Alya adalah definisi dari "Cantik tapi Kelakuan Minus". Gadis asal Jakarta yang sedang mencoba peruntungan beasiswa di Paris ini memiliki bakat luar biasa dalam mencari masalah. Suatu sore, karena lapar yang amat sangat dan penglihatan yang kabur akibat lapar, Alya salah memasuki sebuah gedung tua yang ia pikir adalah restoran "All You Can Eat". Ternyata, itu adalah lokasi eksekusi musuh oleh The Four Kings of Paris—si kembar empat pewaris takhta mafia terkutuk: Lucien (Si Dingin yang Otoriter), Marc (Si Jenius yang Licik), Julien (Si Sniper yang Pendiam), dan Etienne (Si Bungsu yang Psikopat tapi Manis).
Alih-alih gemetar ketakutan, Alya malah protes karena "menu steak" di sana terlalu banyak darahnya (padahal itu darah beneran). Terpikat oleh keberanian yang mendekati kegilaan dan wajah cantiknya, sang pemimpin, Lucien, memutuskan bahwa Alya adalah "tumbal" yang tepat untuk mematahkan kutukan keluarga mereka yang harus menikah dengan wanita dari Timur.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ry_chan04, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PELATIHAN MENEMBAK ATAU PELATIHAN MENGHANCURKAN TAMAN?
Setelah insiden penyerangan di depan kafe tempo hari, keempat suami Alya mencapai satu mufakat bulat yang tidak bisa diganggu gugat: Alya tidak boleh hanya mengandalkan botol saus cabai atau terasi untuk bertahan hidup. Dia harus dilatih secara militer. Dan orang yang paling tepat untuk tugas itu tentu saja adalah Julien, sang penembak jitu yang kesabarannya setipis tisu dibagi dua jika berhadapan dengan murid yang tidak kompeten.
Pagi itu, taman belakang kediaman De Calvi yang biasanya rapi dengan bunga-bunga lavender dan peony yang tertata estetis, telah disulap menjadi area latihan tempur darurat. Ada papan sasaran yang dipasang di antara pohon-pohon ek tua, tumpukan karung pasir di dekat air mancur, dan sebuah meja berisi berbagai jenis senjata api yang berkilau di bawah sinar matahari pagi.
"Alya, cepat keluar! Jangan sampai aku harus menyeretmu!" teriak Julien dari tengah taman. Suaranya bergema dingin, memecah ketenangan pagi.
Pintu kaca menuju balkon terbuka. Alya muncul dengan penampilan yang membuat Julien memijat pelipisnya seketika. Alya tidak memakai setelan taktis hitam-hitam seperti yang disarankan Marc. Dia justru mengenakan celana training warna merah jambu cerah dengan kaos bergambar kucing sedang makan semangka, lengkap dengan topi cap yang dipasang terbalik.
"Hadir, Bang Instruktur! Siap menerima arahan demi menjaga kedaulatan rumah tangga!" seru Alya sambil memberikan hormat ala kadarnya.
Julien menarik napas panjang. "Apa yang kau pakai itu? Kau mau latihan menembak atau mau ikut senam pagi di Monas?"
"Loh, Bang, prinsip saya itu comfort first. Kalau pake baju ketat-ketat kayak yang Abang suruh, saya susah napas. Nanti bukannya nembak sasaran, saya malah nembak takdir karena pingsan duluan," balas Alya santai sambil melakukan peregangan otot yang berlebihan.
Marc, Lucien, dan Etienne duduk di teras sambil menyesap kopi mereka, menonton drama pagi itu seperti sedang menonton acara komedi di televisi.
"Sepuluh Euro untuk Alya yang akan membuat Julien menangis dalam waktu tiga puluh menit," bisik Etienne pada Marc.
"Aku berani bertaruh dua puluh Euro bahwa dia akan menghancurkan patung marmer kesayangan Lucien di pojok taman itu," sahut Marc sambil tersenyum tipis.
Pelatihan dimulai. Julien berdiri di belakang Alya, mencoba mengatur posisi berdirinya. "Kaki dibuka selebar bahu. Badan sedikit condong ke depan. Genggam senjatanya dengan kedua tangan. Jangan kaku, tapi jangan lembek!"
Julien memberikan sebuah pistol semi-otomatis kaliber kecil yang sudah disesuaikan untuk tangan wanita. Alya menerimanya dengan wajah tegang. "Bang... ini beneran nggak bakal meledak di tangan saya kan? Saya masih mau pake tangan ini buat ngulek sambal nanti siang."
"Diam dan fokus. Lihat sasaran di depanmu. Jaraknya hanya sepuluh meter. Tarik napas, tahan, lalu tekan pelatuknya perlahan," perintah Julien.
Alya memicingkan satu matanya. Dia membayangkan papan sasaran itu adalah wajah pimpinan klan Valois yang sudah berani mengganggu acara belanja berliannya. "Rasakan ini, penjahat pasar!"
DAR!
Suara tembakan pertama meletus. Karena kaget dengan sentakan senjata ( recoil ), tangan Alya terangkat ke atas secara otomatis. Alih-alih mengenai papan sasaran, pelurunya justru melesat jauh ke atas dan memutus batang pohon ek yang paling besar.
KREEEKKK... BRAAAK!
Sebuah dahan besar jatuh menimpa semak-semak bunga mawar yang baru saja dipupuk oleh tukang kebun kemarin sore.
"Astaga! Pohonnya tumbang!" jerit Alya sambil menjatuhkan pistolnya ke rumput.
Julien terpaku. Matanya melotot melihat kerusakan yang dihasilkan dari satu tembakan "salah sasaran" istrinya. "Alya... kau membidik papan sasaran, kenapa yang kena justru langit?!"
"Ya kan saya kaget, Bang! Pistolnya nendang! Kayak mantan kalau ditagih utang!" bela Alya.
"Ambil senjatanya! Jangan pernah menjatuhkan senjata di medan tempur!" bentak Julien, meski suaranya sedikit bergetar menahan emosi.
Latihan berlanjut ke tahap kedua. Julien mencoba lebih sabar. Dia memegang tangan Alya dari belakang untuk memberikan stabilitas. Posisi ini sebenarnya sangat romantis jika dilihat dari kejauhan, namun di tempat kejadian, suasananya lebih mirip instruktur yang sedang menahan diri agar tidak meledak.
"Sekarang, coba lagi. Gunakan instingmu. Rasakan senjatanya menjadi bagian dari tubuhmu," bisik Julien di telinga Alya.
Alya kembali membidik. "Oke, fokus. Menjadi satu dengan pistol. Saya adalah peluru, peluru adalah saya..."
DAR! DAR!
Dua tembakan beruntun. Kali ini Alya tidak menjatuhkan senjatanya. Tapi hasilnya jauh lebih mengerikan. Tembakan pertama memantul ( ricochet ) dari pinggiran papan sasaran yang terbuat dari logam, lalu tembakan kedua menghantam pipa air otomatis ( sprinkler ) yang tertanam di bawah rumput.
PYUURRRRR!
Dalam sekejap, pipa air itu pecah dan menyemburkan air bertekanan tinggi ke segala arah. Airnya mengenai wajah Julien tepat di tengah-tengah, membuatnya basah kuyup seketika. Tak hanya itu, sistem irigasi otomatis seluruh taman ikut menyala karena sensor kerusakannya terpicu.
"HUAAA! BANJIR! BANG JULIEN, KITA KEHUJANAN!" teriak Alya sambil mencoba menutupi kepalanya dengan papan sasaran yang dia cabut dari tanah.
Etienne dan Marc yang sedang duduk di teras terpaksa melompat masuk ke dalam rumah karena air sprinkler mulai menyemprot ke arah mereka. Lucien hanya bisa menatap taman kesayangannya yang kini lebih mirip kolam ikan berlumpur dengan ekspresi hancur.
"Pelatihan menembak, katanya..." gumam Lucien sambil menutup wajahnya dengan tangan. "Ini bukan pelatihan menembak, ini pembersihan lahan secara brutal."
Setelah air berhasil dimatikan oleh anak buah Lucien (yang juga harus menahan tawa melihat bos mereka basah kuyup), Julien berdiri di tengah taman dengan baju yang menempel di tubuh dan rambut yang lepek. Dia menatap Alya yang sekarang sedang sibuk mencoba menangkap seekor katak yang muncul akibat genangan air.
"Alya," panggil Julien, suaranya sangat rendah, pertanda dia sedang berada di puncak kesabaran.
"Ya, Bang Pelatih?" Alya menoleh dengan wajah ceria, seolah-olah dia baru saja menyelesaikan misi penyelamatan dunia.
"Kau tidak punya bakat menembak dengan pistol. Titik. Tidak ada perdebatan."
"Loh, tapi kan tadi ada yang kena, Bang! Pipa airnya hancur berkeping-keping loh! Itu kan akurasi juga namanya!" protes Alya.
"Kita tidak sedang berperang melawan pipa air, Alya!" Julien menghela napas panjang, memeras air dari ujung kaosnya. "Mungkin kau butuh senjata yang... jangkauannya lebih luas. Sesuatu yang tidak butuh presisi tinggi karena kau jelas-jelas punya masalah dengan titik koordinat."
Marc keluar dari rumah sambil membawa sebuah kotak kayu panjang. "Mungkin dia lebih cocok dengan ini," katanya sambil membuka kotak tersebut.
Di dalamnya terdapat sebuah senapan shotgun jenis tactical yang terlihat sangat garang.
"Wah, ini yang kayak di film-film zombi itu ya?" mata Alya berbinar.
"Ini namanya Shotgun. Pelurunya menyebar. Kau tidak perlu membidik tepat di tengah untuk melumpuhkan lawan. Cukup arahkan ke arah umum musuhmu, dan sisanya biarkan peluru yang bekerja," jelas Marc.
Julien menatap senapan itu, lalu menatap tamannya yang sudah hancur. "Jika dia menggunakan itu di sini, rumah ini mungkin akan rata dengan tanah sebelum siang."
"Kasih saya coba, Bang! Satu kali aja! Saya janji nggak bakal kena pipa lagi!" pinta Alya sambil memasang wajah memelas paling mautnya.
Julien akhirnya menyerah. Dia membantu Alya memegang senapan besar itu. Karena tubuh Alya mungil, senapan itu terlihat sangat kontras. "Ingat, sentakannya jauh lebih kuat dari pistol tadi. Tahan di bahumu dengan sangat kuat, atau bahumu bisa bergeser."
Alya mengangguk mantap. Dia memasang kuda-kuda paling kokoh yang dia tahu (yang sebenarnya lebih mirip posisi orang mau buang air besar di sungai). Dia membidik sebuah tong kosong yang diletakkan agak jauh.
"Bismillah... demi keamanan daster-daster saya!"
BOOM!
Suara ledakan shotgun itu jauh lebih keras. Tubuh Alya terdorong ke belakang sampai dia jatuh terduduk di atas rumput berlumpur. Tapi kali ini, tong di depan sana benar-benar hancur berantakan. Tidak hanya tongnya, tapi juga pagar kayu di belakangnya ikut berlubang-lubang besar.
"GILA! MANTEP BANGET!" teriak Alya kegirangan dari atas tanah. "Ini baru senjata saya! Sekali tembak, masalah kelar!"
Julien melihat ke arah kerusakan yang baru saja terjadi. Dia menatap pagar kayunya yang hancur, lalu menatap istrinya yang penuh lumpur tapi tertawa bahagia. Dia menyadari satu hal: Alya tidak diciptakan untuk menjadi sniper yang sunyi dan mematikan sepertinya. Alya adalah kekuatan penghancur massa yang tidak terduga.
"Oke, cukup untuk hari ini," kata Julien sambil mengambil senapan itu dari tangan Alya. "Kesimpulanku: Kau dilarang memegang pistol. Kau hanya boleh memegang shotgun jika musuhnya jumlahnya lebih dari sepuluh orang dan berada di tanah lapang yang tidak ada pipa airnya."
Latihan berakhir dengan kegagalan total secara estetika, namun sukses secara komedi. Mereka berlima kembali ke dalam rumah. Alya langsung menuju dapur, masih dengan celana training merah jambu yang penuh lumpur.
"Bang Julien, makasih ya pelatihannya. Sebagai hadiah, saya bikinin jus melon spesial," teriak Alya dari dapur.
Julien duduk di meja makan, masih basah. Lucien, Marc, dan Etienne ikut duduk di sana.
"Jadi, Julien," panggil Lucien. "Bagaimana laporan kemajuan istrimu?"
Julien menatap tangannya yang masih sedikit gemetar karena menahan tawa dan emosi. "Dia adalah bencana berjalan. Jika kita mengirimnya ke markas Valois, dia tidak perlu menembak mereka. Cukup beri dia senjata, dan biarkan dia mencoba menembak target. Markas mereka akan hancur sendiri karena kecelakaan beruntun yang dia buat."
Etienne tertawa terbahak-bahak. "Itu strategi yang bagus! Senjata biologis berupa 'ketidaksengajaan'."
Tak lama kemudian, Alya datang membawa nampan berisi lima gelas jus. Tapi, karena lantainya masih sedikit basah akibat jejak kaki mereka tadi, Alya terpeleset.
"EHHH! COPOT-COPOT!"
Alya terjatuh, nampannya melayang ke udara. Gelas-gelas itu terbang dengan arah yang sangat tidak terduga. Satu gelas jus melon mendarat tepat di atas kepala Lucien, satu di pangkuan Marc, satu mengenai wajah Etienne, dan satu lagi entah bagaimana caranya meluncur masuk ke dalam kerah baju Julien.
Hening kembali melanda ruangan itu.
Alya duduk di lantai, menatap keempat suaminya yang sekarang berlumuran jus melon hijau. "Eh... maaf Bang. Kayaknya lantai ini juga butuh pelatihan agar tidak licin..."
Lucien menyeka jus melon dari keningnya, lalu menjilat sedikit yang tersisa di bibirnya. "Manis... tapi aku lebih suka jika ini berada di dalam gelas, Alya."
Julien hanya bisa menghela napas pasrah. Dia menarik Alya berdiri. "Besok, tidak ada pelatihan menembak. Besok, kau akan belajar cara berjalan di atas lantai basah tanpa menghancurkan martabat kami."
Alya nyengir tak berdosa. "Siap, Bang! Tapi kalau saya belajar jalan terus lantainya tetep licin, jangan salahin saya ya kalau saya mendarat di pelukan Abang terus."
Marc tersenyum sambil mengelap celananya yang lengket. "Dia benar-benar tidak bisa dikontrol, bukan? Tapi jujur saja, hidup tanpa gangguan Alya rasanya sekarang menjadi sangat membosankan."
"Setuju," sahut Etienne. "Meskipun aku sekarang bau melon."
Malam itu, taman De Calvi yang hancur menjadi saksi bahwa keceriaan dan kekacauan yang dibawa Alya jauh lebih kuat daripada protokol keamanan mana pun. Dan bagi empat kembar De Calvi, mereka mulai menyadari bahwa melindungi Alya bukan hanya soal menjaganya dari peluru musuh, tapi juga menjaga dunia dari "bencana konyol" yang seringkali justru menjadi penyelamat bagi jiwa-jiwa mereka yang selama ini terlalu kaku.
"Bang Julien," bisik Alya saat mereka sedang membersihkan sisa jus di dapur.
"Apa lagi?"
"Besok kalau latihan lagi, boleh nggak saya pake pelontar granat? Kayaknya seru buat bersihin rumput liar di taman."
Julien langsung pergi meninggalkan dapur tanpa menoleh lagi. "TIDAK AKAN PERNAH!"
Alya tertawa puas. "Dih, pelit amat si Abang Sniper."