Dunia akan hancur ketika kita tidak menemukan pemilik hati yang sebenarnya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sonya_860, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 15
"Eeugghh..."
Perlahan-lahan, kelopak mata lentik yang semula terpejam rapat itu mulai terbuka. Ziva mengerjap beberapa kali, mencoba menyesuaikan cahaya lampu UKS yang menusuk indra penglihatannya. Ia mengedarkan pandangan, menatap sekeliling ruangan putih yang kini terasa jauh lebih tenang dari sebelumnya.
"Sudah bangun, hm?" Suara berat dan rendah itu seketika mengalihkan perhatian Ziva. Ia menoleh ke samping, dan hap, matanya langsung bersitataf dengan mata elang milik pemuda tampan yang duduk di kursi kayu sebelah ranjangnya.
"Kak Mahen..." panggil Ziva pelan, suaranya masih terdengar serak khas orang bangun tidur.
Mendapatkan panggilan yang jarang orang gunakan itu, entah kenapa ada letupan kebahagiaan yang membuncah di dalam dada Mahendra. Di dalam perutnya, rasanya seperti ada ribuan kupu-kupu yang mendadak terbang bersamaan. Ia menyukai cara bibir mungil Ziva melafalkan potongan namanya. Pasalnya, orang-orang terdekat hanya memanggilnya dengan sebutan 'Mahen', sementara orang luar memanggilnya 'Mahendra' dengan nada segan.
Namun, panggilan dari Ziva barusan terdengar berbeda—lebih lembut, lebih... intim.
"Gue suka panggilannya," gumam Mahendra pelan, hampir tak terdengar.
Ziva mengernyitkan dahi, berusaha menangkap suara itu. "Kak Mahen bilang apa?"
"Gak. Gak papa." Mahendra berdehem, berusaha menormalkan ekspresi wajahnya yang mulai goyah.
"Ya sudah, makan dulu." Mahendra meraih mangkuk bubur ayam yang tadi sempat ia pesan melalui bawahannya. Ia menyendok sedikit, meniupnya perlahan, lalu menyodorkannya ke depan bibir Ziva.
"Gue bisa makan sendiri, Kak," tolak Ziva halus. Ia merasa tidak enak harus dilayani seperti anak kecil oleh orang yang baru ia kenal secara resmi hari ini.
"Biar gue aja. Buka mulutnya," perintah Mahendra dengan nada datar yang tidak menerima bantahan.
Ziva menghela napas. Menyadari bahwa berdebat dengan manusia satu ini hanya akan membuang energi, ia pun pasrah. Ziva membuka mulutnya dan menerima suapan demi suapan dari Mahendra. Mahendra menunggu dengan kesabaran ekstra tinggi, memperhatikan bagaimana Ziva mengunyah dan menelan buburnya dengan tempo yang sangat lambat.
"Umm... udah Kak, gue udah kenyang," ucap Ziva sambil menutup mulutnya dengan tangan, menghindar dari sendok yang kembali mendekat.
"Sedikit lagi," ucap Mahendra datar.
Ziva ingin sekali menolak, tapi sorot mata Mahendra yang intens membuatnya urung. Satu sendok, dua sendok, hingga lima sendok tambahan mendarat di perut Ziva. Mahendra benar-benar tidak berhenti sampai isi mangkuk itu menyusut drastis, membuat Ziva merasa sedikit mual karena kekenyangan.
"Udah Kak, beneran kenyang," keluh Ziva dengan pipi menggembung. Bibir pink-nya mengerucut lucu, sebuah ekspresi yang sukses membuat
Mahendra harus menahan gejolak aneh di dalam tubuhnya. Gadis ini terlalu berbahaya bagi pertahanan mentalnya.
"Satu kali lagi."
Ziva melotot tajam. "Apa-apaan sekali lagi! Nggak ada sekali lagi sekali lagi, dari tadi bilangnya sedikit lagi terus! Udah ya Kak, gue udah kenyang banget. Gue juga enek makan makanan lembek begini!" Ziva akhirnya meledak, mengutarakan kekesalan yang sejak tadi ia tahan.
Bukannya marah karena diprotes, Mahendra justru menyunggingkan senyum tipis—sangat tipis hingga hampir tak terlihat—melihat Ziva yang sedang merajuk. Pipi menggembung itu terlihat sangat menggemaskan di matanya.
"Apa senyum-senyum, hah?!" ketus Ziva.
"Minum, terus minum obat," Mahendra kembali ke mode seriusnya, menyodorkan segelas air putih.
Ziva menerimanya dengan wajah jutek, meneguk air itu dengan cepat untuk menghilangkan rasa kering di tenggorokannya setelah adu argumen.
"Ini obatnya." Mahendra menyodorkan telapak tangannya. Di sana terdapat tiga butir obat tablet yang terlihat besar dan keras.
Glek.
Ziva memandang obat itu dengan horor. "Se... semuanya? Tiga-tiganya sekaligus?"
Mahendra mengangguk. "Iya, semuanya. Diminum tiga kali sehari."
"Apa?! Tiga kali sehari?" Ziva syok.
"Kak, obatnya ada yang bentuk sirup rasa cokelat nggak? Atau rasa stroberi gitu?" tanya Ziva sambil menggaruk pipinya yang tidak gatal.
Mahendra mengangkat sebelah alisnya. "Nggak ada rasa stroberi. Lo bukan anak TK."
"Tapi Kak... bisa nggak kalau digerus pake sendok aja? Ziva nggak bisa minum obat utuh," akunya pelan sambil memilin ujung rok sekolahnya. Ziva memang memiliki trauma kecil sejak kecil, ia tidak pernah bisa menelan tablet karena selalu merasa tersedak.
Mahendra akhirnya mengerti. Tanpa banyak bicara, ia mengambil dua buah sendok dan mulai mengerus obat-obat tersebut hingga menjadi bubuk halus. Ia mencampurnya dengan sedikit air di atas sendok.
"Sekarang buka mulutnya."
Ziva mengatupkan mulutnya rapat-rapat. Ia lebih memilih dihukum lari keliling lapangan oleh Karlota daripada harus mengecap rasa pahit obat.
"Nggak akan pahit," bujuk Mahendra, berbohong demi kebaikan.
"Bohong!" Meski begitu, Ziva akhirnya menutup mata rapat-rapat dan membuka mulutnya.
Begitu cairan obat itu menyentuh lidahnya, wajah Ziva langsung berkerut hebat.
"Aaaa... pahiiitttt!" jeritnya setelah menelan paksa.
"Ini minum dulu," Mahendra dengan sigap memberikan botol air mineral. Ziva meminumnya sampai tersisa sedikit, namun rasa pahit itu seolah enggan pergi dari lidahnya.
"Huwaaaa, Kak Mahen bohong! Masih pahit banget!" rengek Ziva dengan mata berkaca-kaca.
"Jangan nangis. Nih, makan permen." Mahendra mengeluarkan permen Blaster dari sakunya, membukakannya, lalu menyodorkannya ke mulut Ziva.
Begitu rasa manis cokelat dan mint meresap, mata Ziva kembali berbinar. Keceriaannya kembali dalam sekejap.
Melihat perubahan ekspresi yang begitu cepat itu, Mahendra mendengus geli. "Udah SMA tapi masih takut obat," sindirnya pelan.
Ziva melotot tak terima. "Heh! Gue nggak takut ya! Gue cuma nggak berani minum yang bentuknya gitu!"
"Sama aja."
"Beda!" tekan Ziva.
"Dasar penakut," goda Mahendra lagi. Ia mulai menemukan hobi baru: menjahili Ziva agar gadis itu terus menatapnya dengan wajah merah padam karena kesal.
"Dasar Ku—"
Brak!
Pintu UKS kembali dihantam terbuka.
"OMG ZIVAAAAAKUU!"
Lengkingan suara itu membuat Ziva spontan menutup kedua telinganya. Mahendra seketika kembali ke mode "setelan pabrik"—wajah datar, mata dingin.
"Berisik," ucap Mahendra singkat dengan nada sedingin es. Ia berdiri, memberikan tatapan tajam pada si pembuat gaduh, lalu melangkah keluar UKS tanpa kata-kata lagi.
Si pembuat gaduh—yang tak lain adalah Karlota—langsung membekap mulutnya sendiri, merinding melihat tatapan Mahendra barusan.
"Karlotaaaaa! Lo ganggu orang aja sih! Buka pintu kayak lagi dikejar setan!" kesal Ziva.
Karlota cengengesan dan langsung menghambur ke arah ranjang Ziva. "Astaga, Ziva! Lo nggak papa kan? Mana yang sakit? Kok lo bisa pingsan dan mimisan begini?" tanyanya beruntun.
"Gue nggak papa, Kar. Tadi cuma jatuh aja di koridor, nabrak... emm, pot bunga karena nggak fokus," bohong Ziva. Ia tidak ingin Karlota tahu bahwa ia menabrak Mahendra dan sempat digendong seperti tuan putri.
Ctak!
Karlota menyentil dahi Ziva pelan. "Makanya kalau jalan tuh fokus! Jangan mikirin utang kas mulu!"
"Sakit, Kar!" gerutu Ziva.
"Kok lo tau gue di sini?"
"Tadi dikasih tahu adek kelas. Eh, omong-omong, kok lo bisa bareng Mahendra? Lo punya hubungan apa sama pangeran es itu?" tanya Karlota dengan mata memicing penuh selidik.
"Nggak ada hubungan apa-apa. Dia cuma nolongin gue tadi di koridor," jawab Ziva santai.
Karlota mengerutkan kening.
"Tapi aneh deh. Kata orang-orang, Mahendra itu anti banget sama cewek. Dia nggak pernah mau nyentuh atau dideketin kaum perempuan kecuali keluarganya. Tapi tadi gue denger dia telaten banget jagain lo."
Ziva tertegun. "Nggak mungkin. Tadi dia nyebelin banget, tukang maksa lagi!"
"Hah? Serius? Manusia tembok itu bisa maksa?" Karlota makin bingung. Apa yang didengarnya dari rumor sekolah dan apa yang dikatakan Ziva sangat bertolak belakang.
"Udah ah, Kar. Jangan bahas dia lagi. Gue mau tidur bentar, kepala gue masih berat," ucap Ziva sambil menarik selimut.
"Aneh... kayak ada yang nggak beres," gumam Karlota saat melihat Ziva mulai memejamkan mata.
"Jangan-jangan si Mahendra itu punya niat terselubung? Apa kita selidiki aja ya, Ziv? Jadi detektif sekolah gitu?"
"Ziv?" Karlota menghembuskan napas kasar melihat Ziva sudah tertidur pulas dalam hitungan detik.
"Pantesan nggak nyaut, orangnya udah meluncur ke alam mimpi."