NovelToon NovelToon
Pedang Darah Dan Janji Abadi

Pedang Darah Dan Janji Abadi

Status: tamat
Genre:Balas Dendam / Tamat
Popularitas:6.2k
Nilai: 5
Nama Author: Ichsan Ramadhan

"Dulu aku hanyalah pemuda biasa tanpa bakat, tanpa kekuatan, dan tanpa tujuan. Dunia terasa abu-abu sampai akhirnya aku bertemu dengannya—cahaya yang menerangi hidupku dan mengajarkanku arti cinta."

Namaku Li Yao. Aku tidak memiliki bakat kultivasi, namun cintaku padanya membuatku rela membelah langit dan bumi demi menjadi kuat. Bersamanya, aku merasakan kebahagiaan yang tak terlukiskan, hingga sebuah malam kelam mengubah segalanya.

Mata keparat merenggut nyawanya di hadapanku. Aku tak berdaya. Aku hanya bisa menangis melihat darahnya menetes. Saat napas terakhirnya berhembus, sebuah sumpah setan terucap:

"Aku akan membasmi mereka semua. Walau harus menjadi iblis, walau harus menyeberangi lautan darah, dendam ini akan kubayar lunas!"

Kini, dunia tidak lagi memiliki Li Yao yang lembut. Yang tersisa hanyalah Pendekar Berhati Es, seorang pembunuh dingin yang pedangnya selalu basah oleh darah musuh. Setiap tebasan adalah doa dendam, setiap nyawa yang melayang adalah persembahan unt

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ichsan Ramadhan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 31 Pertemuan dengan Kelompok Pembunuh Bayaran

Angin malam bertiup kencang di atas atap gedung-gedung tinggi Kota Iblis. Li Yao berdiri di tepi jurang beton, menatap keramaian kota di bawahnya yang gemerlap namun busuk.

Perjalanannya kini membawa ia ke wilayah yang lebih berbahaya, tempat di mana hukum hanya milik yang terkuat.

Tiba-tiba, indra tajamnya menangkap sesuatu. Bukan ancaman langsung, tapi gerakan-gerakan halus yang terkoordinasi dengan sempurna. Ada setidaknya sepuluh aura yang menyelimutinya dari berbagai arah. Mereka menahan napas, menyembunyikan keberadaan, dan menunggu waktu yang tepat.

'Pemburu... atau yang diburu?' batin Li Yao mencibir. Ia tidak berbalik, ia tetap berdiri membelakangi mereka.

WUSH! WUSH! WUSH!

Tiba-tiba, belasan anak panah beracun melesat dari kegelapan, menyasar titik-titik vital tubuh Li Yao dengan kecepatan tinggi. Serangan itu sunyi, mematikan, dan sangat profesional.

Namun... bagi Li Yao yang telah mencapai level Puncak Qi Naga, gerakan itu lambat bagaikan kura-kura.

Tanpa menoleh sedikit pun, Li Yao hanya mengibaskan ujung jubah hitamnya ke belakang.

DING! DING! DING!

Suara dentangan besi berbunyi nyaring. Semua anak panah itu terpental hancur berkeping-keping sebelum menyentuh tubuhnya bahkan hanya satu inci pun.

"Kalian terlalu berisik," ucap Li Yao pelan, namun suaranya terdengar jelas hingga ke telinga para penyerang.

"HEH! Ternyata target kita memang layak disebut monster!" seru sebuah suara berat dari atap gedung seberang.

Seorang pria bertubuh kekar dengan topeng tengkorak melompat turun, diikuti oleh sembilan orang lainnya yang juga memakai topeng serupa. Mereka membentuk formasi melingkar, mengepung Li Yao sepenuhnya.

Pakaian mereka seragam, berwarna gelap, dan di dada mereka terdapat lambang yang sama: Garis merah melintang di atas bulan sabit hitam.

Itu adalah lambang terkenal yang ditakuti di seluruh dunia bawah tanah.

Kelompok Pembunuh Bayaran "Bulan Darah".

"Siapa yang menyuruh kalian?" tanya Li Yao datar, tangannya tetap berada di belakang punggung, tidak menyentuh gagang pedangnya. Ia masih memberi mereka kesempatan untuk bicara.

Pemimpin kelompok itu tertawa dingin. "Pertanyaan yang salah, Pendekar Jubah Hitam. Orang yang mau membayar harga tinggi untuk kepalamu terlalu banyak untuk disebutkan satu per satu."

"Kami tahu siapa kau. Kau yang menghancurkan cabang Klan Naga Hitam sendirian. Kau memang kuat... tapi kau juga telah menyinggung terlalu banyak pihak kuat."

Pria itu mengangkat tangannya, dan di telapak tangannya terpancar energi berwarna ungu gelap.

"Kami tidak peduli kau iblis atau dewa. Di mata kami, kau hanyalah sebuah misi dengan bayaran tertinggi dalam sejarah organisasi kami."

"Jadi... menyerahlah, atau kami yang akan memaksamu mati perlahan-lahan."

Li Yao akhirnya berbalik badan. Wajahnya yang tertutup setengah itu menatap mereka satu per satu. Matanya yang tanpa cahaya itu membuat para pembunuh profesional itu pun merasa bulu kuduk merinding.

"Jadi... kalian mau membunuhku demi uang?" tanya Li Yao, nadanya terdengar bosan.

"Uang, kekuasaan, reputasi... apa saja yang membuat kami hidup enak," jawab pemimpin itu sinis. "Dunia ini kejam, Tuan. Orang kuat membunuh orang lemah. Dan hari ini, kau yang ada di posisi lemah karena terkepung."

"HA!!" Li Yao tiba-tiba tertawa. Tawanya keras dan menggema, membuat atap gedung bergetar pelan.

"Apa yang kau tertawakan?!" seru salah satu pembunuh kesal.

"Aku tertawa karena kebodohan kalian," Li Yao menghentikan tawanya seketika, wajahnya kembali sedingin es. "Kalian bilang dunia ini tempat yang kuat memangsa yang lemah? Benar. Tapi kalian salah besar menilai siapa yang lemah di sini."

Ia melangkah maju selangkah. Aura membunuhnya meledak seketika, menekan seluruh anggota kelompok itu hingga mereka harus menekuk lutut menahan beban yang luar biasa.

"Kalian adalah pembunuh bayaran. Kalian membunuh siapa saja yang ditunjuk, tanpa tahu benar dan salah. Kalian membunuh orang baik demi kepentingan orang jahat."

Suara Li Yao turun menjadi bisikan yang mengerikan.

"Dan itulah mengapa... aku sangat membenci sampah sejenis kalian."

"JANGAN MEREMEHKAN KAMI!! SERANG!!" teriak Pemimpin Bulan Darah tak terima.

Mereka bert sepuluh menyerang serentak! Senjata mereka beragam—pedang, pisau lempar, rantai besi, dan cakar baja. Mereka menggunakan teknik pembunuhan yang bertujuan melukai dan menyiksa, bukan sekadar membunuh.

Namun Li Yao tidak bergerak sedikit pun dari posisinya.

Hanya saat serangan mereka tinggal sejemar lagi, barulah tangannya bergerak.

BYUR!

Kilatan pedang hitam melintas. Tidak ada suara, tidak ada teriakan.

Seketika, semua serangan musuh terhenti. Tubuh mereka membeku di tempat.

Pemimpin kelompok itu membuka matanya lebar-lebar, melihat pedang Li Yao sudah kembali tersarung rapi di punggungnya, seolah tidak pernah tercabut sama sekali.

"Kau... bagaimana bisa..."

Sret...

Tiba-tiba, luka menganga muncul di leher dan dada mereka satu per satu. Darah memuncrat deras.

"Terlalu lambat," ucap Li Yao dingin sambil berjalan melewati tubuh mereka yang rubuh.

"Kalian bilang kalian pembunuh... tapi kalian bahkan tidak pantas disebut sebagai mangsa."

Ia berhenti sejenak di hadapan pemimpin mereka yang sekarat.

"Sampaikan pada majikan kalian di neraka... Jangan kirimkan sampah-sampah level ini lagi padaku. Aku bosan."

Li Yao menghilang kembali ke dalam bayangan malam, meninggalkan sepuluh mayat pembunuh bayaran yang masih hangat di atas atap yang berangin.

Pertemuan ini hanya membuktikan satu hal: Siapa pun yang menghalangi jalan Pendekar Jubah Hitam, akhir cerita mereka hanya satu: Kematian.

1
T28J
hadiir
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!