Leonardo De Luca adalah penguasa Madrid yang memiliki segalanya, kecuali masa depan. Di balik kemegahan tahtanya, ia menyimpan rahasia kelam tentang infertilitas yang membuatnya merasa seperti tanah gersang tanpa harapan akan pewaris. Baginya, garis keturunan De Luca telah menemui jalan buntu.
Hingga ia bertemu Olivia, seorang gadis penjual bunga yang hidup di antara harum kelopak dan ketabahan akar. Di mata Olivia, Leonardo bukanlah singa yang menakutkan, melainkan jiwa yang haus akan kehidupan. Pertemuan ini adalah awal dari sebuah keajaiban; tentang bagaimana cinta seorang penjual bunga mampu menumbuhkan benih kehidupan di celah batu karang yang paling keras sekalipun.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon istimariellaahmad, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Konsesi dan bunga
Olivia bangun di kamar yang luasnya tiga kali lipat dari apartemennya di London. Sinar matahari Spanyol masuk melalui jendela besar, menyinari perabotan kayu ek dan seprai sutra yang terasa terlalu licin di kulitnya. Semalam, ia telah menjual kebebasannya demi kesehatan ayahnya. Namun, ada satu hal yang tidak bisa ia lepaskan begitu saja: identitasnya sebagai pekerja.
Setelah mandi dan mengenakan pakaian paling sederhana yang ia bawa—celana jins dan kemeja katun—Olivia turun ke lantai bawah. Ia menemukan Donna Isabella sedang duduk di teras belakang, menikmati sarapan ringan sambil membaca koran.
"Selamat pagi, Nak. Kau tampak cantik meski wajahmu terlihat gelisah," sapa Isabella hangat. Ia menuangkan teh untuk Olivia bahkan sebelum gadis itu sempat duduk.
"Terima kasih, Isabella," sahut Olivia pelan. "Tentang kesepakatan semalam... Leonardo mengatakan orang tua saya akan dipindahkan hari ini."
"Jet medisnya sudah lepas landas dua jam lalu. Ayahmu sedang dalam perjalanan menuju Marbella. Jangan khawatir, tim dokter terbaik sudah bersiap di sana," Isabella meletakkan korannya, menatap Olivia dengan tatapan ibu yang mengerti. "Kau melakukan hal yang benar untuk keluargamu."
"Saya tahu. Tapi ada satu hal lagi," Olivia menarik napas panjang. "Saya tidak bisa hanya duduk diam di rumah ini dan menjadi hiasan. Saya punya toko bunga. Saya punya tanggung jawab. Saya ingin tetap bekerja."
Isabella tersenyum tipis. "Leonardo tidak akan menyukai itu. Di duniaku, wanita dengan status tunangan De Luca tidak bekerja di pasar atau melayani pelanggan di toko kecil."
"Saya tidak peduli dengan duniaku atau dunianya," balas Olivia lugas. "Jika saya tidak bekerja, saya akan kehilangan diri saya sendiri. Saya penjual bunga, bukan tawanan."
Tepat saat itu, langkah kaki berat bergema di lantai marmer. Leonardo muncul dengan setelan jas hitam tanpa dasi. Aura dominannya seketika memenuhi ruangan. Ia duduk di kursi utama, mengabaikan sarapan, dan langsung menatap Olivia dengan intensitas yang tidak berkurang sejak semalam.
"Kau tidak akan kembali ke toko itu, Olivia," ucap Leonardo dingin, seolah ia bisa membaca pikiran gadis itu. "Terlalu berbahaya. Musuhku ada di mana-mana. Kau adalah titik lemahku sekarang."
"Titik lemah?" Olivia mendengus. "Kita bahkan belum resmi bertunangan selama dua puluh empat jam. Saya tetap akan bekerja. Jika Anda khawatir soal keamanan, kirimkan pengawal. Tapi jangan kurung saya."
Leonardo meletakkan ponselnya di meja dengan dentingan keras. Matanya berkilat. Ia tidak terbiasa dibantah, apalagi oleh wanita yang hidupnya sekarang bergantung pada uangnya. Namun, ada sesuatu tentang keteguhan Olivia yang justru memicu gairah di tubuhnya yang baru saja terbangun kembali. Ia menyukai perlawanan ini.
"Toko itu kecil, kumuh, dan tidak layak untukmu," kata Leonardo.
"Toko itu adalah hidup saya, Leonardo!"
Isabella berdehem, menengahi ketegangan di antara keduanya. "Leo, gadis ini benar. Dia butuh kesibukan. Bagaimana jika kau memindahkan operasional bunganya ke sini? Mansion ini punya rumah kaca raksasa di sayap barat yang terbengkalai sejak ayahmu meninggal. Olivia bisa mengelolanya. Dia bisa memasok semua bunga untuk acara-acara De Luca Corp dan mansion ini."
Leonardo terdiam, menimbang saran ibunya. Matanya tidak lepas dari wajah Olivia yang tampak berharap.
"Baik," ucap Leonardo akhirnya. "Kau boleh bekerja. Tapi tidak di distrik tua. Aku akan merenovasi rumah kaca itu hari ini. Semua peralatan dan bunga dari tokomu akan dipindahkan ke sini sore ini. Kau akan bekerja di bawah pengawasanku."
"Itu namanya masih mengurung saya," protes Olivia.
"Itu namanya kompromi, Olivia," potong Leonardo, bangkit dari kursinya dan melangkah mendekati Olivia. Ia membungkuk, menumpukan tangannya di meja, memenjara Olivia dengan kehadirannya. "Kau tetap bisa menyentuh tanah dan bungamu, tapi kau tetap berada di dalam jangkauan penglihatanku. Ini syarat mutlak. Terima, atau kau bisa kembali ke London dan melihat ayahmu masuk ke daftar tunggu rumah sakit umum lagi."
Olivia mengepalkan tangannya di bawah meja. Pria Spanyol ini benar-benar tahu cara menggunakan kekuasaan dengan sangat efisien dan menyebalkan.
"Baik. Saya terima," jawab Olivia pendek.
"Bagus," Leonardo menegakkan tubuhnya. "Sekarang ikut aku. Aku ingin kau melihat rumah kaca itu. Dan setelah itu, kita akan pergi ke Marbella. Ayahmu akan tiba di sana dua jam lagi."
Melihat binar bahagia yang mendadak muncul di mata biru Olivia membuat Leonardo merasakan kepuasan yang aneh. Ia menyadari bahwa ia mulai menikmati proses "menaklukkan" mawar Inggris ini. Bukan dengan paksaan kasar, tapi dengan memberikan apa yang ia butuhkan sambil memastikan tali pengikatnya tetap kencang.
Sore itu, mansion De Luca yang biasanya hanya dipenuhi aroma cerutu dan maskulinitas, mulai dipenuhi dengan tumpukan mawar, lily, dan tanah basah. Olivia mulai sibuk di rumah kaca raksasa yang berdinding kaca setinggi lima meter. Isabella membantu dengan tangan dinginnya, menunjukkan tempat-tempat terbaik untuk pencahayaan matahari.
Dari jendela ruang kerjanya, Leonardo memperhatikan Olivia yang sedang mengangkat pot-pot bunga dengan tenaga yang tidak sebanding dengan tubuh kecilnya. Ia menyulut cerutunya, merasakan gairah yang stabil dan nyata di tubuhnya.
"Kau ingin bekerja, Olivia?" gumam Leonardo pada bayangan gadis itu di balik kaca. "Bekerjalah sesukamu. Tapi pastikan kau tahu bahwa setiap mawar yang kau tanam, akulah yang memilikinya. Sama seperti aku memilikimu."
Happy reading sayang...
Baca juga cerita bebu yang lain...
Annyeong love...