" Boleh kah aku bertanya satu pertanyaan?" Nymera Elvaretta Lennox "
" Katakan?" prince Rafael Benitez"wajahnya dingin, tatapan matanya tajam.
" Tolong katakan apa kurang nya aku kak? sampai kakak tak bisa melihatku sebagai seorang wanita" tatapan matanya sendu.
" karena kau hanyalah gadis manja" .
Perlahan,gadis bernama Nymera Elvaretta Lennox itu melangkah mundur, matanya menatap sendu pria di depan nya,pria yang sejak kecil ia kagumi dan ia tau telah di jodohkan dengan nya.
Dengan bibir tersenyum, bukan senyuman indah dan manis, melainkan senyuman menyakitkan, bahkan bibirnya terlihat sedikit bergetar saat dengan lirih ia berkata " Terimakasih telah menyadarkan ku, selamat tinggal, semoga kakak terus bahagia" masih sekuat tenaga ia mengucapkan kalimat perpisahan.
setelah sedikit membungkukkan tubuhnya, sebagai cara menunjukkan penghormatan kepada keluarga kerajaan,gadis cantik yang akrab disapa Mera itu berbalik dan melangkah meninggalkan pria yang masih menatapnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arisha Langsa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
07
Di kantin sekolah...
" Meera,kamu baik-baik aja kan?" Cecilia bertanya pada Meera dengan nada khawatir, wajah nya terlihat begitu mencemaskan keadaan sang sahabat yang terlihat seperti orang yang tengah kesurupan, bagaimana tidak,Meera tengah menikmati mie instan cup dengan saos level tertinggi.
Cecilia bahkan sampai bergidik ngeri saat melihat warna merah pada kuah sang sahabat.
" Memang nya aku kenapa?" tanya Meera yang menanggapi santai pertanyaan dan ke khawatiran sahabat nya.
Baru Cecilia akan menjawab, seseorang muncul bersama dua orang lainnya,hal itu membuat Cecilia terdiam, dan urung melanjutkan ucapannya.
kantin yang tadinya tenang kini berubah terdengar bisik-bisik, walaupun tak terlalu riuh,tapi masih dapat terdengar dengan jelas dan tatapan penasaran para pengunjung tempat itu.
Terlebih saat sumber perhatian itu melangkah menuju salah satu meja yang terlihat di tempati Camelia bersama dua orang sahabatnya.
Meera melanjutkan makan nya setelah melirik sekilas pada apa yang Cecilia tunjukkan,ia tersenyum tipis dan tak mengatakan apapun.
Damares terlihat asyik berbincang akrab bersama Camelia,Julia dan Alin, sedangkan Rafael terlihat fokus pada layar ponsel nya.
" Pengeran tidak memesan makanan?" Camelia bertanya dengan nada lembut seperti biasanya.
" Aku sedang tidak lapar" jawab Rafael pelan, matanya sesekali melirik gadis yang semalam ia temani tidurnya hingga hampir tengah malam.
" Bagaimana rencana konser kamu selanjutnya? " Rafael menanyakan perkembangan rencana Camelia tentang konser tunggal yang semua tau tengah di siapkan untuk gadis itu oleh salah satu produsen musik terkemuka di negara itu.
" Belum ada perubahan dan masih sesuai rencana,hanya saja waktunya yang akan di sesuaikan dengan ujian akhir kita" jawab Camelia santai.
Rafael meanggukkan kepalanya pelan,seraya menyesap pelan minuman pesanannya, tentunya setelah di pastikan aman oleh orang-orang yang bertugas mengawasi nya.
Sedangkan di meja lainnya,Meera terlihat masih menikmati pesanan nya,mie instan cup dengan asap yang terlihat masih sedikit mengepul.
fokus nya teralihkan oleh layar ponselnya yang menyala, menandakan sebuah notifikasi, Meera meraihnya dan membuka, mengecek darimana datangnya notifikasi tersebut.
Dahinya sedikit berkerut bersamaan dengan sedikit nya perubahan pada ekspresi wajah nya" sok perhatian" omel Meera pelan.
" Siapa Mer?" tanya Cecilia penasaran melihat perubahan ekspresi wajah sahabatnya.
" Pengeran ku" jawab Meera santai, dan langsung di pahami oleh Cecilia,pangeran ku... tak ada lain pria yang Meera panggil dengan sebutan se manis itu selain pangeran Rafael.
" Bukannya semalem ada yang bilang udah mau nyerah ya,sampe nangis-nangis pas nelpon aku" ledek Cecilia mengingatkan kembali pembicaraan mereka semalam melalui panggilan video call.
" Apakah menurutmu aku bisa melupakan nya?" tanya Meera santai.
Rafael mengirim kan nya pesan " makanlah perlahan,tak ada yang akan meminta makanan mu" itulah isi pesan yang Rafael kirimkan padanya membuat nya serasa ingin terbang.
Cecilia menggeleng dengan kelakuan sahabatnya itu, Meera itu cantik, pintar dan berprestasi,namun menurutnya sahabatnya itu bodoh menyangkut tentang perasaan, jelas-jelas Cecilia melihat Rafael begitu cuek padanya,tapi seakan menyingkirkan rasa malunya,Meera tetap saja terlihat begitu mengejar pria yang memang di akui memiliki banyak kelebihan lainnya selain ketampanan dan kekuasaan nya itu.
" kamu mau kemana?" tanya Cecilia cepat saat melihat tiba-tiba saja Meera bangkit dari duduknya.
Meera melangkah tenang menuju dimana Rafael dan beberapa lain nya duduk,hal itu kembali menarik perhatian para pengunjung kantin dan Meera tak pernah memperdulikan semua itu.
" kakak,aku minta duit dong, dompetku tertinggal di rumah" ucap Meera tanpa sedikitpun merasa canggung atau malu.
Rafael mengangkat wajahnya menatap Meera saat mendengar suara manja gadis itu, sedangkan Damares mengulum senyum melihat kelakuan tak terduga putri seorang pengusaha terkemuka itu,tak jauh berbeda dengan Alex yang bahkan tak tau harus berekspresi seperti apa saat melihat wajah cengo sang pangeran.
" Mer...kenapa ga bilang biar aku yang bayar aja" bisik Camelia gusar.
Sedangkan Rafael justru terlihat tak menunjukkan respon berlebihan selain ekspresi wajah bingung, walaupun begitu ia dengan sigap meraih dompet di saku celana nya dan mengeluarkan salah satu kartu sakti nya, menyerahkan nya pada Meera.
" pin nya masih sama" ucap Rafael tenang, sedangkan di sekeliling mereka mulai terdengar bisikan-bisikan dan tatapan mata dengan berbagai ekspresi, terlebih saat mereka mendengar Rafael mengatakan tentang pin kartunya,itu artinya wanita itu sering menggunakan kartu milik Rafael,ternyata walaupun terlahir dari keluarga kaya raya,Meera masih saja menjadi wanita materialistis,tak salah kalau selama ini mereka menganggap bahwa Meera bukan mencintai Rafael dengan tulus,namun karena pria itu adalah putra mahkota.
berbagai cibiran terdengar samar untuk Meera,namun gadis itu seakan tuli,ia tak ingin peduli atau membalas mereka,baginya yang terpenting adalah Rafael tak pernah mengatakan bahwa ia wanita matre atau memanfaatkan pria itu,toh ia juga tak pernah peduli dengan kehidupan mereka-mereka.
" Aku ga mau kartu ini,aku mau uang cash aja" tolak Meera manja.
" Aku ga ada cash Meera" jawab Rafael pelan,matanya menatap wajah cantik Meera yang terlihat mulai cemberut,entah mengapa Rafael tak pernah bisa marah pada gadis itu, terlalu sayang kah ia pada Meera,tapi satu yang Rafael yakini ia tak mungkin mencintai Meera, karakter mereka berbeda, Rafael merasa lebih mengagumi wanita yang lemah lembut, dewasa, mandiri dan tak manja pastinya,di antara semua kriteria itu yang Meera miliki hanyalah lemah lembut, karena memang Rafael hampir tak pernah mendengar Meera berbicara kasar pada siapapun.
" Berikan cash kalian untuk nya" perintah Rafael pada Damares dan Alexander, sahabat sekaligus pengikut setia nya,kedua pria itu adalah putra para petinggi kerajaan,termasuk ayah Camelia yang juga salah satu petinggi kerajaan yang di percayai.
Damares dan Alexander saling tatap, sepertinya mereka juga tak memiliki uang cash di kantong mereka, keduanya menunjukkan cengiran di sertai gelengan kecil seraya menatap wajah cemberut Meera" kami juga tidak punya Meera,maaf" ucap Damares dan Alexander bersama.
" Ada padaku,ini ambil lah, apakah cukup? maaf aku juga cuma punya segitu" tiba-tiba Camelia menyela di antara pembicaraan empat orang di hadapannya.
Meera melirik arah tangan Camelia yang terulur ke arah nya"kakak pengawal berikan aku uang cash kalian" bukan nya mengambil uang yang Camelia berikan,Meera justru memintanya pada pengawal setia Rafael " maaf aku tidak terbiasa menerima pemberian orang asing" tambah nya membuat Camelia tersenyum paksa dan kembali menarik tangannya.
" I-ini nona" dengan cepat dan gugup salah satu pengawal menyerahkan beberapa lembar uang cash pada Meera, tentunya setelah mendapatkan anggukan kepala dari Rafael,sang pemberi keputusan .
" Terimakasih kakak pengawal, jangan lupa minta bayaran nya pada pangeran Rafael" ucap Meera santai,matanya melirik tak suka ke arah Rafael dan kedua sahabatnya, sedangkan Cecilia tersenyum canggung.
eeh katanya tidak cintaa
tpi koq cemburuuu🤣🤣🤭🤭🤭
dia hanya rubah yang licik
apakah kamu penggemar rahasia
sebab Iya ingin anaknya masuk dalam kawasan keluarga istana
bukan sekedar pelayan, yang di anggap rendahan🤭😔
kira kira siapa si dia
bikin penasaran aja
ngelunjak ya
minta di geprek kau
dan ternyata Dai si penghianat kerajaan
ada disampingmu Rafael
ular kadut
apakah dia termasuk anak bangsawan
sampai dgn percaya dirinya
selalu mengincar pangeran
ternyata ada pria lain yang Akan melindungi meera
dan Rafael seolah menerima perjodohan itu
hanya karena ingin menutupi bhubungannya dgn camel🤭🤭
ish is tak patut
tak patut
Baru juga lihat Meera ketawa ketiwi sama kaka2 OSIS, udah kebakaran jenggot aja. Gimana kl Gio atau cwo lain bisa deketin Meera ?
ah elah EL EL...gemes pengen cubit ginjalmu EL 😂😂