NovelToon NovelToon
Always His

Always His

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Penyesalan Suami / Mengubah Takdir
Popularitas:3.6k
Nilai: 5
Nama Author: Daena

Catherina Lawrence (24 tahun) mengira pernikahannya dengan Adrian Mettond, senior di kampusnya dulu, adalah pelabuhan tenang setelah badai masa lalu yang kelam. Namun, belum genap satu tahun berjalan, kenyataan pahit menghantamnya. Adrian ternyata tidak siap menjadi ayah bagi putra mereka, Liam, dan sang ibu mertua terus memperlakukannya layaknya orang asing yang tak diinginkan.

Di tengah dinginnya sikap Adrian, Catherina dihantui oleh bayang-bayang Everest Cavanaught—mantan kekasih sekaligus "pangeran berandalan" dari masa Lalunya. Hubungan Empat tahun itu berakhir karena keegoisan Catherina, meninggalkan luka yang belum sembuh. Ironisnya, semakin Liam tumbuh, wajah sang bayi justru semakin menyerupai Everest, bukan Adrian.

Terjebak dalam rumah tangga yang hampa dan penuh tuntutan, Catherina mulai mempertanyakan segalanya.

Apakah Adrian benar-benar mencintainya?
.
.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

#21

Pagi ini, mansion Cavanaugh tampak seperti istana dalam dongeng. Bunga-bunga lili putih segar menghiasi setiap sudut, dan aroma kemewahan menguar di udara. Di dalam ruang rias yang luas, Catherina duduk mematung di depan cermin besar. Ia mengenakan gaun pengantin sutra yang menjuntai indah, karya desainer ternama yang diselesaikan hanya dalam semalam.

Tiba-tiba, pintu terbuka. Catherina mengira itu adalah perias atau Stefhanie, namun jantungnya seolah berhenti berdetak saat melihat sosok pria yang terpantul di cermin.

"Adrian?" bisiknya tak percaya.

Adrian Mettond berdiri di sana, mengenakan setelan jas hitam yang rapi, namun wajahnya tampak lebih kusam dan lelah daripada biasanya. Matanya menatap Catherina dengan tatapan yang sulit diartikan—campuran antara kekaguman, penyesalan, dan luka yang mendalam.

"Catherina..." suara Adrian parau.

"Kenapa kau bisa ada di sini?" tanya Catherina waspada, tangannya refleks meremas kain gaunnya.

"Everest memberiku izin," jawab Adrian pelan. "Dia pria yang sangat percaya diri, bukan? Dia membiarkanku masuk karena dia tahu, aku tidak akan bisa membawamu pergi lagi. Aku hanya ingin bicara untuk terakhir kalinya."

Catherina menarik napas panjang, mencoba menenangkan diri. "Silakan, Adrian."

Adrian melangkah mendekat, namun ia menjaga jarak yang cukup jauh, seolah menghormati wilayah yang kini bukan lagi miliknya. "Kau sangat cantik, Cathe. Sangat cantik. Putih... warna yang selalu cocok untukmu."

"Terima kasih," jawab Cathe singkat.

Keheningan sempat menyelimuti mereka sebelum Adrian kembali bersuara. "Maafkan aku, Cathe. Maaf atas perlakuan ibuku selama ini. Aku tahu dia membuat hidupmu seperti di neraka, dan aku... aku terlalu pengecut untuk membelamu karena ego-ku yang terluka. Maaf karena aku menghianatimu dengan Julie. Aku hanya ingin menyakitimu sebesar kau menyakitiku, tapi ternyata aku justru menghancurkan diriku sendiri."

Catherina menatap Adrian dengan mata berkaca-kaca. "Sudahlah, Adrian. Semuanya sudah berakhir. Surat cerai itu... sudah menjelaskan semuanya."

Adrian tersenyum getir. "Satu hal yang menghantuiku setiap malam, Cathe. Aku ingin mendengarnya langsung darimu sebelum kau resmi menjadi Nyonya Cavanaugh." Adrian menjeda kalimatnya, matanya menatap dalam ke netra Catherina. "Apa kau pernah mencintaiku, Cathe? Walau hanya sedikit? Walau hanya sesaat di antara bayang-bayang Everest?"

Catherina terdiam. Ia ingin berbohong untuk menyenangkan hati pria di depannya, namun ia tahu kejujuran adalah satu-satunya cara untuk melepaskan Adrian. "Maafkan aku, Adrian... Aku sudah mencoba. Sungguh, aku sudah mencoba membuka hatiku. Tapi... hatiku ternyata tidak pernah benar-benar kosong untuk diisi orang baru."

Adrian mengangguk perlahan, setetes air mata jatuh di pipinya yang kaku. Ia tertawa kecil, tawa yang penuh dengan kepedihan. "Ternyata benar kata orang, Cathe. Cinta kita akan habis pada orang lama. Dan sisanya... kita hanya menjalani sisa waktu dengan orang baru untuk sekadar bertahan hidup."

"Apa maksudmu, Adrian?" tanya Catherina cemas.

"Aku akan menikahi Julie," ucap Adrian tiba-tiba.

"Kau mencintainya?"

"Tidak," jawab Adrian tegas. "Sama sekali tidak. Aku menikahinya karena Julie memiliki potongan rambut yang sama denganmu. Dia memakai parfum yang sama dengan yang kau pakai saat kita pertama kali bertemu. Dia memiliki cara berpakaian yang mirip denganmu. Aku hanya sedang memelihara bayanganmu pada orang lain, Cathe. Karena aku tahu, aku tidak akan pernah bisa memilikimu yang asli lagi."

Deg.

Hati Catherina mencelos. Ia merasa sangat bersalah melihat betapa hancurnya pria di depannya. "Adrian, jangan lakukan itu. Jangan sakiti dirimu sendiri dan Julie—"

"Jangan khawatirkan aku, Cathe. Ini adalah konsekuensi dari kesombonganku yang dulu merasa bisa mengambil milik Everest," Adrian memotong kalimatnya. Ia melangkah maju satu langkah, menatap Catherina untuk terakhir kalinya dengan saksama, seolah ingin merekam wajah itu di memorinya selamanya.

"Maafkan aku karena tidak pernah menjadi ayah yang baik untuk Liam. Maafkan aku karena meragukannya. Tapi melihat wajahnya pagi ini di media... aku sadar, dia memang bukan milikku. Dia terlalu sempurna untuk menjadi seorang Mettond. Dia adalah Cavanaugh sejati."

Adrian menarik napas panjang, mencoba menegakkan bahunya. "Sekarang, pergilah. Temui pria yang menghabiskan seluruh cintamu itu. Everest menang, Cathe. Bukan karena hartanya, tapi karena dia memiliki hatimu yang tidak pernah bisa kubeli dengan apa pun."

Adrian berbalik arah menuju pintu. Sebelum keluar, ia berhenti sejenak tanpa menoleh.

"Selamat atas pernikahanmu, Catherina. Semoga kau mendapatkan kebahagiaan yang tidak pernah bisa kuberikan padamu."

Catherina merasakan dadanya sesak melihat punggung Adrian yang hampir mencapai daun pintu. Ada satu beban besar yang tidak bisa ia biarkan terkubur begitu saja. Ia tidak ingin Adrian hidup selamanya dalam kebencian atas pengkhianatan yang sebenarnya tidak pernah ia lakukan secara sadar.

"Adrian!" panggil Catherina setengah berteriak.

Langkah kaki Adrian terhenti. Ia mematung, lalu perlahan menoleh. "Iya?"

Catherina berdiri dari kursi riasnya, memegang gaun pengantinnya agar tidak tersandung, lalu melangkah mendekat meski hanya beberapa senti. Matanya menatap Adrian dengan kejujuran yang menyakitkan.

"Demi Tuhan, Adrian... selama kita bersama, Liam adalah anakmu di mataku. Aku tidak pernah tidur dengan Everest setelah dia pergi. Dua tahun kepergiannya, aku tidak pernah bertemu lagi dengannya, apalagi sengaja hamil anaknya," suara Catherina bergetar hebat.

Adrian mengerutkan kening, wajahnya tampak bingung. "Cathe, apa yang kau katakan?"

"Yang kutahu, kau... kau ayahnya Liam. Kenapa dia bisa begitu mirip dengan Everest, aku sendiri tidak tahu. Aku bersumpah demi nyawaku, aku tidak pernah menyelingkuhimu ataupun mengkhianatimu selama kita menikah." Catherina terisak pelan. "Dan soal kehamilan sembilan minggu saat kita baru melakukannya tiga minggu yang lalu... demi Tuhan, aku sendiri bingung kenapa itu bisa terjadi? Aku tidak mengerti bagaimana medis bekerja padaku, tapi aku bersumpah tidak ada pria lain selain dirimu saat itu."

Adrian terdiam lama, matanya menatap lantai, mencoba mencerna kata-kata Catherina. Ia teringat kembali betapa tulusnya Catherina melayani semua kebutuhannya dari pakaian hingga Sarapan bersama di awal pernikahan, meski hati wanita itu terluka. Ia melihat kejujuran di mata yang sedang menangis itu.

"Tapi tidak mungkin, Cathe..." bisik Adrian parau. "Liam tidak mungkin putraku. Wajah itu... setiap inci dari dirinya adalah Everest. Bagaimana mungkin benihku menghasilkan duplikat pria yang paling kau cintai?"

Catherina menyeka air matanya, tersenyum getir. "Ya, kau mungkin tidak akan percaya. Aku sendiri bahkan tidak mengerti bagaimana takdir mempermainkan ku sekejam ini. Mungkin kerinduanku yang terlalu besar pada Everest saat mengandungnya telah mengubah segalanya. Tapi di hatiku yang paling dalam, aku menjaganya sebagai putramu selama ini."

Adrian menatap Catherina dengan tatapan yang kini lebih lembut, seolah beban berat di pundaknya sedikit terangkat. Kebencian yang selama ini ia pelihara karena merasa dikhianati perlahan memudar, digantikan oleh rasa haru yang aneh.

"Jika begitu..." Adrian menjeda kalimatnya, tenggorokannya terasa tercekat. "Bolehkah aku menganggapnya putraku? Meski hanya di dalam ingatanku? Meski dunia mengenalnya sebagai seorang Cavanaugh?"

Catherina mengangguk mantap, sebuah senyuman tulus terukir di bibirnya. "Dia Liam, putramu, Adrian. Dalam sejarah hidupku, kau adalah Ayahnya sejak dia masih di dalam rahimku."

Adrian menghembuskan napas panjang, sebuah senyuman tipis muncul di wajahnya yang lelah. Rasa sesak itu menghilang, digantikan oleh kedamaian yang belum pernah ia rasakan selama beberapa Bulan terakhir.

"Terima kasih, Cathe. Terima kasih sudah memberiku kehormatan itu," ucap Adrian lembut.

Ia menatap Catherina untuk terakhir kalinya, bukan sebagai musuh atau mantan istri yang ia benci, melainkan sebagai wanita yang pernah ia cintai dengan tulus. Adrian berbalik, melangkah keluar dengan bahu yang lebih tegak. Ia menutup pintu ruangan itu dengan pelan, meninggalkan masa lalunya di sana.

Di balik pintu yang tertutup, Adrian berbisik pada dirinya sendiri, "Selamat tinggal, Liam... putraku." Dan dengan itu, ia melangkah pergi, membiarkan Catherina memulai babak baru yang telah ditakdirkan untuknya.

Pintu tertutup rapat. Catherina luruh di kursinya, air matanya jatuh membasahi riasan wajahnya. Ia menangis bukan karena ingin kembali, tapi karena ia menyadari betapa mahalnya harga sebuah cinta yang salah alamat.

Di luar sana, lonceng gereja mulai berdentang, menandakan bahwa waktu bagi "orang lama" telah tiba, dan babak baru dalam hidupnya sebagai istri Everest Cavanaugh akan segera dimulai.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!