Saskia Mahendra adalah dokter hewan brilian yang mati kelelahan di laboratorium. Kini ia terbangun sebagai Saskia Utami, 20 tahun, terlilit utang koperasi, dikepung Bibi dan Paman serakah yang siap merampas tanahnya.
Namun, ia membawa sesuatu dari alam kematian: Air Suci. Warisan jiwa yang bisa menyembuhkan ternak dan memicu pertumbuhan ajaib. Setiap tetes bisa mengubah sapi kurus jadi Wagyu bernilai fantastis, tapi setiap tetesnya juga menguras nyawanya sendiri. Harga yang harus ia bayar diam-diam.
Ketika hasil peternakannya menembus standar daging termahal Indonesia, CEO agribisnis raksasa datang membawa kontrak, dan bahaya. Daniel Hardjono. Jenius, arogan, dan terlalu berbahaya untuk dipercaya. Di antara klausul kontrak berdarah dan ciuman yang tak direncanakan, Saskia harus menghadapi ancaman yang lebih ganas dari preman desa, mata-mata korporat internasional yang tahu ada rahasia di kandangnya, dan akan membunuh untuk mendapatkannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon INeeTha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
27. Menyembunyikan Kejahatan
Malam ini begitu pekat, seolah-olah bulan sengaja bersembunyi untuk menyembunyikan kejahatan.
Saskia berdiri di depan kandang, menatap langit. Awan tebal menutupi semua bintang. Bahkan lampu jalan desa yang biasanya menyala remang-remang di kejauhan, malam ini mati. Mungkin gangguan listrik lagi. Mungkin bukan.
Di belakangnya, Dara melenguh gelisah. Sapi Wagyu hitam itu berjalan mondar-mandir di kandangnya, ekornya mengibas-ngibas tidak tenang. Tiga sapi lainnya juga tidak tidur. Mereka berdiri dengan telinga tegak, seolah mendengar sesuatu yang tidak bisa didengar telinga manusia.
"Kalian juga merasa, ya?" bisik Saskia.
Ia tidak tahu apa yang dirasakan. Tapi nalurinya, naluri yang sudah terasah selama dua belas tahun menjadi dokter hewan, berdering keras malam ini. Sama seperti dulu, sebelum sapi PO betina mati. Sama seperti dulu, sebelum listrik mati dan WF-007 mati.
Ada sesuatu yang tidak beres.
Saskia berjalan ke monitor CCTV. Empat panel menampilkan sudut-sudut kandang. Panel satu: depan kandang, satpam baru berdiri dengan senter, terjaga. Panel dua: samping kandang, kosong. Panel tiga: belakang kandang, pohon besar, bayangan gelap. Panel empat: sumur.
Semuanya normal.
Tapi Saskia tidak percaya.
"Aku sudah lihat ini sebelumnya," gumamnya. "Normal. Semuanya normal. Sampai tidak normal lagi."
Ia mengambil jaket lusuhnya, memakainya, dan berjalan keluar. Satpam di depan menoleh.
"Mbak Saskia? Belum tidur?"
"Belum. Sapinya gelisah."
"Mau saya bantu?"
"Tidak usah. Jaga depan saja. Jangan sampai lengah."
"Baik, Mbak."
Saskia berjalan ke belakang kandang. Senter kecil di tangannya menyapu jalan setapak yang mulai ditumbuhi rumput liar. Di sebelah kirinya, pohon besar berdiri sunyi. Tempat yang sama di mana ia biasanya masuk ke ruang spasial. Tempat yang tidak terjangkau CCTV.
Ia berhenti.
Di bawah pohon itu, rumputnya terinjak. Bukan oleh kakinya. Jejak ini baru. Sangat baru. Mungkin beberapa jam yang lalu.
Seseorang sudah berdiri di sini.
Saskia menyenter ke sekeliling. Tidak ada siapa-siapa. Tapi jejak itu jelas: dua pasang kaki, mengarah ke sumur.
Jantungnya berdetak lebih cepat.
Ia berjalan ke sumur. Senter menyorot bibir sumur, lalu ke bawah, ke permukaan air yang tenang. Tidak ada yang aneh. Airnya jernih seperti biasa.
Tapi instingnya belum berhenti berdering.
Saskia kembali ke kandang. Dara masih gelisah. Tiga sapi lainnya masih berdiri dengan telinga tegak. Di sudut kandang, ia melihat sesuatu yang membuatnya berhenti.
Palung minum Dara. Masih penuh.
Sapi Wagyu yang biasanya minum banyak, malam ini belum menyentuh airnya.
Saskia menatap palung itu. Lalu menatap Dara. Lalu menatap tiga palung lainnya. Semuanya penuh.
"Kalian tidak minum," bisiknya. "Kenapa?"
Dara menatapnya dengan mata besar. Matanya berkata: sesuatu salah dengan air itu.
Saskia berlutut di samping palung Dara. Jemarinya menciduk sedikit air, mendekatkannya ke hidung. Tidak ada bau. Tapi bukan berarti aman. Potasium sianida tidak berbau. Tidak berwarna. Tidak berasa. Hanya butuh beberapa tetes untuk membunuh sapi seberat lima ratus kilogram dalam hitungan menit.
"Satpam!"
Satpam itu berlari masuk. "Ya, Mbak?"
"Siapa yang jaga tadi sore? Sebelum giliran Anda?"
"Pak Budi, Mbak. Tadi sore dia ke sini. Sama Pak Daniel."
"Daniel ke sini?"
"Iya. Tapi cuma sebentar. Mereka pergi lagi jam delapan malam."
Saskia mengangguk. Daniel dan Budi. Itu normal. Tapi siapa yang datang setelah mereka pergi?
"CCTV panel tiga. Area belakang. Ada yang terekam?"
Satpam itu menggeleng. "Saya cek tadi. Kosong, Mbak."
"Kosong dari jam berapa?"
"Dari jam delapan. Sampai sekarang."
Saskia menatap layar monitor. Panel tiga menampilkan pohon besar dan jalan setapak ke sumur. Kosong. Tidak ada yang lewat. Tidak ada yang bergerak.
Tapi jejak kaki di bawah pohon itu nyata. Dan sapi-sapinya tahu ada yang salah dengan air.
"Reza," bisik Saskia. "Atau Paijo. Atau keduanya."
Ia tidak punya bukti. Tapi instingnya sudah cukup.
"Pak Satpam. Mulai sekarang, jangan ada yang keluar masuk kandang tanpa izin saya. Siapa pun. Termasuk Pak Daniel. Sampai saya periksa semua airnya besok pagi."
"Baik, Mbak."
Saskia duduk di kursi dekat monitor. Matanya tidak lepas dari empat panel CCTV. Tangannya menggenggam ponsel, siap menelepon Budi kalau ada apa-apa.
Di luar, malam semakin pekat.
Di rumah Bibi Laras, dua bayangan bergerak keluar dari pintu belakang. Tidak menyalakan senter. Tidak bicara. Hanya langkah kaki yang terlatih, ringan di atas tanah.
Paman Harto dan Paijo.
Mereka berjalan menyusuri jalan setapak di belakang desa, menghindari jalan utama yang mungkin masih dilewati orang. Melewati kebun pisang. Melewati parit kecil. Mendekati kandang dari arah yang paling gelap.
"CCTV-nya?" bisik Paijo.
"Di panel tiga. Tapi ada blind spot. Di balik pohon besar. Aku sudah lihat sendiri. Kameranya nggak bisa menjangkau sudut itu."
"Sumurnya?"
"Di belakang pohon. Masuk dari samping. Satpamnya cuma satu. Di depan."
Paijo mengangguk. Tangannya merogoh saku, mengeluarkan botol kaca kecil. Cairan transparan di dalamnya berkilat samar oleh pantulan cahaya bintang yang tersisa.
"Begitu sampai sumur, langsung tuang. Jangan banyak-banyak. Lima tetes cukup buat semua sapi."
"Lo yakin?"
"Udah biasa, Bos."
Mereka melanjutkan langkah. Semakin dekat ke pagar belakang kandang. Pagar bambu yang sama yang kemarin hampir roboh didorong warga. Sekarang sepi. Tidak ada yang menduga.
Paman Harto berhenti di balik pohon besar. "Itu sumurnya. Cepet. Sebelum satpamnya muter."
Paijo melompati pagar bambu dengan gesit. Gerakannya seperti kucing. Tanpa suara. Ia mendarat di balik pohon, tepat di blind spot CCTV. Satu langkah. Dua langkah. Tiga langkah.
Ia sudah di depan sumur.
Tangannya membuka tutup botol. Jemarinya menurunkan botol ke mulut sumur.