Ren, seorang pemuda yang hidupnya hancur di dunia modern, terbangun di dunia yang ia kenal hanya melalui layar kaca—dunia Shinobi yang penuh dengan darah, air mata, dan pengkhianatan.
Tepat saat ia lahir di tengah kekacauan serangan Kyuubi, Ren menyadari bahwa ia tidak memiliki garis keturunan klan hebat, tidak memiliki chakra yang melimpah, dan hanya dianggap sebagai sampah oleh dunia.
Namun, tepat saat ia menginjak usia 6 tahun, sebuah layar transparan muncul di depannya: [Selamat datang, Ren. Sistem Evolusi Shinobi telah aktif.]
Dengan pengetahuan tentang masa depan yang pahit dan sistem yang memungkinkan segalanya, Ren bersumpah untuk mengubah nasib. Dari seorang anak yatim piatu yang diabaikan, ia akan bangkit, melampaui para Hokage, hingga menantang para dewa yang bermain-main dengan takdir dunia ini.
Bukan sebagai pahlawan, bukan pula sebagai penjahat. Dia adalah Faktor X yang akan mengubah dunia Shinobi selamanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Barr, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Uji Ketahanan Fisik
Hutan latihan yang terletak di perimeter belakang Akademi Ninja Konoha pagi itu diselimuti kabut tipis yang lembap. Aroma lumut, kulit pohon basah, dan tanah humus menguar pekat, menciptakan atmosfer liar yang kontras dengan dinding-dinding kayu ruang kelas. Kurikulum hari itu berpindah ke alam terbuka. Wali kelas mereka, Iruka Umino, berdiri di sebuah tanjakan tanah di depan pepohonan lebat, menghadap tiga puluh murid Kelas 1-A yang berbaris dengan tingkat antusiasme yang berbeda.
"Hari ini adalah simulasi pelacakan dasar sekaligus pengujian ketahanan fisik (endurance)," ujar Iruka lantang, menunjuk ke arah jalan setapak berbatu yang membelah kegelapan hutan. "Aturannya sederhana. Kalian diwajibkan berlari melintasi rute hutan sejauh 3 kilometer yang telah diberi tanda. Di sepanjang jalur, ada beberapa jebakan tiruan dan rintangan alam. Ukur stamina kalian, tetap waspada, dan capai garis finis di ujung lembah!"
Ren berdiri di barisan tengah, menyandarkan bahunya secara santai pada sebatang pohon pinus. Di balik poni rambutnya yang acak-acakan, matanya tidak melihat hutan ini sebagai tempat latihan, melainkan sebagai sebuah labirin taktis dengan unsur fisik dan aroma yang kompleks. Dia tahu bahwa latihan luar ruangan seperti ini adalah panggung berbahaya bagi penyamarannya. Hutan bukan hanya menguji otot, tetapi juga melepaskan jejak biologis tubuh—seperti keringat, aroma, dan riak energi—yang bisa dengan mudah ditangkap oleh para ninja sensor alami desa.
Begitu peluit Iruka berbunyi memecah keheningan, puluhan murid langsung melesat maju, menciptakan suara derap langkah kaki yang berisik di atas permukaan tanah yang basah. Ren dengan sengaja menahan hentakan kakinya, membiarkan dirinya terserap ke dalam kerumunan murid dan mengambil posisi di barisan tengah yang aman dari perhatian.
Baru memasuki kilometer pertama, medan hutan yang rapat langsung memberikan panggung besar bagi dua klan pelacak elit Konoha. Di barisan depan, Kiba Inuzuka memimpin dengan tawa sombong, diikuti oleh Akamaru—anak anjing putih yang duduk di atas kepalanya sambil menyalak nyaring. Kiba memanfaatkan indra penciumannya yang super-sensitif untuk mendeteksi jebakan tiruan dan rute terbaik sebelum instruktur Chūnin sempat mengejutkannya.
Ren yang berlari sekitar sepuluh meter di belakang Kiba segera menyadari ancaman tersembunyi tersebut. Angin hutan berembus ke arah depan, membawa aliran udara dari barisan belakang langsung menuju hidung klan Inuzuka. Jika Kiba menangkap aroma aneh dari tubuh Ren, penyamarannya bisa terancam.
Tanpa menunda, Ren mengaktifkan perintah internal di dalam batinnya.
[Mengaktifkan Modul: 'Chemical Camouflage' (Kamuflase Kimiawi)]
[Memproses Penekanan Kelenjar Keringat... Menghentikan Produksi Aroma Tubuh]
[Menyelaraskan Bau Keringat dengan Aroma Alami Tanah Hutan: Sukses]
Seketika itu juga, perubahan fisik terjadi secara senyap di dalam pori-pori kulit Ren. Sistem menekan pembentukan kelenjar keringat dan bau asam yang biasa diproduksi tubuh saat beraktivitas berat. Aroma tubuh Ren sepenuhnya dihilangkan dan diubah secara kimiawi agar menyatu dengan bau tanah basah serta pembusukan alami dedaunan hutan. Akamaru yang sempat menoleh ke belakang sekilas langsung memalingkan hidungnya kembali; bagi indra penciuman klan Inuzuka, Ren hanyalah seonggok batu berlumut yang bergerak pasif.
Namun, tantangan sesungguhnya muncul di kilometer kedua, ketika jalur menyempit dan memaksa Ren berlari berdampingan dengan Shino Aburame. Bocah Aburame itu bergerak dengan ritme yang sangat tenang dan konstan. Di sekitar bahu Shino, beberapa ekor serangga pelacak chakra, Kikaichū, terbang berputar-putar di udara subuh.
Saat Ren mengambil langkah sengaja untuk memotong jalur tepat dua meter di sebelah kiri Shino, segerombolan Kikaichū mendadak memperlihatkan perilaku ganjil. Serangga-serangga tersebut tidak mendekati Ren untuk menyerap chakra seperti yang biasa mereka lakukan pada target hidup. Sebaliknya, mereka terbang berputar dengan gerakan bingung.
Penekanan chakra dari Protokol Supresi Fenotipe Seluler milik Ren bekerja terlalu sempurna, menciptakan sebuah Energy Void Anomaly—sebuah lubang hitam energi yang tidak memancarkan hawa panas atau energi hidup manusia sama sekali. Bagi serangga sensor yang mengandalkan fluktuasi energi alami tubuh, posisi Ren terasa seperti sebuah ruang hampa yang mati. Shino Aburame menghentikan ayunan lengannya secara halus. Menggunakan jari telunjuknya, dia sedikit memperbaiki posisi kacamata hitamnya, lalu mengalihkan pandangan analitisnya yang sedingin es ke arah Ren.
Memasuki satu kilometer terakhir menuju garis finis, Ren beralih fokus pada target utama misinya: Protokol Median Mutlak. Lembaran antarmuka sistemnya terus memperbarui data posisi seluruh murid. Menembus garis finis di posisi tengah membutuhkan pengaturan detak jantung yang rumit. Ren harus memanipulasi ritme pernapasan dan denyut nadinya agar sesuai dengan kondisi fisik anak sipil berusia enam tahun yang kelelahan.
Ren secara sengaja mengendurkan kontrol pada otot dadanya, membiarkan paru-parunya mengambil napas pendek secara cepat, memicu kenaikan denyut jantung buatan hingga menyentuh angka 140 detak per menit, membuat wajahnya tampak memerah alami. Bahunya dibuat naik-turun dengan ritme yang berantakan, memalsukan rasa lelah yang menumpuk secara meyakinkan.
Ren melintasi garis finis yang dijaga oleh Iruka Umino tepat di urutan ke-15 dari total 30 murid. Begitu menginjak garis, Ren langsung menjatuhkan lututnya ke atas rumput, menumpu tubuhnya dengan kedua tangan sambil terengah-engah hebat.
Iruka mencatat waktu Ren pada papan klip dengan ekspresi wajah yang datar tanpa ketertarikan. "Ren... Posisi 15. Waktu: 14 menit 42 detik. Stamina standar untuk anak sipil. Kerja bagus, pergilah ke bawah pohon untuk beristirahat," ujar Iruka acuh tak acuh.
Ren bangkit berdiri dengan lambat, menyeret langkah kakinya menuju bayangan pohon ek besar yang terisolasi di tepi lapangan lembah. Sistem di dalam otaknya memberikan getaran halus yang memuaskan:
[TING! Parameter Ketiga: 'Ujian Ketahanan Fisik Lapangan' Berhasil Diselesaikan]
[Skor Inang: Posisi ke-15 | Peringkat Kelas: Peringkat 15 (Persentil ke-50 Mutlak)]
[Status Misi: BERHASIL! 'Protokol Median Mutlak' Telah Terpenuhi 100%]
[Memproses Evaluasi S-Rank... Membuka Kunci Silsilah Evolusi Tubuh Tahap Dua...]
[Sistem Memulai Mutasi Jaringan Saraf Dasar dan Kerapatan Otot Lapisan Dalam (Estimasi Proses: 12 Jam)]
Di tengah pendaran sistem yang memuaskan, sebuah bayangan panjang mendadak jatuh menutupi tempat duduk Ren. Shino Aburame berjalan melintas hanya berjarak satu meter di depannya untuk mengambil jatah air. Dari balik kerah bajunya yang tinggi dan kacamata hitamnya yang kelam, Shino melirik ke arah Ren selama dua detik penuh—sebuah kontak mata singkat, sunyi, namun dipenuhi oleh kecurigaan naluriah yang mendalam.
Ren membiarkan wajahnya tetap sekusam mungkin, menatap botol airnya dengan pandangan kosong anak rumahan yang linglung, sama sekali tidak membalas intensitas tatapan Shino.
Selidikilah sesukamu, Aburame, batin Ren penuh kemenangan sinis.
Tiga parameter dari Protokol Median Mutlak kini telah terkunci sepenuhnya di titik tengah dengan evaluasi tertinggi. Di bawah hidung petinggi Konoha yang paranoia, sebutir pasir ini baru saja menyelesaikan fondasi perubahan sel tubuh tahap pertamanya. Dia siap mematangkan silsilah kekuatan baru yang akan menghancurkan seluruh tatanan militer desa langsung dari balik bayang-bayang.