NovelToon NovelToon
My Husband Brondong

My Husband Brondong

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Crazy Rich/Konglomerat / Romansa Fantasi
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: Naelong

Dunia Maya jungkir balik saat ia terbangun dan menyadari bahwa ia telah terikat pernikahan dengan adik tingkatnya yang paling populer di kampus. Perbedaan usia lima tahun membuat Maya merasa seperti sedang mengasuh seorang adik daripada melayani seorang suami.

​Lucunya, sang suami justru bersikeras ingin membuktikan bahwa dirinya adalah pria dewasa yang bisa diandalkan. Mulai dari kecanggungan di dapur hingga usaha-usaha romantis yang berakhir gagal total, Maya mulai melihat sisi lain dari si "brondong" yang membuat jantungnya berdebar tidak karuan. Menikahi pria yang lebih muda ternyata bukan tentang mengajari, tapi tentang belajar mencintai kembali.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Naelong, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 21 - MHB

Pagi itu seharusnya menjadi pagi yang tenang. Namun, ketenangan di apartemen maya hancur berantakan saat bel pintu berbunyi dengan irama yang sangat akrab di telinga Maya: tiga ketukan pendek, satu ketukan panjang.

​"Santi," bisik Maya, matanya membelalak.

​Santi adalah sahabat karibnya sejak SMA, sekaligus agen gosip paling andal yang pernah Maya kenal. Jika ada satu orang yang tidak boleh tahu tentang pernikahan rahasianya dengan Arka, orang itu adalah Santi. Karena dalam waktu lima menit setelah Santi tahu, seluruh grup alumni akan gempar.

​"Arka! Bangun!" Maya menerjang masuk ke kamar Arka, mengguncang bahu pemuda itu yang masih terlelap. "Cepat, masuk ke kamar mandi! Bawa semua barangmu yang ada di ruang tengah!"

​Arka mengerjap, nyawanya belum terkumpul sepenuhnya. "Hah? Kebakaran?"

​"Lebih parah! Santi di depan pintu! Cepat!" Maya menarik Arka dengan kekuatan yang tidak disangka-sangka, mendorong pria itu masuk ke kamar mandi dalam kamarnya sendiri, lalu membanting pintunya.

​"Jangan keluar, jangan bersuara, jangan bernapas kalau perlu!" perintah Maya dari balik pintu sebelum ia berlari menuju pintu depan dengan napas terengah-engah.

​"Maya! Kok lama banget sih bukanya?" Santi langsung masuk begitu pintu terbuka, membawa sekotak donat dan wajah penuh selidik. "Wah, kamu habis olahraga ya? Kok ngos-ngosan begitu?"

​"Iya... tadi... habis treadmill sebentar," bohong Maya, mencoba mengatur napasnya. Jantungnya berdegup liar. Ia baru ingat kalau piyama sutra merah marun semalam masih tergeletak di kursi ruang tamu. Dengan gerakan kilat, ia mendudukinya saat Santi mulai berkeliling.

​"Tumben main ke sini, San? Bukannya kamu ada janji sama klien?" tanya Maya, mencoba mengalihkan perhatian.

​"Dibatalkan. Jadi aku pikir, mumpung aku di daerah sini, aku mau cek sahabatku yang katanya 'sibuk lembur' tapi auranya belakangan ini makin cerah," Santi menyipitkan mata, berjalan menuju area dapur. "Bau kopinya enak banget. Kamu sejak kapan minum kopi hitam pekat begini? Bukannya kamu tim latte?"

​Maya membeku. Kopi itu milik Arka. "Oh, itu... aku lagi coba diet kafein murni. Katanya bagus buat metabolisme."

​Satu kebohongan, catat Maya dalam hati.

​Santi mengangguk-angguk, namun matanya tetap bergerak lincah. Ia kemudian berjalan menuju kamar utama Maya dengan alasan ingin memperbaiki riasannya. Maya ingin mencegah, tapi itu justru akan terlihat mencurigakan. Ia hanya bisa mengekor di belakang dengan perasaan was-was yang luar biasa.

​Di depan meja rias Maya yang biasanya hanya dipenuhi oleh deretan skincare mahal dan parfum beraroma bunga, kini ada beberapa benda asing yang menyusup.

​Santi berhenti tepat di depan meja itu. Matanya terpaku pada sebuah sikat gigi berwarna biru maskulin yang berdiri tegak di dalam gelas kumur, bersanding dengan sikat gigi elektrik milik Maya yang berwarna rose gold. Dan tepat di samping botol Chanel No. 5 miliknya, bertengger sebuah botol parfum Blue de Chanel—parfum yang aromanya sangat maskulin dan tajam.

​"Maya..." Santi memutar tubuhnya, memegang botol parfum itu dengan ujung jarinya. "Sejak kapan kamu pakai parfum cowok? Dan ini... sikat gigi siapa?"

​Dunia Maya seolah runtuh. Ia menatap benda-benda itu seolah mereka adalah barang bukti kejahatan tingkat tinggi. Ia lupa bahwa Arka sering kali "menumpang" meletakkan barang-barangnya di kamar utama jika ia sedang terburu-buru.

​"Itu... itu punya adikku! Iya, adik sepupuku dari Bandung lagi menginap," jawab Maya cepat.

​Dua kebohongan.

​"Sepupumu yang mana? Perasaan sepupumu cuma si Rian yang masih SMP dan pakai sikat gigi gambar kartun," Santi menaikkan sebelah alisnya. Ia kemudian mengambil sebuah jam tangan pria yang tergeletak di dekat tumpukan buku. "Dan sepupumu ini punya selera jam tangan yang sangat dewasa ya? Ini merk yang sama dengan yang dipakai Arka, anak basket yang fotonya viral kemarin, kan?"

​Maya menelan ludah. Keringat dingin mulai bercucuran. "Hanya... hanya kebetulan, San. Merk itu kan pasaran."

​Santi tidak berhenti di situ. Ia melangkah menuju kamar mandi di dalam kamar Maya—tempat di mana Arka sedang bersembunyi.

​"Aku mau numpang cuci tangan ya, keringat semua nih tangan habis nyetir," kata Santi, tangannya sudah memegang knop pintu.

​"JANGAN!" teriak Maya, suaranya melengking hingga Santi berjengit kaget.

​"Kenapa sih? Kamu nyembunyiin mayat di dalam?"

​"Anu... saluran airnya lagi rusak! Iya, lagi mampet dan baunya nggak enak banget. Mending di kamar mandi luar saja," Maya menarik lengan Santi menjauh.

​Tiga kebohongan. Empat kebohongan.

​Mereka kembali ke ruang tengah, namun atmosfernya sudah tidak lagi sama. Santi duduk di sofa dengan tangan bersilang di dada, menatap Maya seolah sedang menginterogasi tersangka di kantor polisi.

​"Maya, kita sudah sahabatan sepuluh tahun. Aku tahu kalau kamu lagi bohong. Napasmu pendek-pendek dan kamu nggak berani tatap mataku," ucap Santi serius. "Siapa pria itu? Apa benar gosip di grup alumni itu? Kamu beneran pacaran sama 'brondong'?"

​Maya menutup wajahnya dengan kedua tangan. "San, tolong... jangan bahas itu dulu. Ini rumit."

​"Rumit gimana? Kalau kamu memang punya pacar, ya bilang saja. Kenapa harus disembunyikan sampai sikat giginya pun harus dibilang punya sepupu?" Santi menghela napas. "Apa kamu malu karena dia lebih muda? Atau karena dia mahasiswa?"

​Tiba-tiba, dari arah kamar mandi, terdengar suara klontang! yang cukup keras. Rupanya Arka tidak sengaja menyenggol botol pembersih lantai karena mencoba meregangkan kakinya yang kesemutan.

​Santi berdiri seketika. "Suara apa itu?"

​"Kucing! Iya, kucing liar suka masuk lewat balkon!" seru Maya panik.

​"Maya, ini lantai dua puluh delapan! Kucing mana yang bisa manjat setinggi ini? Spiderman-Cat?" Santi mulai berjalan menuju arah suara.

​Maya merentangkan tangannya, menghalangi jalan Santi. "Santi, aku mohon. Pulang ya? Aku lagi pusing banget, nanti aku jelasin semuanya lewat telepon."

​Santi menatap Maya lama, mencari kejujuran di mata sahabatnya. Akhirnya, ia menghela napas panjang dan mengambil tasnya. "Oke, aku pulang. Tapi ingat, Maya. Kebohongan yang satu akan butuh sepuluh kebohongan lain buat nutupinnya. Dan suatu saat, kamu bakal capek sendiri."

​Begitu pintu apartemen tertutup dan suara langkah kaki Santi menghilang, Maya lemas dan merosot ke lantai. Arka keluar dari kamar mandi dengan wajah yang sangat bersalah, rambutnya acak-acakan karena stres di ruang sempit.

​"Dia sudah pergi?" bisik Arka.

​Maya tidak menjawab. Ia hanya menatap sikat gigi biru di atas meja rias yang dibawa Arka kembali ke kamarnya.

​"Maaf, Kak. Tadi aku nggak sengaja nyenggol botol," Arka berjongkok di depan Maya. "Santi curiga banget ya?"

​"Bukan curiga lagi, Arka. Dia sudah yakin kalau ada pria di sini," gumam Maya. "Dia pikir aku punya simpanan brondong. Harga diriku di depan sahabatku sendiri sekarang cuma seujung kuku."

​Arka meraih tangan Maya, menggenggamnya erat seperti yang ia lakukan tadi malam. "Kenapa nggak jujur saja kalau kita sudah nikah? Itu lebih baik daripada dibilang punya simpanan, kan?"

​Maya mendongak, matanya berkaca-kaca. "Karena kalau aku jujur, mereka akan tanya kenapa aku nikah sama kamu. Mereka akan tahu soal perjanjian bisnis ayah kita. Dan aku belum siap dilihat sebagai wanita yang 'dijual' demi saham perusahaan."

​Arka terdiam. Ia baru menyadari betapa berat beban yang dipikul Maya. Bagi Arka, pernikahan ini adalah kesempatan, tapi bagi Maya, ini adalah rahasia yang mengancam identitasnya.

​"Maafkan aku, Maya," bisik Arka. Ia menarik Maya ke dalam pelukannya. Kali ini, Maya tidak memberontak. Ia justru menyembunyikan wajahnya di dada Arka, menghirup aroma parfum yang tadi sempat membuat Santi curiga.

​"Kita harus lebih hati-hati, Arka," ucap Maya lirih.

​"Aku janji. Mulai sekarang sikat gigiku akan aku simpan di dalam laci rahasia," goda Arka, mencoba mencairkan suasana.

​Maya tertawa kecil di tengah sisa kepanikannya. Ia menyadari satu hal: hidupnya memang menjadi jauh lebih rumit sejak Arka datang. Kebohongan demi kebohongan harus ia buat. Namun, saat ia berada dalam pelukan Arka seperti ini, ia merasa kerumitan itu adalah harga yang pantas untuk dibayar. Karena di balik semua rahasia ini, ada rasa nyaman yang tidak pernah ia temukan dalam kejujurannya yang dulu sepi.

​"Arka?"

​"Ya?"

​"Besok... kita beli laci baru yang ada kuncinya."

​Arka tertawa lepas, mengecup puncak kepala Maya. "Siap, Istriku yang penuh rahasia."

Bersambung....

1
Teh Fufah
keren bingits bukan lumayan keren mayaaaa
Ari Atik
ingat maya egoisnu akan membuat pecahnya bahtera samudra rumah tanggamu.😡
Teh Fufah
karena aku senang, aku kasih mvote nya hari ini buat maya 😍 arkaaaa
Naelong: makasi kak udah mampir😍🙏
total 1 replies
Teh Fufah
klw dah cemburu kayak gini mah otw unboxing hihi
Teh Fufah
otw bucin loe may...
Ari Atik
yap betul sekali.....

karena satu kebohongan,akan muncul seribu kebohongan lagi untuk menutupinya......

rumit hidupmu maya,tak tenang karena sebuah kebohongan....🤔
Teh Fufah
hadeh..... maya oh arka
Teh Fufah
senengnya hati ku
thanks neng otor... ku tunggu up ny lsgi
Ari Atik
mulai memahami satu sama lain....

good...😊
Ari Atik
arkanya gk jadi memperkenalkn diri,di kantornya maya kah?

memperjelas status pernikahan mereka...
Naelong: jadi tapi bukan sekarang ya😍
total 1 replies
Ari Atik
ya.. betul sekali langkah arka..
lebih baik blak2kan daripada di sembunyikn,biar gk jadi fitnah...
Ari Atik
kan...
setelah tau kebenarannya...
makanya jadi wanita jangan egois,merasa di atas,eh taunya kalah start....😡

lanjut thor....😊
Naelong: makasi udah mampir kak😍
total 1 replies
Ari Atik
muak dg egonya maya.....
Ari Atik
maya ...
jangan sok,terlalu egois dn merasa paling hebat....

ingat maya kesabaran sezeorang ada batasnya,jangan mandang susmimu sebelah mata,kalau gk nau menyesal kemudian....😡
Ari Atik
akting,sekaligus memanfaatkn keadaan....🤭😊😊
Ari Atik
ya sakitlah jadi arka....
suami yg tk di akui..😡
Ari Atik
sampai kapan maya bisa mempertahankn egonya....?
Naelong
makasi udah mampir kak🙏
Susi Nugroho
Lanjutannya di tunggu, nggak pake lama... Semangat
Teh Fufah
mari kita berpetualang dengan kisah cinta ny sang berondong
Naelong: makasi udah mampir🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!