Evana dan Evita, kedua saudara kembar yang tidak pernah menyangka kalau kejadian aneh dan tak masuk akal bisa mereka alami.
Ber-transmigrasi atau berpindah jiwa yang tidak pernah mereka sangka ada dalam dunia nyata terjadi pada keduanya.
Masuk kedalam tubuh kedua istri yang tak pernah akur dan berakhir mengenaskan di akhir kisah, lalu apa yang akan keduanya lakukan? Menikmati hidup dalam dunia yang tak mereka tahu atau memilih mengikuti alur untuk mati yang kedua kalinya?
Kisah mereka semua ada di sini!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senjaku02, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 14
Setelah melakukan pemeriksaan, Ayasha dan Elvara keluar dari rumah sakit, mereka akan pergi makan dan tentu saja belanja sebelum Ayasha pergi menemui ibunya.
"Jadi ketemu tante Melinda?" Elvara bertanya.
"Jadi, tapi kita makan dan jalan-jalan dulu, bagaimana?"
Elvara mengangguk, supir sudah datang dan menjemput mereka karena kedua suami mereka tidak bisa datang sebab sedang meeting.
SRET!
"HEY, SIAPA?" seru Elvara marah.
Dia menoleh dan melihat Devon menariknya dengan kasar.
"Ka-kau?" suara Elvara terbata, dia tercekat.
"Kau, kenapa sulit di hubungi? Aku butuh proposal itu, mana?" kata Devon mendesak, mengandalkan Calista pun seperti tidak berguna.
"Aku belum dapat, kau tahu masalah yang terjadi sekarang, kan? Jadi berikan aku sedikit waktu lagi gimana?" minta Elvara dengan terbata. Dari pada Rayandra, Devon justru lebih menyeramkan.
Devon mendengus kesal, sebelum pergi dia menatap Elvara dengan kesal dan berlalu dari sana tanpa kata lagi.
"Kenapa dia datang menemui aku lagi?" gerutu Elvara, ia kira setelah kejadian di restoran hari itu pria itu tidak akan berani datang lagi. Namun, ia salah sebab pria itu malah datang ke rumah sakit.
Sedangkan di sudut parkiran lain.
"Ternyata tentang tidak menemui Devon lagi itu hanya kebohongan," gumamnya dengan nada dingin dan kepalan tangan yang ada di kemudi mengencang.
"Mungkin mereka tidak sengaja bertemu, Kak!" bisik Calista, di datang bersama Rayandra tentu saja dengan unsur kesengajaan.
Rayandra tidak mendengarkan Calista, dia justru segera pergi dari sana untuk kembali ke perusahaan.
...****************...
Jam menunjukkan pukul setengah empat sore.
"Hay, Mi!" sapa Ayasha pada sosok wanita paruh baya yang ada di depannya itu.
"Sayang, hay! Apa kabar?" tanya Melinda.
Ayasha tersenyum tipis,"Aku baik, Mi!" angguknya dengan menerima pelukan Melinda walaupun rasa sayang itu tak benar-benar nyata.
Hati Ayasha justru senang pada Nindi yang lembut dan perhatian, walaupun Melinda ibu kandungnya tapi Nindi lah yang merawat dia sejak sang Ibu meninggalkan dirinya dan sang Ayah demi karir.
"Ayo duduk!" kata Melinda perhatian.
Ayasha duduk dengan tenang di kursi depan sang Mama, sampai beberapa pelayan datang membawakan camilan dan minuman yang sudah Maminya pesan.
DEGH!
"Ayo sayang di makan! Mami pesan ini khusus buat kamu," bisiknya lembut.
Tangan Ayasha gemetar, bukan karena melihat banyak makanan mahal, tapi jelas di dalam novel ia ingin jika Ayasha alergi kaca Almond dan di sana ada bahan makanan yang mengandung almond, bahkan minuman pun cokelat Almond yang mahal dan enak.
"Kenapa? Apa ini kurang?" tanya Melinda memastikan,"Atau kamu tidak suka?" sambungnya.
"Bukan, tapi apa selama ini Mami benar-benar melupakan aku?" Ayasha bertanya suaranya gemetar hebat.
"Apa maksudnya? Mami benar-benar tidak paham."
Ayasha tersenyum kecut, ternyata rasa kehilangan ibu kandung bukan hanya di dunia nyatanya saja, tapi di dunia fiksi pun dia di asingkan oleh ibu kandungnya sendiri.
“Aku alergi kacang almond, Mi. Tapi tak apa, aku akan makan ini karena mami sudah capek-capek memesannya,” ucap Ayasha dengan suara tercekat, tangannya gemetar saat mengangkat sendok menuju mulutnya.
DEGH!
Jantung Melinda terasa tertusuk belati tajam. Dengan gerakan buru-buru, ia merebut sendok itu dari genggaman putrinya seolah melindungi dari bahaya yang mengintai.
Sendok itu jatuh, menghantam lantai dengan suara dentang yang memecah hening, memaksa mata-mata pengunjung teralihkan ke meja mereka.
Seorang pelayan segera menghampiri, sigap membersihkan sisa makanan yang tercecer dengan langkah cekatan.
“Aaah…” teriak Ayasha, terkejut sekaligus bingung oleh reaksi ibunya yang begitu tiba-tiba.
Syok, ia menunduk, ragu antara ingin memprotes atau hanya diam. Namun, ketika melihat pelayan yang menunduk membersihkan makanan tanpa cemberut, hatinya terpanggil untuk meminta maaf.
suaranya bergetar, “Maaf, Kak… kami tidak sengaja.”
Pelayan itu membalas senyum ramah yang menenangkan, seolah sudah sering melihat momen seperti ini. “Tidak apa-apa, Kak. Silakan dilanjutkan makannya.”
Di tengah riuh kecil itu, Melinda menarik napas dalam-dalam, berjuang meredam kecemasan yang mencekam, menyadari betapa rapuhnya perlindungan terhadap anaknya dalam detik-detik sepele seperti ini.
“Maafkan Mami, sayang... Mami benar-benar lupa...” kilah Melinda menggenggam tangan Ayasha dengan erat, suaranya bergetar penuh penyesalan.
Rasa bersalah melumat dadanya seperti hujan badai yang tak kunjung reda. Ia sama sekali tidak tahu bahwa putrinya alergi kacang almond jika seandainya mengetahuinya, Melinda takkan dengan sengaja membahayakan nyawa Ayasha.
Ayasha hanya mengangguk pelan, senyum paksa terukir di bibirnya yang pucat. Dalam hati, ia mengeluh getir, 'Mami bukan lupa... mami memang tak pernah benar-benar tahu tentang aku.'
Melinda memanggil pelayan dengan suara berat. " Saya pesan makanan steak dan minuman jus jeruk,” ucapnya.
Pelayan itu mencatat pesanannya, saat dirinya akan pergi, diurungkan ketika ia di panggil lagi.
“jangan pergi dulu bawa ini, ini, dan ini... biar kamu dan teman-temanmu bisa makan bersama. Semuanya masih utuh, belum disentuh.”
Pelayan itu mengangguk hormat. “Terima kasih, Nyonya.”
Ia perlahan membawa piring-piring itu pergi, meninggalkan meja yang kini terasa hampa dan penuh kegelisahan.
Di balik wajah tenangnya, Melinda merasakan petir amarah dan penyesalan menggelegak. Satu detik lalai, nyawa putrinya nyaris terenggut. Semua karena ketidaktahuannya yang membakar hatinya menjadi abu.