Paris seharusnya menjadi mimpi indah bagi Kiandra Zanitha. Namun, karena kecerobohan agen properti dan aturan Clause de Solidarité yang menjerat, mimpi itu berubah menjadi jerat yang menyesakkan. Kiandra terpaksa berbagi apartemen sempit di Rue de Rivoli dengan seorang pria asing yang langsung mengacaukan kewarasannya sejak hari pertama.
Pertemuan pertama mereka adalah bencana yang memalukan: sebuah handuk yang melorot, tubuh atletis yang basah, dan tatapan hazel yang seolah mampu menelanjangi rahasia terdalam Kiandra. Namun, kejutan sebenarnya baru dimulai saat fajar tiba. Pria provokatif yang melihatnya tersipu malu di dapur itu ternyata adalah Enzo Romano—dosen senior di Le Cordon Bleu sekaligus pakar kuliner yang memegang kendali atas masa depan studinya.
Di kampus, Enzo adalah otoritas yang dingin dan disiplin. Di apartemen, dia adalah pria yang gemar menguji batas kesabaran—dan iman—Kiandra. Di antara uap mentega di dapur dan denting gelas wine, garis antara dosen dan teman s
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aliska Rosemary, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18: Hadiah di Ujung Lelah
Jarum jam dinding di ruang tengah Apartemen Rue de Rivoli berdetak dengan ritme yang terasa seperti palu godam di telinga Kiandra.
Pukul sepuluh malam. Keheningan di dalam unit mewah itu hanya dipecah oleh suara detik jam dan napas lelah Kiandra yang terdengar pendek-pendek.
Lampu dapur yang temaram memberikan pantulan kuning hangat pada permukaan meja marmer yang dingin. Di sana, Kiandra berdiri dengan kaki yang terasa seperti jeli. Seluruh otot di tubuhnya berdenyut nyeri, protes atas kerja paksa yang ia lakukan sejak pulang dari kampus tadi sore.
Tangannya yang sedikit gemetar mengangkat sebuah botol kaca bening ke arah cahaya lampu. Di dalamnya, terdapat cairan berwarna emas pucat yang sangat jernih.
Begitu bening, hingga Kiandra bisa melihat sidik jarinya sendiri di balik botol itu. Tidak ada satu pun partikel lemak yang mengambang. Tidak ada kekeruhan. Cairan itu tampak seperti kristal cair yang murni.
"Kalau ini masih dianggap sampah sama si Singa Italia itu, aku beneran bakal mogok makan sebulan!" batin Kiandra merana.
Ia sudah menyaring kaldu itu sebanyak lima kali menggunakan kain muslin yang paling halus. Ia bahkan menahan napas setiap kali menuangkannya, seolah-olah embusan napasnya bisa mengotori kejernihan kaldu sapi yang ia kerjakan dengan penuh air mata dan umpatan itu.
Tiba-tiba, sebuah bayangan panjang jatuh menutupi meja marmer.
Kiandra tersentak, nyaris menjatuhkan botol berharga itu. Ia menoleh dan mendapati Enzo Romano muncul dari kegelapan lorong. Pria itu melangkah tanpa suara, seolah-olah ia adalah bagian dari bayang-bayang apartemen ini.
Enzo sudah mengganti kemeja kaku kampusnya dengan kaos hitam santai yang pas di tubuhnya. Bahan kaos yang tipis itu mencetak jelas lekuk otot dadanya yang bidang dan bahunya yang lebar. Rambut cokelat gelapnya sedikit berantakan, memberikan kesan maskulin yang lebih mentah dan berbahaya daripada saat ia berada di podium kelas.
Enzo berhenti tepat di samping Kiandra. Tanpa meminta izin, ia mengambil botol kaca itu dari tangan Kiandra. Jemarinya yang panjang dan hangat sempat bersentuhan dengan kulit dingin Kiandra, menciptakan sengatan listrik singkat yang membuat gadis itu menahan napas.
Kiandra mematung. Jantungnya berdegup kencang, berpacu liar menunggu vonis mati atau kehidupan. Ia memperhatikan Enzo yang mulai memutar botol itu perlahan di bawah cahaya lampu. Mata hazel pria itu menyempit, menatap kejernihan kaldu dengan ketelitian seorang ahli bedah.
Satu detik. Dua detik. Keheningan itu terasa mencekik.
Enzo menurunkan botol itu, lalu menatap Kiandra lurus-lurus. Untuk pertama kalinya sejak mereka bertemu, sudut bibir pria itu terangkat, membentuk sebuah senyuman hangat yang tulus—sebuah pemandangan langka yang sanggup meluluhkan es di kutub utara dalam sekejap.
"Sempurna. Kamu akhirnya paham apa itu kesabaran, Piccola," ucap Enzo. Suaranya rendah, bergetar dengan nada apresiasi yang murni.
Mata Kiandra membelalak. Ia seolah tidak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar. "Sempurna? Kamu bilang sempurna?"
Enzo mengangguk pelan, meletakkan botol itu kembali ke meja. "Kejernihannya luar biasa. Kamu berhasil mengekstrak jiwanya, bukan cuma lemaknya."
"Yesss! Akhirnya!"
Kiandra mengangkat kedua tangannya ke udara, bersorak riang dengan suara yang serak karena kelelahan.
Namun, euforia itu hanya bertahan sekejap. Karena terlalu bersemangat dan tubuhnya memang sudah mencapai batas maksimal, pandangan Kiandra mendadak berputar gelap. Rasa pening yang hebat menghantam kepalanya, membuat keseimbangannya hilang total.
Tubuh mungilnya limbung ke samping.
"Kiandra!"
Dengan refleks secepat kilat, Enzo menangkap pinggang Kiandra. Lengan pria itu yang kuat melingkar mantap, menarik tubuh kecil Kiandra masuk ke dalam dekapan dadanya yang kokoh.
Kiandra menabrak dada Enzo dengan keras.
"Maaf... aku... kepalaku mendadak pening," cicit Kiandra. Ia mencoba berdiri tegak, namun kakinya benar-benar tidak mau bekerja sama.
Enzo tidak melepaskannya. Ia memastikan Kiandra tetap stabil dalam dekapannya, namun tangannya tetap menahan lengan gadis itu dengan protektif. Matanya yang hazel kini memancarkan kegusaran yang bercampur dengan perhatian.
"Kamu sudah makan malam?" tanya Enzo.
Kiandra menggeleng pelan, wajahnya yang pucat tampak semakin kuyu di bawah lampu dapur. "Belum sempat. Tadi terlalu fokus sama 'anak emas' ini," tunjuknya lemah pada botol kaldu di meja.
Enzo mengembuskan napas panjang, terdengar sangat gusar. "Ceroboh sekali. Kesehatan itu yang utama, bukan cuma angka di buku nilai. Kamu mau pingsan di dapurku dan membuatku repot memanggil ambulans?"
"Gara-gara siapa juga aku telat makan? Siapa yang kasih tugas tambahan sampai jam sepuluh malam begini? Dasar nggak sadar diri!" batin Kiandra berteriak absurd, meski ia tidak punya tenaga untuk mengucapkannya.
Kiandra mencoba melepaskan diri dari pegangan Enzo, berjalan gontai menuju kulkas dengan langkah yang tidak stabil. "Iya, iya. Aku mau masak mi instan saja kalau begitu. Cepat dan gampang."
Baru dua langkah, Enzo menahan tangan Kiandra. Sentuhannya di pergelangan tangan Kiandra terasa tegas namun lembut, menghentikan langkah gadis itu seketika.
Kiandra menatap bingung. Mata cokelat gelapnya bertemu dengan mata hazel Enzo yang kini terlihat sangat dominan dan tidak bisa dibantah.
"Kamu istirahat saja. Duduk di sana," Enzo menunjuk ke arah kursi bar di meja marmer dengan dagunya.
"Tapi aku lapar—"
"Biar aku yang masak," potong Enzo cepat. "Lagian aku takut masakanmu rasanya aneh kalau memasak dengan kondisi tidak fit seperti itu. Aku tidak mau apartemenku bau masakan gagal."
Kiandra tertegun. Ia tidak menyangka akan mendapat tawaran 'surga' dari sang algojo kampus yang biasanya hanya tahu cara mengkritik.
Tanpa banyak protes, ia mengangguk patuh dan duduk dengan lemas di kursi bar, menopang dagunya dengan kedua tangan.
Enzo mulai bergerak di dapur. Gerakannya kali ini benar-benar berbeda dari saat ia berada di kampus. Tidak ada lagi kekakuan formal; gerakannya sangat cair, efisien, dan penuh estetika yang memabukkan.
Ia mengambil dua butir telur organik dari kulkas, sepotong keju Pecorino Romano yang aromanya tajam, dan lada hitam utuh yang baru saja ia ambil dari lemari bumbu.
Kiandra terpaku, matanya tidak bisa lepas dari punggung lebar Enzo yang bergerak lincah. Di mata Kiandra, gerakan tangan Enzo saat memecahkan telur dengan satu tangan dan memarut keju tampak seperti sebuah pertunjukan orkestra premium. Sangat terampil, sangat seksi, dan sangat... intim.
Enzo merebus pasta Spaghetti dalam air mendidih yang sudah digarami dengan presisi detik yang tepat. Suara desis air dan aroma lada hitam yang mulai dipanggang di atas wajan kering memenuhi ruangan, menciptakan serangan sensorik yang membuat perut Kiandra semakin keroncongan.
"Cacio e Pepe," gumam Enzo sambil mengaduk pasta dengan air rebusannya, menciptakan emulsi keju yang kental dan berkilau.
Kiandra terpesona melihat bagaimana bahan-bahan sederhana itu, di tangan Enzo, berubah menjadi sesuatu yang aromanya sangat memabukkan. Hanya keju, lada, dan pasta, namun di tangan seorang maestro, itu adalah sebuah mahakarya.
Sepuluh menit kemudian, Enzo menyajikan dua piring pasta di atas meja marmer. Tampilannya minimalis namun sangat elegan dengan taburan lada hitam yang ditata artistik di atasnya. Uap panas mengepul, membawa aroma gurih keju yang menggoda.
Enzo duduk di hadapan Kiandra, mulai makan dengan lahap, ia juga sebenarnya belum makan demi menunggu tugas Kiandra selesai.
Kiandra menyuap satu garpu pasta. Begitu tekstur pasta yang al dente dan saus keju yang creamy itu menyentuh lidahnya, matanya langsung membelalak sempurna. Rasanya luar biasa—gurih yang dalam, pedas lada yang hangat di tenggorokan, dan keseimbangan rasa yang sempurna.
"Ini... ini enak banget. Curang, kamu pakai sihir apa?" tanya Kiandra dengan mulut yang masih sedikit penuh.
Enzo tersenyum miring, sebuah ekspresi yang terlihat sangat maskulin di bawah lampu temaram. "Sihir orang Italia yang tahu cara menghargai rasa lapar teman satu unit apartemennya."
"Sisi Enzo yang seperti ini yang selalu membuat hatiku galau. Kenapa dia bisa jadi orang paling menyebalkan di kampus, tapi di sini dia begitu... manis?" batin Kiandra, merasakan badai emosi mulai berkecamuk di dadanya.
Kiandra menatap Enzo dalam diam, memperhatikan bagaimana pria itu menikmati makanannya. Keheningan di antara mereka kali ini terasa berbeda—tidak lagi mencekam, melainkan sangat intim dan hangat.
"Kenapa berhenti makan? Kamu memikirkan dosenmu yang tampan ini atau memikirkan tugas tambahan besok?" goda Enzo tanpa mendongak dari piringnya.
"Memikirkan betapa tidak baiknya kamu untuk kesehatan jantungku, Monsieur," ucap Kiandra spontan.
Begitu kata-kata itu keluar, Kiandra langsung menutup mulutnya dengan telapak tangan. Matanya melotot panik, menyadari kejujuran emosionalnya baru saja bocor tanpa filter.
Enzo berhenti mengunyah. Ia meletakkan garpunya, lalu mendongak dan menatap Kiandra dengan tatapan yang sangat intens, dalam, dan penuh selidik.
"Jantungmu? Kenapa dengan jantungmu, Piccola?" tanya Enzo.
"Eh... maksudku... kamu itu suka bikin kaget! Tiba-tiba baik, tiba-tiba galak! Itu bikin jantungan tahu!" Kiandra membela diri dengan wajah yang kini sudah semerah kepiting rebus.
Enzo tertawa rendah, sebuah suara yang terasa seperti pelukan hangat di tengah dinginnya malam Paris. "Dunia butuh variasi rasa, Kiandra. Biar kamu tidak bosan."
Kiandra segera menunduk, menyembunyikan wajahnya yang panas membara, dan terus menyuap pastanya dengan kecepatan tinggi. Ia tidak berani lagi menatap mata hazel itu, takut jika ia akan tenggelam lebih dalam ke dalam labirin perasaan yang semakin tidak masuk akal ini.