Pangeran Nicholas Veer Ralph, putra bungsu dari Raja Luther pemimpin Kerajaan Tharvis, terkenal sebagai seorang yang angkuh, pemarah, dan pemberontak. Bahkan reputasinya sebagai seorang pemain wanita telah tersebar luas di seluruh negeri. Sikapnya yang sangat berbeda dari kedua saudara kandungnya membuatnya menjadi sorotan. Demi mengubah perilakunya, Raja Luther berencana menjodohkannya dengan Putri Madeleine, dengan harapan bahwa pernikahan akan membawa perubahan. Namun, Nicholas menolak dengan keras dan malah mencari pasangan yang bisa dia kendalikan. Dalam pencariannya, Nicholas bertemu dengan Anastasia Rosalie, seorang perempuan baik hati dan lembut dari kalangan bawah. Dia menjebak Anastasia agar mau menikah dengannya untuk memenuhi ambisi pribadi, tanpa memikirkan konsekuensi yang mungkin akan terjadi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon micemicu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sisi Nakal Pangeran
...⚜️⚜️⚜️...
NICHOLAS dan Anastasia melangkah memasuki ruang sidang tertutup tepat pukul sepuluh pagi. Awalnya, mereka mengira pertemuan ini hanya akan melibatkan mereka berdua dan Raja Luther. Namun, begitu daun pintu kayu ek raksasa itu terbuka, keterkejutan tidak dapat disembunyikan dari paras keduanya. Di dalam ruangan, telah berkumpul barisan pejabat penting kerajaan berwajah kaku, berdampingan dengan Ibunda Permaisuri yang anggun, Putri Joselynn, serta Pangeran William yang menatap mereka dengan sorot mata penuh selidik.
Merasa terintimidasi oleh tatapan puluhan pasang mata kaum aristokrat, telapak tangan Anastasia mendadak dingin di dalam genggaman Nicholas. Jantungnya berdebar hebat, ia belum pernah berhadapan sedekat ini dengan para penguasa tertinggi negeri.
Sebaliknya, Nicholas tetap mempertahankan ekspresi tenangnya yang dingin. Ia menuntun Anastasia menuju dua kursi kosong yang telah disediakan. Di balik ketenangannya, benak Nicholas mulai berputar liar. Mengapa rapat keluarga ini mendadak berubah menjadi sidang dewan menteri?
"Begini, Tuanku Pangeran. Kami telah berdiskusi selama satu jam penuh perihal niat Tuanku yang bersikeras ingin menikahi Nona Anastasia," Sir Kaivan membuka percakapan, suaranya bergema formal di antara kedapnya dinding ruangan. "Sebelum melangkah lebih jauh, apakah Tuanku sudah memahami hukum konstitusi Kerajaan Tharvis, bahwa jika seorang anggota dinasti berdarah murni menikah dengan rakyat biasa, mereka wajib menanggalkan seluruh gelar kebangsawanan mereka?"
Detik itu juga, rahang Nicholas mengeras. Mimik wajahnya berubah gelap, penuh akan amarah yang siap meledak. Nicholas harus mengakui dalam hati bahwa ia melewatkan detail hukum kuno tersebut dalam rencananya. Namun, mundur bukanlah pilihan. Strategi politiknya sudah disusun terlampau jauh. Semuanya sudah terlanjur basah.
Brak!
Nicholas memukul meja kayu di hadapannya dengan sangat keras hingga bangkit berdiri. Sentakan kasar itu seketika memutus tautan jemarinya dari tangan Anastasia. Tindakan agresif sang pangeran sukses membuat seisi ruangan tersentak ketakutan.
"Jadi maksudmu, aku akan didepak dari tanah kelahiranku sendiri hanya karena memilih wanita yang kuinginkan, hah?!" bentak Nicholas, suaranya menggelegar penuh konfrontasi. "Peraturan konyol macam apa itu?! Selama ini kalian membual ke seluruh penjuru negeri bahwa Tharvis adalah kerajaan yang adil dan makmur! Namun, jika hak paling mendasar seperti pernikahan saja dikebiri oleh hukum kuno, itu artinya kerajaan ini telah menipu seluruh rakyatnya!"
"Putraku Nicholas, tenanglah. Jaga bicaramu dan jangan lekas naik pitam seperti itu," sela Ibunda Permaisuri, mencoba meredam suasana dengan suaranya yang lembut.
"Sabar, Tuanku Pangeran," timpal Sir Kaivan, mengulas senyum demi mencairkan ketegangan. "Justru karena kami ingin menghargai posisi Tuanku, kami mengadakan forum tertutup ini untuk mencari jalan keluar terbaik. Oleh karena itu, silakan duduk kembali, Tuanku."
Sejujurnya, di balik topeng amarahnya yang meledak-ledak, Nicholas didera kecemasan yang luar biasa. Rencananya sama sekali tidak boleh meleset, bahkan untuk satu jengkal pun. Sejak awal, bukan Anastasia yang sebenarnya ia inginkan. Nicholas menolak keras jika harus kehilangan takhta, harta, dan seluruh wilayah warisan yang seharusnya jatuh ke tangannya hanya demi seorang gadis jelata sialan!
Sialan! Nicholas mengumpat habis-habisan dalam hati. Bagaimana bisa ia melewatkan detail sekrusial hukum pernikahan dinasti tersebut? Seharusnya ia tidak mentah-mentah menuruti saran Eknath yang bodoh itu. Padahal, niat awalnya mempercepat pernikahan dengan Anastasia adalah tipu muslihat cerdik agar seluruh hak waris dan wilayah kekuasaannya segera diserahkan oleh dewan, tanpa harus dipaksa menikahi wanita pilihan Raja Luther.
"Aku tidak akan bisa tenang sebelum kalian memberikan solusi yang menguntungkan bagiku," ucap Nicholas seraya mengenyakkan kembali tubuhnya ke kursi dengan kasar.
Sir Kaivan menatap Nicholas lurus-lurus. "Untuk itu, sebelum melangkah lebih jauh, kami perlu bertanya langsung kepada Anda, Tuanku Pangeran. Apakah Anda benar-benar mencintai Nona Anastasia?"
Ruangan itu mendadak hening.
Dari sudut matanya, Nicholas menyadari Anastasia seketika menoleh ke arahnya dengan pandangan penuh harap dan cemas. Nicholas tahu betul bahwa Sir Kaivan bukan sekadar penasihat kerajaan biasa, pria tua itu adalah rubah licik yang pandai membaca gerak-gerik serta mikro-ekspresi wajah seseorang.
Detik ini juga, Nicholas harus mengerahkan seluruh bakat sandiwara terbaiknya demi meyakinkan dewan bahwa ia telah jatuh cinta setengah mati pada Anastasia.
"Tentu saja! Aku mencintainya," cetus Nicholas lantang, menyuntikkan nada penuh keyakinan dan bumbu emosional pada suaranya. "Aku tidak bisa menyalahkan hatiku atas perasaan yang tiba-tiba tumbuh ini. Sangat tidak adil pula jika aku menggerutu kepada Yang Mahakuasa hanya karena cinta ini hadir untuk seseorang yang kebetulan berasal dari kalangan kelas bawah. Bukankah esensi dari cinta itu sendiri murni, tanpa perlu memandang sekat status sosial?"
Sial, omong kosong apa yang baru saja keluar dari mulutku? batin Nicholas mencemooh dirinya sendiri.
Di dalam otak Nicholas, isi kepalanya sudah merancu tidak keruan. Nicholas sadar ia adalah seorang pangeran yang payah dalam merangkai kata-kata puitis. Kalimat romantis yang baru saja ia ucapkan rasanya sudah seperti keajaiban dunia baru yang memecahkan rekor pertamanya.
Namun, bualan itu bekerja dengan sempurna. Di sampingnya, Anastasia tampak tertegun, matanya berkaca-kaca karena terenyuh mendengar pembelaan Nicholas yang begitu berani di hadapan Raja. Gadis polos itu sama sekali tidak menyadari ada niat terselubung dan konspirasi busuk yang tengah dirajut oleh sang pangeran di balik kata-kata manisnya.
Sir Kaivan kemudian mengalihkan pandangannya yang tajam kepada Anastasia. "Lalu, bagaimana dengan Anda, Nona Anastasia? Apakah Anda juga menaruh perasaan yang sama terhadap Tuanku Pangeran Nicholas?"
Anastasia mendadak kelu. Jantungnya berdebar kencang, didera keraguan untuk menjawab di hadapan para penguasa. Namun, ia tidak bisa membohongi nuraninya sendiri bahwa riak-riak rasa suka terhadap Nicholas memang mulai tumbuh di hatinya sejak dulu, hanya saja menyadari posisinya sebagai rakyat biasa sehingga hanya berani mengagumi.
Terlebih lagi, ia tidak bisa lari dari kenyataan yang mengikat mereka. Mengingat apa yang telah terjadi malam tadi dan keintiman yang baru saja mereka lakukan pagi ini di dalam kamar mandi, segalanya telah berubah total. Anastasia memiliki keyakinan kuat bahwa benih sang pangeran mungkin sudah mulai tumbuh di rahimnya saat ini.
Dengan perlahan namun pasti, Anastasia mengangguk lembut.
Melihat anggukan itu, sudut bibir Nicholas diam-diam menyunggingkan seringai tipis yang penuh akan kelicikan. Sempurna, batinnya berbisik puas. Anastasia kini telah sepenuhnya masuk dan terperangkap ke dalam sangkar jebakan yang ia buat.
"Baiklah, Tuanku," Sir Kaivan menghela napas, menoleh sekilas ke arah Raja Luther sebelum kembali menatap Nicholas. "Berdasarkan hasil diskusi dewan, kami sepakat untuk memberikan hak istimewa dan pengecualian khusus bagi Tuanku Pangeran. Anda diperbolehkan untuk mempersunting Nona Anastasia. Beberapa poin dalam hukum adat mengenai larangan pernikahan berdarah murni dengan kalangan kelas bawah telah resmi ditangguhkan, dengan syarat-syarat ketat yang sudah disetujui oleh Baginda Raja."
Sir Kaivan menjeda sejenak, merapikan dokumen di mejanya. "Dengan demikian, kami akan segera mempersiapkan prosesi pernikahan secepatnya. Sebab, sungguh tidak elok jika Anda berdua terus tinggal dalam satu kamar tanpa adanya ikatan yang sah. Selain itu, setelah pemberkatan pernikahan nanti, Nona Anastasia akan secara resmi dianugerahi gelar Putri Kerajaan."
Sepasang mata Anastasia membelat lebar karena terkejut. Ia seolah kehilangan kemampuan bernapas sejenak, nyaris tidak mempercayai pendengarannya sendiri.
Amandemen hukum ini, serta pernikahannya dengan seorang pangeran, dipastikan akan menjadi catatan sejarah baru yang mengguncang Kerajaan Tharvis—sebuah kabar gempar yang akan berembus hingga ke negeri-negeri seberang. Di dalam hati kecilnya, Anastasia hanya bisa berdoa dengan cemas agar keputusan besar ini tidak membawa kerugian atau petaka bagi Raja Luther hanya demi mengangkat derajat gadis biasa sepertinya.
"Kami juga telah melayangkan surat resmi mengenai rencana pernikahan ini kepada Duke Harold, selaku pihak yang bertanggung jawab atas Nona Anastasia selama ini," tambah Sir Kaivan.
Nicholas menyandarkan punggungnya ke kursi dengan gestur jemawa. "Begitu? Baguslah. Lebih cepat urusan ini selesai, maka akan lebih baik."
"Yang Mulia Raja telah menetapkan tanggal yang tepat," lanjut Sir Kaivan tegas. "Pernikahan Tuanku akan digelar tepat satu minggu dari sekarang, mengingat Putri Joselynn dan Pangeran William saat ini sedang berada di ibu kota dan tidak dapat menunda kepulangan mereka terlalu lama."
Nicholas melirik Anastasia yang masih tampak linglung, lalu mengulas senyum ke hadapan dewan. "Aku dan calon istriku menyetujui keputusan tersebut."
...***...
Pangeran Nicholas berdiri di balkon istana, membiarkan jubah merah kebesarannya berkibar lembut disapa angin sepoi-sepoi. Sambil mengisap cerutu di jemarinya, sepasang netra elangnya menatap lurus ke bawah, menyaksikan para pengurus kebun yang sibuk merawat hamparan bunga di pelataran istana yang luas.
Tak lama lagi, seluruh ambisinya akan terwujud nyata. Sudah teramat lama ia menantikan takhta dan kuasa itu jatuh ke dalam dekapannya.
Kehidupan di bawah bayang-bayang kekuasaan ayahnya telah membuat Nicholas muak. Wilayah Swindon yang kaya akan resmi menjadi miliknya mutlak, begitu ia berhasil mengikat Anastasia dalam pernikahan.
"Nicholas."
Nicholas menoleh lambat, mengembuskan asap cerutunya ke udara saat mendengar namanya dipanggil. Agast melangkah mendekat dengan raut wajah kaku, masih menyisakan bekas kemerahan samar akibat tamparan keras Raja Luther kemarin.
"Ada apa?" tanya Nicholas dingin.
"Apa kau benar-benar serius dengan keputusanmu untuk menikahi Nona Anastasia?" Agast menuntut penjelasan.
Nicholas menyunggingkan senyum tipis, penuh kelicikan. "Tentu saja. Aku sudah merancang skenario ini dengan sangat matang."
"Kau yakin? Apa kau benar-benar siap menghadapi konsekuensinya?"
"Kenapa aku harus ragu?" Nicholas terkekeh hambar, membuang abu cerutunya ke luar pembatas balkon. "Aku hanya perlu menikahinya. Setelah semua aset dan wilayah kekuasaan itu resmi berpindah ke tanganku, aku tinggal menceraikannya. Selesai. Mudah dan praktis, bukan?"
Agast sudah menduga jawaban itu akan keluar dari mulut sahabatnya. Ia mengambil satu langkah maju, berbisik dengan nada penuh kekhawatiran, "Nich, ini bukan perkara sepele yang bisa kau mainkan. Baginda Raja bahkan sampai bersedia mengamendemen hukum kuno Kerajaan Tharvis hanya agar kau bisa menikahi Nona Anastasia! Jangan meremehkan bidak caturmu sendiri. Jika rencana ini goyah sedikit saja, ini akan menjadi bumerang besar yang menghancurkanmu."
Nicholas seketika memicingkan mata, sorot matanya menajam berbahaya. "Ini urusanku, Agast. Jangan mencoba ikut campur! Aku tahu persis apa yang sedang kulakukan."
Agast menghela napas panjang, didera rasa frustrasi yang membuncah. Selalu sulit—bahkan nyaris mustahil—untuk menyadarkan Nicholas. Pangeran bungsu itu selalu saja keras kepala dan merasa paling benar.
"Tuanku Pangeran."
Sebuah suara manis seorang perempuan memecah ketegangan di antara mereka, memanggil dari arah pelataran bawah. Nicholas dan Agast refleks melongok melewati pembatas balkon untuk melihat sang pemilik suara.
"Lady Selova?" gumam Nicholas, sudut bibirnya otomatis terangkat.
Lady Selova mengangguk anggun dari bawah sana. Wanita bangsawan itu menggigit bibir bawahnya sekilas, melemparkan tatapan menggoda yang penuh maksud terselubung ke arah sang pangeran.
Nicholas, dengan tabiatnya yang peka terhadap sinyal dari wanita-wanita haus sentuhan, langsung menangkap makna dari gestur mengundang tersebut.
"Kau mau ke mana?" Agast dengan sigap mencekal lengan Nicholas saat melihat sahabatnya itu memutar tubuh hendak beranjak pergi.
"Lepaskan, Agast. Aku memiliki urusan mendesak yang belum selesai dengan Lady Selova," jawab Nicholas dingin sembari menyentak pelan tangannya hingga cekalan itu terlepas.
Agast hanya bisa terpaku di tempatnya, menatap nanar punggung Nicholas yang kian menjauh dan menghilang di balik pilar-pilar koridor istana. Ia tahu persis urusan macam apa yang dimaksud Nicholas bersama wanita pesolek itu. Terlalu mudah ditebak, dan hal itu mendadak membuat dadanya disergap rasa bersalah yang asing terhadap Anastasia.
Memilih untuk tidak ambil pusing, Agast memutar langkah menuruni tangga utama. Namun, baru beberapa anak tangga terlampaui, ia tanpa sengaja berpapasan dengan Kesatria Stephen. Sang kesatria rupanya berdiri diam di sudut koridor sejak tadi, memperhatikan kepergian Nicholas yang hendak menemui Lady Selova dengan sorot mata yang sulit diartikan. Agast lagi-lagi hanya bisa membisu, melewati sang kesatria dalam keheningan yang mencekam.