Avara hanya staf administrasi biasa di perusahaan finance yang terbiasa bekerja lembur.
Pada satu hari seperti biasa dia lembur seorang diri, lelah dan mengantuk. Saat terbangun, bukannya berada di kantor, dia justru bertransmigrasi ke dunia iblis. Menjadi satu-satunya sosok manusia di sana, Avara harus dicurigai dan hampir mendapat hukuman mati. Namun berkat kemampuannya mengolah data, dia berhasil selamat!
Kini hari-harinya disibukkan oleh pekerjaan administrasi di istana iblis, dan semata-mata bekerja untuk Raja Iblis Fulqentius yang terkenal keji, dingin, dan misterius.
Bisakah Avara bertahan hidup di dunia yang sama sekali asing baginya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ichigatsu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
1 - Lagi-lagi Lembur
Masih ada sekitar dua puluh lima aplikasi pengajuan kredit yang harus dia input dan sebelas aplikasi yang harus dia lakukan verifikasi telepon. Avara mengerang.
Tiga jam lalu semua rekan-rekan kerjanya sudah pulang, meninggalkannya sendiri bersama tumpukan formulir dan data-data pendukung milik para calon konsumen di atas mejanya yang carut-marut, jauh dari teratur dan waras. Sudah berkali-kali Avara mengacak-acak rambutnya, sebab dia tidak mungkin mengacak-acak semua dokumen yang membuatnya pusing, dan berkali-kali pula mengeluh seorang diri. Dia tahu tindakannya tidak akan membantunya segera menyelesaikan tanggung jawab, tapi gadis itu merasa tidak mampu menahan gejolak untuk tidak menjerit frustasi, jadi dirinya lebih memilih untuk menggerakkan jari-jarinya yang lebih terlatih.
Jari-jari itu sebetulnya bisa sangat dia andalkan, tapi kondisi jaringan internet di kantornya sedang tidak mampu diajak bekerja sama. Lemotnya membuat Avara semakin tertekan dan memaksa jari-jari terlatihnya untuk bersabar agar tidak menghantam keyboard maupun mouse. Kombinasi itu tidak dipermudah dengan malam yang turun semakin larut, yang tidak mengijinkannya leluasa menelepon konsumen sebagai pekerjaannya yang lain dan menyudutkannya untuk hanya mengerjakan penginputan di database perusahaan.
Sebenarnya itu malam yang biasa dia alami selama ini, yang tidak menghendakinya pulang tepat waktu seperti rekan-rekannya yang lain.
Bekerja sebagai admin data entry yang merangkap sebagai admin marketing di perusahaan finance adalah sebentuk peperangan kecil dalam hidupnya yang masih belia. Sudah tiga tahun dia menjabat tugas penting itu, dan selama setahun belakangan dia bekerja sendirian tanpa partner. Teman kerjanya resign, dan karena permasalahan dana operasional yang semakin mengerdil, perusahaan tidak berusaha mencari pengganti, sehingga Avara menanggung beban kerja itu seorang diri.
"Bagaimana kabar Mbak Ayu, ya," gumamnya menyerukan nama mantan partnernya.
Usianya baru dua puluh lima tahun, dengan gelar pendidikan yang sebetulnya tidak linier dengan pekerjaannya yang sekarang. Avara lulusan jurusan PGSDーyang seharusnya sesuai fitrah bekerja sebagai guru di sekolah dasar. Namun karena gaji guru jauh di bawah standar, Avara banting stir ke dunia administrasi yang setidaknya bisa memberinya penghasilan setara UMR dan jaminan bahwa dia tidak akan kekurangan.
Sayangnya tidak ada yang memberitahunya bahwa bekerja sebagai admin marketing di perusahaan pembiayaan sungguh membutuhkan kerja keras dan pengorbanan dalam hal berkurangnya jam istirahatnya di rumah. Mata Avara sering berkantung hitam, kering, dan memerah. Siklus tidurnya hampir berantakan dan membuatnya menjadikan weekend sebagai pelampiasan. Hal ini secara sederhana mendorongnya juga untuk mengurangi interaksi sosial dengan orang-orang di luar pekerjaannya.
Meski begitu, hal itu bukan masalah besar bagi Avara yang pada dasarnya adalah seorang introvert, yang tidak terlalu menyukai sosialisasi dan orang.
Bagi Avara, segala sesuatu pasti memiliki makna; dan pekerjaan yang membutuhkannya untuk bekerja siang-malam pasti juga demikian.
Ah, internetnya sudah kembali normal.
Maka berkutatlah kembali Avara dengan data dan keyboard, tak peduli matanya mulai mengering dan sangat lelah untuk digunakan terus-menerus menatap layar monitor. Dia mengetik dengan cepat, memproses data sama cepatnya, dan menyusun berkas-berkas serapi mungkin. Lambat laun mejanya segera bersih, meninggalkan beberapa dokumen sisa yang menunggu diselesaikannya hari itu.
Paduan angka-angka di monitor menyerang sisi kepalanya yang masih sedikit pusing, membuatnya sedikit terhuyung. Avara memijat pelipisnya, merasakan pula kantuk yang juga sudah semestinya tiba. Dia sudah minum dua cangkir kopi hari itu, dan enggan menenggak kembali minuman yang sama di hari yang sama. Selain mengurangi kafein, Avara mencoba untuk tidak membebani ginjalnya yang terbiasa memproses cairan pekat semacam itu. Lagipula, meskipun dia terpaksa minum kopi lagi, Avara tidak akan terlalu terpengaruh dan akan tetap merasa mengantuk. Banyak orang bilang dia sudah kebal kafein kopi.
Jadi dalam beberapa menit kemudian, kepala Avara sudah tergeletak di sisi keyboard, terlalu berat untuk diangkat dan digunakan bekerja. Dia bermaksud untuk menutup mata sebentar saja, tidak perlu sampai lelap apalagi hingga jatuh dalam mimpi.
Namun detik demi detik membawanya justru semakin dalam masuk ke ketidaksadaran, meninggalkan berkas-berkas yang masih menumpuk dan data di monitor yang mendadak lenyap menjadi satu garis tunggal lalu melebur dalam warna abu-abu pekat yang memekakkan.
Warna itu lantas bergerak membentuk pusaran yang menerbangkan kertas-kertas tanpa pemberat tapi justru melahap masuk Avara yang masih tertidur.
...****************...
Dalam tidurnya, Avara bermimpi menelepon konsumen untuk proses verifikasi data. Dia menggunakan suara paling lembut yang dia punya, dengan bahasa yang mudah dimengerti dan kebaikan hati yang seolah tak akan habis-habis. Tangannya tidak berhenti menulis di form yang disediakan untuk memuat hasil verifikasi data. Avara tersenyum, senang bisa melakukan pekerjaan dengan lancar.
Mimpi Avara masih berlanjut, kali ini membuatnya mengecek NIK seorang calon konsumen yang tertera di salinan KTP dengan hasil penginputan para marketing di database perusahaan. Gadis itu mencermati pula nama, tanggal lahir, dan alamat si calon konsumen, sebagaimana tugasnya untuk memastikan semua data terekap dengan benar. Tanpa kenal lelah, bahkan dalam mimpi dirinya harus tetap bekerja.
Avara baru terbangun saat merasakan hembus udara dingin menjamah leher, lengan, dan pergelangan kakinya yang terbuka, mengusik kedamaian singkatnya yang tak seberapa. Dia pikir ini akibat AC ruang admin yang seharusnya dia naikkan suhunya atau sekalian dia matikan dayanya. Namun saat Avara sepenuhnya membuka mata, dia segera tahu bahwa dia salah.
Alih-alih berada di ruang admin yang begitu akrab baginya, kini Avara berada di satu ruangan gelap dengan sebuah penerangan biru yang berpendar lemah. Terdapat rak-rak berisi buku hingga gulungan perkamen, yang memenuhi semua sisi dinding dan membelah ruangan yang tak seberapa besar. Hawanya dingin, dengan bau debu dan apak yang pekat di udara, membuat Avara seketika mengingat ruang filling di kantornya. Avara mengedarkan pandangan sebelum bangkit, membaca kondisi di sekelilingnya; tidak ada AC, apalagi komputer hingga printer. Langit-langitnya tinggi dan gelap.
Gadis itu sempat berpikir bahwa mungkin saja dirinya sedang berada di ruang filling kantornya, tanpa tahu bagaimana tiba-tiba dia berpindah dan masih terlelap di sana. Namun keberadaan buku dan perkamen yang menghuni rak-rak segera membantahnya. Avara tahu pasti bahwa kantornya tidak menyimpan buku apalagi perkamen, karena mereka perusahaan finance, hanya berkas-berkas penting seperti data konsumen dalam map yang mereka simpan.
Didorong rasa penasaran dan didukung pencahayaan yang tak seberapa, Avara meraih salah satu buku. Lapisan debunya tidak mengejutkan Avara, tapi apa yang tertulis di dalamnya membuatnya tercengang.
Di sana tertoreh abjad asing yang sama sekali tidak dikenali Avara, bukan dari bahasa Jepang, Korea, maupun negara-negara lain yang mungkin belum pernah dia tahu. Namun anehnya Avara bisa membaca tulisan dalam buku itu.
Tahun 369, bulan Pisces, kerajaan iblis...
Avara hampir menjatuhkan buku di genggaman tangannya. Kerajaan iblis?
Di mana dia sebenarnya?