NovelToon NovelToon
Jangan Sentuh Anak-anakku

Jangan Sentuh Anak-anakku

Status: sedang berlangsung
Genre:Single Mom / CEO / Balas Dendam
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: Ummu Umar

Biah merupakan seorang Single parent yang membesarkan ke-tujuh orang anak, dan diantaranya adalah anak dari adiknya sendiri yang meninggal dalam kecelakaan.

Hidupnya yang dulu bisa berada dirumah setiap hari kini harus berjuang seorang diri untuk membesarkan mereka.

Suaminya meninggal karena menolong seorang perempuan yang hendak diperkosa oleh beberapa orang, dia meninggal sehari sebelum adiknya meninggal dunia dan menitipkan kedua putranya kepadanya

Mampuka dia membesarkan mereka dengan segala himpitan ekonomi dan juga penghinaan orang-orang??

Novel terbaru kami yang penuh kisah inspiratif dan juga tangis

Silahkan dukung kami🙏🙏

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ummu Umar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 8

Keduanya hanya bisa pasrah ditarik keras oleh Revan, mereka tidak bisa melawan amarah lelaki yang begitu mereka hormati.

Sesampainya mereka disana, keduanya langsung mematung melihat rumah yang sangat besar dan luas, dengan banyaknya tanaman sayuran dan buah-buahan produktif yang ada disepanjang pekarangan rumah itu, bahkan disana berjejer 3 mobil bagus, sebuah truk, sebuah mobil panen padi dan sebuah mobil open cup dan sebuah traktor sawah yang mahal

"Ini rumah Umar?". Cicit Romi dan ibunya secara bersamaan dengan tidak percaya.

Anak yang dia hina miskin bahkan rumahnya lebih besar dari rumahnya sendiri

"Iya, kamu lihat lah didepan matamu, orang yang kamu hina miskin itu bahkan lebih kaya dari kita, hanya saja mereka tidak seperti kalian yang suka pamer dan sombong atas apa yang kalian miliki".

Keduanya langsung menunduk ,perkataan Revan menampar harga diri keduanya yang mereka puja setinggi langit tapi ternyata mereka bahkan kalah dari orang yang mereka hina

"Ingat, jangan banyak bertingkah didalam, aku tidak akan memaafkan kalian jika sampai kalian melakukannya".

Mereka bertiga masuk setelah memarkirkan mobil dihalaman sedangkan Biah tidak memperhatikan dan melanjutkan pekerjaannya.

Hari ini karyawannya sudah masuk kembali untuk mengurus kedai miliknya dan dia bisa bersantai dirumah karena anak-anak nya juga sedang libur sekolah karena hari Minggu.

"Permisi". Ucap Revan sambil mengetuk pintu rumah.

Terdengar langkah kaki mendekat kearah pintu dan disana ada pemuda tampan berusia 9 tahun yang kini membuka pintu rumah itu dan menatap tajam kearah orang yang datang.

Melihat sikap Ukasyah itu, Romi melotot tidak terima karena Ukasyah berani padanya.

"Mau ngapain kalian kemari?". Ketusnya tidak suka.

Dia tidak menyangka orang yang membully sang kakak ada dihadapannya bahkan membawa ayah dan ibunya sekaligus.

"Maaf nak, bunda kamu ada, om ingin bertemu dengan nya". Jawab Revan dengan pelan.

"Mau apa ketemu bunda saya? , jika kalian datang mencari masalah lebih baik kalian pulang saja". Ketusnya lagi.

Terdengar langkah kaki kembali membuat mereka semua menoleh kebelakang dan melihat Umar menghampiri mereka

Melihat siapa yang datang, Umar menghela nafasnya, walau dia tidak suka tapi mereka tetap tamu yang harus dihormati.

"Ajak mereka masuk dek, bunda dan ibu tidak pernah mengajarkan kita untuk tidak sopan pada tamu sekalipun kita tidak suka, silahkan masuk om dan Tante". Ucap Umar menggeser tubuh sang adik membiarkan mereka masuk kedalam rumah.

Melisa mengcengkram tangannya dengan keras, dia tidak menyangka jika anak yang dia dan anaknya hina tadi masih bisa sopan bahkan menegur adiknya agar sopan kepadanya.

Saat mereka masuk kedalam rumah Romi dan Melisa tercengang, rumah mewah dengan furniture elegant dan terkesan mewah.

"Silahkan duduk, kalian mau minum apa?". Tanya Umar dengan sopan.

Ukasyah hanya mendengus kasar tapi tidak membantah apa yang dikatakan oleh kakaknya itu.

"Terserah saja nak, boleh panggilkan bunda kamu, om ingin bertemu dengannya katakan padanya jika om Revan datang bersama keluarganya". Ucap Revan dengan lembut.

Umar mengangguk sambil tersenyum sopan kepada ketiganya.

"Dek kamu mau panggil bunda atau buat minum untuk tamu kita?". Tanyanya dengan lembut .

"Aku panggil bunda saja kak, tidak apa-apa kan?". Jawabnya pelan.

Umar tersenyum kemudian mengangguk sambil mengelus kepala sang adik

"Iya dek, kamu panggil bunda didepan yah, seperti nya bunda sedang mengambil sayuran untuk jualan besok, kakak akan kedalam buatkan minum untuk tamu kita".

Ukasyah mengangguk kemudian berjalan meninggalkan mereka tanpa kata.

"Kalau begitu saya tinggal sebentar om dan tante yah, saya buatkan minum dulu sambil menunggu bunda saya datang". Ucapnya dengan sopan.

Lagi-lagi Melisa menunduk malu, dia tidak bisa berkata-kata karena sikap Umar yang sangat sopan dan mandiri bahkan dia bisa membuatkan minum seperti ini.

"Kamu lihat, dia dan adiknya masih sopan kepada kita walau awalnya adiknya itu kesal tapi dia tidak membantah kakaknya, jika orang lain kalian akan kena semprot lagi".

Umar yang belum jauh pun akhirnya menghentikan langkahnya kemudian berbalik melihat mereka.

"Maaf om sebelumnya, kata bunda jangan pernah membandingkan anak kita dengan orang lain sekalipun saudaranya sendiri karena setiap anak itu berbeda dan punya kepribadiannya sendiri, jika seorang anak bersalah, tidak hanya anaknya yang harus intropeksi diri tapi juga orangtua, lebih baik mendiskusikan bersama dibanding hanya bisa menyalahkan". Ucapnya dengan sopan.

Melisa dan Revan menunduk dalam perkataan Umar menampar keras wajah mereka, wajah mereka memerah bukan karena marah tapi karena sangat malu.

Romi yang mendengar Umar membelanya mengangkat kepalanya dan menatap Umar yang tersenyum tipis kemudian berbalik untuk masuk ke dapur mengambil minum.

Terjadi keheningan diantara mereka, Melisa dan Revan merenung setiap kata yang keluar dari mulut Umar barusan.

"Assalamualaikum ". Sapa lembut seorang perempuan.

Biah masuk kedalam rumah dengan baju sederhana yang dipakai untuk berkebun walau sederhana terkesan sangat rapi dan bersih.

"Maaf yah, mungkin kalian menunggu lama". Ucapnya dengan pelan.

"Hai Biah". Sapa Revan begitu Biah dan Ukasyah duduk berhadapan dengan mereka.

"Hai Van, gimana kabar kamu?, bukannya kamu sedang tugas di Papua yah?". Tanyanya pelan

Revan mengangguk mengiyakan perkataan itu.

"Aku pulang setelah kamu kirim video itu, aku kesini mengajak anak dan istriku untuk meminta maaf atas kelakuan mereka padamu dan anak-anakmu". Ucap Revan dengan sendu.

Biah mengangguk tanda mengerti kemudian melirik kearah anak dan istri Revan yang menunduk, tidak ada lagi wajah angkuh dan sombong yang mereka perlihatkan kemaren.

"Aku sudah memaafkan mereka sebagai manusia tapi sebagai seorang ibu aku tidak bisa memaafkan mereka jika anak-anak belum bisa memaafkan mereka karena yang mereka sakiti adalah ketiga anakku bukan aku". Jawabnya dengan tegas dan penuh wibawa.

Melisa menatap Biah dengan tatapan yang sulit diartikan, dia sungguh malu melihat sikap tenang, dan juga anggun dari sosok yang berbeda dari yang kemaren.

"Jadi kami harus meminta maaf pada anak-anakmu?". Tanya Revan lagi.

"Benar, kemaren aku bertindak hanya sebagai seorang ibu yang anaknya disakiti begitu juga hari ini, tapi sebagai sesama manusia aku tidak punya urusan dengan anak dan istri mu, hanya anak-anak saja yang harus kalian bujuk untuk mendapatkan maaf".

"Dan aku minta maaf atas sikap dan perkataan ku yang kurang sopan, aku tetap manusia yang berjiwa seorang ibu yang anaknya dipukuli oleh orang lain, jika itu seumurannya aku tidak akan permasalahkan tapi jika lawannya tidak sebanding maka aku pasti akan turun tangan".

Revan menatap kagum sahabatnya itu, dia memang mengagumi sikap rendah hati, tegas dan penyayang perempuan itu sejak kecil.

Biah mengalihkan pandangannya kepada sang keponakan dengan tatapan teduh khas seorang ibu yang penyayang

"Nak, bunda minta tolong panggilkan kakak dan adik Ammar kesini yah, Tante dan om mau bertemu mereka, boleh?". Tanyanya dengan lembut.

"Boleh bunda, kak Umar sedang membuatkan minum, sebentar juga akan kesini, aku naik dulu panggil dek Ammar".

"Iya nak, makasih yah".

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!