Menggambarkan kemegahan hidup Doni Salman di usia 46 tahun, puncak kekuasaan Salman Group, hingga tragedi malam berdarah saat racun melumpuhkan sarafnya.
Konfrontasi kejam Amanda dan Andreas, pengakuan mengejutkan tentang anak gelap mereka, serta fakta mengerikan bahwa Zahra diperkosa dan dibunuh atas perintah Amanda.
Doni mati dalam murka, memicu keajaiban langit yang melempar jiwanya kembali ke tahun saat ia berusia 26 tahun.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tri Wahyuni92, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 32: Tinta Hitam di Atas Segel
Pena bersepuh emas milik Devan Santoso tertahan satu sentimeter di atas kertas segel.
Ujung logamnya yang runcing tampak bergetar tipis, memantulkan cahaya lampu neon ruko yang kaku.
Bagi seorang konglomerat yang terbiasa mendikte jalannya proyek-proyek strategis di berbagai departemen pemerintahan, menandatangani dokumen ini sama saja dengan menorehkan belati ke dada korporasinya sendiri.
Delapan persen saham pengendali.
Jika digabungkan dengan opsi saham yang telah diamankan Doni seminggu lalu, pemuda di hadapannya ini akan resmi menguasai sepuluh persen kepemilikan PT Santoso Karya.
Angka sepuluh persen dalam hukum perseroan terbatas bukan lagi sekadar angka pasif.
Itu adalah ambang batas kritis yang memberikan hak legal kepada Doni untuk menuntut pelaksanaan audit investigatif terhadap aliran kas perusahaan, membekukan keputusan direksi, hingga memanggil Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB). Benteng internal keluarga Santoso yang selama puluhan tahun tertutup rapat kini telah jebol dari dalam.
"Papa, jangan..." Amanda berbisik lirih di samping telinga ayahnya.
Suaranya tidak lagi melengking beringas seperti saat pertama kali melangkah masuk ke ruko ini; suaranya kini terdengar serak, dipenuhi oleh kepasrahan seorang sosialita yang baru saja melihat dunia mewahnya berguncang hebat.
"Pasti ada jalan lain. Hubungi paman di kementerian, atau jual beberapa aset tanah kita di Sentul. Kita tidak boleh menyerahkan saham ini kepada dia."
Devan Santoso menarik napas dalam-dalam, sebuah tarikan napas yang terasa begitu berat dan menyakitkan di dadanya.
Pria tua itu menoleh perlahan, menatap putri tunggalnya dengan sepasang mata yang kehilangan seluruh binar kuasanya.
"Jual tanah di Sentul butuh waktu minimal tiga bulan untuk likuidasi, Amanda," kata Devan, suaranya terdengar sangat lelah, datar, dan hampa.
"Sementara anak ini... dia hanya memberikan kita waktu tiga hari sebelum surat permohonan pailit itu mendarat di meja Ketua Pengadilan Niaga."
"Jika berita pembekuan kas kita di Bank Nusa Sentosa dan gugatan pailit ini pecah di koran bisnis besok pagi, seluruh kreditur bank pelat merah akan langsung menarik fasilitas pinjaman kita."
"Perusahaan kita akan mati sebelum matahari terbenam."
Devan kembali mengalihkan pandangannya kepada Doni Salman.
Pemuda itu masih duduk dengan posisi yang sangat santai, menyilangkan kakinya dengan jemari yang mengetuk pelan di atas lengan kursi kulit.
Tidak ada raut wajah kemenangan yang meledak-ledak atau senyuman mengejek di wajah tirus Doni; yang ada hanyalah sepasang mata sumur tua yang kosong, yang menatap Devan seolah-olah seluruh proses kehancuran ini hanyalah sebuah prosedur administrasi biasa yang membosankan.
Ketenangan Doni yang mutlak itulah yang membuat Devan merasakan kengerian yang sesungguhnya.
Ia menyadari bahwa Doni tidak sedang bermain-main; pemuda ini bergerak dengan presisi seorang algojo yang telah menghitung setiap tetes darah yang akan keluar dari leher korbannya.
Sret... Sret... Sret...
Suara gesekan ujung pena di atas kertas segel memecah keheningan ruangan lantai dua.
Dengan tangan yang basah oleh keringat dingin, Devan Santoso membubuhkan tanda tangan resminya di atas dokumen Debt-to-Equity Swap.
Di bawahnya, Hendra selaku saksi hukum dan kepala tim legal ikut menorehkan tanda tangannya dengan tangan yang tidak kalah gemetar.
Begitu Devan meletakkan penanya kembali dengan bunyi dentang pelan, Doni Salman mengulurkan tangan kanannya, menarik dokumen tersebut ke hadapannya.
Ia memeriksa keabsahan tanda tangan tersebut dengan ketelitian seorang bankir senior, memastikan tidak ada satu pun coretan yang bisa dijadikan celah pembatalan di pengadilan nanti.
Setelah merasa puas, Doni mengambil pulpen hitam miliknya sendiri, lalu membubuhkan tanda tangan atas nama SALMAN GROUP.
KLIK.
Stempel korporasi berwarna hitam doff ditekan dengan mantap di atas nama Doni, mengunci hak kepemilikan sepuluh persen saham PT Santoso Karya secara sah dan mengikat demi hukum.
"Proses konversi utang telah selesai, Pak Devan,"
Doni menutup map dokumen tersebut dengan bunyi tepukan yang tegas, lalu memasukkannya ke dalam laci meja jatinya yang terkunci.
"Mulai detik ini, seluruh piutang logistik sebesar lima belas miliar rupiah di Sektor Utara dinyatakan lunas dan di hapus dari buku."
"Sebagai gantinya, tim analis saya akan mengirimkan surat pemberitahuan resmi mengenai perubahan struktur pemegang saham ke Biro Administrasi Efek besok pagi."
Devan Santoso berdiri dari kursinya dengan tubuh yang sedikit terhuyung.
Ia merapikan letak jas safarinya yang kusut, mencoba memungut sisa-sisa harga dirinya yang telah berserakan di lantai ruko Pluit ini.
"Kamu telah mendapatkan apa yang kamu inginkan, Doni," kata Devan, suaranya kembali berat namun sarat akan nada ancaman yang tertahan.
"Sepuluh persen saham."
"Tapi ingat... di dalam ruang rapat direksi Menara Thamrin, sembilan puluh persen suara sisanya masih berada di bawah kendali penuh keluarga saya."
"Jika kamu berani melangkah satu milimeter saja di luar batas kewenanganmu sebagai pemegang saham minoritas, aku sendiri yang akan memastikan posisimu di perusahaan itu berubah menjadi neraka."
Doni Salman ikut berdiri dari kursinya, membalas tatapan maut Devan dengan sebuah pandangan yang begitu tajam, seolah-olah ia sedang menembus langsung ke dalam isi kepala pria tua itu.
"Sembilan puluh persen suara yang Anda banggakan itu, Pak Devan... nilainya didasarkan pada asumsi bahwa PT Santoso Karya masih memiliki nilai kapitalisasi yang sehat,"
bisik Doni, suaranya begitu rendah namun bergetar dengan keyakinan masa depan yang mematikan.
"Mari kita lihat, seberapa banyak dari sembilan puluh persen suara itu yang akan tersisa saat badai likuiditas Bank Nusa Sentosa benar-benar mencapai puncaknya di akhir bulan ini."
"Silakan kembali ke Menara Thamrin, pintu keluar kantor saya selalu terbuka untuk para tamu yang telah menyelesaikan kewajibannya."
Amanda Santoso menatap Doni dengan tatapan yang bercampur antara kebencian mendalam dan rasa takut yang belum pernah ia rasakan dari pria mana pun seumur hidupnya.
Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, ia menyambar tas Hermès-nya, lalu berbalik dan melangkah keluar dari ruangan dengan terburu-buru, menyusul ayahnya dan Hendra yang sudah lebih dulu menuruni tangga kayu dengan langkah yang berat dan patah.
Begitu suara raungan mesin BMW perak di pelataran parkir bawah terdengar menjauh membelah jalanan Pluit, pintu ruang kerja Doni kembali diketuk pelan.
Joko melangkah masuk dengan memegang sebuah map baru berlogo Bank Mandiri, wajahnya dipenuhi oleh ekspresi ketakutan yang bercampur dengan rasa hormat yang mutlak kepada sahabat lamanya.
"Pak Doni... ini benar-benar gila," Joko meletakkan map tersebut di atas meja jati dengan tangan yang sedikit bergetar."
"Sepuluh persen... kamu baru saja mengambil alih sepersepuluh dari perusahaan konstruksi terbesar di sektor utara Jakarta tanpa mengeluarkan uang tunai sepeser pun dari kantong pribadimu. Semuanya dibayar menggunakan utang yang mereka ciptakan sendiri."
Doni Salman berjalan menuju jendela kaca besarnya, menatap ke arah langit sore Pluit yang mulai dilingkupi oleh gumpalan awan mendung berwarna abu-abu keperakan. Angin kencang bertiup dari arah laut, menggoyang dahan-dahan pohon di tepi jalan raya.
"Ini baru langkah pembukaan, Joko," kata Doni, matanya memancarkan kilatan es yang sedingin baja.
"Pengambilalihan sepuluh persen saham ini hanyalah alat yang kubutuhkan untuk memasang mata-mata resmi di dalam sistem keuangan mereka. Tugas kita berikutnya adalah menunggu dengan sabar di dalam kegelapan."
Doni meraba saku celananya, merasakan getaran ponsel monokrom lamanya.
Sebuah pesan singkat masuk dari salah satu analis kepercayaannya di bursa efek, mengonfirmasi bahwa harga penutupan saham BUMI sore ini stabil di angka Rp1.280 per lembar menghasilkan tambahan likuiditas baru ke dalam pundi-pundi Salman Holdings.
"Joko, perintahkan tim analis di lantai satu untuk mulai menyusun draf rencana akuisisi tahap kedua," perintah Doni tanpa membalikkan badannya.
"Begitu pihak Bank secara resmi mengumumkan pembekuan total kegiatan usaha Bank Nusa Sentosa dua minggu lagi, Devan Santoso akan dipaksa untuk melepaskan sisa saham pengendalinya di bursa efek dengan harga sampah demi menghindari tuntutan pidana korupsi dana proyek pemerintah."
"Dan saat hari itu tiba... Salman Holdings akan maju sebagai satu-satunya penyelamat yang akan menelan seluruh sisa takhta mereka tanpa menyisakan ruang bagi keluarga Santoso untuk bernapas kembali."
Di bawah langit Jakarta yang mulai menggelap dilingkupi mendung awal Juli, fondasi kekaisaran finansial Salman Group kini telah berdiri kokoh, siap untuk melepaskan badai besar yang akan meratakan Menara Thamrin menjadi debu sejarah.