Ada nama yang tak pernah disebut.
Ada kebenaran yang selalu disembunyikan di balik senyuman.
Dan ada cinta yang tumbuh… tanpa benar-benar tahu siapa yang dicintai.
Dhea hanya ingin mencintai dengan sederhana.
Namun semakin dekat, ia justru menyadari—
tidak semua yang terlihat, adalah yang sebenarnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NisfiDA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dimanjakan
“Ayo, sekarang kita beli pakaian baru untukmu,” ucap Aren tiba-tiba.
Dhea langsung menatap Aren dengan mata sedikit membesar.
“Mas…”
“Kali ini aku nggak mau ditolak, Dhea,” lanjut Aren dengan serius.
Dhea langsung menggaruk pelan pipinya yang tidak gatal.
“Tapi Dhea masih punya pakaian kok.”
“Aku tahu.”
“Terus kenapa mau beli lagi?”
“Karena aku mau,” jawab Aren santai.
Seketika Dhea langsung terdiam. Sedangkan Aren kembali melanjutkan langkahnya sambil tetap menggenggam tangan Dhea.
“Aku juga nggak suka lihat kamu terus mengalah sama diri sendiri.”
“Tapi…”
“Tidak ada tapi.”
Dhea langsung memasang wajah cemberutnya lagi.
“Mas sekarang galak.”
Aren justru terkekeh kecil.
“Kalau nggak galak, kamu nggak bakal nurut.”
“Ihh…”
Melihat reaksi Dhea yang mulai mengomel kecil membuat Aren kembali tersenyum.
Entah kenapa, ia benar-benar ingin memanjakan gadis itu sekarang. Karena selama ini, Dhea terlalu sering menahan keinginannya sendiri demi orang lain.
“Mas, belinya jangan banyak-banyak ya,” ucap Dhea sambil berjalan di samping Aren. “Cukup satu atau dua saja.”
Aren langsung menoleh sambil mengangkat satu alisnya.
“Terserah aku.”
“Loh?”
“Kan yang punya uang aku,” jawab Aren santai. “Jadi bebas mau belinya seberapa banyak.”
Dhea langsung manyun mendengar jawaban itu.
“Ishh, Mas mulai sombong ya sekarang.”
Aren justru terkekeh kecil.
“Sombongnya cuma buat manjain kamu doang.”
Deg.
Seketika wajah Dhea langsung memerah mendengar ucapan itu. Sedangkan Aren malah terlihat santai sambil terus berjalan.
“Mas suka bikin Dhea salah tingkah tau,” gumam Dhea pelan sambil menutupi pipinya yang mulai panas.
Aren yang mendengarnya langsung tersenyum kecil.
“Memangnya aku salah?”
“Iya.”
“Bagian mana?”
“Semua.”
Jawaban cepat itu justru membuat Aren tertawa kecil lagi.
Dan tanpa sadar, suasana di antara mereka kini terasa jauh lebih dekat dibanding sebelumnya.
**
Setelah beberapa menit kemudian, akhirnya mereka tiba di salah satu toko pakaian yang berada di pinggir jalan. Aren menghentikan langkahnya lalu menatap Dhea.
“Kamu yakin nggak mau beli di mall saja?” tanyanya.
Dhea langsung mengernyit bingung.
“Mas, memangnya apa bedanya sama toko di depan ini? Kan sama saja.”
“Beda, Dhea,” jawab Aren cepat. “Kalau di mall kualitas bajunya jauh lebih bagus.”
Dhea langsung menghela napas pelan.
“Mas, semua pakaian itu sama saja. Nggak ada bedanya.”
“Tapi kalau di mall modelnya lebih bagus-bagus dibanding toko ini.”
Mendengar Aren yang terus membahas soal pakaian, Dhea mulai memasang wajah kesalnya.
“Kalau begitu nggak jadi saja sudah belinya,” ucap Dhea tiba-tiba.
Aren langsung terkejut.
“Hah?”
“Malas kalau Mas terlalu pilih-pilih begini.”
Seketika Dhea langsung berjalan lebih dulu dengan wajah ngambeknya.
Sedangkan Aren hanya bisa diam beberapa detik sambil mengusap tengkuknya pelan. Karena dirinya sadar, ia tadi terlalu berlebihan membahas soal pakaian sampai membuat Dhea kesal.
“Hey, hey… kenapa malah ninggalin aku?” ucap Aren sambil buru-buru mengejar Dhea yang sedang berjalan dengan wajah ngambek.
Namun Dhea sama sekali tidak menoleh. Langkahnya justru semakin cepat sedikit.
“Dhea,” panggil Aren lagi sambil menahan tawanya kecil melihat tingkah gadis itu.
Tetapi Dhea tetap diam sambil melipat kedua tangannya di depan dada.
“Ngambek?”
“Tidak.”
Jawabannya cepat sekali. Yang justru membuat Aren semakin yakin kalau Dhea memang sedang kesal.
“Kalau nggak ngambek kenapa jalannya cepat begitu?”
“Biar Mas pergi saja ke mall sana.”
Seketika Aren langsung terkekeh pelan.
“Loh, kok jadi begitu?”
“Kan Mas nggak suka toko tadi.”
“Aku bukan nggak suka.”
“Terus?”
“Aku cuma pengin beliin yang terbaik buat kamu.”
Deg.
Langkah Dhea perlahan berhenti. Namun wajahnya masih tetap cemberut saat menoleh ke arah Aren.
“Menurut Dhea…” ucapnya pelan. “Yang penting itu niatnya, bukan mahal atau nggaknya.”
Seketika Aren langsung terdiam mendengar ucapan tersebut.
Karena lagi-lagi, cara berpikir Dhea selalu sesederhana itu.
“Kalau Mas begitu, mending pulang saja,” ucap Dhea sambil kembali berjalan dengan wajah cemberutnya. “Dhea nggak mau beli pakaian baru.”
“Dhea…”
“Biarin saja Dhea pakai pakaian lusuh Dhea,” lanjutnya kesal. “Daripada harus debat begitu, uh.”
Melihat Dhea yang benar-benar ngambek membuat Aren langsung menghela napas pelan. Lalu pria itu buru-buru berjalan mendekat sebelum akhirnya menahan pelan pergelangan tangan Dhea.
“Hey, maaf,” ucapnya lembut.
Dhea langsung membuang wajahnya ke samping.
“Aku nggak bermaksud bikin kamu kesal.”
“Mas terlalu ribet soal pakaian.”
“Iya, salah aku.”
Dhea masih diam sambil manyun kecil. Sedangkan Aren menatapnya beberapa detik sebelum akhirnya tersenyum tipis.
“Aku cuma pengin kasih yang terbaik buat kamu.” “Tapi bukan berarti aku merendahkan toko tadi.”
Dhea perlahan menoleh lagi ke arah Aren.
“Beneran?”
“Iya.”
“Terus kenapa Mas cerewet banget?”
Aren terkekeh kecil lalu mengusap pelan puncak kepala Dhea.
“Karena aku pengen manjain kamu.”
Deg.
Seketika wajah Dhea langsung memerah lagi mendengar jawaban itu.
Dhea langsung manyun karena rasa kesalnya masih belum hilang sepenuhnya. Melihat wajah cemberut gadis itu, Aren justru semakin gemas ingin menggodanya.
“Wah, serem juga kalau ngambek begini,” godanya sambil menahan tawa.
Dhea langsung melotot kecil.
“Biarin.”
“Kalau begini nanti aku dimakan sama kamu.”
“Bagus.”
Aren langsung terkekeh pelan melihat jawaban cepat Dhea.
“Baiklah, baiklah,” ucapnya akhirnya mengalah sambil mengangkat kedua tangannya. “Ayo, kita beli pakaian di toko tadi.”
Dhea langsung melirik Aren sekilas.
“Beneran?”
“Iya.”
“Nggak bakal ngomel lagi soal mall?”
Aren menggeleng kecil sambil tersenyum pasrah.
“Nggak.”
Barulah wajah Dhea sedikit berubah cerah lagi.
“Nah gitu dong.”
Melihat perubahan ekspresi Dhea yang cepat itu membuat Aren hanya bisa tersenyum kecil. Karena ternyata, membujuk gadis satu ini jauh lebih susah dibanding yang ia bayangkan.
“Ayo!” ucap Dhea dengan semangat sambil berjalan lebih dulu.
Melihat gadis itu kembali ceria membuat Aren tersenyum kecil sambil mengikuti langkahnya dari belakang.
Namun karena terlalu semangat, Dhea sama sekali tidak memperhatikan jalan di depannya.
Dan.
Buk!
“Awhhh!”
Seketika suara benturan terdengar cukup keras saat kepala Dhea menabrak tiang listrik yang berada tepat di depannya.
Bahkan suara benturannya sampai membuat beberapa orang menoleh.
Dhea langsung mundur sambil memegangi keningnya dengan wajah meringis kesakitan. Sedangkan Aren membelalakkan matanya kaget.
“Ya Tuhan, Dhea!”
Pria itu langsung buru-buru menghampiri Dhea dengan wajah panik sekaligus menahan tawa.
“Kamu jalan lihat depan dong.”
“Dhea nggak lihat ada tiang…” rengeknya sambil mengusap keningnya yang memerah.
Aren langsung menghela napas pasrah.
“Kok bisa sih nabrak tiang sebesar ini?”
“Kan tadi semangat…”
Jawaban polos itu justru membuat Aren tidak bisa menahan tawanya lagi. Sedangkan Dhea langsung manyun kesal.
“Mas malah ketawa.”
“Iya habis lucu.”
“Ihh sakit tauk!”
Aren akhirnya mendekat lalu meniup pelan kening Dhea yang memerah.
“Nah, biar nggak sakit.”
Dhea menatap Aren yang sedang meniup pelan keningnya dengan wajah masih meringis kecil.
“Makanya kalau jalan itu lihat ke depan dong,” ucap Aren sambil menahan tawanya. “Jadinya nabrak tiang kan. Padahal tiang listriknya besar loh, Dhea.”
Dhea langsung manyun kesal.
“Mas Aren jahat banget ihh. Mas malah ketawa begitu.”
Dan setelah mendengar protes itu.
Aren benar-benar tidak bisa menahan tawanya lagi. Suara tawanya terdengar jelas sampai bahunya sedikit bergetar.
“Maaf, maaf,” ucapnya di sela tawanya. “Habisnya kamu lucu banget tau.”
“Tiang listrik segede itu pun nggak kamu lihat.”
Dhea langsung melipat kedua tangannya di depan dada.
“Salah tiang listriknya.”
“Hah?”
“Kenapa dia ada di sana coba?”
Deg.
Seketika Aren langsung tertawa semakin keras mendengar jawaban polos tersebut. Sedangkan Dhea justru semakin cemberut karena merasa dirinya sedang ditertawakan terus.
“Ihh, Mas jahat.”
Aren akhirnya mencoba menenangkan tawanya sambil mengusap pelan kepala Dhea.
“Iya, iya. Salah tiangnya.”
“Nah kan.”
“Tapi lain kali jalannya hati-hati.”
Dhea langsung mendecakkan pelan bibirnya.
“Kalau nanti benjol bagaimana?”
Aren tersenyum kecil lalu kembali mengusap pelan kening Dhea yang memerah.
“Kalau benjol nanti aku obatin.”