NovelToon NovelToon
Salah Meja Jadi Istri CEO

Salah Meja Jadi Istri CEO

Status: sedang berlangsung
Genre:Beda Usia / Slice of Life / CEO / Dijodohkan Orang Tua / Office Romance
Popularitas:8.2k
Nilai: 5
Nama Author: Ariska Kamisa

Aneska (25 tahun) berada dalam situasi darurat: menikah dalam seminggu atau dijodohkan dengan "om-om" pilihan Papanya yang bernama Argani Sebasta. Demi kebebasan, Aneska nekat mencari pacar sewaan lewat bantuan sahabatnya.
Namun, kecerobohan berbuah petaka—atau mungkin keberuntungan. Di sebuah kafe, Aneska salah mendatangi meja. Bukannya bertemu pria dari aplikasi kencan, ia justru mengajak kencan seorang pria asing yang tampak dewasa dan sangat tampan.
Aneska tidak tahu bahwa pria itu adalah Argani Sebasta, calon tunangan yang sangat ia hindari. Arga yang menyadari kesalahan Aneska justru merasa tertarik dan memilih menyamar menjadi "Gani" si pria biasa.
Permainan menjadi serius saat Arga tiba-tiba mengajukan syarat gila: "Jangan cuma pacaran, ayo langsung menikah saja."
Terdesak waktu dan terpesona pada ketampanan "Gani", Aneska setuju. Akankah Aneska tetap bahagia saat tahu bahwa suami yang ia pilih sendiri sebenarnya adalah pria yang paling ingin ia tolak sejak awal?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ariska Kamisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 21: Jamu Pegal Linu dan Eksperimen Si Om Mesum

Matahari Bali mulai condong ke arah barat, menciptakan pantulan cahaya keemasan di permukaan air laut. Setelah perjuangan panjang melawan rasa nyeri—yang dibantu dengan olesan salep dari Arga dan satu gelas jamu pegal linu yang dipaksa minum oleh suaminya—Aneska akhirnya bisa menginjakkan kaki di pasir pantai.

​Meskipun jalannya masih sedikit berhati-hati, sisi bar-bar Aneska tidak bisa diredam.

​"Hahahaha! Mas Arga, kejar kalau bisa!" teriak Aneska sambil berlari kecil, sesekali berbalik untuk mencipratkan air laut ke arah Arga.

​Arga yang hanya mengenakan kemeja linen putih yang kancingnya terbuka lebar, tertawa lepas. Ia tidak mengejar dengan beringas, melainkan melangkah santai, menatap istrinya dengan pandangan yang begitu teduh. Benar-benar seperti seorang ayah yang sedang mengemong bocah kecil yang baru pertama kali diajak ke pantai.

​"Nes, jangan lari-lari! Inget semalam! Nanti kakinya kumat lagi sakitnya, lo mau gue olesin salep sambil lo teriak-teriak lagi?" peringat Arga dengan nada lembut namun penuh wibawa.

​"Bodo amat! Udah minum jamu pahit tadi, harus dipake dong tenaganya! Lagian lo payah, masa ngejar gue aja nggak bisa!" Aneska menjulurkan lidahnya, benar-benar tidak ada sisa wibawa sebagai Nyonya Sebasta di sana.

​Namun, baru saja beberapa langkah ia ingin melakukan manuver lari zig-zag, Aneska tersandung gundukan pasir yang agak tinggi. "Eh... eh! Copot!"

​Sebelum tubuhnya benar-benar menyentuh air, tangan kokoh Arga sudah melingkar di pinggangnya dengan kecepatan kilat. Arga mengangkatnya tinggi-tinggi hingga kaki Aneska menggantung di udara.

​"Tuh kan, baru dibilangin. Ngeyel banget sih jadi istri," bisik Arga tepat di telinga Aneska. Ia tidak menurunkan gadis itu, melainkan justru memutar tubuh Aneska dan menggendongnya secara bridal style. "Udah, daripada lo jatuh terus lecet semua, mending gue gendong begini."

​Aneska yang tadinya mau protes, mendadak ciut. Ia langsung melingkarkan tangannya di leher Arga, bersandar manja di dada bidang suaminya yang hangat dan beraroma maskulin bercampur wangi laut. Sisi cueknya hilang total kalau sudah dimanjakan begini.

​"Gendongnya sampe ke tempat makan ya? Gue laper banget, Mas. Mau seafood yang dibakar pakai bumbu Bali itu, terus minumnya es kelapa muda!" pinta Aneska dengan nada manja yang dibuat-buat.

​"Iya, Tuan Putri. Apa pun buat bayi besarnya Arga," jawab Arga sambil mengecup kening Aneska dengan sayang. "Asal nanti malam nurut, nggak boleh ada drama capek lagi."

​Sore harinya beralih menjadi misi belanja besar-besaran di Art Market. Arga hanya bisa pasrah mengikuti Aneska yang energinya seolah terisi ulang seratus persen kalau sudah melihat barang-barang estetik.

​"Mas, Mas! Liat deh, ini lucu banget buat Mama! Coraknya elegan tapi tetep khas Bali," Aneska sibuk memilah-milah kain tenun. "Terus ini buat Papa Hendra, dia suka kan pake topi ginian kalau lagi berkebun di belakang rumah? Biar nggak kepanasan papaku yang paling ganteng itu."

​Arga mengangguk-angguk patuh, tangannya sudah penuh dengan puluhan kantong belanjaan. "Pilihan kamu selalu bagus, Nes. Buat Tasya jangan lupa, dia bakal ngomel tujuh hari tujuh malam kalau nggak dibeliin yang aneh-aneh."

​"Udah dong! Gue udah beliin gaun pantai yang gemes banget buat adik ipar gue yang centil itu. Dan ini..." Aneska mengangkat sebuah daster Bali paling premium dengan bahan yang sangat lembut. "Ini buat Miska! Biar dia makin semangat mabarnya di kosan sambil nungguin gue pulang!"

​Melihat Aneska yang begitu antusias membelikan oleh-oleh untuk keluarganya, hati Arga menghangat. Meskipun mulut istrinya ini pedas dan kelakuannya sering kali ajaib, Aneska adalah sosok yang sangat tulus menyayangi orang-orang di sekitarnya.

​Malam harinya, sebelum kembali ke vila, mereka mampir ke sebuah minimarket modern untuk membeli beberapa kebutuhan pribadi yang tertinggal. Aneska sedang asyik memilih camilan import dan beberapa masker wajah, sementara Arga menghilang ke lorong lain.

​Saat Aneska menyusul ke lorong bagian belakang, ia menemukan Arga sedang berdiri di depan rak alat kontrasepsi. Wajah suaminya itu tampak sangat serius, alisnya bertaut seolah sedang meninjau proposal proyek bernilai miliaran rupiah.

​"Lagi ngapain lo? Serius banget kayak mau beli saham," tanya Aneska curiga sambil menghampiri suaminya.

​Arga menoleh, lalu dengan wajah tanpa dosa menunjukkan satu kotak kecil di tangannya. "Gue mau coba yang ini. Katanya yang bergerigi begini sensasinya lebih... dahsyat. Kamu mau nyoba, Nes?"

​Aneska melongo, matanya membelalak menatap gambar tekstur di kotak itu. "ARGA! LO GILA YA?! Yang biasa aja udah bikin gue mau mati dan susah jalan, ini pake yang ada tekstur bergeriginya?! Lo mau bikin gue lumpuh seminggu apa gimana?!"

​Arga terkekeh, ia memasukkan kotak itu ke keranjang belanjaan dengan gerakan dominan yang tak bisa dibantah. "Tenang aja, Sayang. Gue bakal pelan-pelan, nggak bakal sebuas semalam. Gue beli ini kan biar lo nggak usah minum pil KB atau suntik-suntik dulu yang bisa ngerusak hormon lo. Gue tahu lo belum mau hamil sekarang, kan?"

​Aneska terdiam. Arga memang pernah berjanji tidak akan memaksa Aneska segera punya momongan. Arga ingin istrinya menikmati masa muda, mengejar kariernya, dan tentu saja... memiliki waktu berdua dengannya tanpa gangguan "bocah" sungguhan untuk beberapa tahun ke depan.

​"Tapi nggak yang bergerigi juga, Om-om mesum!" bisik Aneska tajam sambil memukul lengan otot Arga, wajahnya sudah semerah tomat rebus. "Gue malu pas bayar di kasir nanti!"

​Arga justru merangkul bahu Aneska, membimbingnya menuju kasir dengan percaya diri. "Eksperimen itu perlu dalam rumah tangga, Aneska. Biar hubungan kita nggak ngebosenin kayak Drachin yang lo tonton sampe subuh itu. Lagian, lo kan suka yang 'keras' dan 'menantang' kalau di atas kasur?"

​"GUE GIGIT LO YA, ARGA!" ancam Aneska dengan suara tertahan, meskipun ia tidak bisa menahan rasa geli dan deg-degan yang membuncah di dadanya.

​Sesampainya di mobil, Aneska hanya bisa menatap kantong belanjaan berisi kotak "ajaib" itu dengan ngeri sekaligus penasaran. Di satu sisi, ia sangat bersyukur memiliki suami seperti Arga yang sangat menjaganya dan menghargai keputusannya soal momongan. Tapi di sisi lain, ia juga harus bersiap-siap menghadapi "kebuasan" suaminya yang selalu punya cara baru untuk membuatnya lemas tak berdaya.

​"Mas..." panggil Aneska pelan saat mobil mulai melaju membelah malam Bali.

​"Ya, Sayang?"

​Aneska membuang muka ke arah jendela, suaranya mencicit hampir tak terdengar. "Nanti... olesin salepnya lagi ya? Sebelum... itu..."

​Arga tertawa puas, suara tawa baritonnya memenuhi kabin mobil. Ia menggenggam tangan Aneska erat dan mencium punggung tangannya berkali-kali. "Nggak usah khawatir. Salep, jamu pegal linu, dan suami lo yang paling ganteng ini selalu siap sedia melayani dua puluh empat jam. Siap buat ronde eksperimen, Nyonya Sebasta?"

​"Ih.. Najong...lo!" umpat Aneska, meski tangannya tidak melepaskan genggaman tangan suaminya.

1
Aidil Kenzie Zie
Anes sangat beruntung
Ariska Kamisa: tapi anes nge gas terus yaa🤭🤣🤣🤣
total 1 replies
Aidil Kenzie Zie
didunia nyata apakah ada yang seperti Arga 🤔🤔🤔
Ariska Kamisa: seperti nya 1001 kak🤭🤭🤭
total 1 replies
umie chaby_ba
ya Allah Arga ... 😱
umie chaby_ba
so sweet
umie chaby_ba
👍👍👍👍
umie chaby_ba
satria oh satria bikin Arga kesurupan
umie chaby_ba
arga nyebut ga !
umie chaby_ba
anes iiih 🤭
umie chaby_ba
astagfirullah...🤣🤣🤣
umie chaby_ba
arga 🤣🤣🤣
umie chaby_ba
ya Allah Arga udh kebelet banget 🤭
umie chaby_ba
suka suka suka
Ariska Kamisa: terimakasih 🙏🙏🙏
total 1 replies
umie chaby_ba
gercep Amayyy
umie chaby_ba
gemas banget sih arga🤣🤣🤣
umie chaby_ba
ada siangan nih.
Ariska Kamisa: saingan kali... 🤣🤣🤣🤣
total 1 replies
umie chaby_ba
cerita nya asik nih, ringan ... aku suka yang bucin gini tapi ceweknya sok cuek /Curse//Curse//Curse//Curse/
Ariska Kamisa: terimakasih banyak ya kakak♥️♥️♥️♥️
total 1 replies
umie chaby_ba
😍😍😍😍
umie chaby_ba
ciee ngajak ngebubur duluan🤭
Ariska Kamisa: 🤭🤭🤭🤭🤭
total 1 replies
umie chaby_ba
😍😍😍😍
umie chaby_ba
apakah sebenarnya itu rencana para papa mereka berdua?
Ariska Kamisa: pintar...
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!