatapan mata pria itu begitu menusuk, dan mengintimidasi untuk Aiko.
Aiko membalas tatapan itu dengan wajah sedatar mungkin, mencoba mempertahankan harga dirinya sebagai putri Kurogawa. Ia melangkah mendekat, lalu melipat kakinya untuk duduk bersimpuh di samping kursi ayahnya.
Ruangan itu seketika diliputi oleh keheningan yang menyiksa. Tidak ada yang bersuara selama beberapa saat, hingga desau angin musim gugur di luar jendela terdengar jelas.
Aiko mencoba memfokuskan pikirannya pada pembicaraan bisnis yang akan dimulai. Namun, saat matanya kembali tidak sengaja melirik ke arah belakang posisi duduk Ren Tachibana, pertahanan mental yang telah ia latih selama tiga minggu terakhir runtuh seketika.
Kabut hitam yang tadi ia lihat di pekarangan kini mewujud dengan sangat jelas di dalam ruangan. Di samping kanan Ren, sesosok arwah pria dengan wajah hancur separuh dan pakaian yang bersimbah darah segar sedang berdiri menempel. Makhluk itu memelototkan sepasang matanya yang merah ke arah Aiko, sementara tangannya yang pucat dan membusuk tampak mencengkeram erat bahu Ren, seperti ingin menyeret pria hidup itu ke dalam neraka bersamanya.
Melihat visualisasi mengerikan itu dalam jarak sedekat ini, seluruh pasokan udara di paru-paru Aiko seakan tercekat. Membuat rasa dingin yang luar biasa menjalar dari ujung kaki hingga ke dadanya. Tubuh Aiko mendadak bergetar hebat, dan keringat dingin mulai bercucuran di pelupuk dahinya. Ia mencengkeram erat kain kimononya di atas pangkuan, mencoba setengah mati agar tidak berteriak histeris di tengah pertemuan sakral ini. Napasnya memburu, tersengal di balik tenggorokannya yang mendadak kering.
"Dia pembunuh... Dia pembunuh kami... Jangan dekat-dekat dengan Serigala ini, atau kau akan mati seperti kami..." bisik arwah itu dengan suara mendesis yang memilukan, bergema langsung di dalam kepala Aiko.
Aiko memejamkan matanya rapat-rapat, bibirnya bergetar hebat menahan pekikan yang hampir lolos dari tenggorokannya. Ia mati-matian merapalkan mantra dalam hatinya. Jangan lihat. Jangan dengarkan. Jangan merespons.
Sebenarnya berapa banyak nyawa yang sudah ia cabut dengan tangannya sendiri? batin Aiko menjerit ketakutan. Hawa dingin dari para arwah itu mulai merayap memenuhi ruangan.
makanya om kenji, baek2 jadi orang.
ber partner sama orang licik ya resiko gini, ikutan dikhianati 🥴
di mana2 jadi pengkhianat 🥴
Semangat.....
harusnya ren nih yg lihat adegan ini 🥴
apa jangan2 hiroshi ngira bapaknya ren sengaja ngebunuh yumi, terus hiroshi ngebunuh pasutri tachibana?
hanya perkiraanku 🙏