Di usia 27 tahun, Vivian Wheeler mengira hidupnya sempurna—hingga ia mendapati dirinya menjadi "pelakor" tanpa sengaja dalam satu hari yang sama.
Setelah memergoki pengkhianatan George, Kekasihnya, yang ternyata telah beristri, Vivian kembali dihantam badai saat dituduh sebagai selingkuhan oleh seorang remaja histeris yang mengamuk hingga merusak mobil Porsche-nya.
Penyebabnya? Logan Enver-Valerio, pemuda 20 tahun yang angkuh, menggunakan foto Acak Vivian sebagai alasan palsu untuk memutuskan Moana.
Tak terima dihina "wanita tua" dan dijadikan tameng, Vivian mendatangi kampus Logan dengan penampilan yang menipu usia, siap memberi pelajaran pada bocah ingusan tersebut.
Pertarungan ego antara sang pewaris tegas dan brondong ini pun dimulai. Siapakah yang akan menyerah saat mulai mencampuradukkan dendam dan obsesi?
🦋
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#17
Udara di dalam ruangan spa yang awalnya dipenuhi aroma menenangkan dari essential oil lavender dan melati, seketika berubah menjadi medan perang oksigen. Suasana hening yang sakral pecah berkeping-keping. Isabella-Valerio berdiri tegak dengan jubah mandi sutranya, tangannya masih memegang tirai yang baru saja ia singkap, sementara matanya yang tajam menatap pemandangan di hadapannya seperti seorang hakim agung.
Logan mematung, tangannya menggantung di udara, hanya berjarak beberapa sentimeter dari bahu Vivian. Sementara itu, Vivian Wheeler merasa seolah seluruh darah di tubuhnya tersedot habis, meninggalkannya dalam keadaan pucat pasi di atas ranjang perawatan yang kini terasa seperti kursi pesakitan.
"Sayang..." suara Logan akhirnya keluar, namun terdengar sangat canggung. Ia menoleh perlahan ke arah Vivian dengan tatapan penuh tanya. "Kau... kau tidak bilang ruangan ini tidak kedap suara?"
Vivian, yang untuk pertama kalinya merasa benar-benar terpojok, membalas tatapan Logan dengan mata yang membelalak tajam. Amarah dan rasa malu bergejolak di dadanya. "Kau tidak lihat kain pembatas di sekitarmu, Sayang?"
Kata "Sayang" itu meluncur dari bibir Vivian untuk pertama kalinya. Namun, nada suaranya sama sekali tidak mengandung kasih sayang. Itu adalah nada suara yang dingin, tajam, dan penuh ancaman—sebuah hukuman verbal yang membuat Logan seketika merinding. Panggilan itu seolah-olah mengatakan: Kau telah menghancurkan hidupku, dan kau akan membayar ini.
Isabella menatap putranya dengan tatapan tidak percaya. Sebagai seorang ibu yang mengenal Logan sejak kecil, ia tahu putranya adalah seorang perayu, tapi ia tidak pernah membayangkan Logan bisa seberani—atau semesum—ini sampai masuk ke ruang spa wanita.
"Logan..." suara Isabella terdengar berat. "Apa dia... kekasihmu?"
Logan terdiam sejenak. Ia menatap Vivian, mencari sinyal atau bantuan. Vivian dengan cepat memberikan gelengan kecil, matanya memberi kode keras agar Logan menyangkal segalanya. Namun, otak Logan yang cerdik—dan sedikit licik—bekerja dengan cara berbeda. Jika ia menyangkal sekarang, Mommy-nya akan terus mengejarnya soal alasan ia berada di ruangan ini.
"Iya, Mom," jawab Logan dengan nada tegas yang membuat Vivian nyaris terjatuh dari tempat tidur. "Dia kekasihku."
Isabella menyipitkan mata. Ia melangkah maju, mendekati ranjang perawatan Vivian untuk melihat lebih jelas. Ruangan itu terasa makin sempit saat Isabella mulai mengamati wajah Vivian inci demi inci. Vivian mencoba membuang muka, merasa sangat tidak nyaman hanya dibalut selembar kain di depan ibu kekasih kontraknya.
Tiba-tiba, mata Isabella membulat sempurna. Pupil matanya melebar, dan napasnya tertahan di tenggorokan. Ia tidak mengenal nama Vivian Wheeler, namun ia tidak akan pernah melupakan wajah itu.
"Kau!" pekik Isabella, jarinya menunjuk tepat ke arah wajah Vivian.
Vivian terkejut. "Saya...?"
"Kau si wanita ikat rambut!" seru Isabella dengan nada suara yang naik dua oktaf.
Dunia seolah berhenti berputar bagi Vivian. Ikat rambut? Ia mencoba menggali memorinya yang terkubur di bawah tumpukan jadwal proyek interior. Dan seketika, sebuah memori muncul.
Satu bulan lalu, di sebuah butik aksesoris mewah di Beverly Hills. Hanya ada satu ikat rambut sutra bertahtakan kristal Swarovski edisi terbatas yang tersisa di rak. Vivian sangat menginginkannya, begitu juga dengan seorang wanita paruh baya yang tampak sangat elegan. Terjadi perdebatan kecil, sebuah perebutan harga diri antara dua wanita yang tidak mau mengalah.
Vivian, yang saat itu sedang sangat lelah dan ingin menang dengan cepat, akhirnya mengeluarkan jurus pamungkas yang paling gila. Ia mengelus perutnya yang rata dengan wajah memelas dan berkata: "Nyonya, tolonglah... kau harus mengalah dari ibu hamil muda sepertiku. Bayiku sangat menginginkan keindahan ini."
Wanita itu—yang ternyata adalah Isabella—akhirnya mengalah karena rasa iba yang mendalam, meski dengan hati yang dongkol karena itu adalah pertama kalinya Isabella-Valerio kalah dalam memperebutkan barang incarannya.
Deg.
Jantung Vivian seolah berhenti berdetak. Ia menatap Isabella, lalu beralih ke Logan yang tampak bingung, lalu kembali ke Isabella.
"Ikat rambut...?" gumam Vivian lemas.
Isabella menutup mulutnya dengan tangan, matanya kini berkaca-kaca karena kombinasi antara terkejut dan haru. Ia menoleh ke arah Logan dengan kecepatan kilat.
"Jadi...!!!" suara Isabella bergetar. "Bayi itu... cucuku?!"
Logan tersentak kaget. "Bayi? Cucu? Apa maksud Mommy?"
Isabella tidak menghiraukan Logan. Ia langsung duduk di tepi ranjang Vivian—mengabaikan fakta bahwa Vivian hampir tidak berpakaian. "Ya Tuhan, Logan! Kau tidak bilang kekasihmu hamil, Sayang?!"
Vivian ingin menjerit saat itu juga. Kebohongan konyol yang ia buat di butik sebulan lalu kini kembali menghantuinya dalam situasi yang paling buruk. Ia menatap Logan dengan pandangan 'Lakukan sesuatu atau aku akan membunuhmu'.
Namun Logan, bukannya meluruskan keadaan, justru melihat ini sebagai peluang emas untuk mengamankan posisinya. Jika ibunya mengira ada bayi, maka Isabella tidak akan berani memisahkan mereka, dan kontraknya dengan Vivian akan berjalan dengan sangat lancar—bahkan mungkin permanen.
Logan berdehem, memasang wajah serius yang dibuat-buat, lalu merangkul bahu Vivian yang tertutup kain. "Mom... kami... kami baru ingin memberitahumu saat suasananya tepat. Maafkan aku."
Vivian membelalak. Logan, kau berengsek! teriaknya dalam hati.
"Oh, Sayangku!" Isabella langsung memeluk Vivian dengan hati-hati seolah wanita itu terbuat dari kaca yang rapuh. "Maafkan aku soal ikat rambut itu. Kalau aku tahu itu untuk menantu dan cucuku, aku pasti akan memberikan seluruh butiknya untukmu!"
Vivian Wheeler, sang pengusaha sukses yang dingin, kini terjebak dalam jaring kebohongannya sendiri dan kegilaan Logan.
Di dalam ruangan spa yang aromanya kini terasa seperti aroma bencana, Vivian menyadari satu hal: Kontrak satu bulan ini tidak akan berakhir sederhana. Ia sekarang bukan hanya kekasih kontrak Logan, tapi juga 'calon ibu' dari cucu keluarga Enver-Valerio yang sebenarnya... sama sekali tidak ada.
Logan melirik Vivian dengan seringai smirk kemenangan di balik punggung ibunya, seolah berkata: "Selamat datang di keluargaku, Sayang."