Arunika hidup dengan trauma masa lalu yang membuatnya menjadi pribadi dingin dan tertutup. Setelah kehilangan kedua orang tuanya sejak kecil, ia diasuh oleh kakek dan neneknya di sebuah penginapan tua di desa wisata yang dipenuhi pohon damar. Aroma lilin dari getah damar selalu menjadi tempat ternyaman bagi Arunika, hingga kehadiran seseorang dari masa lalunya perlahan mengusik hidup yang selama ini terasa tenang. Di saat yang sama, seorang pemuda yang telah menemaninya sejak kecil masih setia berada di sisinya. Lalu, siapakah yang akhirnya akan dipilih Arunika?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon minttea_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Cahaya Temaram di Pasar Malam
Tiga hari telah berlalu sejak langit lapangan bola penuh dengan tarian layang-layang, namun sisa-sisa kegembiraannya masih terasa di sudut-sudut penginapan. Sore itu, udara membawa kabar tentang pasar malam yang mulai digelar di alun-alun kampung. Suara musik sayup-sayup terdengar, beradu dengan aroma harum jajanan yang mulai memenuhi udara.
Awalnya, mereka berencana pergi bertiga. Arkala sudah berjanji akan menjadi pemandu wisata pasar malam yang paling handal. Namun, saat senja mulai jatuh, Arkala datang dengan wajah yang dibuat-buat menyesal—meski binar di matanya berkata lain.
"Duh, Senja, Ika... sori banget nih. Gue tiba-tiba ada urusan mendadak sama pemuda kampung sebelah soal kayu buat gudang. Kayaknya gue nggak bisa ikut deh," ujar Arkala sambil menahan senyum.
Arunika mengernyit. "Loh, Kal? Kan kita sudah janji. Masa batal?"
Arkala menepuk bahu Senja dengan keras, memberikan kode yang sangat jelas. "Udah, kalian berdua aja yang pergi. Lagian kalau gue ikut, gue cuma bakal jadi nyamuk yang gangguin pemandangan, kan? Udah, Senja, jagain Ika baik-baik. Kalau pulang telat dikit nggak apa-apa, asal Ika senyum!"
Arkala kemudian melenggang pergi sambil tertawa lepas, meninggalkan Arunika yang wajahnya mulai merona merah dan Senja yang hanya bisa berdeham kikuk.
Maka, di bawah langit yang mulai bertabur bintang, Senja dan Arunika berjalan berdua menuju alun-alun. Bagi Senja, ini adalah dunia yang baru. Di Jakarta, hiburannya adalah mal megah dengan pendingin ruangan yang menusuk tulang atau restoran mewah dengan pencahayaan yang terlalu diatur.
Di sini, di hadapannya, adalah sebuah euforia pedesaan yang jujur. Lampu-lampu pasar malam yang berwarna-warni digantung seadanya, berkedip-kedip seperti ribuan kunang-kunang yang terjebak dalam kabel, menciptakan suasana yang magis sekaligus melankolis.
"Kamu sering ke sini, Ika?" tanya Senja sambil menatap komidi putar tua yang berputar perlahan dengan iringan musik statis.
"Lumayan sering, saat festival seperti ini," jawab Arunika. Ia berjalan dengan langkah ringan, tampak sangat menikmati suasana. "Pasar malam itu seperti mimpi singkat, Senja. Beberapa hari lagi, lapangan ini akan kembali sepi, tapi kenangannya tetap ada."
Senja mengangguk hikmat. Ia merasa ada kebahagiaan yang meluap dalam dirinya—sebuah perasaan bebas yang tidak bisa dibeli dengan kartu kredit mana pun. Mereka berhenti di sebuah stan permainan lempar kaleng.
"Mau coba?" tantang Senja dengan senyum nakal.
"Boleh, tapi kalau gagal jangan malu-malu ya anak kota," ledek Arunika.
Senja mengambil bola kasti, memicingkan mata dengan serius. Ia melempar dengan tenaga yang terukur—pengalaman dari berolahraga di gym ternyata berguna di sini. Kaleng-kaleng itu jatuh berantakan dalam satu kali lemparan. Sang penjaga stan pun menyerahkan sebuah boneka rajut berbentuk beruang kecil yang sangat lucu.
"Ini untukmu, Ika," ucap Senja sambil menyerahkan boneka itu.
Arunika menerimanya dengan mata berbinar-binar. "Wah! Terima kasih, Senja! lucu sekali." Ia memeluk boneka itu, dan Senja merasa kemenangan ini jauh lebih membanggakan daripada memenangkan tender besar di kantornya.
Mereka terus melangkah, memenangkan beberapa hadiah kecil lainnya seperti gantungan kunci dan gelang manik-manik yang menurut mereka sangat lucu. Hingga akhirnya, langkah mereka terhenti di sebuah stan yang sedikit lebih tenang. Stan "Melukis Indah". Di sana, tersedia kanvas-kanvas kecil dan cat air. Penjaga stan itu berkata, "Silakan, Mas, Mbak. Temanya bebas, lukislah sesuatu yang menurut kalian paling indah."
Arunika langsung mengambil kuas dengan semangat. "Ayo kita lomba, Senja. Siapa yang lukisannya paling punya arti."
Mereka duduk bersisian, dipisahkan oleh dua kanvas. Selama beberapa saat, hanya ada suara kuas yang beradu dengan wadah air. Arunika melukis dengan penuh perasaan. Ia menggambar sebuah pemandangan alam; ada siluet gunung di kejauhan, pepohonan damar yang rimbun, dan di tengahnya, ia menggambar sebuah bangunan kayu sederhana yang sangat familiar—penginapan Kakek.
"Ini adalah filosofi hidupku, Senja," jelas Arunika saat ia selesai. Ia menunjuk pada lukisannya. "Gunung dan alam ini adalah akar, tempat kita berasal. Dan penginapan ini adalah pelabuhan. Sejauh apa pun kita pergi, kita butuh tempat untuk pulang, tempat di mana kita merasa aman dan dicintai."
Senja mengangguk dengan hikmat, menatap lukisan itu dengan penuh arti. "Filosofi yang sangat cantik, Ika. Kamu benar-benar memahami makna rumah."
"Sekarang giliranmu, Senja. Mana lukisanmu?" tanya Arunika penasaran.
Senja sedikit ragu, namun ia memutar kanvasnya. Arunika seketika terdiam. Matanya membelalak. Di atas kanvas Senja, tidak ada pemandangan gunung atau bangunan. Di sana, terdapat sebuah lukisan seorang gadis—itu adalah Arunika.
Senja melukis Arunika yang sedang tersenyum di bawah lampu-lampu pasar malam, dengan detail binar mata yang begitu hidup. Lukisan itu sangat bagus, jauh melampaui ekspektasi Arunika terhadap seorang pengusaha.
"Senja... ini... maksudnya apa?" tanya Arunika dengan suara yang nyaris berbisik.
Senja menatap Arunika, lalu beralih ke lukisannya. Ia tersenyum, sebuah senyuman yang sangat dalam dan tulus. "Tadi penjaganya bilang, lukislah sesuatu yang menurut kita paling indah. Dan saat aku menutup mata untuk mencari inspirasi, aku tidak melihat gunung atau gedung tinggi. Aku melihatmu, Ika. Kamu, di bawah lampu pasar malam ini, adalah hal terindah yang pernah aku temukan."
Senja melanjutkan filosofinya, "Bagiku, keindahan bukan pada tempat, tapi pada jiwa yang membuat tempat itu terasa hidup. Kamu adalah jiwa dari kedamaian yang aku cari selama ini."
Arunika terpaku. Rasa hangat yang luar biasa menjalar dari ujung kaki hingga ke kepalanya. Ia merasa jantungnya berdegup begitu kencang, seolah-olah musik pasar malam di sekeliling mereka menghilang, menyisakan keheningan yang intim di antara mereka berdua. Ia menatap lukisan itu, lalu menatap Senja.
"Terima kasih, Senja... Aku tidak tahu harus bicara apa," ucap Arunika sambil menunduk, mencoba menyembunyikan pipinya yang sudah merah padam.
Senja meraih tangan Arunika dengan lembut. Di tengah pendar lampu pasar malam yang temaram, di antara hiruk pikuk suara orang-orang yang bergembira, mereka berdiri semakin dekat. Senja merasa bahwa pasar malam ini bukan sekadar tempat hiburan, tapi sebuah saksi bahwa hatinya telah benar-benar menetap.
"Kita simpan lukisan ini ya? Sebagai pengingat malam ini," bisik Senja.
Arunika mengangguk pelan. Mereka pun meninggalkan stan tersebut, berjalan beriringan dengan tangan yang sesekali bersentuhan. Lampu-lampu pasar malam di atas mereka seolah-olah ikut tersenyum, memberikan restu pada dua hati yang baru saja menyadari bahwa keindahan tidak perlu dicari jauh-jauh. Ia ada di samping mereka, dalam wujud kesederhanaan dan ketulusan yang saling berbagi.
Malam semakin larut, namun langkah mereka terasa ringan. Senja menyadari bahwa hidup di kota mungkin memberinya kemewahan, namun hidup di sini, bersama Arunika dan segala kesederhanaan pasar malam ini, memberinya sesuatu yang jauh lebih berharga: sebuah alasan untuk terus tersenyum dan merasa dicintai setiap harinya.