Aulia dipaksa ayah & ibu tirinya dijual ke Alexandra, mafia kejam seharga 1 miliar. Terperangkap di dunia gelap sang penguasa, bisakah cinta tumbuh di tengah rantai, bahaya, dan obsesi gila itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ana L., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Transaksi Berdarah
Suara ketukan pintu yang berat, berirama, dan mengerikan menggema di seluruh sudut rumah sempit itu. Bukan ketukan orang biasa. Itu adalah suara panggilan maut. Detak jantung Aulia berdegup kencang, nyaris meledak dari rongga dadanya. Ia duduk bersandar di sudut ruangan, tubuhnya dibalut pakaian paling sederhana, sementara tangannya mencengkeram ujung rok dengan kuat. Di hadapannya, Pak Herman, Ratna, Lala, dan Johan berdiri dengan wajah pucat namun bersinar penuh harapan harapan yang dibangun di atas penderitaan gadis itu.
“Mereka datang…” bisik Pak Herman, suaranya bergetar namun matanya berbinar serakah. “Ini saatnya, Aulia. Ingat, ini demi keselamatan kita semua. Jangan malu-malu, bersikaplah sopan. Kamu milik mereka sekarang.”
Kalimat dingin itu menusuk hati Aulia lebih tajam dari pisau. Ayahnya tidak datang untuk melindungi, melainkan bersiap menyerahkan barang dagangan. Dengan tangan gemetar, Pak Herman membuka pintu kayu itu perlahan.
Di sana, di ambang pintu yang terbuka, berdiri sosok yang selama tiga bulan ini menjadi mimpi buruk sekaligus bayangan tak terhapuskan dalam benak Aulia.
Alexandra Surya.
Pria itu berdiri tegak, mendominasi seluruh ruang depan dengan aura kekuasaannya. Jas hitamnya yang sempurna menempel di tubuh atletisnya, rambut hitamnya disisir rapi ke belakang, menampakkan garis wajah tegas dan tajam yang dingin tanpa emosi. Di belakangnya, Brian dan dua pengawal kekar lainnya berdiri diam bagai patung batu, tangan mereka bersilang di dada, siap merobek siapa pun yang berani melawan perintah tuannya.
Udara di dalam rumah seketika berubah berat, sulit untuk dihirup. Kehadiran Alex membuat suhu ruangan terasa turun drastis, dingin menusuk tulang.
“Selamat sore, Pak Herman,” suara berat Alex terdengar rendah, penuh penekanan, namun tidak ada nada ramah sedikitpun. Ia tidak masuk ke dalam, hanya berdiri diam di ambang pintu, menatap keluarga itu seolah sedang menatap serangga. “Jam menunjukkan pukul 18.00 lewat satu menit. Tenggat waktu habis. Kau punya uang 1,6 Miliar?”
Pertanyaan itu sederhana, namun ancaman maut terselip di baliknya. Tubuh Pak Herman gemetar hebat, keringat dingin membanjiri dahinya. Ia menelan ludah kasar, lalu menundukkan kepala dalam-dalam, tak berani menatap manik mata elang sang Raja Mafia.
“Tu… Tuan Surya… Saya… saya…” Pak Herman terdengar terbata-bata, lalu tiba-tiba ia berbalik dan menarik kasar lengan Aulia, menyeret gadis itu berdiri tepat di hadapan Alex. “Saya tidak punya uang tunai, Tuan! Tapi saya membawa jaminannya! Sesuai perjanjian! Ini Aulia! Dia milik Tuan sepenuhnya! Bayarannya lunas! Semua utang saya, bunga dan pokok, ganti dengan dia!”
Ratna, Lala, dan Johan langsung mengangguk cepat-cekatan di belakangnya, wajah mereka lega luar biasa seolah baru saja lolos dari kematian. “Benar, Tuan! Ambil saja dia! Dia milik Tuan sekarang! Kita sudah selesai, kan?!” seru Ratna dengan nada memohon sekaligus melempar.
Dunia Aulia seakan runtuh seketika. Kakinya lemas, matanya memanas, namun air matanya menolak jatuh. Ia menatap ayahnya, menatap ibu tirinya, menatap saudara tirinya orang-orang yang disebut keluarga yang kini dengan mudahnya melemparnya ke mulut buas hanya demi menyelamatkan kulit mereka sendiri. Pengkhianatan ini jauh lebih sakit daripada apa pun yang pernah ia rasakan.
Alexandra tidak langsung menjawab. Ia diam, menatap gadis kecil di hadapannya dari ujung kaki hingga ujung kepala. Tatapan itu teliti, menelanjangi, dan membuat Aulia merasa sangat kecil, sangat rapuh, dan sangat… dimiliki. Di dalam mata hitam itu, tidak ada belas kasihan. Hanya ada hasrat kepemilikan yang pekat, kegelapan yang dalam, dan kemenangan yang dingin.
Alex melangkah satu langkah masuk ke dalam rumah. Langkah kakinya tenang, namun membuat seluruh penghuni rumah menahan napas. Ia berhenti tepat di depan Aulia, jarak wajah mereka hanya beberapa sentimeter. Aroma parfum mahal bercampur bau tembakau dan sesuatu yang liar bau khas Alexandra Surya memasuki hidung Aulia, membuatnya pusing sekaligus terhipnotis.
Alex mengangkat tangan kanannya yang besar, jari-jarinya yang kasar namun halus perlahan menyentuh dagu Aulia, mengangkat wajah gadis itu paksa agar menatap lurus ke manik matanya. Aulia gemetar hebat, ingin menepis, ingin lari, namun tubuhnya kaku, lumpuh di bawah dominasi pria itu.
“Jadi…” gumam Alex pelan, suaranya bergetar tepat di depan bibir Aulia, “Mereka menjualmu padaku seharga 1 Miliar Rupiah… demi menyelamatkan diri mereka sendiri.”
Kalimat itu bukan pertanyaan, melainkan pernyataan fakta yang tajam dan menyakitkan. Aulia hanya bisa menatapnya dengan mata berkaca-kaca, bibirnya gemetar tak sanggup bersuara.
Alex menoleh perlahan ke arah Pak Herman yang masih menunduk ketakutan. Senyum tipis, mengerikan, dan penuh sarkasme terukir di bibir Alex. Ia melepaskan dagu Aulia, lalu mengeluarkan sebuah buku cek tebal dari saku jasnya. Dengan santai, ia menulis angka besar di atas kertas itu sangat besar lalu merobeknya dan melemparnya ke wajah Pak Herman.
Kertas cek itu melayang jatuh di lantai kotor, tepat di depan kaki ayah kandungnya sendiri.
“Baiklah. Transaksi selesai,” ucap Alex dingin, tegas, dan mutlak. “Ini cek senilai 1 Miliar Rupiah. Ambil. Itu uang tambahan sebagai tanda terima kasih karena telah menyerahkan barang yang paling aku inginkan.”
Mata Pak Herman, Ratna, dan yang lainnya seketika membelalak lebar, nyaris copot dari tempatnya. 1 Miliar lagi?! Mereka tidak hanya terbebas dari utang maut, tapi malah dapat uang tunai sebesar itu?! Rasa bersalah yang sedikit pun tersisa di hati mereka lenyap seketika, digantikan oleh keserakahan murni. Pak Herman langsung menjatuhkan diri berlutut, menyambar kertas itu dengan tangan gemetar, memeriksanya berulang kali untuk memastikan itu asli.
“Ter… terima kasih, Tuan! Terima kasih banyak!! Tuan memang dermawan!!” seru Pak Herman penuh sukacita, mencium kertas cek itu seolah itu benda paling suci. “Aulia sepenuhnya milik Tuan! Kami melepaskan hak apa pun atas dirinya! Selamanya!”
Alex tertawa kecil, suara rendah yang penuh penghinaan. Ia kembali menatap Aulia, lalu tanpa peringatan, tangan kekarnya mencengkeram pergelangan tangan gadis itu dengan kuat namun tidak menyakitkan, menariknya mendekap tubuhnya sendiri.
“Dengar baik-baik, sampah-sampah tak berguna,” ucap Alex dengan nada mengancam, dingin, dan berbahaya, suaranya bergema kuat di ruangan sempit itu. “Mulai detik ini, Aulia Permata bukan lagi anakmu, bukan lagi anggota keluargamu, dan bukan lagi urusanmu. Dia adalah milikku. Asetku. Barangku. Harta paling berharga dalam daftar pribadiku.”
Alex menatap mereka satu per satu, aura pembunuhnya meledak bebas, membuat mereka semua gemetar ketakutan hingga ingin buang air kecil.
“Jika kalian berani menemuinya, menyebut namanya, atau sekadar menatapnya dari kejauhan… Aku pastikan, kalian akan merasakan neraka di bumi sebelum aku mengirim kalian ke neraka sesungguhnya. Aku akan merobek kulit kalian, mematahkan setiap tulang di tubuh kalian, dan memberi makan sisa tubuh kalian ke ikan hiu di tengah laut. Kalian paham?”
“Paham!! Sangat paham, Tuan!! Kami tidak akan pernah mendekatinya lagi!!” seru Pak Herman dan Ratna serentak, kepala mereka mengangguk cepat tak ubahnya boneka rusak. Mereka sibuk menyembunyikan cek itu, sibuk menyelamatkan diri sendiri, sama sekali tidak peduli saat Aulia menatap mereka dengan tatapan memohon, tatapan terakhir seorang anak pada keluarganya.
Namun tak ada satu pun yang menoleh. Mereka sudah mati bagi Aulia, dan Aulia sudah mati bagi mereka.
Alex tidak membuang waktu lagi. Ia langsung menarik tubuh kecil Aulia mendekat, memeluk bahu gadis itu erat seolah menandai wilayah kekuasaannya sendiri, lalu memimpinnya keluar dari rumah itu, menjauh dari masa lalunya yang penuh luka. Brian dan pengawal lainnya berjalan di belakang, menutup pintu dengan keras, mengubur masa lalu Aulia selamanya.
Di dalam mobil mewah hitam yang melaju kencang meninggalkan kawasan kumuh itu, suasana hening dan tegang. Aulia duduk di sudut kursi, tubuhnya gemetar, matanya menatap keluar jendela melihat rumah masa kecilnya perlahan menghilang dari pandangan. Air mata yang sejak tadi ditahannya akhirnya jatuh juga, mengalir deras membasahi pipi. Ia menangis bukan karena takut mati, tapi karena sakit—sakit dikhianati, sakit dibuang, sakit dijual murah oleh orang yang seharusnya melindunginya.
Tiba-tiba, sebuah sapuan halus terasa di pipinya. Alex mengusap air mata itu dengan ibu jarinya, gerakannya lembut namun matanya tetap dingin, tajam, dan penuh obsesi.
“Jangan menangis karena mereka, Sayang,” bisik Alex rendah, suaranya bergetar di telinga Aulia. “Mereka tidak layak melihat air matamu. Mulai sekarang, kamu hidup untukku, bernapas untukku, dan ada di dunia ini… hanya untukku. Aku yang membelimu 1 Miliar, dan aku akan pastikan… harga itu akan kamu bayar lunas dengan cara yang jauh berbeda.”
Aulia menatap pria di sampingnya itu. Di balik wajah kejam dan dingin itu, ada sesuatu yang gelap, liar, dan tak terkendali yang kini telah mengikat hidupnya. Ia tidak tahu ke mana Alex akan membawanya, ia tidak tahu nasib apa yang menantinya.