Zayyan Mahendra membawa Lolly ke Swiss untuk merayakan kelulusannya sekaligus melamar wanita itu. Namun di saat Zayyan berharap cinta mereka berakhir bahagia, Lolly justru memilih pria lain.
Dengan hati hancur, Zayyan memutuskan pulang ke Indonesia. Tak disangka, di bandara ia bertemu kembali dengan teman lamanya dan membuat keputusan gila. Dia menikah Alin, teman lamanya itu.
Pernikahan tanpa cinta itu awalnya hanya pelarian. Tapi siapa sangka, takdir justru mempertemukan mereka pada cinta yang sebenarnya. Namun, keberadaan Lolly selalu mengganggu rumah tangganya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kikoaiko, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 23
"Kalau jalan itu pakai mata, jangan pakai kaki" sentak Lolly yang tak sengaja tertabrak oleh Alin.
"Yang salah kamu bukan istriku" ucap Zayyan membela istrinya. Dia tadi sempat melihat jika mantan kekasihnya itu tidak memperhatikan jalan, dia sibuk dengan ponselnya. Alin yang tidak bisa menghindar akhirnya menabrak wanita itu.
Lolly terpaku mendengar suara yang begitu familiar di telinganya, dia perlahan mengalihkan pandangannya ke arah Zayyan.
"Zay" lirih Lolly.
Zayyan tidak menggubris, dia membantu istrinya dan memastikan sang istri tidak terluka.
"Kamu baik-baik aja, sayang?" tanya Zayyan lenbut.
Alin mengangguk, sebagai jawaban. "Kamu mengenalnya?" tanya Alin penasaran.
"Tidak penting" jawab Zayyan enggan membahas tentang Lolly. "Ayo, kita masuk" ajak Zayyan sambil merangkul pinggang istrinya.
Tatapan Lolly terus bergerak mengikuti kedua sepasang suami istri itu hingga masuk ke dalam supermarket. Untuk beberapa saat, wanita itu hanya berdiri mematung di tempatnya. Jemarinya yang menggenggam ponsel perlahan mengencang. Ada begitu banyak emosi yang bercampur menjadi satu di dalam dadanya.
Dia terkejut sekaligus tidak percaya Zayyan benar-benar membentaknya.
Sudah lama berlalu sejak terakhir kali ia bertemu Zayyan. Namun, ternyata melihat pria itu kembali masih mampu membuat hatinya bergetar, padahal dia sudah memiliki kekasih. Apalagi ketika ia melihat bagaimana Zayyan memperlakukan wanita yang kini menjadi istrinya dengan penuh rasa sayang. Seperti yang dulu pernah ia rasakan.
Lolly menelan ludahnya susah payah. "Jadi dia benar-benar menikah..." gumamnya pelan.
Selama sudah mendengar kabar dari teman-teman lama dan juga media sosial. Ia juga tahu Zayyan baru aja di angkat menjadi CEO. Karena Lolly selama ini masih mengikuti kabar tentang Zayyan. Dia takut Zayyan benar-benar sudah melupakannya. Dan hari ini ketakutan itu berdiri tepat di depan matanya.
*
*
Di dalam supermarket. Alin masih beberapa kali melirik suaminya dengan rasa penasaran.
Sejak tadi ekspresi Zayyan terlihat sedikit berbeda. Meski wajahnya tetap tenang, Alin cukup mengenal suaminya untuk menyadari ada sesuatu yang sedang mengganggu pikirannya.
"Sayang..."
"Kenapa? Kamu mau beli sesuatu?"
"Kamu kenal perempuan tadi?"
Zayyan yang sedang mendorong troli menghentikan langkahnya sesaat. Ia sudah menduga pertanyaan itu akan muncul.
Alin bukan tipe orang yang suka mencampuri urusan orang lain, tetapi ia juga bukan orang yang mudah mengabaikan sesuatu yang terlihat jelas di depan matanya. Terlebih wanita tadi memanggil nama suaminya dengan sangat akrab.
Zayyan menghela napas pelan.
"Dia mantan kekasihku."
Alin yang sedang mengambil sekotak susu langsung membulatkan matanya.
"Oh." Hanya itu yang keluar dari bibirnya.
Zayyan sampai menoleh heran.
"Oh?"
Alin mengangguk polos. "Iya. Aku cuma kaget."
"Kaget kenapa?"
"Aku kira artis."
Zayyan terdiam. Lalu tanpa sadar terkekeh kecil.
Alin memang selalu berhasil membuat suasana menjadi ringan.
"Dia bukan artis."
"Oh."
Alin kembali memasukkan susu ke dalam troli.
Sementara Zayyan memperhatikan istrinya lekat-lekat."Kamu nggak marah?"
Alin mengernyit. "Kenapa aku harus marah?"
"Karena dia mantanku."
Alin berpikir sejenak. "Lalu?"
Zayyan bahkan tidak tahu harus menjawab apa.
Alin terlihat benar-benar tidak mempermasalahkan hal itu. Wanita itu justru kembali sibuk memilih buah-buahan.
"Kalau aku marah karena masa lalu kamu, berarti aku harus marah juga sama semua teman perempuan yang pernah kenal kamu sejak kecil."
Zayyan tersenyum tipis.
"Aku serius."
"Aku juga serius."
Alin menatap suaminya. "Aku menikah dengan Zayyan yang sekarang, bukan Zayyan yang dulu."
Kalimat sederhana itu membuat hati Zayyan menghangat. Entah kenapa, setiap kali bersama Alin, ia selalu merasa diterima apa adanya. Tidak perlu berpura-pura, tidak perlu menjelaskan banyak hal. Wanita itu selalu mempercayainya.
Zayyan mengulurkan tangan lalu mencubit pelan pipi istrinya. "Kamu terlalu baik."
Alin langsung mengusap pipinya. "Sakit tahu."
"Makanya jangan terlalu baik."
Alin mendengus pelan.
Sementara Zayyan tertawa kecil melihat ekspresi kesal istrinya. "Ayo, kita lanjut belanja lagi" ajak Zayyan sambil mendorong trolli tersebut.
Tanpa mereka ketahui, ternyata Lolly ternyata belum pergi. Wanita itu masih berdiri tidak jauh dari pintu masuk supermarket. Matanya beberapa kali menatap ke arah dalam melalui dinding kaca transparan.
Dari tempatnya berdiri, ia bisa melihat Zayyan dan Alin sedang berbelanja bersama. Mereka terlihat seperti pasangan suami istri pada umumnya. Mereka mengobrol dan sesekali tertawa bersama. Dan yang paling membuat hati Lolly terasa sesak adalah cara Zayyan memandang Alin. Tatapan itu, tatapan yang dulu pernah diberikan kepadanya.
Lolly tersenyum pahit. Dulu ia yang memilih pergi, dia memilih orang yang dia cintai daripada mempertahankan orang yang telah mencintainya dengan tulus. Namun hidup ternyata tidak berjalan sesuai rencananya.
Kekasihnya tidak seperhatian dan selembut Zayyan. Aldi sangat cuek, dan sedikit kasar memperlakukannya.
Benar-benar ironis.
"Kalau waktu bisa diputar..." lirihnya.
Sayangnya waktu tidak pernah mau kembali. Dan kini di samping Zayyan sudah ada wanita lain.
Seorang wanita yang terlihat sederhana. Tetapi berhasil mendapatkan seluruh perhatian pria itu.
Lolly menutup matanya sesaat. Mencoba mengabaikan rasa sesak yang memenuhi dadanya. Namun tepat ketika ia hendak pergi, matanya kembali melihat sesuatu.
Zayyan sedang membungkuk sedikit untuk membantu Alin mengambil barang dari rak paling bawah. Lalu secara alami pria itu mengusap kepala istrinya dengan penuh kasih sayang.
Senyuman Alin langsung mengembang. Dan Zayyan membalasnya dengan tatapan hangat.
Pemandangan sederhana itu justru terasa seperti pisau yang menusuk hati Lolly.
Drrt.....
Drrt....
Ponsel Lolly berdering, membuyarkan lamunan wanita itu. Dia pun segera mengangkatnya ketika melihat nama Aldi muncul di layar ponselnya.
"KAMU KEMANA SAJA SIH? KENAPA LAMA SEKALI? KAMU PIKIR AKU SOPIR MU HAH!".
Lolly reflek menjauhkan ponselnya dari telinganya. Dia baru sadar jika sejak tadi Aldi menunggunya di mobil yang berada di parkiran.
Lolly memejamkan matanya sambil menarik nafas dalam lalu berkata, "Aku kesana sekarang" ucapnya.
Lolly menggenggam ponselnya erat setelah sambungan telepon itu terputus. Sesaat ia hanya diam berdiri di tempatnya. Tatapannya kosong menatap lantai supermarket yang mengilap.
Nada bicara Aldi barusan masih terngiang jelas di telinganya. Tidak ada pertanyaan apakah ia baik-baik saja, tidak ada kalimat lembut yang menanyakan kenapa ia lama. Yang ada hanya bentakan dan kemarahan.
Lolly tersenyum miris.
Dulu saat masih bersama Zayyan, pria itu bahkan tidak pernah meninggikan suaranya padanya. Jika ia terlambat keluar dari suatu tempat, Zayyan justru akan turun dari mobil dan mencarinya.
"Aku takut kamu kenapa-napa." Kalimat sederhana itu tiba-tiba terlintas di kepalanya. Dan entah kenapa, ingatan tersebut membuat dadanya semakin sesak.
Lolly menggelengkan kepalanya cepat.
Semua itu sudah berlalu. Bukankah dulu ia sendiri yang mengatakan bahwa Aldi adalah pria yang benar-benar ia cintai? Bukankah ia sendiri yang memilih meninggalkan Zayyan? Kalau begitu ia tidak berhak menyesali apa pun sekarang.
Dengan langkah pelan, Lolly berjalan menuju area parkir. Dari kejauhan ia sudah bisa melihat mobil Aldi terparkir di salah satu sudut. Pria itu bersandar di pintu mobil sambil memainkan ponselnya dengan wajah kesal.
Begitu melihat Lolly datang, Aldi langsung berdiri tegak. "Lama banget sih!" gerutunya.
"Aku cuma belanja beberapa barang."
"Belanja atau jalan-jalan?" sindir Aldi.
Lolly menghela napas pelan.
"Aku tadi antre di kasir."
Aldi mendecih tidak suka. "Lain kali jangan lama-lama. Aku capek nunggu."
Tanpa membantu membawa belanjaan yang ada di tangan Lolly, Aldi langsung membuka pintu mobil lalu masuk ke kursi pengemudi.
Lolly menatap beberapa kantong belanja yang cukup berat di tangannya. Jika biasanya seorang pria akan membantu membawakan barang-barang itu, Aldi bahkan tidak meliriknya sama sekali.
Perlahan ia membuka pintu belakang lalu meletakkan semua kantong belanja tersebut sendirian. Tak lama kemudian ia masuk ke dalam mobil.
Suasana langsung terasa sunyi. Mesin mobil pun mulai menyala. Aldi menjalankan mobilnya keluar dari area parkir tanpa mengatakan apa pun.
Sepanjang perjalanan, pria itu lebih sibuk memainkan satu tangannya dengan ponsel saat berhenti di lampu merah.
Sementara Lolly hanya duduk diam menatap jendela. Pikirannya terasa kacau. Ia teringat masa-masa awal saat berpacaran dengan Aldi.
Awalnya pria itu sangat perhatian, sangat manis.
Selalu mengatakan bahwa dirinya adalah wanita paling beruntung di dunia. Namun semuanya berubah setelah mereka bersama. Perlahan sifat asli Aldi mulai terlihat. Pria itu mudah marah dan egois. Dia selalu ingin dimengerti tanpa pernah mencoba memahami orang lain.
"Aku lapar." Suara Aldi memecah kesunyian.
Lolly menoleh. "Kita makan dulu? Di apartemen kan juga ada makanan." ucapnya, saat ini Lolly tinggal bersama di apartemen Aldi
"Aku mau makan di luar."
"Tapi aku capek."
Aldi langsung meliriknya sekilas. "Cuma duduk doang capek?" Kalimat itu membuat Lolly terdiam.
Lolly menggigit bibir bawahnya pelan. Hatinya terasa perih. Kadang ia bertanya-tanya, apakah Aldi benar-benar mencintainya? Atau pria itu hanya mencintai perasaan memiliki dirinya?
Karena setiap kali ia lelah, Aldi tidak pernah peduli. Setiap kali ia sedih, Aldi menganggapnya berlebihan. Dan setiap kali ia ingin dimengerti, Aldi justru membuatnya merasa bersalah.
Mobil kembali melaju membelah jalanan gelap.
Di dalam hati, Lolly merasakan sesuatu yang selama ini selalu ia tolak untuk akui.
Ia akhrinya merasa menyesal. Menyesal karena dulu ia begitu mudah menyia-nyiakan seseorang yang benar-benar mencintainya. Dan penyesalan itu terasa semakin menyakitkan karena kini ia harus duduk di samping pria yang setiap hari mengingatkannya bahwa cinta tidak selalu cukup untuk membuat seseorang bahagia.
lanjut Thor 💪💪💪
lanjut Thor 🔥🔥🔥