Di dunia di mana kekuatan kultivasi menentukan segalanya, di mana kemampuan dan kekuasaan menjadi ukuran keberhasilan, ada seorang pemuda yang namanya perlahan mulai menancapkan akarnya dan menimbulkan getaran di seluruh wilayah. Dia adalah Xiao Xuan—pria yang tenang, penuh perhitungan, dengan tatapan mata yang tajam yang bisa menilai setiap situasi dalam sekejap, namun menyimpan kelembutan dan perlindungan yang hanya terlihat bagi orang-orang yang dia sayangi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RavMoon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 15.Benih yang Ditabur dalam Kegelapan
Sinar matahari pagi yang baru saja menembus kabut Kota Glory membawa serta desas-desus yang membakar seluruh penjuru kota. Hanya dalam waktu semalam, apa yang terjadi di sudut aula perjamuan Keluarga Xiao telah bertransformasi menjadi buah bibir di kedai-kedai teh hingga paviliun mewah klan agung. Berita tentang perselisihan terbuka antara Ye Ziyun, sang mutiara Keluarga Angin Salju, dan Shen Qingqiu yang dingin demi memperebutkan perhatian Xiao Xuan, menyebar bagai api yang menyiram minyak.
[ **Notifikasi Sistem:** *Ding! 🔔 Selamat kepada Tuan Rumah yang terhormat karena berhasil membuat dua dewi agung saling mencakar demi dirimu! Hadiah: 1.000.000 Poin Penjahat telah dikirim ke kantongmu. Pertahankan bakat alaminu sebagai perusak hubungan orang lain, ya! 😏💅* ]
Satu juta. Sebuah angka yang cukup untuk membuat alis Xiao Xuan terangkat sedikit. Di balik ekspresi wajahnya yang sedingin es, ada kepuasan dewasa yang tertahan. Saku spiritualnya kini kembali menebal, memberinya ruang gerak yang jauh lebih luas untuk rencana-rencana berikutnya.
Dengan gerakan batin yang tak kasatmata, Xiao Xuan membuka antarmuka takdir untuk memeriksa riwayat kedekatan kedua wanita tersebut. Angka yang tertera di sana membuat sudut bibirnya melengkung tipis; Shen Qingqiu telah menyentuh angka 70, sementara Ye Ziyun berada di angka 60.
*‘Pantas saja riak emosi mereka begitu pekat semalam...’* batin Xiao Xuan sambil menyesap teh paginya. *‘Batas kedekatan ini sudah lebih dari cukup untuk memicu kecemburuan alami seorang wanita. Bahkan tetua Ye Mo sendiri saat ini baru berada di angka 50.’*
Mengenai bagaimana api persaingan dan benih kebencian di antara kedua gadis itu akan berkembang, Xiao Xuan sama sekali tidak peduli. Justru di balik riak-riak emosi itulah ladang poin takdirnya akan terus memanen hasil. Di masa depan, ketika dia berjalan berdampingan dengan kedua dewi ini di hadapan para kultivator muda, terutama di depan Nie Li, setiap tatapan cemburu dan kemarahan yang tercipta akan menjadi pasokan energi yang tak ada habisnya. Membayangkan ekspresi Nie Li saja sudah memberi sedikit hiburan bagi malam-malam kultivasinya yang sepi.
Biarkan mereka bertarung, karena dalam setiap gesekan itu, dialah yang memegang kendali penuh atas bidak di papan catur ini.
Tentu saja, ada satu rahasia kecil yang tidak diketahui oleh siapa pun di luar ruangan ini: dalang di balik menyebarnya rumor panas tersebut tidak lain adalah Xiao Xuan sendiri. Menggunakan beberapa jaringan bayangan klan, dia sedikit meniupkan angin malam untuk memastikan gosip itu sampai ke telinga masyarakat dengan sudut pandang yang paling menguntungkan dirinya. Penjahat yang kasar hanya mengandalkan kepalan tangan, namun penjahat sejati menggunakan badai opini untuk meruntuhkan benteng psikologis musuhnya.
[ **Sistem Penjahat Takdir:** *Tuan Rumah, kau benar-benar berhati busuk ya? 🤔 Menggunakan wajah tampan dan topeng bijaksanamu itu untuk menjebak gadis-gadis suci yang belum pernah mencicipi pahitnya dunia. Sungguh rubah tua yang menyamar jadi kelinci! 🦊* ]
*‘Kau salah menilai, Sistem,’* jawab Xiao Xuan tenang dalam kesadarannya, ada nada sarkas yang tipis dalam suaranya. *‘Aku hanya seorang pria biasa yang kebetulan berada di puncak dunia ini. Di mana letak penipuannya? Mereka mendekat karena cahaya, dan aku hanya menyediakan paviliun yang hangat untuk mereka bernaung. Lagipula, bukankah kau juga menikmati bagian dari poin yang mengalir ini? Tanpa kerja sama kita, nafsu makanmu yang besar itu tidak akan terpenuhi.’*
Mengingat sebagian dari Poin Penjahat selalu dialirkan untuk menutrisi energi inti sistem, suara gaib itu seketika terdiam, mengeluarkan emotikon mendengus [ 🙄 ] sebelum kembali ke dalam keheningan hukum alam.
Xiao Xuan menggerakkan jemarinya, mengeluarkan sebuah gulungan giok kuno dari dalam cincit spasialnya—*Teknik Refleksi Tubuh Primer dan Sekunder*. Sebuah pusaka spiritual tingkat tinggi yang menuntut pemahaman jiwa yang luar biasa rumit.
Teknik ini bukanlah klon bayangan biasa yang akan hancur oleh satu hantaman. Gulungan ini memungkinkan penggunanya memadatkan satu wujud daging dan darah yang memiliki kemiripan mutlak dengan tubuh asli. Terbagi menjadi tiga tingkatan evolusi, di mana pada puncaknya, tubuh sekunder mampu mengerahkan hingga 90% dari total kultivasi tubuh utama, mewarisi kecepatan, dan yang paling krusial: mampu menjadi perisai hidup untuk menerima pukulan fatal saat tubuh utama menghadapi ancaman kematian.
Di bawah berkah kemampuan pemahaman sepuluh kali lipat yang mengalir dari *Fisik Suci Iblis Ilahi* di dalam darahnya, Xiao Xuan tidak membutuhkan waktu bertahun-tahun. Hanya dalam waktu satu hari penuh di dalam ruang meditasi yang kedap suara, aura spiritual di sekitarnya berputar membentuk pusaran, memadatkan kabut hitam dan emas menjadi sesosok figur manusia.
Mata Xiao Xuan terbuka bersamaan dengan mata sosok di hadapannya.
"Sempurna," bisik Xiao Xuan, merasakan hubungan batin yang begitu pekat.
"Salam, Tubuh Utama," sosok sekunder itu membungkuk dengan hormat yang amat dalam, gerak-geriknya mencerminkan keanggunan dan ketenangan yang persis sama.
"Kita berasal dari sumber yang sama, tidak perlu formalitas yang kaku. Berdirilah," ujar Xiao Xuan datar.
"Tata krama dan batasan adalah fondasi dari setiap rencana besar kita," jawab tubuh sekunder itu dengan suara rendah yang identik.
Sebagai bagian dari jiwa Xiao Xuan sendiri, klon ini tahu persis apa yang bersemayam di balik jubah hitam tubuh utamanya. Di balik penampilan luar yang berkilau bagai pahlawan Kota Glory, ada jiwa seorang perencana dingin yang tidak akan pernah ragu menumpahkan darah atau menghancurkan sebuah klan demi mencapai tujuannya.
Sore harinya, Xiao Xuan memanggil tetua kepercayaan klan, Xiao Tian, ke dalam ruang kerja pribadinya yang sunyi. Sinar lampion yang temaram menciptakan bayangan panjang di dinding batu.
Xiao Xuan membeberkan garis besar rencana berikutnya: mengunci pergerakan Keluarga Suci dan perlahan mengasimilasi seluruh pengaruh mereka ke dalam cengkeraman Keluarga Xiao. Mendengar ambisi yang begitu terukur, mata Xiao Tian berkilat penuh gairah. Sebagai orang tua yang telah melihat banyak pasang surut, dia sepenuhnya mendukung visi strategis tuan mudanya.
"Xiao Tian, ingatlah satu hal saat kau melangkah keluar dari pintu ini," ucap Xiao Xuan, menjeda kalimatnya sambil menatap lurus ke dalam netra sang tetua. "Kita pergi ke sana untuk menjalin *'kerja sama'* yang erat."
Kata "kerja sama" yang keluar dari bibir Xiao Xuan terdengar begitu halus, namun Xiao Tian bisa merasakan hawa dingin yang menusuk tulang di balik penekanan kata tersebut. Itu bukan ajakan kemitraan, melainkan undangan menuju jerat tali gantungan yang tidak kasat mata.
"Orang tua ini mengerti dengan sangat jelas, Tuan Muda," jawab Xiao Tian dengan senyum penuh arti, membungkuk hormat sebelum membalikkan badan. "Saya tidak akan mengecewakan persiapan yang telah Anda bangun. Patriark Shen Hong pasti akan menyambut undangan kita dengan tangan terbuka."