"Seribu tahun lalu, aku adalah puncak dari segala ilmu pedang. Kini, aku hanyalah sampah yang dihina oleh keluargaku sendiri."
Ling Chen adalah seorang pemuda dari keluarga cabang yang lemah dan tidak memiliki bakat dalam kultivasi pedang. Di dunia di mana kekuatan pedang adalah segalanya, ia menjadi bulan-bulanan, dikhianati oleh tunangannya, dan hampir tewas di tangan saudara sepupunya sendiri.
Namun, di ambang kematian, segel kuno di dalam jiwanya hancur. Ingatan sebagai Kaisar Pedang Surgawi, penguasa semesta yang pernah ditakuti oleh para dewa dan iblis, bangkit kembali. Dengan teknik "Sembilan Tebasan Langit" yang telah lama hilang dan pedang karatan yang ia temukan di gudang tua, Ling Chen memulai langkahnya untuk menagih hutang darah.
Satu per satu genius yang sombong akan ia tebas. Kerajaan yang dulu mengkhianatinya akan berlutut di bawah kakinya. Langit mungkin melupakannya, tapi dunia akan segera tahu bahwa sang penguasa telah kembali untuk merebut tahtanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon hajdhts, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Angin Malam
Kabut tipis mulai turun menyelimuti jalanan granit hitam di Distrik Inti Ibukota, bikin suasana malam yang sepi jadi terasa makin mencekam. Dinginnya angin malam menusuk sampai ke tulang, tapi buat Ling Chen dan Mu Rong'er yang baru aja keluar dari Penginapan Awan Surgawi, hawa dingin ini malah terasa menyegarkan dibanding bau anyir darah yang tadi memenuhi aula penginapan.
Mereka berdua jalan cepat menembus kegelapan gang-gang kecil yang sepi, sengaja menghindari jalan utama karena sebentar lagi gerombolan pasukan bantuan dari istana pasti bakal langsung membanjiri lokasi kejadian.
"Tuan Muda Ling, kita beneran nggak bakal dicari sampai ke ujung kota nih?" tanya Mu Rong'er sambil sesekali menengok ke belakang, memastikan nggak ada bayangan zirah emas yang membuntuti mereka dari jauh. Di atas kepalanya, Kuro kelihatan sibuk mengendus udara malam, telinga kecilnya bergerak-gerak siaga.
"Biarkan saja mereka mencari," jawab Ling Chen santai, kedua tangannya diselipkan di dalam saku jubah biru tuanya yang baru. Langkah kakinya kedengaran konstan, nggak ada nada panik sama sekali di suaranya.
"Ibukota ini luas, dan anjing-anjing istana itu nggak bakal punya cukup otak buat melacak sisa energi Qi yang sudah kuhapus bersih."
Mu Rong'er cuma bisa menghela napas pendek mendengar jawaban kelewat pede itu. Tapi ya mau gimana lagi, fakta di lapangan emang membuktikan kalau omongan Ling Chen bukan sekadar bualan belaka. Satu peleton Garda Emas aja bisa rata dengan tanah tanpa bikin pemuda di sampingnya ini keringatan.
Setelah berputar-putar melewati beberapa blok perumahan mewah yang pagarnya setinggi rumah warga biasa, Ling Chen mendadak menghentikan langkah kakinya di depan sebuah bangunan tua kosong yang halamannya dipenuhi semak liar.
Rumah itu kelihatan jomplang banget dibanding bangunan di sekelilingnya yang serba megah dan beratap emas.
"Kita istirahat di sini dulu sampai subuh," kata Ling Chen sambil mendorong pintu gerbang kayu yang sudah lapuk hingga mengeluarkan suara deritan panjang.
"Hah? Di sini? Rumah kosong begini?" Mu Rong'er agak ragu, mukanya langsung ditekuk pas melihat sarang laba-laba yang bergelantungan di langit-langit teras rumah itu. "Nggak mau cari penginapan lain aja yang agak bersihan dikit? Uang kita kan masih banyak, Tuan Muda."
Ling Chen melirik Mu Rong'er datar, bikin gadis itu langsung bungkam seketika. "Kalau kita masuk ke penginapan lain sekarang, pemiliknya pasti bakal langsung curiga melihat pakaian kita yang rapi tapi jalan kaki tengah malam begini di distrik bangsawan. Sembunyi itu harus di tempat yang paling nggak diduga sama musuh."
Mu Rong'er akhirnya cuma bisa pasrah. Dia melangkah masuk mengekor di belakang Ling Chen, membersihkan sedikit debu di atas sebuah kursi panjang tua pakai ujung lengan jubahnya sebelum akhirnya duduk selonjoran dengan lemas. Kuro langsung melompat turun dari kepalanya, nyari sudut ruangan yang agak bersih lalu meringkuk manja di sana.
Di dalam ruangan yang gelap dan cuma diterangi sama sisa cahaya bulan yang menerobos lewat celah atap bocor, Ling Chen duduk bersila di atas lantai batu. Dia memejamkan matanya, mulai memutar kembali aliran Qi di dalam tubuhnya untuk memeriksa kondisi Tulang Dewa miliknya setelah dipakai bertarung berturut-turut malam ini.
Meskipun musuh-musuh yang dia hadapi tadi cuma selevel semut di matanya, tubuh fana yang dia tempati sekarang ini masih punya batasan fisik yang cukup mengganggu buat ukuran seorang mantan Kaisar Pedang.
"Meridian tubuh ini masih terlalu sempit," batin Ling Chen sambil menghela napas dalam-dalam. "Kalau harus berhadapan langsung dengan master dari Benua Tengah yang menguasai teknik ruang, aku harus membuka segel energi tingkat kedua secepatnya."
Melihat Ling Chen yang serius banget meditasi, Mu Rong'er yang tadinya mau ngajak ngobrol jadi nggak enak hati. Dia cuma bisa diam sambil memperhatikan garis wajah Ling Chen yang kelihatan tegas dan misterius di bawah temaram cahaya bulan. Ada rasa penasaran yang besar banget di hati gadis itu tentang siapa sebenarnya sosok pemuda di depannya ini. Dari pembawaannya, Ling Chen sama sekali nggak kelihatan kayak anak muda fana umur belasan tahun, melainkan kayak sosok penguasa tua yang udah hidup ribuan tahun dan kenyang sama asam garam dunia kultivasi.
Sementara itu, di tempat yang terpisah beberapa kilometer dari rumah kosong tersebut, suasana di dalam kompleks Istana Inti Kekaisaran Utara justru lagi gempar luar biasa.
Di dalam sebuah aula megah yang dilapisi karpet merah sutra tebal, seorang pria muda berpakaian jubah naga kuning tua sedang berdiri sambil melempar cangkir giok mahalnya ke lantai sampai hancur berkeping-keping. Pria itu adalah Pangeran Agung, sosok yang digadang-gadang bakal jadi penerus takhta kekaisaran selanjutnya.
"Satu peleton Garda Emas! Termasuk Kapten Zhao dan wakilnya! Mati semua dalam waktu kurang dari satu jam?!" raung Pangeran Agung dengan wajah yang merah padam karena emosi yang meluap-luap.
Di bawah kakinya, beberapa kasim dan penjaga istana bersujud dengan tubuh yang gemetaran parah, nggak ada satu pun yang berani mengangkat kepala mereka.
"Benar, Pangeran... dari hasil pemeriksaan di lokasi, semua korban tewas karena luka sayatan pedang yang sangat bersih dan hantaman energi dalam yang menghancurkan organ dalam mereka dalam sekejap," lapor salah seorang komandan intelijen dengan suara bergetar.
"Pelakunya dipastikan adalah pemuda berbaju biru yang membawa gadis dari buronan Pasar Bayangan itu."
"Beri tahu seluruh gerbang kota untuk ditutup rapat! Jangan biarkan satu lalat pun keluar dari Ibukota tanpa seizinku!" perintah Pangeran Agung sambil mencengkeram sandaran kursi emasnya sampai retak.
"Bocah sialan itu sudah berani menginjak-injak harga diri kekaisaran di tanahku sendiri!"
"Nggak perlu sampai bikin keributan begitu, Pangeran Muda," sebuah suara tua yang serak mendadak terdengar dari balik tirai hitam di sudut aula.
Seorang pria tua dengan jubah hitam longgar bersulam lambang matahari sabit melangkah keluar dengan santai. Jalannya lambat, tapi setiap kali kakinya menginjak lantai, ada riak energi spiritual hitam yang tipis berputar di sekelilingnya, menandakan kalau dia adalah seorang kultivator dari Benua Tengah yang punya ranah kekuatan jauh di atas rata-rata orang di Benua fana ini.
Melihat kedatangan pria tua itu, kemarahan di wajah Pangeran Agung langsung surut, berganti dengan sikap yang sangat hormat bahkan cenderung agak membungkuk takzim. "Tetua Mo... maaf kalau keributan ini mengganggu meditasi Anda. Tapi bocah pembawa Giok Sembilan Langit itu beneran punya kekuatan yang aneh."
Tetua Mo cuma tersenyum sinis, jenggot putihnya yang panjang dielus pelan. "Kultivator fana tetaplah fana, Pangeran. Mau sekuat apa pun dia membantai pasukan zirahmu, di depan hukum alam Benua Tengah, dia nggak lebih dari sekadar debu yang gampang ditiup angin. Besok pagi, biar muridku sendiri yang turun tangan buat menjemput kepala bocah itu beserta pusaka yang kita cari."
Mendengar ucapan penuh percaya diri dari sang Tetua, Pangeran Agung langsung tersenyum licik. "Kalau murid Anda sendiri yang turun, saya yakin malam besok bocah sialan itu bakal memohon-mohon minta dibunuh di depan kaki kita."
Malam makin larut, dan di bawah langit Ibukota yang mulai mendung, sebuah badai yang jauh lebih besar dari malam ini sudah mulai bersiap buat menggulung keberadaan Ling Chen dan siapa saja yang berani berdiri di dekatnya.