Setelah 17 tahun hidup dalam kemiskinan dan menjadi korban perundungan oleh Clarissa, si "Putri Mahkota" sekolah, sebuah kecelakaan tragis mengungkap rahasia besar: Adel adalah putri kandung keluarga konglomerat Mahendra yang tertukar saat lahir.
Kembali ke rumah mewah ternyata bukan akhir dari penderitaan. Adel harus menghadapi penolakan dari ibu kandungnya sendiri yang lebih menyayangi Clarissa si anak palsu. Namun, Adel bukanlah gadis lemah yang bisa ditindas. Dengan bantuan Devan, tunangan Clarissa yang dingin dan berbahaya, Adel bangkit untuk merebut kembali takhtanya, membalas setiap penghinaan, dan membuktikan siapa pemilik sah dari nama besar Mahendra.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Widia ayu Amelia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
19
Matahari baru saja terbenam di ufuk barat, meninggalkan rona merah darah yang seolah meramalkan bencana bagi siapa pun yang memiliki rahasia di dalam Mansion Mahendra. Di sebuah kedai kopi terpencil di pinggiran kota, seorang pria paruh baya dengan jaket kulit kusam duduk dengan gelisah. Namanya adalah Anwar, mantan supir pribadi Perawat Maya—wanita yang tujuh belas tahun lalu menjadi dalang pertukaran bayi Mahendra.
Anwar memegang sebuah amplop cokelat yang sudah menguning dimakan usia. Di dalamnya terdapat buku catatan harian Maya yang asli, yang berisi detail transaksi, tanggal, dan instruksi rahasia yang tidak pernah ditemukan oleh kepolisian.
"Aku butuh uang," gumam Anwar sambil menatap layar ponselnya. Ia telah mengirimkan pesan ancaman ke nomor pribadi Nyonya Siska dan Clarissa satu jam yang lalu.
Di gedung utama mansion, Clarissa menerima pesan itu dengan tangan yang gemetar hebat. Wajahnya yang semula cantik kini tampak pucat pasi, seperti mayat yang baru saja bangkit dari kubur.
*“Aku punya catatan harian Maya. Di sana tertulis jelas siapa yang memberikan perintah dan berapa bayaran yang diterima untuk menukar bayi itu. Jika kau tidak ingin rahasia ini meledak di media besok pagi, bawakan dua miliar rupiah ke alamat yang akan kukirimkan.”*
"Ibu! Bagaimana ini?" Clarissa berlari ke kamar Nyonya Siska, menunjukkan pesan itu dengan histeris.
Siska membaca pesan itu dan nyaris pingsan. "Anwar... aku pikir dia sudah menghilang setelah Maya masuk penjara. Jika catatan itu jatuh ke tangan Hendra atau publik, kita akan hancur, Clarissa! Ayahmu akan menceraikanku dan kau akan masuk panti asuhan atau penjara!"
"Aku harus membayarnya, Bu! Tapi aku tidak punya uang sebanyak itu di rekening pribadiku," tangis Clarissa.
"Pakai dana yayasan, Sayang," bisik Siska dengan mata yang gelap oleh rasa takut. "Paman Broto bisa mencairkannya dengan cepat sebagai 'biaya operasional darurat'. Kita harus mengambil catatan itu malam ini juga."
---
Di sisi lain mansion, di dalam ruang kerja kecilnya yang dingin, Adelard duduk diam di depan monitor komputernya. Ia tidak perlu menjadi peramal untuk tahu bahwa sesuatu yang besar sedang terjadi. Sejak sore tadi, ia telah memantau aktivitas perbankan yayasan melalui akses yang diberikan Pak Hardi dan celah keamanan yang dibuat Devan.
"Indikator merah," bisik Adel saat melihat notifikasi di layarnya.
Sebuah transaksi sebesar dua miliar rupiah baru saja keluar dari rekening Yayasan Pendidikan Mahendra dengan keterangan 'Renovasi Gedung C'. Transaksi itu dilakukan oleh akun milik Paman Broto, namun alamat IP pengirimnya berasal dari dalam mansion.
Adel segera menghubungi Devan melalui jalur telepon terenkripsi. "Mereka bergerak, Devan. Dua miliar rupiah baru saja ditarik secara ilegal. Clarissa sedang melakukan sesuatu yang sangat ceroboh."
"Aku sudah mengikuti mobil Clarissa," suara Devan terdengar di seberang telepon, tenang namun mematikan. "Dia pergi sendiri menuju arah pelabuhan lama. Sepertinya ada seseorang yang memerasnya. Aku akan memantau dari jarak aman. Kau, tetaplah di rumah dan pastikan Tuan Mahendra 'kebetulan' sedang memeriksa laporan keuangan malam ini."
"Aku mengerti," jawab Adel.
---
Adel keluar dari kamarnya dan menuju ruang kerja utama Tuan Mahendra. Ia membawa sebuah tablet yang berisi laporan audit yang sudah ia susun dengan sangat rapi—jerat yang siap untuk ditarik.
"Ayah? Boleh saya masuk?" tanya Adel lembut.
Tuan Mahendra mendongak dari meja kerjanya. Wajahnya tampak lelah, namun matanya berbinar saat melihat Adel. "Masuklah, Adel. Ada apa? Kau menemukan sesuatu lagi?"
"Maaf mengganggu waktu istirahat Ayah, tapi ada anomali yang sangat besar dalam sistem pengeluaran yayasan sepuluh menit yang lalu," Adel meletakkan tablet itu di depan ayahnya. "Dua miliar rupiah keluar secara mendadak. Saya khawatir ada serangan siber atau... penyalahgunaan wewenang."
Tuan Mahendra mengerutkan kening. Ia segera memeriksa data tersebut. "Renovasi Gedung C? Tidak ada rencana renovasi bulan ini. Hubungi Broto sekarang!"
"Paman Broto tidak menjawab telepon saya, Ayah. Dan saya rasa... Clarissa juga tidak ada di kamarnya. Saya tadi melihat mobilnya keluar dengan kecepatan tinggi," tambah Adel dengan nada bicara yang pura-pura khawatir.
Tuan Mahendra berdiri dengan amarah yang mulai memuncak. "Apa yang mereka lakukan dengan uang perusahaan?"
---
Sementara itu, di sebuah gudang tua di pelabuhan, Clarissa bertemu dengan Anwar. Ia melemparkan sebuah tas berisi uang tunai di depan pria itu.
"Ini uangnya! Berikan catatannya padaku!" bentak Clarissa.
Anwar tersenyum licik, menghitung tumpukan uang itu sebentar sebelum menyerahkan amplop cokelat tersebut. "Kau benar-benar anak yang berbakti pada kebohonganmu sendiri, Nona Kecil."
Clarissa merampas amplop itu dan segera membukanya. Ia melihat tulisan tangan Perawat Maya yang asli. Ia merasa lega sejenak, berpikir bahwa ia telah memenangkan perang ini. Ia segera mengeluarkan korek api dari sakunya, bermaksud membakar dokumen itu di sana juga.
"Jangan bergerak, Clarissa Mahendra."
Suara dingin Devan bergema di dalam gudang yang sunyi. Clarissa tersentak, korek api di tangannya terjatuh. Devan berjalan keluar dari kegelapan, diikuti oleh dua orang pria berbadan tegap yang merupakan staf keamanan pribadinya.
"Devan? Apa yang kau lakukan di sini?" Clarissa tergagap, mencoba menyembunyikan amplop itu di balik punggungnya.
"Aku sedang menonton bagaimana calon tunanganku melakukan pencucian uang dan penghilangan barang bukti," Devan mendekat, matanya menatap tajam ke arah tas uang dan amplop cokelat tersebut. "Anwar, terima kasih atas kerja samanya. Kau bisa pergi, tapi uang itu tetap di sini."
Anwar yang ketakutan segera melarikan diri, namun staf Devan sudah mencegatnya di pintu.
"Devan, tolong... aku bisa jelaskan! Orang ini memeras Ibu! Aku hanya ingin melindungi nama baik keluarga Mahendra!" Clarissa mulai menangis, sebuah sandiwara yang sudah tidak lagi mempan bagi Devan.
"Melindungi nama baik dengan mencuri uang yayasan?" Devan mengambil amplop cokelat itu dari tangan Clarissa yang gemetar. "Catatan harian Maya... menarik sekali. Aku penasaran apa yang akan dikatakan Tuan Mahendra saat membaca bahwa Nyonya Siska-lah yang sebenarnya membiayai pelarian Maya sepuluh tahun lalu agar kebenaran ini tetap terkubur."
"Tidak! Jangan berikan itu pada Ayah!" Clarissa berlutut, memeluk kaki Devan. "Aku akan melakukan apa saja, Devan! Tolong, jangan hancurkan aku!"
Devan menatap Clarissa dengan pandangan jijik yang sangat mendalam. "Kau sudah menghancurkan dirimu sendiri sejak lama, Clarissa. Aku bukan orang yang akan menghancurkanmu. Adel-lah yang akan melakukannya."
Tepat saat itu, cahaya lampu mobil menyinari gudang. Sebuah sedan mewah berhenti di depan pintu. Tuan Mahendra turun dengan wajah yang sangat gelap, didampingi oleh Adel yang berdiri di sampingnya seperti malaikat keadilan yang tenang.
Clarissa membeku. Ia melihat ayahnya, ia melihat Adel, dan ia melihat bukti-bukti kejahatannya tergeletak di lantai.
"Ayah..." bisik Clarissa dengan suara yang hampir tak terdengar.
Tuan Mahendra berjalan mendekat. Ia tidak menatap Clarissa, melainkan mengambil amplop cokelat dari tangan Devan. Ia membacanya dengan cepat. Setiap halaman yang ia baca membuat tangannya semakin bergetar karena amarah.
"Dua miliar rupiah untuk membungkam sejarah..." Tuan Mahendra menatap Clarissa dengan tatapan yang sangat asing. "Kau bukan hanya pencuri, Clarissa. Kau adalah noda yang paling menjijikkan dalam hidupku."
Adel hanya diam berdiri di sana. Ia melihat Clarissa yang hancur, namun tidak ada rasa kasihan sedikit pun di hatinya. Ia mengingat malam di mana ia hampir mati karena kedinginan dan demam, sementara Clarissa berpura-pura sakit untuk mencuri perhatian. Ini adalah bayaran yang adil.
"Pulanglah, Devan. Terima kasih atas bantuanmu," ucap Tuan Mahendra dengan suara yang sangat rendah namun mengandung otoritas yang menakutkan. "Hardi! Bawa Clarissa masuk ke mobil. Kurung dia di kamarnya. Dan besok pagi... aku akan memanggil pengacara untuk mencoret nama Clarissa dari segala bentuk hak waris dan dokumen keluarga Mahendra secara permanen."
Clarissa menjerit histeris saat diseret oleh Pak Hardi menuju mobil. "AYAH! MAAFKAN AKU! IBU YANG MENYURUHKU!"
Tuan Mahendra menoleh ke arah Adel. "Adel... maafkan Ayah. Ayah seharusnya mendengarkanmu sejak awal."
Adel mendekati ayahnya dan memegang tangannya. "Tidak apa-apa, Ayah. Kebenaran memang sering kali datang dengan rasa sakit yang luar biasa. Sekarang, setidaknya Ayah tahu siapa yang benar-benar peduli pada masa depan keluarga ini."
Malam itu, saat mereka kembali ke mansion, Adel melihat Nyonya Siska sedang menunggu di lobi dengan wajah cemas. Begitu melihat suaminya datang dengan wajah penuh amarah dan Clarissa yang diseret, Siska tahu bahwa akhir dari kekuasaannya telah tiba.
Namun, saat Tuan Mahendra hendak melontarkan kata cerai, Siska tiba-tiba jatuh pingsan dengan mulut mengeluarkan busa—sebuah upaya bunuh diri atau akting terakhir? Adel menyipitkan matanya. Pertempuran ini belum benar-benar berakhir selama Siska masih bernapas di dalam rumah itu.