Menyandang status janda di usia muda, bukan hanya sekali, tapi tiga kali. Membuatku membangun benteng pertahanan yang angker.
Bagiku, laki-laki hanyalah makhluk lemah yang datang untuk memanfaatkan atau meninggalkanku. Keangkuhan itu menjadi perisai utamaku.
Sampai hari itu, ketika ego tinggiku berhadapan dengan mas Barraq, seorang pemuda keturunan berada yang dengan berani mengutarakan ketulusannya padaku.
Dengan lidahku yang tajam, kulontarkan kalimat-kalimat penuh racun yang meremukkan harga dirinya. Aku menghakiminya seolah dia tidak punya hak untuk mencintai wanita berpengalaman sepertiku.
Dadaku sesak oleh rasa bersalah yang teramat sangat. Di tangan pemuda yang dulu kuanggap remeh inilah, titik balik hidupku terpampang nyata.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anissah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Eps 26. Mencari tahu akarnya
Rupanya, rasa penasaran telah membuat Citra mengosongkan waktu kerjanya demi berselancar di media sosial. Dari bisik-bisik staf administrasi yang sampai ke telingaku, Citra menghabiskan waktu berjam-jam untuk mencari tahu siapa aku sebenarnya.
Dia akhirnya menemukan akun pribadiku. Kenapa ia sengaja mengikutiku di sosial media? Kan aku jadi tahu bagaimana ia penasarannya padaku.
Ya, aku memang seorang influencer. Jangkauan pengikutku memang masih di bawah Shelly, tapi aku sudah memiliki nama, pasar, dan reputasi duniaku sendiri. Fakta bahwa wanita yang selama ini dia anggap "staf biasa yang sok cantik" ternyata memiliki pengaruh digital yang nyata, justru membuat kompleks inferioritas di dalam diri Citra meradang hebat.
Sifat tidak sukanya kini tidak lagi disembunyikan di balik punggung. Citra mulai menyerangku secara terang-terangan.
Di ranah pekerjaan, dia mulai mempersulit koordinasi operasional antarcabang, sengaja menahan laporan logistik, dan memberikan gestur menantang setiap kali kami berada di forum rapat yang sama. Aku hanya menanggapi semua kekanak-kanakannya dengan senyuman dingin. Dia lupa, posisiku sebagai General Manager berada di atas jabatannya.
Aku sengaja membiarkannya menari di atas angin untuk sementara waktu, mengumpulkan setiap blunder yang ia buat.
Puncaknya terjadi siang ini di koridor menuju ruanganku. Citra menghadang langkahku dengan bersedekap dada, matanya memindai penampilanku dari ujung rambut hingga ujung kaki dengan tatapan menghakimi. Hari ini aku mengenakan blazer pas badan tanpa lengan yang dipadukan dengan celana bahan formal. Pakaian yang kupilih karena setelah jam kantor aku harus langsung meluncur ke tempat gym.
"Bu Dea," panggilnya dengan suara yang sengaja dikeras-keraskan agar didengar staf lain yang melintas. "Saya rasa pakaian Anda hari ini kurang pantas untuk lingkungan kerja. Terlalu seksi dan memamerkan lekuk tubuh. Kita ini bekerja di perusahaan profesional, bukan sedang bersiap untuk pemotretan media sosial Anda."
Aku menghentikan langkah, membalikkan badan dengan perlahan, lalu menatapnya lurus-lurus.
Aku melirik jam tangan pintarku, lalu kembali menatap wajah Citra yang tampak puas karena merasa berhasil menyudutkanku.
Olahraga seminggu tiga kali yang kujalani dengan disiplin memang membentuk tubuhku dengan sangat baik, dan perawatan kulit yang rutin membuatku selalu terlihat menonjol. Tapi menuduhku berpakaian tidak profesional hanya karena dia iri pada bentuk fisikku? Itu sudah melintasi batas.
"Oh, ya?" aku melangkah satu langkah lebih dekat, membuat tingginya yang sedikit di bawahku terpaksa mendongak. Aku memastikan suaraku tetap tenang, datar, namun sarat akan penekanan. "Terima kasih atas masukannya, Citra. Tapi seingat saya, dress code perusahaan tidak melarang pakaian formal yang fit di tubuh. Yang justru dilarang oleh perusahaan adalah menggunakan jam kerja untuk memata-matai latar belakang pribadi atasan, atau..."
Aku sengaja menggantung kalimatku, lalu tersenyum sangat tipis, tepat di depan wajahnya yang mendadak menegang. "...memanipulasi data dokumen operasional yang bulan ini masuk ke meja saya. Menurut kamu, mana pelanggaran yang lebih serius untuk dilaporkan ke pemilik perusahaan?"
Mendengar kata 'manipulasi data', warna di wajah Citra langsung pudar. Mulutnya yang tadi berkomat-kamit siap menghakimiku seketika terkunci rapat.
Aku memperbaiki posisi tas jinjingku di bahu, menepuk pelan pundaknya yang terasa kaku, lalu berjalan melewatinya begitu saja. Citra ingin bermain api denganku menggunakan isu-isu picik seperti penampilan? Silakan. Dia tidak sadar, kartu as miliknya sudah sepenuhnya berada di dalam genggamanku.
Tapi dengan tuduhan kecil itu cukup membuktikan bahwa memang pelakunya adalah Citra. Aku hanya perlu bukti lengkapnya saja. Aku akan minta pada staf langsung copyan dokumen yang sebelum masuk ke Citra, agar aku bisa menyusunnya sendiri untuk mengetahui di mana letak tabel yang ia utak-atik itu.
Aku membuat janji temu dengan ayah Wiya langsung lewat Naura. Aku tidak mau ibu Nala salah paham padaku, jika aku langsung menghubungi ayah Wiya untuk menyempatkan diri bertemu denganku.
Namun, ketika aku tengah menilik sosial media milikku sesaat sebelum menghubungi Naura. Aku melihat postingan mas Barraq yang bertelan**** dada, memamerkan tatonya dan menggunakan selempang dengan bertuliskan khotmil Qur'an 2026.
Aku sampai memperbesar tampilan foto tersebut. Aku jadi penasaran di mana letak kepala rusanya? Hanya tanduknya saja yang terlihat jelas.
Pasti kepalanya besar dan kokoh. Rusanya maksudnya.
Ia masih berada di rumah orang tuanya, sebulan belakangan berarti ia benar dengan potongan obrolan itu. Ia tengah fokus pada khatamannya.
[Udah disampaikan, Kak Dea.] balas Naura beberapa saat setelah aku mengirimkan pesan yang harus ia sampaikan pada ayahnya itu.
Namun, beberapa hari kemudian Naura mengabari bahwa ayah Wiya tidak bisa menemuiku secara langsung. Katanya laporkan saja langsung ke nomor ayah, tidak menggunakan email lagi tak apa jika tidak begitu menyangkut kepentingan laporan pekerjaan katanya.
Masalahnya juga untuk bertemu itu membutuhkan waktu cukup lama dalam perjalanan. Aku berniat nanti sajalah melaporkannya, jika ada undangan untukku untuk datang ke sana dan diminta untuk menceritakan semua laporanku nanti.
Detak jarum jam di ruang kubikal ini terasa seperti ketukan palu hakim di kepalaku. Pandanganku tak lepas dari baris demi baris angka di layar monitor. Sejak awal, aku sudah mencium bau busuk dari laporan ini. Instingku bilang ada yang tidak beres, dan sialnya, instingku jarang sekali keliru.
Awalnya, kecurigaanku berhenti di meja Citra. Aku mengira dialah ujung dari benang kusut ini, sang dalang yang memoles semua laporan agar terlihat sempurna di mata direksi. Namun malam ini, setelah menyelam lebih dalam ke folder arsip mentah sebelum berpindah ke tangan Citra, bulu kudukku meremang.
Ini bukan sekadar kelalaian di tingkat manajerial. Ini adalah sabotase sistematis dari akarnya.
Aku menyandarkan punggung ke kursi, memijat pangkal hidungku yang berdenyut. Data laporan sebelum masuk ke meja Citra ternyata sudah cacat sejak lahir.
Ada selisih angka yang rapi, terlalu rapi untuk sebuah ketidaksengajaan. Seseorang di tingkat bawah telah memanipulasi input awal, merekayasa volume, dan memotong anggaran bahkan sebelum Citra menyentuh dokumen itu.
Temuan janggal yang aku urutkan malam ini, adalah daftar input vendor. Angka realisasi lapangan yang dimasukkan oleh tim lapangan tidak sinkron dengan nota fisik yang aku temukan di laci arsip lama.
Modifikasi tanggal digital juga ada jeda dua jam misterius setiap kali data akan dikirim ke sistem pusat, seolah ada "stasiun transit" rahasia tempat angka-angka itu disaring dan diubah.
Duplikasi faktur beberapa vendor fiktif meloloskan tagihan yang formatnya sama persis, hanya berbeda satu digit di nomor seri.
Artinya, Citra mungkin bukan satu-satunya pemain. Atau yang lebih buruk... Citra hanyalah benteng pelindung yang bertugas merapikan kebusukan yang sudah dibuat oleh tim di bawahnya.
Aku menatap layar yang memantulkan bayangan wajah lelahku. Mengetahui hal ini membuat posisiku semakin berbahaya. Kalau aku hanya melaporkan Citra, sang pembuat skenario asli di balik layar akan tetap melenggang bebas. Aku harus menggali lebih dalam, mencari tahu siapa yang memegang kendali atas input pertama ini, sebelum mereka menyadari bahwa aku sudah melangkah terlalu jauh.
barrack jgn blg kamu badboy,,kyk mantan pcrnya adiknya canda,,ceria skalane😠😠