Siham tahu suaminya tidak pernah mencintainya. Dia tahu ada nama wanita lain yang masih bertahta di hati Dewangga. Namun, menemukan kotak berisi sajak-sajak cinta Dewangga untuk masa lalunya adalah luka yang tak bisa lagi ia toleransi. Siham memutuskan untuk pergi, tapi tidak dengan tangan kosong. Dia meninggalkan satu sajak luka setiap harinya sebagai 'hadiah' perpisahan. Saat Dewangga akhirnya mulai merasa kehilangan, Siham sudah menjadi puisi yang tak sanggup lagi ia baca
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon blcak areng, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
SAJAK LUKA UNTUK MAS DEWANGGA
Malam pertama tahlilan di kediaman almarhum Ayah Siham terasa begitu menyesakkan. Suara lantunan doa-doa dan ayat suci memenuhi ruang tamu hingga meluap ke halaman rumah yang tertutup tenda. Di tengah kepulan asap dupa dan wangi minyak kayu putih, Siham duduk bersimpuh di atas hamparan karpet tipis. Kepalanya tertunduk, namun matanya tidak fokus pada buku Yasin di tangannya.
Dada Siham terasa seperti dihimpit bongkahan batu besar. Kenyataan pahit yang datang bertubi-tubi vonis kanker, amukan Dewangga, dan kini kepergian Ayah membuatnya merasa benar-benar kehilangan pegangan. Ia seperti sebatang pohon yang akarnya baru saja dicabut paksa dari tanah. Tidak ada lagi sandaran. Tidak ada lagi tempat untuk mengadu saat dunia memperlakukannya dengan kejam.
Ia melirik ke arah Dewangga yang duduk di barisan pria. Suaminya itu tampak mengikuti prosesi dengan wajah formal, sesekali melirik jam tangan, seolah waktu tujuh hari yang dijanjikan Siham adalah beban yang ingin segera ia selesaikan. Siham hanya bisa tersenyum getir sandaran yang seharusnya ada di sampingnya justru menjadi alasan ia ingin segera pergi.
Selesai doa bersama, suasana berubah menjadi lebih riuh. Istri Pak Heru bersama tim katering yang dipilih Siham dan Mama mertuanya mulai menyajikan hidangan. Aroma gulai kambing, opor dan sambal goreng ati menyeruak, memenuhi ruangan. Masakan-masakan yang biasanya menjadi favorit Ayahnya dan selalu terlihat sangat enak saat sang Ayah masih ada, kini tampak biasa saja di mata Siham. Bahkan, melihat piring-piring itu hanya membuatnya teringat betapa kosongnya kursi di ujung meja makan.
Mama mertuanya mendekat, membujuknya untuk makan. "Siham, sayang, ayo makan sedikit. Kamu harus kuat, tujuh hari ini akan melelahkan."
"Iya, Mah. Sebentar lagi," jawab Siham pelan.
Setelah tamu-tamu mulai pamit dan rumah perlahan sunyi hanya menyisakan Papa, Mama dan Dewangga yang sedang berbincang di ruang tengah, Siham melihat Pak RT hendak berpamitan di teras. Ini adalah kesempatannya.
"Pak RT, bisa bicara sebentar di halaman?" tanya Siham.
Mereka berdua berjalan menuju pojok halaman, di bawah pohon mangga yang gelap, jauh dari jangkauan pendengaran orang-orang di dalam rumah. Suasana malam desa yang dingin menusuk tulang, namun Siham merasa ini adalah waktu yang tepat.
"Ada apa, Neng Siham? Sepertinya sangat penting," tanya Pak RT dengan nada kebapakan.
Siham menatap ke arah nisan kayu yang terlihat samar di kejauhan dari balik tembok rumah. "Pak... tadi Bapak bilang soal Tabungan Masa Depan almarhum Ayah. Saya ingin melanjutkan tabungan itu, tapi untuk saya sendiri."
Pak RT tersentak, matanya membelalak kaget. "Lho, Neng Siham? Neng kan masih muda, masih panjang perjalanannya. Kenapa bicara soal itu sekarang? Biasanya tabungan ini untuk orang-orang tua yang sudah... ya, sudah sepuh."
Siham tersenyum tipis, sebuah senyuman yang mengandung rahasia yang teramat pedih. "Umur kan memang tidak ada yang tahu, Pak. Ayah saja yang terlihat sehat bisa dipanggil mendadak. Saya hanya ingin berjaga-jaga agar tidak merepotkan siapa pun nanti."
Siham mengeluarkan ponselnya, seolah hendak melakukan transfer bank. "Saya akan mentransfer sejumlah uang secara penuh hari ini juga ke rekening tabungan warga itu, Pak. Saya ingin biaya kain kafan, pemandian, liang lahat, sampai tenda dan katering tahlilan saya nanti sudah lunas dibayar dari sekarang."
"Neng Siham, jangan bicara begitu..." Pak RT merasa tidak enak hati.
"Saya serius, Pak," potong Siham dengan suara yang sangat tenang namun berwibawa. "Dan satu permintaan saya, Pak. Jika saatnya tiba, saya ingin dikebumikan di samping Ayah dan Ibu. Tepat di samping Ayah. Tolong pastikan lahan itu tidak diambil orang lain. Ini amanah saya ya Pak. Tolong jangan beri tahu suami saya atau mertua saya tentang ini. Cukup Bapak dan saya yang tahu."
Pak RT terdiam seribu bahasa. Ia melihat kesungguhan di mata Siham, sebuah kesungguhan yang bercampur dengan rasa lelah yang sangat dalam. Sebagai orang yang sering mengurus kematian warga, ia bisa merasakan bahwa permintaan Siham bukan sekadar iseng, melainkan sebuah persiapan perjalanan jauh.
"Baik, Neng... kalau itu memang kemauan Neng Siham. Bapak akan jaga amanahnya," ucap Pak RT dengan suara bergetar.
"Terima kasih, Pak. Saya transfer sekarang ya."
Siham menekan tombol konfirmasi di ponselnya. Selesai. Satu beban besar baru saja ia lepaskan. Ia merasa lega mengetahui bahwa saat tubuhnya nanti menyerah pada kanker, ia tidak akan menjadi beban bagi Dewangga. Ia tidak butuh kemewahan pemakaman di San Diego Hills atau tempat elit lainnya. Ia hanya ingin pulang ke rumah ini, ke tanah yang sama dengan kedua orang tuanya.
Saat Siham kembali masuk ke dalam rumah, ia mendapati Dewangga sedang berdiri di dekat pintu, menatapnya dengan tatapan penuh selidik.
"Lama sekali bicara dengan Pak RT. Apa lagi yang kamu urus?" tanya Dewangga dingin.
Siham berjalan melewati suaminya begitu saja menuju kamar lama. "Urusan masa depan, Mas. Sesuatu yang tidak akan pernah kamu mengerti."
Dewangga tertegun. Ia merasa ada sesuatu yang besar sedang disembunyikan istrinya, namun ia tidak tahu bahwa yang sedang disiapkan Siham adalah sebuah perpisahan yang permanen perpisahan yang sudah lunas dibayar di dunia, agar di akhirat nanti, ia benar-benar bebas dari Dewangga.