NovelToon NovelToon
Toko Lorong Waktu

Toko Lorong Waktu

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Misteri / Mata Batin
Popularitas:978
Nilai: 5
Nama Author: ANGWARUL MUJAHADAH

Di sebuah kota modern, ada sebuah toko antik yang hanya muncul saat hujan deras. Pemiliknya bukan manusia, dan barang yang ia jual bukan benda mati, melainkan "waktu" yang hilang dari masa lalu pembelinya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ANGWARUL MUJAHADAH, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Aris kembali

Setelah suara dentuman keras dari bunker yang jebol belum reda... Ada bayangan besar muncul dari kegelapan lorong. Itu bukan pasukan elit, bukan pula polisi. Itu adalah Panji dan para pengawal setianya yang muncul dari sistem ventilasi bawah tanah, bersenjatakan perlengkapan taktis yang jauh lebih berat dari yang dimiliki pasukan The Erasers.

"Aku akan menjaga punggungmu, Aris!" teriak Panji, suaranya menggelegar di tengah reruntuhan.

Tanpa aba-aba, ia melepaskan tembakan suppressive dari Heavy Machine Gun ke arah sisa-sisa pasukan elit yang mencoba berkumpul kembali.

Pertempuran berubah menjadi kacau. Panji bukan sekadar gangster; ia adalah mantan komandan militer. Ia mengatur anak buahnya dengan formasi flanking yang sempurna. Di tengah kepulan debu, Panji bergerak maju sambil melindungi Aris yang terkulai lemas.

"Hana, buka akses ke pintu keluar darurat sektor 4! Panji, bawa mereka pergi," perintah Bimo, ia menembakkan Smoke Grenade ke arah pasukan The Erasers untuk membutakan inframerah mereka.

"Gelang itu!" Panji berteriak. Meski Aris sudah tidak sadarkan diri, Panji menyambar kepingan-kepingan gelang perak yang berserakan di lantai, memasukkannya ke dalam kotak baja pelindung.

**

Pertempuran mencapai puncaknya saat pasukan elit itu mengeluarkan drone tempur otonom.

Drone kecil itu menukik tajam, melepaskan peluru tajam ke arah Panji. Sang Godfather menepisnya dengan perisai baja kinetik miliknya, lalu membalas dengan melontarkan granat EMP yang ia curi dari gudang senjata BlackTech.

BZZT!

Ledakan elektromagnetik itu mengubah drone-drone canggih menjadi rongsokan besi yang jatuh berhamburan.

Panji tidak berhenti. Ia menyeret Aris, diikuti oleh Bimo dan Hana yang membawa data-data krusial, menuju jalur pelarian bawah tanah.

***

Di lorong pelarian, Panji menoleh ke belakang, matanya berkilat penuh amarah kepada pasukan The Erasers yang masih mengejar.

Panji menekan tombol peledak di sepanjang lorong.

BOOM!

Runtuhan beton menutup jalan, mengubur selamanya akses ke bunker tersebut, bersama dengan rahasia teknologi yang sempat ada di sana.

***

Mereka berhasil mencapai lokasi aman di sebuah gudang logistik milik Panji di tepi pelabuhan Jakarta. Aris diletakkan di atas meja logam, masih tidak sadarkan diri. Bimo dan Hana terengah-engah, pakaian mereka penuh debu dan darah kering.

Panji meletakkan kotak baja berisi kepingan gelang perak di hadapan mereka. "Aris mungkin sudah hancur, tapi potongan-potongan ini adalah fondasi dari apa yang ia bangun. Sekarang, dunia mengira dia sudah mati, dan gelang itu sudah musnah."

Panji menatap Bimo dan Hana dengan tajam. "Kita tidak punya waktu untuk berduka. Kita punya dua pilihan: biarkan rahasia ini terkubur bersama Aris, atau kita menjadi arsitek baru dari apa yang tersisa di dalam kotak itu."

Dengan gelang yang hancur dan status mereka yang kini menjadi buronan paling dicari di dunia.

Kepungan itu bukan lagi sekadar serangan; itu adalah eksekusi massal. Ribuan tentara dari *Unit Pemburu Anomali* telah menutup seluruh perimeter gudang logistik Panji. Di luar, suara tembakan anak buah Panji yang mencoba menerobos masuk perlahan meredup, digantikan oleh suara sepatu bot militer yang melangkah teratur.

Panji, sang Godfather yang selama ini tak tersentuh, tumbang di pintu utama dengan dada yang koyak oleh peluru penembak jitu. Bimo tewas dalam upaya terakhirnya melindungi Hana, tubuhnya terkulai di atas meja kerja yang penuh dengan data riset yang belum sempat terkirim. Hana sendiri, dengan air mata mengalir dan tangan yang gemetar, mencoba mengunggah pesan terakhir untuk Aris sebelum sebuah ledakan menghancurkan konsol komputer dan mengakhiri hidupnya seketika.

Aris berdiri sendirian di tengah reruntuhan, dikelilingi oleh kobaran api yang mulai melahap segalanya. Suara tawa dingin dari pemimpin pasukan elit bergema di balik asap. "Sudah berakhir, Pengamat. Waktumu habis."

Aris tidak memiliki senjata lagi. Gelangnya hancur. Teman-temannya—keluarganya—telah tiada. Namun, di saku terdalam jasnya, ia merasakan sesuatu yang keras dan dingin. Sebuah *kunci logam kuno yang diberikan Profesor Chronos di hari pertama pertemuan mereka—sebuah kunci yang konon hanya boleh digunakan saat "segalanya telah hilang."

Saat moncong senjata pemimpin pasukan itu tepat berada di keningnya, Aris mengeluarkan kunci itu. Ia tidak memohon ampun, ia justru tersenyum tipis.

"Kau salah," bisik Aris. "Waktuku baru saja dimulai kembali."

Ia melemparkan kunci itu ke udara kosong, memutar pergelangan tangannya seolah sedang membuka pintu yang tidak terlihat. Ruang di sekitarnya mendadak melengkung. Cahaya putih yang menyilaukan meledak, menelan peluru yang sudah ditembakkan dan melenyapkan pasukan elit itu ke dalam kehampaan.

**

Hening yang menyesakkan menyambut Aris. Ruangan itu masih sama: penuh dengan jam-jam antik, peta galaksi yang berputar di langit-langit, dan aroma buku tua yang abadi. Profesor Chronos berdiri di depan sebuah cermin besar, menatap ke arah Aris dengan tatapan yang sulit diartikan.

Aris jatuh terduduk, napasnya tersengal, tubuhnya gemetar hebat. Ia masih bisa merasakan panasnya api dari gudang pelabuhan, masih bisa mendengar suara terakhir Bimo dan jeritan Hana.

"Mereka mati," suara Aris parau, penuh kepedihan yang tak tertahankan. "Bimo, Hana, Panji... mereka semua mati karena ku."

Profesor Chronos membalikkan badan. Tidak ada rasa iba di matanya, hanya ketenangan yang dingin. "Kematian adalah konstanta dalam setiap garis waktu, Aris. Kau telah melihat hasilnya. Kau telah mencoba mengubah takdir, namun kau justru mengukuhkannya."

"Kau memberiku kunci ini bukan untuk melarikan diri!" teriak Aris sambil bangkit, mencengkeram kerah baju sang Profesor. "Kau memberiku ini supaya aku bisa menyelamatkan mereka! Ubah lagi! Kirim aku kembali ke saat sebelum semuanya hancur!"

Profesor Chronos menepis tangan Aris dengan gerakan yang sangat cepat dan kuat. "Itu tidak mungkin. Kunci itu tidak membuka jalan kembali ke masa lalu. Kunci itu membuka pintu ke satu-satunya tempat di mana kau bisa berhenti menjadi pion."

Sang Profesor menunjuk ke arah cermin besar di belakangnya. Aris menatap cermin itu, dan alih-alih melihat pantulan dirinya yang hancur, ia melihat ribuan versi dirinya yang lain—versi yang gagal, versi yang mati, dan versi yang bahkan belum lahir.

"Kau bukan lagi seorang pengamat," kata sang Profesor dengan nada yang menghantui. "Kau adalah penggerak. Jika kau ingin membalas dendam atas kematian mereka, kau tidak perlu memutar waktu. Kau harus menulis ulang realitas itu sendiri dari titik nol."

Aris menatap tangannya yang kini bersinar dengan cahaya yang sama dengan gelang peraknya yang dulu. Ia sadar, kini ia tidak lagi terikat pada 20 jam durasi waktu. Ia bukan lagi sekadar pelompat waktu; ia adalah pemilik dari setiap detik yang pernah dan akan terjadi.

Aris menoleh kembali ke cermin, matanya kini memancarkan tekad yang jauh lebih gelap dan lebih tajam dari sebelumnya. Ia tidak lagi mencari keadilan. Ia mencari kehancuran bagi siapa pun yang telah merenggut orang-orang yang dicintainya.

"Bagaimana cara memulainya?" tanya Aris dengan suara dingin yang tak lagi manusiawi.

Profesor Chronos tersenyum—sebuah senyum yang penuh dengan rahasia berabad-abad. "Dengan menghancurkan jam pertama, Aris. Kita harus membunuh waktu itu sendiri."

1
Adi Rbg
berguna banyak pelajaran tentang hidup!
SANTRI MBELING: makasih kak
total 2 replies
Ariasa Sinta
bahasan nya udah berat ya, meskipun q kurang ngerti sama istilah²nya v lanjutkan saja, penasaran
Ariasa Sinta
hmmm...
sesuatu yg berlebihan itu tidak baik, meskipun dengan niat untuk menolong ..
SANTRI MBELING: ia kak. makasih
total 1 replies
SANTRI MBELING
makasih kak 👍👍👍👍🙏🙏😍😍
Ariasa Sinta
aku kasih kopi thor biar semangat update nya 💪
SANTRI MBELING: jangan lupa baca yang novel saya yg cinta zaenab
total 2 replies
Ariasa Sinta
banyak bgt kata2 d kepala ku thor buat komen tapi q bingung ngerangkai nya,
andai waktu bisa di putar ....
ah sudahlah
Ariasa Sinta
aduhhh banyak wow nya ini
Ariasa Sinta
aku merinding loh ...
Ariasa Sinta
aku mampir thor,
baru bab 1 z udah menarik ini bikin penasaran, lanjut thor
SANTRI MBELING: makasih kak
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!