Di mata Arum, Angkasa Wardana tampak seram badan tinggi besar, bertato ukiran Jawa di lengan kanan, dan berwibawa. Namun, di balik penampilan itu, tersimpan suara lembut dan tutur kata halus. Pertemuan tak sengaja si penulis novel dengan pengusaha sukses itu, perlahan mengungkap makna mendalam di balik setiap goresan tinta dan tato yang menghiasi lengan lelaki itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon WA_19019, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
SISI LAIN YANG MENGGEMASKAN
Hubungan kerja sama antara Angkasa dan Pak Bimo berjalan sangat lancar, mulus tanpa hambatan sedikit pun. Kualitas hasil bumi dari kebun Pak Bimo selalu terjaga baik, dan pengelolaan dari pihak Angkasa pun rapi serta profesional.
Segala urusan bisnis berjalan sebagaimana mestinya, bahkan terasa makin erat karena didasari rasa saling percaya dan kekeluargaan yang kuat.
Karena urusan yang semakin sering bertemu dan berdiskusi, kehadiran Angkasa di rumah besar itu pun jadi hal yang biasa dan sudah dianggap seperti keluarga sendiri. Hampir setiap dua atau tiga hari sekali, pemuda itu pasti menyempatkan diri datang, entah benar-benar ada urusan, atau sekadar "melihat perkembangan kerja sama" padahal semua sudah beres, dan tujuannya sebenarnya hanya satu: ingin bertemu Arum.
Semakin sering Angkasa datang, semakin banyak pula waktu yang ia curi-curi untuk bisa mengobrol dengan Arum. Kadang saat Arum sedang duduk di teras, kadang saat gadis itu sedang merawat tanaman di kebun, atau sekadar bertemu tak sengaja di ruang tengah.
Selama ini, Angkasa selalu melihat Arum sebagai gadis yang sangat sopan, lemah lembut, dan selalu menjaga sikapnya. Di mata Angkasa, Arum adalah definisi gadis Jawa yang paling sempurna, anggun, dan berkelas.
Namun hari itu, Angkasa baru sadar... di balik sikap tenang, polos, dan anggun itu, tersimpan sisi lain Arum yang ternyata jauh lebih menggemaskan.
Siang itu, Angkasa datang membawa kotak kue berisi brownies cokelat lembut buatan toko langganannya yang terkenal paling enak. Seperti biasa, setelah menyapa Bapak dan Ibu, Angkasa mencari Arum, dan menemukannya sedang duduk santai di ruang tengah sendirian.
"Ini ada oleh-oleh sedikit buat Mbak Arum. Kebetulan lewat, ingat Mbak suka yang manis-manis," kata Angkasa sambil meletakkan kotak itu di meja rendah di hadapan mereka, lalu duduk di samping Arum.
"Wah, makasih banyak ya, Mas Angkasa.kok tahu sih aku emang lagi pengen banget makan cokelat?" jawab Arum dengan mata berbinar senang, sopan dan lembut seperti biasanya.
Namun begitu kotak dibuka dan potongan brownies itu sudah ada di piring kecil di hadapannya, perubahan drastis mulai terlihat.
Angkasa duduk bersandar santai, menatap Arum dengan tatapan lembut dan penuh perhatian. Ia diam-diam mengamati gerak-gerik gadis itu, menikmati setiap detik kebersamaan mereka berdua. Awalnya biasa saja, tapi lama-kelamaan senyum di bibir Angkasa makin melebar dan hatinya rasanya gemes bukan main.
Ternyata, Arum yang biasanya begitu jaim dan menjaga etika sebaik mungkin, kalau sudah berhadapan dengan makanan enak, sifat aslinya langsung keluar. Tidak ada lagi sikap kaku atau berlebihan sopan santunnya. Arum makan dengan lahap, tangannya bergerak cepat, dan mulutnya mengunyah dengan semangat.
Yang paling bikin Angkasa ketawa adalah saat Arum menikmati rasanya. Setiap kali gigitannya masuk dan lidahnya merasakan kelezatan cokelat itu, kepala gadis itu perlahan bergoyang pelan ke kiri dan ke kanan, matanya terpejam sebentar seolah sedang menikmati kenikmatan duniawi yang tiada tara.
Wajahnya berubah begitu puas dan bahagia, persis seperti anak kecil yang diberi mainan baru. Belum lagi sudut bibir dan ujung hidungnya sampai terkena remahan dan noda cokelat, jadi blepotan di mana-mana.
Arum sama sekali tidak sadar sedang diperhatikan sedemikian rupa. Baginya, saat ini hanya ada dia dan brownies lezat itu.
Angkasa menahan tawa sebisa mungkin. Dia belum pernah melihat sisi Arum yang seperti ini. Jauh dari kata anggun, tapi justru di saat-saat seperti ini Arum terlihat begitu tulus, polos, dan menggemaskan sekali di matanya. Rasanya ingin sekali Angkasa mencubit pipi gadis itu yang terlihat gembul dan belepotan cokelat.
Arum baru menyadari ada sesuatu yang salah saat ia membuka matanya dan menoleh ke samping. Di sana, Angkasa sedang menatapnya lekat-lekat dengan senyum lebar yang sangat jelas terlihat menahan tawa, matanya berbinar-binar gemes dan geli.
Jantung Arum seketika berhenti berdetak sejenak.
Matanya melotot kaget.
Gerakan tangannya yang sedang mengangkat kue ke mulut langsung terhenti di udara.
Sadar kalau dari tadi tingkah konyol dan makannya yang belepotan itu diperhatikan habis-habisan oleh Angkasa, wajah Arum seketika memerah padam, merona sampai ke telinga dan lehernya. Rasa kaget bercampur malu yang luar biasa menyerangnya seketika.
"Eh... eh... Mas Angkasa... sejak ka-kapan di situ?" suaranya tercekat, matanya melotot panik.
Belum sempat Arum menunggu jawaban atau membenahi penampilannya yang berantakan itu...
Cekik...!
Suara cegukan keluar dari mulutnya, keras dan jelas.
Arum menutup mulutnya dengan tangan, matanya makin membelalak ngeri. Ia makin malu setengah mati. Cegukan itu terus berlanjut, satu dua kali lagi, sisa rasa kaget dan gugupnya tidak mau hilang.
Angkasa akhirnya tidak bisa menahan diri lagi. Ia tertawa lepas, tawa yang renyah, bahagia, dan hangat, sambil menggeleng-gelengkan kepalanya melihat tingkah gadis di hadapannya itu. Tawa itu bukan mengejek, tapi penuh rasa gemes dan rasa suka yang makin besar.
"Ma-maaf... aku... cuma kaget...," ucap Arum terbata-bata di sela-sela cegukannya, wajahnya tertunduk dalam sekali karena malu. Tangannya sibuk mengusap bibir dan hidungnya yang penuh noda cokelat itu.
"Pasti... jelek banget ya aku dari tadi? Makan belepotan, goyang-goyang kepala segala... aduh, malu banget..."
Angkasa perlahan berhenti tertawa sambil menyodorkan minum ke arum, namun senyumnya masih tersungging indah di bibirnya.
dia mengulurkan tangannya pelan, lalu dengan lembut dan hati-hati mengusap sisa noda cokelat di ujung hidung Arum menggunakan ibu jarinya. Sentuhan itu begitu lembut dan membuat jantung Arum makin berdebar kencang.
"Jelek? Mana ada," jawab Angkasa pelan, suaranya rendah dan lembut sekali. Matanya menatap Arum dalam-dalam, penuh kekaguman yang tulus.
"Justru... baru kali ini saya lihat sisi Mbak Arum yang begini. Tidak jaim, polos, dan... gemesin banget. Tau gak? Tadi dari tadi saya tahan buat gak ketawa, rasanya pengen cubit pipinya."
Arum makin menunduk dalam, wajahnya masih merah padam. "Aduh... Mas Angkasa bisa aja."
Angkasa tersenyum makin lebar, ia menggeleng pelan.
"Dan justru inilah yang bikin saya makin suka," bisiknya pelan,tapi terdengar jelas dan menyentuh hati.
"Mbak Arum tetap Arum yang saya kenal. Lembut dan sopan di depan orang lain, tapi kalau sama saya... boleh kok jadi diri sendiri apa adanya. Mau belepotan, mau goyang-goyang kepala, mau apa saja... semuanya tetap Arum saya, yang paling menggemaskan sedunia."
Arum mengangkat wajahnya perlahan, menatap mata Angkasa yang teduh dan penuh ketulusan itu. Rasa malu itu perlahan hilang, berganti rasa bahagia yang hangat menyelimuti dadanya. Ternyata, meski sudah ketahuan sifat aslinya, Angkasa malah makin menyukainya.