NovelToon NovelToon
Loud Girl, Cold Engine

Loud Girl, Cold Engine

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta
Popularitas:533
Nilai: 5
Nama Author: minttea_

Kirana, seorang maba cerewet dan nggak bisa diem, langsung membenci Bima—cowok teknik cuek dan dingin yang nggak mau minta maaf setelah menabraknya di pertemuan pertama mereka. Sejak itu, hidup Kirana dipenuhi omelan tentang si cowok teknik bau oli tersebut bersama gengnya yang hobi bergosip itu. Di tengah hari-hari kuliah yang penuh gebrakan, tingkah absurd teman-teman mereka, sampai pasangan bucin yang bikin geli satu kampus, hadir Danu—kakak tingkat sempurna yang mulai mendekati Kirana. Di sisi lain Bima justru diam-diam mulai jatuh hati dan terus mencuri pandang pada gadis cerewet itu. Lalu, akankah Kirana memilih Danu si pangeran kampus, atau Bima si cowok teknik acak-acakan yang selalu berhasil membuat harinya kacau?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon minttea_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Sirkuit yang Terhubung Kembali

Langit di atas Universitas Wikerta seolah mengerti suasana hati Kirana yang sedang berada di titik nadir. Hanya butuh waktu kurang dari tiga puluh menit sejak ia meninggalkan GOR dengan hati yang hancur—dan setelah membuang plester medisnya ke tempat sampah—awan hitam pekat langsung menggulung matahari, menumpahkan hujan deras yang disertai angin kencang.

Kirana mengutuk keberuntungannya. Ia sedang mengendarai motor matic-nya, berusaha mencapai gerbang belakang untuk segera pulang dan menenggelamkan diri di kamar. Sebenarnya, Kirana bukan tipe perempuan yang selalu bergantung pada jemputan.

Meski Danu sering menawarkan tumpangan dengan mobil putihnya yang nyaman, Kirana lebih sering memilih membawa motor sendiri agar tidak merepotkan laki-laki itu. Lagipula, akhir-akhir ini Danu sedang sangat sibuk dengan proyek riset dosennya, sehingga ia tidak bisa setiap saat mengantar-jemput Kirana.

Tepat saat ia melintasi area bengkel Teknik—wilayah kekuasaan Bima—motor matic-nya tiba-tiba batuk beberapa kali. Suara mesinnya tersendat, bergetar hebat, lalu mati total di tengah genangan air yang mulai meninggi.

"Jangan sekarang... plis, jangan sekarang," bisik Kirana panik. Ia mencoba menstarter motornya berulang kali, tapi hanya suara desis lemah yang terdengar. Air hujan mulai merembes masuk ke balik jaketnya, membuat tubuhnya menggigil dan pandangannya sedikit kabur karena rintik yang menghantam kacamata.

Satu-satunya tempat berteduh terdekat adalah atap bengkel Teknik yang luas. Dengan perasaan berat dan harga diri yang tersisa di ujung kaki, Kirana terpaksa turun dan menuntun motornya masuk ke pelataran bengkel yang dipenuhi aroma oli dan deru mesin yang bising.

Di dalam bengkel, suasana cukup sibuk meski hujan badai sedang mengamuk di luar. Beberapa mahasiswa sedang mengerjakan proyek akhir, termasuk Bima. Di sudut ruangan, Sheila masih setia di sana.

Sebagai anak Ilmu Komunikasi, Sheila jelas tidak mengerti urusan mesin, baut, apalagi sistem transmisi motor matic. Ia hanya duduk di atas meja kerja yang bersih, sibuk dengan ponselnya atau sesekali bercermin, menjadikan bengkel yang maskulin itu sebagai latar belakang foto estetiknya.

Bima mendongak saat mendengar suara decit ban motor di lantai semen yang basah. Matanya langsung bertemu dengan sosok Kirana yang berdiri mematung di ambang pintu bengkel. Gadis itu basah kuyup; rambutnya lepek menempel di pipi, dan wajahnya pucat karena kedinginan.

"Lho, Kirana? Kok bisa nyasar ke sini? Motornya mogok ya?" celetuk Sheila. Ia tidak mengerti apa yang rusak, tapi ia tahu momen ini adalah kesempatannya untuk menunjukkan posisinya di dekat Bima. "Kenapa nggak telepon Kak Danu aja? Oh iya, dia kan lagi sibuk banget ya hari ini, kasihan banget kamu harus ujan-ujanan gini."

Bima tidak menanggapi celotehan Sheila. Ia meletakkan kunci torsinya dengan dentang logam yang keras, lalu berjalan mendekati Kirana. Wajahnya tetap datar, seolah insiden "pamer kedekatan" dengan Sheila di GOR tadi tidak pernah terjadi. Ia menatap motor matic Kirana yang masih meneteskan air, lalu menatap gadis itu yang sedang menggigil sambil memeluk tasnya erat-erat ke dada.

"Masuk, neduh di sana," ucap Bima pendek, menunjuk ke arah deretan kursi plastik di pojok bengkel yang agak jauh dari mesin-mesin berat.

"Nggak usah. Gue cuma numpang neduh bentar, habis ini gue dorong ke depan," jawab Kirana ketus. Suaranya sedikit bergetar karena kedinginan, tapi matanya tetap menatap tajam ke arah lain, enggan beradu pandang dengan Bima.

Bima tidak memedulikan penolakan itu. Ia justru berjongkok di depan motor Kirana, membuka kap mesin samping tanpa meminta izin. "Gue nggak nanya lo mau atau nggak. Kalau mesin ini kemasukan air karena lo paksa jalan, lo bakal keluar duit lebih banyak buat turun mesin. Jangan bodoh cuma gara-gara gengsi."

Sheila yang merasa diabaikan, turun dari meja kerja dan menghampiri mereka, meski ia harus berhati-hati agar sepatu mahalnya tidak terkena tetesan oli. "Bim, masih lama nggak? Kan kita tadi rencananya mau cari makan bareng setelah ini?"

Bima menoleh sekilas ke arah Sheila. Sorot matanya sangat dingin. "Shel, mending lo pulang sekarang. Hujan makin deres, jalanan licin. Gue harus benerin motor ini dulu dan nggak tahu selesainya kapan."

Sheila ternganga, merasa diusir secara halus di depan Kirana. "Tapi Bim—"

"Gue bilang pulang, Shel. Gue mau fokus," potong Bima dengan nada yang mutlak.

Dengan wajah bersungut-sungut, Sheila menyambar tasnya. Ia tidak mengerti teknis mesin, tapi ia mengerti bahwa saat ini Bima lebih memilih mengutak-atik motor butut Kirana daripada menemaninya. Sheila pergi menuju parkiran luar dengan langkah terburu-buru. Suasana bengkel mendadak terasa lebih luas bagi Kirana, namun sekaligus lebih mencekam.

Hanya ada suara hujan yang menghantam atap seng dan denting logam saat Bima membongkar busi motor Kirana. Kirana duduk di kursi plastik, memperhatikan punggung Bima yang kokoh dan pergelangan tangannya yang masih terbalut kasa kotor—kasa yang tadi disentuh-sentuh oleh Sheila di GOR.

"Jangan dipaksain kalau tangannya masih sakit," ucap Kirana pelan, suaranya hampir hilang ditelan bunyi guntur.

Bima berhenti sejenak, menatap lukanya yang tertutup kasa basah, lalu kembali bekerja dengan gerakan yang seolah-olah mengabaikan rasa perihnya. "Tangan gue nggak selembek itu."

Setelah sepuluh menit dalam keheningan yang menyesakkan, Bima akhirnya menyeka tangannya yang berlepotan oli dengan kain majun. Ia berdiri, menatap Kirana yang masih mematung seperti patung es.

"Motor lo udah bisa. Cuma businya kemasukan air," ucap Bima. Ia kemudian merogoh saku kemeja PDL-nya, mengeluarkan ponselnya yang layarnya sedikit retak di sudut. Ia menyodorkan ponsel itu tepat ke hadapan Kirana. Wajahnya tetap cuek, seolah ia sedang menagih utang.

"Apa lagi?" tanya Kirana bingung.

"Nomor WA lo. Cepetan," pinta Bima tanpa ekspresi.

Kirana mengernyitkan dahi. "Buat apa? Kan motornya udah bener?"

Bima mendengus, matanya menatap tajam ke arah Kirana, memberikan tekanan yang membuat Kirana sulit untuk menolak. "Gue butuh kirim rincian komponen yang harus lo beli besok di bengkel resmi buat cadangan. Gue nggak mau besok-besok lo mogok lagi di jalan raya dan orang-orang mikir kerjaan gue di sini nggak bener. Ini urgent, biar gue bisa kirim foto struk harganya juga buat referensi lo biar nggak ditipu montir. Buruan, gue mau lanjut kerja."

Kirana ragu sejenak. Alasan Bima terasa sangat teknis dan masuk akal—khas orang Teknik yang pragmatis—tapi ada sesuatu di balik nada bicara Bima yang membuatnya curiga. Namun, karena tidak ingin berdebat lebih lama di tengah dinginnya bengkel, Kirana akhirnya mengambil ponsel itu dan mengetikkan nomornya dengan jari yang masih sedikit gemetar.

Begitu ponselnya dikembalikan, Bima langsung memasukkannya ke saku tanpa mengecek nama atau memberikan senyuman. "Dah. Balik sana. Hujannya udah redaan."

Kirana menuntun motornya keluar dari bengkel tanpa mengucapkan terima kasih yang berlebihan. Ia segera menyalakan mesinnya yang sekarang terdengar jauh lebih halus, lalu melesat pergi membelah sisa-sisa hujan.

Saat Kirana sudah sampai di kosan dan sedang mengeringkan rambutnya dengan handuk, ponselnya bergetar di atas meja. Sebuah pesan masuk dari nomor tidak dikenal.

+62812...:

Busi lo udah gue bersihin, tapi tetep beli yang baru besok. Jangan lewat genangan air tinggi lagi kalau nggak mau motor lo mati total.

Ini Bima.

Kirana hanya menatap layar itu dengan perasaan campur aduk. Ia tidak membalas. Ia masih terlalu sakit hati dengan pemandangan Sheila di GOR tadi, tapi ia juga bingung kenapa Bima harus meminta nomornya secara langsung dengan alasan "urgent".

Di sisi lain, di dalam bengkel yang mulai sepi, Bima duduk di atas kursi panjangnya. Ia menatap layar ponselnya yang kini menyimpan kontak baru dengan nama singkat: Kirana Sastra.

Sebenarnya, Bima bisa saja memberitahu rincian itu secara lisan. Namun, setelah melihat Kirana tertawa dengan Danu tempo hari, ia merasa harus memiliki satu jalur komunikasi yang nyata. Ia meminta nomor itu bukan karena ingin mengobrol, tapi karena ia ingin memastikan bahwa Kirana tetap dalam "jangkauan" logikanya.

Bima tersenyum tipis, sebuah senyum yang sangat samar dan misterius di kegelapan bengkel. Ia tahu, dengan menyimpan nomor itu, ia baru saja membuka katup baru dalam distorsi hubungan mereka—sebuah katup yang mungkin akan meledak, atau justru mengalirkan sesuatu yang selama ini ia tahan.

"Seenggaknya sekarang gue tahu lo nggak bisa lari lagi, Ra," bisik Bima, lalu ia menyalakan mesin motor besarnya yang menderu keras, meninggalkan bengkel menuju kegelapan malam.

1
Taro
akhirnya up thor🥹
minttea_: huhu iya nihh kemaren author lagi sibuk, maaf yaa🥺
total 1 replies
Taro
teringat sama film pupus kalau baca novel ini. semangat thor
minttea_: wahhh iya kahhhh, makasihh banyak atas dukungannya🥰✨
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!