Sepasang mata berwarna coklat tampak menyorot tajam menatap seorang laki laki yang masih berdiri memaku tanpa bergerak sedikitpun dari tempatnya semula, seakan tatapn mata berwarna coklat itu mampu menelannya hidup hidup saat ini juga.
"apa kamu tidak ingin menjelaskan semuanya stave...?"
suara yang baru saja keluar dari laki laki tersebut terdengar seperti sebuah kilatan petir, membuat stave semakinn menundukkan kepalanya semakin dalam.
"apa yang harus aku katakan setelah kamu sudah melihat semuanya."
kepalan tangan dan tonjolan urat yang terlihat jelas saat steave memberanikan diri menatap kearah di mana tangan leon dia letakkan di atas meja, steave rasanya ingin segera menghilang dan berlari dari depan leo, dia tahu dan paham akan tabiat leon ketika marah seperti sekarang.
"jika kamu tidak ingn menjelaskan siapa dia, maka..."
Leon menghentikan ucapannya, terdengar bunyi deritan kursi yang bergeser. seketika steve memberanikan diri menatap ke arah leon, yang kini dekatinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Na_1411, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bimbang.
Suhu panas di tubuh Steve semakin meninggi, dari tiga puluh delapan kini naik menjadi tiga puluh sembilan derajat Celcius, Steve menghela nafasnya berulang kali melihat kondisi Leon yang kini terbaring lemah di atas kasur big size nya.
“Sebenarnya kamu kenapa kak, sampai tubuh mu sedroop ini.” Gumam Steve menempelkan handuk setengah basah di kening Leon.
Setiap beberapa menit, merasa handuknya sedikit mengering. Steve akan menggantinya, mungkin malam ini Steve akan berjaga untuk merawat Leon, dia rela tidak tidur semalaman hanya ingin memastikan kondisi Leon.
Rasa lelah semakin Steve rasakan saat jam digital di atas nakas Leon menunjukan pukul 03.23, steve menggeliat kecil, dia ingin merenggangkan sedikit otot otot nya yang mulai terasa kaku.
“Aku akan tidur sebentar, sepertinya kondisinya semakin membaik.” Batin Steve menganti kembali handuk bawahnya yang terlihat hampir mengering.
Steve memilih tidur di samping Leon, beruntung ranjang milik Leon berukuran besar dan bisa untuk di tiduri dua orang sekaligus. Rasa lelah karena perjalanan Singapura ke Indonesia di tambah menjaga Leon yang sakit, membuat Steve dengan mudah memejamkan kedua matanya.
Ke esok kan harinya, Leon yang terjaga berusaha membuka kedua matanya perlahan. Merasakan benda berat yang ada di atas keningnya, dengan gerakkan tangan perlahan Leon mengambil dan melihat benda apa yang tertempel di keningnya.
“Oh… handuk yang setengah basah, siapa yang telah meletakkan handuk ini di keningku…?” Batin Leon sambil meletakkan handuk yang dia ambil di atas nakas tepat di samping tempat tidurnya.
Dengkuran halus seseorang membuat atensi Steve teralihkan, dia menatap ke samping di mana seseorang tidur dengan memunggungi. Leon mengernyitkan kedua matanya, dia tahu dan hapal siapa orang yang kini tidur di sampingnya.
Senyuman menggembang di kedua ujung bibir Leon, mengetahui jika Steve yang kini tidur bersamanya di ranjang yang sama dengan nya.
“Kamu pulang Steve.” Gumam Leon perlahan sambil memeluk Steve dari belakang.
Steve yang merasakan pelukan seseorang di belakang tubuhnya menjadi semakin nyenyak tertidur, dia merasa hangat dan nyaman saat Leon memeluknya.
“Secapek itu kan kamu Steve, sampai tidak menyadari kalau aku tengah memelukmu…” lirih Leon.
Kecupan ringan Leon berikan di pipi Steve, Leon memilih segera bangun dna menyiapkan sarapan untuk mereka berdua. Rasa pusing yang dia rasakan kemarin kini sudah menghilang, tapi rasa lemas di tubuh Leon masih dapat dia rasakan.
“Aku akan membuat sanwich dan segelas susu untuk sarapan.” Batin Leon segera bangun dari tempat tidur dan bergegas berjalan ke dapur.
Leon melihat tas Steve yang masih ada di atas lantai, Leon mengedarkan pandangan matanya melihat sekeliling.
“Dimana koper Steve…? Kenapa aku hanya melihat tas ransel milik Steve yang selalu dia bawa saat kuliah.” Gumam Leon sambil menggambil tas milik Steve, dia akan menaruh tas seteve ke dalam kamar milik steve.
Leon berfikir jika koper Steve sudah dia taruh di dalam kamar, tapi saat Leon membuka kamar Steve terlihat kamar itu masih tertata rapi, dan tidak ada koper di sana.
“Mungkin dia menaruh kopernya di luar.” Leon melangkahkan kakinya menuju ke luar apartemen, tapi yang Leon cari nihil. Tidak ada koper di sana, semua tampak kosong.
Leon mengaruk kepalanya yang tidak gatal, dia merasa aneh dengan Steve. Dia berfikir apa jangan jangan Steve kabur dari Singapura, atau jangan jangan dia tidak membawa koper saat ke sana.
Leon kembali masuk ke dalam apartemen, dia akan segera membuat sandwich dari pada harus berfikir macam macam.
Sedangkan Steve yang baru saja terbangun berusaha mengumpulkan nyawanya, dia menatap sekeliling dan ingatannya berputar ke beberapa jam yang lalu.
Steve teringat jika dia berada di dalam kamar Leon, dia merawat Leon yang sedang sakit. Steve segera berbalik badan, dan yang dia lihat tempat tidur di sampingnya terlihat kosong, Leon sudah terbangun.
Tanpa berfikir lama, Steve segera bangkit dari tempat tidur. Rambut yang tampak berantakan dan matanya yang masih terlihat mengantuk, membuat Steve terlihat seperti orang lain.
Steve melangkah keluar, dia melihat ke arah dapur. Terlihat Leon sedang menyiapkan dua gelas susu di atas meja mini bar, Steve yang melihat kondisi Leon merasa lega.
Tidak sia sia begadang semalaman demi merawat Leon, walau kini dia yang harus merasakan rasa kantuk yang masih mengelabui di kedua matanya.
“Hei Steve, kamu sudah bangun…? Ayo sini kita sarapan, kamu pasti sudha lapar kan…?” Seru Leon sambil meletakkan sepiring sanwich dan susu hangat di depannya.
Steve tersenyum melihat Leon yang tampak sudah membaik, dia melangkahkan kakinya menuju ke mini bar, di mana Steve sudah menyiapkan sarapan untuknya.
Sebelum Steve duduk, tangannya terulur menyentuh kening Leon. Dia ingin memastikan kondisi Leon, apakah suhu tubuhnya masih panas atau masih demam.
“Sepertinya sudah tidak panas lagi.” Ucap Steve seger duduk tepat di depan Leon berdiri.
“Apakah semalam aku demam Steve…?” Tanya Leon menatap Steve sambil mendudukkan dirinya tepat di depan Steve.
“Hmm… kamu pingsan, dan aku membawa badan beratmu itu ke dalam kamar.” Jawab Steve terlihat biasa saja sambil menikmati makanan yang di siapkan Leon.
“Maafkan aku, aku sudah merepotkan mu tadi malam.” Sesal Leon.
“Apa yang kamu lakukan sampai kamu demam seperti itu…? Bukannya kamu selalu protectif denganku, tapi kenapa kamu tidak bisa menjaga tubuhmu sendiri selama aku pergi….?” Ucapan Steve terdengar sangat marah, nada bicara Steve yang terdengar sedikit meninggi membuat Leon merasa sedikit takut dengan Steve.
“Aku… aku kehujanan saat pulang dari rumah dias.” Jawab Leon jujur.
Steve tersenyum samar, entah kenapa mengetahui jika Leon pergi ke rumah dias kekasih leon membuat steve kesal.
“Besok lagi jangan paksakan pulang jika hujannya masih turun, atau lebih baik kamu menginap di tempat kak dias, toh sebentar lagi kalian akan menikah. Apa salahnya kamu tidur di rumahnya.”
Steve mengatakan apa yang ada di dalam pikirannya dengan nada penuh sindiran ke Leon, entah kenapa Steve semakin kesal dengan Leon. Mengetahui jika Leon akan menikah dengan dias, dia merasa kesal dengan Leon.
“Steve…” lirih Leon tak bisa menjawab ucapan Steve, rasanya mulut Leon terasa tertutup rapat. Dia hanya bisa menatap Steve dam diam.
Steve segera berdiri, dia menghembuskan sisa susu yang sudha tampak hampir habis. Pagi ini dia akan melanjutkan istirahatnya, rasa kesal dengan Leon membuat dia semakin malas melihat Leon.
Leon hanya bisa menatap Steve dalam diam, melihat pintu kamar Steve yang tertutup Leon meraup wajahnya kasar. Dia tidak mengerti apa yang telah terjadi dengannya, kini perasaan Leon merasa bimbang.
Sebelum Steve datang dia sudah memantapkan hatinya untuk menikahi dias, tapi sejak Steve datang kenapa hati Leon seakan merasakan kebimbangan untuk menikahi dias.
“Ah… sial, kenapa dengan gue….” Leon menagajak rambutnya kasar, dia bimbang dan bingung dengan pikirannya sendiri.