Katarina terjebak dalam raga seorang gadis malang yang tinggal di panti asuhan, Karina Putri.
Namun sebuah takdir mempertemukannya dengan seorang wanita kaya raya yang tiba-tiba mengangkat Karina sebagai putri angkatnya.
Tetapi bukan itu masalahnya, melainkan tiga kakak angkat Karina yang ternyata adalah tokoh utama dalam novel yang pernah dibacanya. Lalu takdir ketiga kakak angkatnya tidaklah baik, mereka akan mati ditangan tokoh utama wanita.
Namun, Karina tidak akan membiarkan hal itu terjadi, ia akan mengubah takdir ketiga kakak angkatnya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MTMH18, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 04
Karena terbiasa bangun pagi, jadi Karina adalah orang yang pertama bangun di Mansion Adhitama. Di luar masih gelap, karena matahari belum menunjukkan tanda-tanda untuk muncul.
Sedangkan Karina sudah berada di dapur untuk membuat teh hangat dan nasi goreng, karena perutnya terasa lapar dan sekalian ia akan membawa bekal nasi goreng di hari pertamanya bersekolah.
“Ngapain di dapur?” Suara berat seseorang mengejutkannya.
“Sshh panas!” Karina merintih pelan, saat tangannya terkena air panas yang hendak ia tuangkan ke dalam gelas.
Orang yang mengagetkan Karina langsung berdecak kesal dan menarik kasar tangan gadis itu untuk dibawa ke wastafel.
Rasa panas yang Karina rasakan, kini digantikan oleh rasa dingin dari air yang mengalir dari wastafel.
“Kalau butuh sesuatu, bisa panggil pelayan!” Bisik Jevan yang saat ini berada tepat di belakang tubuh adik angkatnya itu.
Pria itu merasa sedikit bersalah, karena sudah membuat tangan Karina terkena air panas. Meskipun gadis itu terlalu berlebihan kagetnya.
“A-aku cuma mau buat teh sama nasi goreng, maaf aku gunain dapur tanpa izin,” Karina merasa tidak nyaman, karena telah membuat kakak ketiganya marah.
Jevan memang begini tampilannya, terlihat garang kalau bukan di hadapan kamera. Namun aslinya, pria itu hanya tidak terlalu memedulikan sekitar yang menurutnya tidak begitu penting.
“Tunggu di sini!” Jevan keluar dari dapur untuk mengambilkan obat oles agar bekas air panasnya tidak terlihat di tangan sang adik.
“Kayaknya Kak Jevan tidak semenakutkan itu,” gumam Karina sambil menatap tangannya yang masih basah.
Dan tak lama kemudian, Jevan kembali ke dapur untuk mengoleskan obat di tangan Karina. Suasana yang sunyi, membuat pria itu bisa mendengar suara detak jantung adik angkatnya.
“Sudah selesai, lain kali jangan ceroboh!” Jevan menaikkan pandangannya dan mata mereka bertemu.
Untuk beberapa saat, pria itu terpaku pada mata cantik yang terlihat membulat lucu itu. Namun, Jevan sangat pintar menjaga ekspresinya… karena profesinya sebagai aktor yang sudah membintangi banyak sekali film layar lebar.
“Kakak mau dibuatin apa? Teh atau kopi?” Tanya Karina yang mencoba mengusir kecanggungan diantara mereka.
Karina baru ingat kalau Jevan tidak memiliki kekasih atau tunangan, karena pria itu terlalu sibuk dengan pekerjaannya. Namun Jevan ikut mengalami kejadian tragis, karena ulah tokoh utama wanita yang merupakan calon istri kedua kakak kembarnya.
“Kopi!” Jevan sudah duduk di kursi pantry yang kembali sibuk dengan ponselnya untuk melihat pesan dari manajernya.
Jevan memang bangun pagi, karena lokasi syutingnya cukup jauh dan ia tidak mau menginap di hotel. Jadi, Jevan akan berangkat sangat pagi agar sampai di lokasi syuting tepat waktu.
“Ini kopinya!” Karina menaruh secangkir kopi panas di atas meja pantry.
Jevan meliriknya sekilas, sebelum kembali fokus dengan ponselnya. Sedangkan Karina kembali sibuk dengan nasi gorengnya, karena perutnya sudah sangat lapar.
“Masak apa?” Tanya Jevan yang tidak tahan menghirup aroma lezat dari nasi goreng buatan adik angkatnya.
“Nasi goreng, Kak Jevan mau?” Tanya Karina yang hanya berbasa-basi menawarkan nasi goreng buatannya.
“Hm.”
Gadis itu menoleh ke arah kakak keduanya yang baru saja menjawab dengan dehaman saja, Karina tidak mengerti maksudnya… tetapi gadis itu mengambil satu piring lagi, takut Jevan meminta nasi goreng buatannya.
“Ngapain pegang kotak itu?” Tanya Jevan yang tidak sengaja melihat adiknya memegang kotak bekal milik Joshua.
“Aku mau bawa bekal ke sekolah,” jawab Karina dengan tampang polosnya.
Jevan menahan kedutan di sudut bibirnya, ia baru menyadari kalau adik angkatnya masih begitu polos.
“Di sana dapat makan, jadi tidak perlu membawa apa-apa.” Jelas pria itu yang membuat mulut Karina membentuk huruf O.
Hampir saja gadis itu membagi dua nasi goreng di piringnya untuk dijadikan bekal, karena di piring yang satunya sudah dimakan oleh Jevan dan pria itu makan dengan begitu lahap.
“Gimana rasa nasi goreng buatanku?” Tanya Karina yang begitu penasaran dengan jawaban kakak ketiganya.
“Lumayan,” jawab Jevan.
Karina menahan senyumannya, karena ia merasa kalau kakak keduanya tidak mau jujur. Padahal Jevan makan begitu lahap, tetapi pria itu masih terlalu gengsi untuk mengatakan kejujurannya.
“Kalau kamu tidak sibuk, nanti malam masakin nasi goreng lagi. Kebetulan Kakak nanti pulangnya agak malam, jadi semua orang pasti sudah tidur. Kakak tidak memaksamu, hanya saja kalau kamu tidak sibuk.”
Setelah mengatakan itu, Jevan berlalu pergi dari dapur untuk bersiap-siap. Namun beberapa saat kemudian, pria itu kembali ke dapur dan menghabiskan sisa kopi yang membuat kedua matanya terasa semakin segar.
“Buatin kopi dan taruh di sini! Kakak malas berhenti di Cafe untuk membeli kopi!” Jevan menyerahkan sebuah botol yang biasa dibawa olehnya ke lokasi syuting.
“Apa susahnya bilang minta tolong?” Karina menggelengkan kepalanya, menatap punggung kakak ketiganya yang semakin menjauh.
Namun gadis itu merasa senang, karena apa yang terjadi barusan akan membuatnya bisa semakin dekat dengan kakak ketiganya itu.
Karina memang sudah memiliki sebuah rencana, di mana ia akan mengubah takdir tragis ketiga kakak angkatnya. Namun sebelum itu, dirinya harus bisa dekat dengan mereka agar misinya lebih mudah untuk dijalankan.
“Karina?” Kaget Lesa yang baru memasuki dapur.
Karina menoleh dan menghampiri mama angkatnya. “Selamat pagi Mama,” sapanya dengan senyuman yang begitu cerah.
Lesa ikut tersenyum, ia mengecup pipi putri angkatnya dengan penuh kasih sayang. “Ngapain di dapur? Kamu membutuhkan sesuatu?” Tanyanya sambil mengusap puncak kepala Karina.
“Aku memang terbiasa bangun pagi, terus kebetulan aku lapar dan buat nasi goreng tadi. Maaf aku pakai dapur tanpa seizin Mama,” jawab Karina dengan senyuman tidak enaknya.
Lesa terkekeh pelan, “Tidak apa-apa, Sayang. Kamu bebas menggunakan dapur sesuka hatimu, Mansion ini adalah tempat tinggalmu juga.”
Karina merasa lega mendengar jawaban tersebut, ia takut Lesa akan marah atas kelancangannya.
“Ini botol milik Jevan ‘kan?” Lesa menatap heran botol berwarna hitam yang tiba-tiba ada di dapur, karena biasanya ada di dalam lemari khusus yang berisi barang pribadi Jevan.
“Kak Jevan minta dibuatin kopi buat dibawa ke lokasi syuting,” jelas Karina yang membuat senyuman Lesa semakin merekah.
“Syukurlah, kalian semakin dekat,” senangnya sambil memeluk Karina.
“Mama sangat percaya kalau ketiga kakakmu itu tidak lama lagi akan sangat menyayangimu!” Lesa mencubit pelan hidung mancung putri angkatnya.
Kehadiran Karina benar-benar membuat suasana Mansion terasa lebih hangat. Lesa sangat bersyukur, karena dipertemukan dengan gadis ceria seperti Karina yang mau menjadi putri angkatnya.
“Nanti Mama yang akan mengantarmu ke sekolah baru, lalu nanti pulangnya Mama yang jemput… sekalian kita belanja baju-baju yang bagus untukmu!”
Bersambung!
semangat thor 💪💪